Diplomasi Hijau Indonesia Menggema dari Rio de Janeiro

Di balik isu-isu besar seperti deforestasi, kebakaran hutan, dan perdagangan satwa liar, Indonesia memilih jalan diplomasi hijau — memperkuat kerja sama lintas negara demi melindungi bumi. Langkah terbaru diwujudkan melalui kolaborasi antara Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia (KLH/BPLH) dengan The Royal Foundation of The Prince and Princess of Wales di Rio de Janeiro.

Menteri Hanif Faisol Nurofiq menegaskan bahwa kerja sama tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial. “Kerja sama ini tidak hanya fokus pada konservasi, tetapi juga pada penegakan hukum terhadap kejahatan lingkungan,” ujarnya.

Data menunjukkan bahwa sepanjang 2023, KLH/BPLH menangani 908 kasus lingkungan, meliputi penebangan liar, kebakaran hutan, perdagangan satwa dilindungi, hingga limbah berbahaya. Setahun kemudian, Kejaksaan Agungberhasil menuntaskan 187 kasus, menjatuhkan 370 sanksi administratif, dan menyelesaikan 48 perkara perdata.

“Ini bukan sekadar kerja sama antar-lembaga,” tegas Hanif.
“Ini komitmen moral antarbangsa untuk mewariskan bumi yang lebih lestari bagi generasi mendatang.”

Sinergi lintas lembaga — antara KLH/BPLH, POLRI, Kejaksaan Agung, PPATK, Bea Cukai, dan TNI AL — kini menghasilkan sistem komando terpadu serta basis data bersama yang mempercepat penindakan terhadap kejahatan lingkungan.

Di kancah internasional, Indonesia juga memperkuat jejaring dengan UNEP, Interpol, UNODC, ASEAN Working Group on Environmental Law, serta negara mitra seperti Inggris, Australia, Jepang, dan Norwegia. Tujuannya jelas: memperkuat kemampuan forensik dan investigasi dalam menangani pelanggaran lingkungan lintas batas.

Menutup pernyataannya, Menteri Hanif mengingatkan: “Perlindungan alam bukan sekadar tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab kita semua. Karena bumi tidak punya pengganti.”

Dari Rio hingga Jakarta, gema diplomasi hijau Indonesia menegaskan satu hal: menjaga alam bukan lagi sekadar pilihan — melainkan keharusan demi masa depan bumi. (*/Mochamad Zamroni)

6 thoughts on “Diplomasi Hijau Indonesia Menggema dari Rio de Janeiro

  • November 13, 2025 pada 12:32
    Permalink

    Diplomasi Hijau Indonesia Menggema dari Rio de Janeiro
    Mari bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan kita..

    Tunas hijau 🌱selalu menginspirasi masyarakat agar selalu menjaga dan melestarikan lingkungan untuk keseimbangan alam ..

    Nama : Naysia Aqila Andriani
    Sekolah : SDN Ngagelrejo3
    No peserta: 428
    Proyek budi daya sereh

    proyek tanaman sereh dengan hasil olahan Sereh lemon dan wedang uwuh

    🌱Naysia Aqila Andriani_SDN Ngagelrejo3_428_

    Balas
  • November 19, 2025 pada 12:50
    Permalink

    “Diplomasi Hijau Indonesia di Rio de Janeiro membuktikan bahwa Indonesia makin serius memimpin upaya global menjaga bumi.”

    Messa eko putri -018
    -membudidaya 5000 tanaman lidah buaya
    Judul proyek : menyelamatkan bumi dengan lidah buaya

    Balas
  • November 30, 2025 pada 18:33
    Permalink

    saya frisdya lanikmaruf isfani dari SMPN 57 Surabaya dengan nomer urut 1382 proyek saya yaitu pengolahan sampah GALBOT (Galon dan botol) sebagai kreasi furnitur dan fashion aksesoris

    hebat sekali loo Diplomasi Hijau Indonesia Menggema dari Rio de Janeiro, hal ini dapat menambah pengalaman dan edukasi

    Balas
  • Desember 10, 2025 pada 18:28
    Permalink

    Dengan Diplomasi Hijau Indonesia Menggema dari Rio de Janeiro semoga menjadi momentum untuk memperkuat kepemimpinan iklim dengan solusi berbasis alam dan komitmen mitigasi yang lebih kuat

    Akifa Maulidya (698)
    SDN Tandes Kidul 1
    Budidaya organik tanaman kale

    Balas
    • Desember 14, 2025 pada 14:54
      Permalink

      Diplomasi hijau Indonesia menggema dari Rio de janeiro, semoga menginspirasi agar tetap menjaga lingkungan sekitar
      KANAYA DIVANESA AWANDA
      SMPN 58 SURABAYA
      NO URUT: 1388
      JUDUL PROYEK: BARASIMAN (BUDIDAYA ALOEVERA PENGUSIR KUMAN)

      Balas
  • Desember 16, 2025 pada 09:29
    Permalink

    Kolaborasi ini menunjukkan bahwa perlindungan lingkungan kini ditempuh melalui pendekatan penegakan hukum dan kerja sama internasional. Data penanganan ratusan kasus lingkungan membuktikan bahwa kejahatan lingkungan diperlakukan sebagai isu serius lintas negara. Diplomasi hijau menjadi instrumen nyata Indonesia dalam menjaga keberlanjutan bumi secara sistematis.

    Saya Hafsa Faizal Tamir Raffa, sering dipanggil Hafsa, saya bersekolah di SMPN 38 Surabaya. Dengan nomor peserta 603.
    ‎Judul proyek saya adalah KERTANI (Kertas Tanam Inovatif).

    ‎Tujuan proyek saya adalah untuk mendaur ulang kertas atau buku bekas menjadi kertas baru, lalu kertas baru itu dijadikan kertas tanam. Ini bertujuan untuk mengurangi sampah kertas yang menumpuk dirumah kita ataupun rumah tetangga.

    Balas

Tinggalkan Balasan ke Frisdya lanikmaruf isfani Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *