Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025: Menjaga Waras di Tengah Dunia Digital yang Bising

Setiap tanggal 10 Oktober, dunia memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran global akan pentingnya kesehatan mental bagi setiap individu. Tahun 2025, tema yang diangkat oleh WHO menyoroti tantangan besar abad ini: “Mental Health in the Digital Era” — kesehatan mental di tengah derasnya arus informasi, tekanan sosial media, dan perubahan gaya hidup yang serba daring.

Di era digital, manusia hidup dalam dua dunia sekaligus: dunia nyata dan dunia maya. Keduanya saling bertaut, saling memengaruhi, bahkan saling menekan. Di media sosial, citra bahagia dan sukses sering kali menjadi standar kebahagiaan palsu yang memicu rasa kurang, iri, dan cemas. Banyak orang tak sadar bahwa membandingkan hidup dengan unggahan orang lain dapat mengikis rasa syukur dan kepercayaan diri secara perlahan.

Kesehatan mental bukan sekadar bebas dari gangguan psikologis, melainkan juga kemampuan untuk mengelola stres, beradaptasi, dan membangun hubungan sehat dengan diri sendiri dan orang lain. Di tengah banjir informasi dan notifikasi tanpa henti, kemampuan ini sering kali tergerus oleh kelelahan mental (mental fatigue) dan tekanan sosial yang tidak terlihat.

Psikolog modern menyebut fenomena ini sebagai “digital burnout” — kondisi di mana individu merasa kelelahan emosional akibat terlalu lama terpapar layar dan interaksi daring. Tanda-tandanya bisa berupa sulit tidur, mudah marah, kehilangan fokus, atau bahkan kehilangan makna dalam aktivitas sehari-hari. Di titik inilah penting bagi setiap individu untuk belajar mengatur ritme digitalnya sendiri.

Menjaga kesehatan mental di zaman digital bukan berarti menjauhi teknologi, tetapi menggunakannya dengan bijak. Langkah sederhana seperti membatasi waktu layar, menetapkan jam “bebas gawai”, atau melakukan digital detox setiap akhir pekan dapat membantu otak beristirahat. Aktivitas fisik, berinteraksi langsung dengan keluarga dan teman, serta menikmati alam tanpa distraksi digital juga terbukti mampu menurunkan kadar stres secara signifikan.

Selain itu, penting bagi setiap individu untuk memilah informasi. Tidak semua berita atau unggahan yang muncul di linimasa perlu dikonsumsi. Membiasakan diri untuk memeriksa kebenaran sumber, membatasi paparan terhadap konten negatif, dan mengikuti akun-akun positif yang menginspirasi dapat menjaga keseimbangan mental di dunia maya.

Di sisi lain, dunia digital juga dapat menjadi ruang penyembuhan jika digunakan dengan tepat. Banyak komunitas daring yang menjadi tempat berbagi pengalaman, dukungan emosional, hingga layanan konseling virtual yang terjangkau. Media sosial bisa menjadi sarana edukasi kesehatan mental — asalkan pengguna mampu menggunakannya secara sadar dan sehat.

Pendidikan tentang kesehatan mental kini seharusnya menjadi bagian dari literasi digital di sekolah dan kampus. Generasi muda perlu dibekali kemampuan mengenali tanda-tanda stres, depresi, atau kecemasan sejak dini. Mereka juga perlu tahu kapan dan bagaimana mencari bantuan profesional tanpa stigma. Karena di balik senyum di depan kamera, bisa jadi ada seseorang yang sedang berjuang melawan rasa sepi.

Di lingkungan kerja, isu kesehatan mental juga harus menjadi prioritas. Perusahaan perlu mendorong budaya kerja yang manusiawi, menghargai waktu istirahat, dan membuka ruang bagi karyawan untuk berbicara tanpa takut dinilai lemah. Pemimpin yang peduli pada kesejahteraan psikologis timnya adalah aset penting di era kompetitif saat ini.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental adalah tanggung jawab bersama. Masyarakat perlu belajar saling mendengarkan tanpa menghakimi, memberi ruang bagi yang sedang tidak baik-baik saja, dan menormalisasi percakapan tentang emosi. Dukungan sosial yang hangat sering kali menjadi penyembuh terbaik bagi hati yang lelah.

Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025 menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi tidak boleh mengorbankan keseimbangan batin manusia. Dunia boleh semakin cepat, tetapi manusia tetap perlu jeda. Menjaga kesehatan mental di era digital berarti berani menekan tombol pause — untuk sejenak diam, bernapas, dan kembali mengenali diri sendiri. Karena di tengah kebisingan dunia maya, ketenangan sejati justru lahir dari dalam diri. (*/TunasHijauID)

7 thoughts on “Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025: Menjaga Waras di Tengah Dunia Digital yang Bising

  • Oktober 17, 2025 pada 21:43
    Permalink

    Tema Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025 benar-benar relevan dengan kehidupan kita sekarang — “Menjaga Waras di Tengah Dunia Digital yang Bising.” 🌍✨ Di era serba cepat ini, kita memang butuh lebih dari sekadar koneksi internet — kita butuh koneksi dengan diri sendiri.

    Artikel ini mengingatkan bahwa digital detox bukan berarti anti-teknologi, tapi cara kita menjaga keseimbangan jiwa di tengah derasnya notifikasi dan tuntutan sosial media. 🌿 Kadang, menekan tombol pause dan menikmati momen nyata jauh lebih menenangkan daripada terus berlomba di dunia maya.

    Mari jadikan teknologi sebagai alat, bukan penjara pikiran. 💫
    #HariKesehatanMentalSedunia #MentalHealthAwareness #DigitalDetox #JagaWaras #TunasHijauIndonesia

    Balas
  • Oktober 17, 2025 pada 22:03
    Permalink

    Selamat hari kesehatan mental sedunia🥳🙌. Mari menjaga mental sendiri dan orang lain dengan cara. Tidak membully, itu yang paling penting. Meskipun dengan kata-kata tetapi itu bisa menyakiti hati orang lain.

    🙋‍♀️: Mazida Shabrina Yasmin
    🏫: SDN Wonokusumo 6 Surabaya
    🔢: 728
    📍: Proyek SERBUK(Serbuk Berproyek Horta)

    Balas
  • Oktober 18, 2025 pada 16:26
    Permalink

    Ternyata kesehatan mental adalah kesehatan yang penting dan harus kita jaga. Karena tidak semua orang aware untuk menjaga kesehatan mental.

    Ayesha Medina
    No Peserta 618
    SDN SEMOLOWARU 1/261
    Maggot bsf si Hewan Ajaib Sahabat Lingkungan

    Balas
  • Oktober 19, 2025 pada 22:43
    Permalink

    Ternyata kesehatan mental adalah kesehatan yang penting dan harus kita jaga. Karena tidak semua orang aware untuk menjaga kesehatan mental.

    Balas
  • Oktober 20, 2025 pada 17:37
    Permalink

    Nama Gede Kesawa Desvananda Sasmita
    No Peserta 595
    Judul Proyek Biobox Maggot Solusi Daur Upang Sampah organik rumah tangga menjadi Emas Hitam

    Artikel ini sangat menyentuh dan relevan dengan kehidupan masa kini! Pesannya tentang pentingnya menjaga kesehatan mental di tengah derasnya arus digital terasa begitu nyata dan membumi. Penulis berhasil menggambarkan tantangan era modern tanpa menghakimi, sekaligus memberi solusi sederhana namun bermakna seperti digital detox dan keseimbangan hidup. Tulisan ini mengingatkan kita bahwa di balik layar yang terus menyala, manusia tetap butuh jeda untuk bernapas dan kembali menemukan dirinya. 🌿💫

    Balas
  • Oktober 26, 2025 pada 00:20
    Permalink

    Tidak hanya kesehatan fisik, kesehatan mental juga harus di jaga. keseimbangan antara fisik dan mental akan menjadikan hidup kita lebih dinamis.

    nama : padizha nikeisyandria aisyzarra
    sekolah : SMP N 4 Surabaya
    judul proyek : BUMAZAA

    Balas
  • Oktober 26, 2025 pada 15:19
    Permalink

    “Menjaga kesehatan mental itu bukan tanda lemah, tapi tanda bahwa kita peduli pada diri sendiri 💚 Mari saling mendukung di tengah dunia digital yang tak pernah diam 🌏 #WorldMentalHealthDay”

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *