Keteladanan Guru: Jantung Pendidikan Karakter di Hari Guru Nasional 2025

Hari Guru Nasional 2025 kembali menjadi momentum penting untuk meneguhkan peran guru sebagai pilar utama pembentuk karakter bangsa. Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, kecerdasan akademik saja tidak cukup membekali generasi muda menghadapi kompleksitas kehidupan. Di sinilah pendidikan karakter menemukan urgensinya—dan guru menjadi aktor sentral dalam menanamkan nilai-nilai itu melalui keteladanan nyata, bukan sekadar ceramah atau nasihat.

Sejak dulu, guru dikenal sebagai sosok yang “digugu dan ditiru”. Digugu berarti dipercaya, sementara ditiru bermakna menjadi teladan dalam sikap dan perilaku. Dua makna ini menegaskan bahwa ucapan guru harus sejalan dengan tindakannya. Ketika guru menanamkan nilai kejujuran, kedisiplinan, kerja keras, atau empati, semua itu akan lebih kuat dampaknya jika tercermin dalam keseharian mereka di sekolah maupun di luar lingkungan belajar.

Pendidikan karakter tidak bisa diajarkan hanya melalui buku pelajaran atau modul tertulis. Karakter terbentuk melalui proses panjang yang melibatkan pengamatan, peniruan, pembiasaan, dan keteladanan. Siswa mengamati bagaimana guru berbicara, bersikap adil, mengelola emosi, menghadapi masalah, dan memperlakukan semua siswa tanpa diskriminasi. Dari sanalah nilai-nilai kehidupan mengendap secara alami dalam diri mereka.

Guru yang datang tepat waktu, mengakui kesalahan, meminta maaf jika keliru, dan konsisten dengan aturan yang dibuat, sedang mengajarkan makna tanggung jawab dan integritas tanpa perlu banyak kata. Sebaliknya, jika guru menuntut disiplin namun sering melanggarnya, pesan moral yang disampaikan justru kehilangan makna. Keteladanan menjadi fondasi utama agar pendidikan karakter tidak berhenti pada slogan.

Dalam konteks 2025, tantangan pendidikan karakter semakin besar dengan pengaruh media sosial, arus informasi yang deras, dan pergeseran nilai pada generasi muda. Guru kini bukan hanya pendidik di ruang kelas, tetapi juga penjaga nilai di tengah derasnya budaya instan, viral, dan serba cepat. Keteladanan guru menjadi jangkar moral yang membantu siswa tetap bertumbuh dengan nilai-nilai luhur bangsa.

Guru juga memegang peran penting dalam membentuk budaya positif di sekolah. Sekolah yang dipenuhi guru-guru teladan akan melahirkan lingkungan belajar yang aman, ramah, jujur, dan saling menghargai. Budaya ini akan membentuk karakter siswa secara kolektif, bukan hanya individu, sehingga tercipta generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beretika dan berempati.

Pada peringatan Hari Guru Nasional 2025, refleksi terhadap keteladanan guru menjadi semakin relevan. Apresiasi kepada guru tidak hanya dalam bentuk seremoni atau penghargaan formal, tetapi juga dalam penguatan dukungan terhadap peran mereka sebagai pendidik karakter. Guru membutuhkan lingkungan, kebijakan, dan kesejahteraan yang memadai agar bisa menjalankan perannya dengan optimal.

Akhirnya, masa depan bangsa sangat ditentukan oleh karakter generasi mudanya hari ini. Dan karakter generasi muda sangat ditentukan oleh keteladanan para gurunya. Di Hari Guru Nasional 2025, mari kita teguhkan kembali peran guru sebagai sosok yang bukan hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi, membimbing, dan menjadi teladan hidup—sungguh layak untuk digugu dan ditiru.

Selain guru, peran orang tua menjadi kunci penting dalam memastikan pendidikan karakter tidak berhenti di ruang kelas saja. Orang tua adalah guru pertama sekaligus teladan terdekat bagi anak dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai-nilai yang ditanamkan guru di sekolah perlu diperkuat melalui sikap dan pembiasaan di rumah, mulai dari kejujuran, tanggung jawab, sopan santun, hingga kepedulian sosial. Ketika orang tua dan guru memiliki visi yang sama dalam mendidik karakter, anak akan tumbuh dalam lingkungan nilai yang konsisten dan kokoh.

Sinergi antara sekolah dan keluarga adalah fondasi kuat bagi lahirnya generasi berkarakter. Guru menjadi pemandu di sekolah, sementara orang tua menjadi penjaga nilai di rumah. Keduanya saling melengkapi dan tidak bisa saling menggantikan.

Pada Hari Guru Nasional 2025, refleksi tentang pendidikan karakter menjadi semakin lengkap ketika kesadaran ini tumbuh: bahwa membentuk generasi berakhlak bukan tugas satu pihak, melainkan kerja bersama antara guru, orang tua, dan lingkungan sosial.

4 thoughts on “Keteladanan Guru: Jantung Pendidikan Karakter di Hari Guru Nasional 2025

  • Desember 3, 2025 pada 19:01
    Permalink

    Nayla Thalita Azzahra
    No Peserta : 524
    SDN Petemon IX Surabaya
    Judul Proyek : Lets Go to Bali Badung ( Ayo Budidaya Lidah Buaya dengan Produk Unggulan )

    Guru adalah profesi yang mendampingi anak dalam masa transisis dari mereka bertumbuh, menyerap ilmu serta mengembangkan bakat serta karakter. Peringatan Hari Guru Nasional setiap tanggal 25 November adalah momentum dimana Guru merupakan patner orang tua dalam mendidik dan mengajarkan ilmu serta nilai – nilai kehidupan. Semoga kita semua bisa tumbuh dewasa dengan selalu menghargai guru sebagai profesi yang sangat berjasa bagi masa depan kita.

    Balas
  • Desember 10, 2025 pada 18:37
    Permalink

    guru adalah teladan hidup yang membentuk akhlak siswa, bukan hanya pemberi ilmu, dan ini menjadi momentum penting untuk menguatkan sinergi guru-orang tua dalam menciptakan generasi berkarakter kuat, sekaligus mendorong guru beradaptasi dengan teknologi digital untuk pendidikan berkualitas menuju Indonesia Emas 2045, “Guru Hebat, Indonesia Kuat”.

    Akifa Maulidya (698)
    SDN Tandes Kidul 1
    Budidaya organik tanaman kale

    Balas
  • Desember 16, 2025 pada 09:36
    Permalink

    Terima kasih kepada para guru yang dengan keteladanan, kesabaran, dan keikhlasan terus membentuk karakter generasi muda. Peran guru tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga menanamkan nilai kejujuran, empati, dan tanggung jawab melalui contoh nyata. Dedikasi ini menjadi fondasi penting bagi masa depan bangsa.

    Saya Hafsa Faizal Tamir Raffa, sering dipanggil Hafsa, saya bersekolah di SMPN 38 Surabaya. Dengan nomor peserta 603.
    ‎Judul proyek saya adalah KERTANI (Kertas Tanam Inovatif).

    ‎Tujuan proyek saya adalah untuk mendaur ulang kertas atau buku bekas menjadi kertas baru, lalu kertas baru itu dijadikan kertas tanam. Ini bertujuan untuk mengurangi sampah kertas yang menumpuk dirumah kita ataupun rumah tetangga.

    Balas
  • Desember 16, 2025 pada 12:13
    Permalink

    Pentingnya kolaborasi antara guru dan orang tua dalam membentuk pendidikan karakter anak. Konsistensi nilai di sekolah maupun di rumah menjadi kunci lahirnya generasi berakhlak.

    Nama: Mikhaela Adeva Abbialya
    No.Peserta: 218
    Sekolah: SDN.Kalisari 2/513 Surabaya.
    Proyek LH: Budidaya tanaman asem jawa dan produk minuman kesehatan tradisional sinom.

    Balas

Tinggalkan Balasan ke Mikhaela Adeva Abbialya Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *