Capung dan Masa Depan Ekosistem Perkotaan

Capung atau dragonfly merupakan salah satu serangga yang memiliki peran ekologis penting, namun keberadaannya di kawasan perkotaan semakin jarang disadari. Dahulu, capung mudah ditemukan di sekitar sawah, sungai kecil, dan kolam air terbuka.

Kini, di tengah gedung beton, aspal, dan minimnya ruang air bersih, capung seolah menjadi tamu langka di kota-kota besar. Padahal, kehadiran capung bisa menjadi indikator kuat kualitas lingkungan di suatu wilayah.

Sebagai serangga yang siklus hidupnya bergantung pada air, capung membutuhkan perairan yang relatif bersih dan tenang untuk berkembang biak. Telur capung menetas menjadi nimfa yang hidup di dalam air selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

Nimfa ini sangat sensitif terhadap pencemaran, sehingga sulit bertahan di perairan kota yang tercemar limbah domestik dan industri. Inilah salah satu alasan mengapa populasi capung menurun drastis di lingkungan urban.

Di sisi lain, capung adalah predator alami bagi nyamuk dan serangga kecil lainnya. Seekor capung dewasa mampu memangsa ratusan nyamuk dalam sehari. Artinya, semakin jarang capung di kota, semakin besar peluang nyamuk berkembang bebas dan meningkatkan risiko penyakit seperti demam berdarah. Sayangnya, sedikit sekali masyarakat perkotaan yang menyadari jasa ekologis ini.

Pembangunan yang mengorbankan ruang terbuka hijau juga berkontribusi pada hilangnya habitat capung. Pengurugan rawa, alih fungsi taman menjadi bangunan, hingga saluran air yang dipadatkan dengan beton membuat capung kehilangan tempat singgah dan berkembang biak. Ruang hijau yang tersisa pun seringkali tidak menyediakan ekosistem air yang memadai bagi keberlangsungan hidupnya.

Selain faktor habitat, penggunaan pestisida dan insektisida juga sangat memengaruhi populasi capung. Di kawasan pemukiman dan taman kota, semprotan anti-nyamuk justru membunuh musuh alami nyamuk, termasuk capung. Racun kimia ini tidak hanya meracuni capung dewasa, tetapi juga merusak larva dalam air dan memutus siklus hidupnya.

Meski demikian, beberapa kota mulai menyadari pentingnya menghadirkan kembali capung sebagai bagian dari indikator lingkungan sehat. Pembuatan kolam retensi, taman basah (wetland park), serta revitalisasi sungai menjadi langkah strategis untuk menarik kembali kehidupan capung. Tanaman air seperti teratai, eceng gondok terbatas, dan rumput air juga membantu menciptakan habitat ideal bagi nimfa capung.

Peran masyarakat tidak kalah penting. Warga bisa mulai dari skala kecil, misalnya membuat kolam mini ramah capung di pekarangan, mengurangi penggunaan pestisida, dan menjaga kebersihan saluran air di lingkungan rumah. Sekolah-sekolah pun dapat memanfaatkan keberadaan capung sebagai media edukasi lingkungan hidup sekaligus menumbuhkan kepedulian pada keanekaragaman hayati perkotaan.

Capung bukan sekadar serangga indah yang beterbangan di udara. Ia adalah penanda: tentang seberapa bersih air kita, seberapa lestari ruang hidup kita, dan seberapa ramah kota ini terhadap alam. Ketika suatu hari capung kembali ramai terlihat di langit kota, itu pertanda bahwa kita telah berhasil berdamai dengan lingkungan dan memberi ruang bagi kehidupan lain untuk tumbuh bersama.

Penulis: Mochamad Zamroni

18 thoughts on “Capung dan Masa Depan Ekosistem Perkotaan

  • November 27, 2025 pada 22:27
    Permalink

    Capung itu sangat indah, lucu tetapi sekarang saya jarang menemukan capung lagi jika di kota hanya saat saya sedang di desa saya bisa melihat capung. Baru tau kalau capung memakan nyamuk.
    Eno wahyu kamagading
    SDN pacarkeling 1/182 surabaya
    EXO enzym
    452

    Balas
    • November 28, 2025 pada 05:09
      Permalink

      Capung masih banyak terlihat di pedesaan seperti di daerah nenek saya Bojonegoro, tapi saya jarang sekali melihat capung di Surabaya. Yuuk kita jaga lingkungan Surabaya agar tetap bersih ,airnya juga bersih agar capung bisa beterbangan lagi kesana kemari menghiasi indahnya kota.
      Carissa Putri Fatihasari
      SDN Sidotopo wetan V
      No.peserta : 674
      Proyek SANCA ( Sampah Anorganik Carissa )

      Balas
  • November 27, 2025 pada 23:10
    Permalink

    Alhamdulillah di lingkungan lahan adopsiku yang sekarang aku beri nama DATELA LIVING LABORATORY banyak capungnya lho 😍

    Selain capung, ada kupu-kupu, ada tupai, ada bunglon yg agak kecil-kecil itu (tapi masih jauh lebih besar dari kadal, oh iya kadal juga banyak, katak apalagi, ada juga biawak, dan apa lagi ya…

    Oh iya burung banyak ya, belalang, kaki seribu, laba-laba, cacing, semut, nyamuk 😁 pokoknya pas banget buat taman flora fauna, yang pengen lihat maen aja ke tempat pengembangan proyekku, khusus buat sobat hijau free HTM

    Silakan DM aja gpp 🤗

    .

    Salam Revitalisasi 💚
    AISYAH AVICENA RL
    SMPN 21 SURABAYA
    PROJECT : DATELA GREEN REVITALIZATION

    Balas
  • November 27, 2025 pada 23:36
    Permalink

    Capung pesawat terbang mini he…he…, jarang memang ditemukan sekarang. Tapi terkadang masih ditemukan di antara tanaman-tanaman yang ada di wilayah kampungku, Ndak tau hanya melintas saja mungkin, tapi masih bisa Ndak ya dikatakan suatu indikator wilayah itu masih bersih ?

    Balas
  • November 28, 2025 pada 05:09
    Permalink

    Menurut yang saya lihat memang sekarang populasi capung jarang ada terlihat
    Reynando Yudhistira putra
    SDN Wiyung 1 Surabaya
    No peserta 409
    Pengolahan sampah plastik

    Balas
  • November 28, 2025 pada 08:26
    Permalink

    Capung adalah salah satu predator alami yang mempunyai peranan penting, karena memangsa nyamuk dan serangga lainnya yang bisa menyebabkan penyakit. Saat ini populasi capung sangat menurun, jarang terlihat. Jaman dahulu, capung sangat banyak beterbangan kesana kemari. Semoga kedepannya dragonfly ini akan kembali meramaikan kota kita, itu pertanda bahwa lingkungan kita bersih dan indah.

    Nama : Fathan Alby Andhitama
    No : 0037
    Asal sekolah : SDN Banyu Urip III Sby
    Proyek LH : Pengolahan Limbah Minyak Jelantah Menjadi Sabun

    Halo sobat hijau 🌳
    Limbah minyak jelantah seringkali dibuang sembarangan ke saluran air atau tanah, sehingga dapat mencemari lingkungan. Dengan mengolah limbah minyak jelantah menjadi produk yang bermanfaat seperti sabun adalah salah satu solusi hidup ramah lingkungan.
    Salam bumi, pasti lestari 🌱

    Balas
  • November 28, 2025 pada 08:36
    Permalink

    Capung benar benar indah dan bisa menjadikan tanda bahwa lingkungan kita bersih atau tidak, tapi aku pernah melihat capung sebanyak 2 kali di sekolahanku baru kemaren ini aku melihat banyakk sekali capung yang berterbangan di halaman sekolahku, aku sering menemukan capung disekolah itu pada saat waktu mau hujan turun dan pada saat itu banyak sekali capung yang berterbangan di halaman sekolahku , pada saat melihat capung rasanya senang sekali karena udah lama rasanya aku tidak melihat keberadaan capung di kota kota besar, yukk mari kita bersama sama menjaga lingkungan kita agar menjadi bersih dan nyaman untuk semua makhluk hidup di dunia.

    Nama: Raka maulana pratama
    No.peserta:561
    Proyek: keajaiban kompos tkk bagi lingkungan
    Sekolah: SMPN 25 SURABAYA

    Balas
  • November 28, 2025 pada 11:18
    Permalink

    Capung sangat lucu,tetapi sekarang saya jarang menemukan capung lagi jika di kota hanya saat saya sedang di desa,saya bisa melihat capung,Ayo kita jaga lingkungan Surabaya agar tetap bersih airnya juga bersihnya agar capung bisa berterbangan lagi ke sana kemari menghiasi indahnya kota.
    Nama: Muhammad Hidayahtullah
    Sekolah: SDN KAPASARI 1/292 Surabaya
    No Peserta: 145
    Proyek: Budidaya Daun Pandan

    Balas
  • November 29, 2025 pada 14:11
    Permalink

    saya frisdya lanikmaruf isfani dari smpn 57 surabaya dengan nomer urut 1382 dan proyek saya pengolahan sampah GALBOT sebagai kreasi furnitur dan fashion aksesoris

    capung sangat bermanfaat untuk indikator air,Edukasi sejak dini mengenai pentingnya menjaga bumi merupakan langkah terbaik untuk masa depan

    Balas
  • November 29, 2025 pada 17:08
    Permalink

    Wow saya baru tau jika capung butuh air bersih utk bertelur.
    Memang di kota ini sangat jarang sekali melihat capung, padahal sebagai penyeimbang alam capung bisa memakan nyamuk yg mengganggu pastinya.
    Perbanyak tanaman air, bersihkan sungai2 dan membuat taman basah supaya Capung bisa bertelur dan bertambah banyak

    Salam Bumi Pasti Lestari

    Marshall Dastan PR
    Sdn. ketabang 1/288
    No peserta 207
    Project : KOMANDAN ( koleksi Tanaman Pandan)

    Balas
  • November 29, 2025 pada 17:52
    Permalink

    Sebagai serangga yang siklus hidupnya bergantung pada air

    Balas
  • November 30, 2025 pada 05:59
    Permalink

    Capung merupakan indikator bahwa lingkungan masih cukup baik, jika capung jarang terlihat maka ada masalah pada kebersihan air. Jadi jaga sungai agar tetap bersih.

    Akifa Maulidya (698)
    SDN Tandes Kidul 1
    Budidaya organik tanaman kale

    Balas
  • Desember 6, 2025 pada 14:30
    Permalink

    Capung memang sangat indah beterbangan diudara dan keberadaan capung mempunyai peranan penting. Mari kita jaga lingkungan terutama dengan kebersihan air sehingga capung beterbangan yang menandakan lingkungan kita bersih dan indah.

    Jangan Lupa Intip Proyek saya ya teman-teman.
    Saya Muhammad Khabibi Nur Rokhman
    Saya adalah Finalis pangeran dan putri lingkungan hidup tahun 2025
    No.Peserta 31
    Saya dari SDN BANJARSUGIHAN V/617 SURABAYA
    Proyek Lingkungan Hidup Saya adalah PESAN OJEC APIK(Pemanfaatan Sampah Non Organik Jadi Ecobrick dan Anyaman Plastik)
    Disini saya mengajak semua untuk peduli lingkungan dengan mengurangi sampah plastik karena jumlah sampah plastik semakin banyak salah satunya kemasan sachet yang tidak didaur ulang maka saya memanfaatkannya menjadi barang yang bermanfaat yaitu ecobrick dan anyaman plastik daripada sampah plastik tersebut terbuang begitu saja.

    Salam Bumi Pasti Lestari
    Salam Sadar Iklim
    Salam Zerowaste
    Salam Basuma Jaya Jaya Jaya
    Pokoe ngeten pun

    Balas
  • Desember 7, 2025 pada 18:51
    Permalink

    Ayoo, kita dukung gerakan menghadirkan kembali capung di tengah kota.
    Setiap kolam mini dan air bersih adalah habitat berharga untuk nimfa mereka.
    Capung adalah penolong terbaik kita dan indikator lingkungan yang sehat.
    Mari kita tunjukkan, kota-kota mampu hidup berdampingan secara harmonis dengan alam!!!!!!
    ​NAMA : EZRA BINTANG IZDIHAR KURNIAWAN
    SEKOLAH : SD KYAI IBRAHIM
    NO PESERTA : 003
    JUDUL PROYEK : PEMANFAATAN LAHAN KOSONG DAN LIMBAH PLASTIK UNTUK BUDIDAYA KEMANGI

    Balas
  • Desember 10, 2025 pada 16:24
    Permalink

    Belakangan ini capung semakin jarang terlihat di kota. Padahal keberadaan mereka itu penting banget sebagai indikator lingkungan yang sehat mulai dari kualitas air, udara, sampai ekosistem kecil di sekitarnya.
    Berkurangnya capung bisa jadi sinyal bahwa kita perlu lebih serius menjaga sanitasi, mengurangi polusi, dan mempertahankan ruang hijau. Semoga ke depan kota bisa lebih ramah untuk semua makhluk, termasuk capung-capung kecil yang dulu selalu menghiasi sore🍂

    Isvara Nareswari Aryanto
    SDN Kaliasin 1
    Budidaya Tanaman Pacar Air

    Balas
  • Desember 14, 2025 pada 15:16
    Permalink

    Terimakasih kepada tunas hijau sudah memberikan informasi dari artikel ini

    KANAYA DIVANESA AWANDA
    SMPN 58 SURABAYA
    NO URUT: 1388
    JUDUL PROYEK: BARASIMAN (BUDIDAYA ALOEVERA PENGUSIR KUMAN)

    Balas
  • Desember 16, 2025 pada 11:12
    Permalink

    Capung digambarkan dengan jelas sebagai penanda penting kebersihan air dan kesehatan lingkungan perkotaan. Capung juga mengingatkan bahwa hilangnya ruang hijau dan air bersih berdampak langsung pada keseimbangan alam yang sering tidak kita sadari.

    Saya Hafsa Faizal Tamir Raffa, sering dipanggil Hafsa, saya bersekolah di SMPN 38 Surabaya. Dengan nomor peserta 603.
    ‎Judul proyek saya adalah KERTANI (Kertas Tanam Inovatif).

    ‎Tujuan proyek saya adalah untuk mendaur ulang kertas atau buku bekas menjadi kertas baru, lalu kertas baru itu dijadikan kertas tanam. Ini bertujuan untuk mengurangi sampah kertas yang menumpuk dirumah kita ataupun rumah tetangga.

    Balas
  • Desember 16, 2025 pada 13:32
    Permalink

    Artikel ini sangat menarik, tentang peran capung sebagai indikator penting kesehatan lingkungan perkotaan.
    Hilangnya keberadaan capung karena pencemaran, pembangunan dan penggunaan pestisida mengingatkan bahwa kota yang ramah lingkungan adalah kota yang memberi ruang bagi kehidupan sekecil apapun.

    Nama: Mikhaela Adeva Abbialya
    No.Peserta: 218
    Sekolah: SDN.Kalisari 2/513 Surabaya.
    Proyek LH: Budidaya tanaman asem jawa dan produk minuman kesehatan tradisional sinom.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *