Kami Sekeluarga Merasakan Semua Jenis Transportasi Umum

Mengikuti Program/Gerakan/Lomba Keluarga Sadar Iklim & Tanggap Bencana Nasional 2024 adalah sesuatu yang sangat menyenangkan dan penuh tantangan. Awal mula aku minta ijin kepada ibu dan kedua kakakku agak takut-takut karena aktivitas aku yang memang banyak, jadi aku harus bisa membagi waktu untuk bisa merealisasikannya. 

Keluarga Sadar Iklim dan Tanggap Bencana 20204 diselenggarakan oleh Tunas Hijau Indonesia bersama Kementerian Sosial RI, serta didukung oleh Hotel Grand Mercure Malang Mirama dan Hotel Mercure Surabaya Grand Mirama

Dengan kesungguhan hati dan keberanian diri akhirnya aku diijinkan untuk mengikuti lomba ini dengan catatan aku harus bisa membagi waktu dengan aktivitas yang sudah ada dan pesan ibu yang sangat aku pegang aku tidak boleh meninggalkan belajar.

Realisasi Keluarga Sadar Iklim & Tanggap Bencana Nasional 2024 bukan hanya aku saja yang harus merealisasikannya tetapi aku juga harus bisa mengajak keluargaku, teman-temanku, lingkungan di sekolah dan tempat tinggalku. 

Hal yang utama aku lakukan adalah membiasakan diri untuk tidak menggunakan kemasan sekali pakai, kemasan kecil dan membiasakan diri untuk membawa tumbler, tepak dan tas yang bisa digunakan berulang kali apapun aktivitasnya. 

Iqbal bersama keluarganya mulai terbiasa menggunakan tranportasi umum

Hal sama juga ibu dan kedua kakakku lakukan. Selain itu setiap hari ibu tidak membuang sampah dapur ke tempat sampah. Ibu mengumpulkan potongan sampah dapur untuk aku proses pengomposan dengan menggunakan komposter bag.

Kami selalu menampung air cucian beras, air bekas cucian sayuran dan air bekas wudhu untuk kami gunakan menyiram tanaman selain bisa menghemat biaya, air leri juga baik untuk kesuburan tanaman. 

Aku, ibu, kakakku dan pamanku juga terbiasa untuk memilah-milah sampah organik dan anorganik. Sampai organik kami proses menjadi kompos. Sampah anorganik kami olah menjadi tempat yang bisa digunakan lagi. Misalnya dibuat pot untuk menanam pohon sedangkan sampah anorganik yang tidak bisa kita gunakan kita donasikan ke petugas kebersihan atau yang biasa mengepul sampah. 

Kami terbiasa menghemat energi, setiap bangun pagi kami pasti membuka jendela biar udara segar masuk rumah, mematikan lampu yang tidak digunakan, mematikan televisi jika tidak ditonton, mematikan AC dan kipas angin jika tidak digunakan dan mencabut charger jika selesai men-charge HP atau laptop. 

Ibu juga terbiasa mengumpulkan jelantah untuk ibu jual atau ibu berikan kepada tetangga yang biasa mengumpulkan jelantah. Setiap kali berbelanja ibu pasti membeli barang dengan kemasan besar dan ibu selalu menggunakan tas yang bisa dipakai berulang kali atau menggunakan kardus. 

Iqbal terus melakukan budidaya tanaman kelor pada tahun 2024 ini

Selain belanja barang ibu juga menggunakan tas yang bisa dipakai berulang kali untuk belanja sayuran dan kebutuhan lainnya. Pada saat kami makan di luar atau kuliner pasti kami tidak menggunakan sedotan. Kami menolak halus untuk menggunakan sedotan. 

Kami juga memanfaatkan lahan di rumah dengan menanam tanaman. Saya sudah menanam bibit pohon kelor sebanyak 14.800 bibit sejak awal tahun 2024. Pengalaman sangat menyenangkan saat aku mengikuti bersih-bersih pantai dan mengikuti pembekalan online/webinar kebencanaan dan perubahan iklim yang diselenggarakan oleh Tunas Hijau.

Saat bersih-bersih pantai kita bisa ketemu teman-teman sesama penggiat lingkungan dan kakak -kakak Tunas Hijau dan kita bersama-sama membersihkan pantai, menjadikan pantai lebih bersih, asri dan nyaman. Saat menjadi moderator webinar adalah hal yang menyenangkan dan membanggakan selain bisa berbincang dengan orang-orang hebat juga bisa belajar dari beliau-beliau yang hebat.

Aktivitas yang penuh tantangan saat aku, pamanku dan penggali sumur membuat sumur resapan. Beban buis betton yang berat kami angkat bersama-sama. Walaupun sulit dan berat akhirnya sumur resapan dapat diselesaikan walau hanya 1 buis betton yang bisa kita tanam karena permukaan air yang dangkal sehingga ada kelebihan 3 buis betton yang kemudian buis betton tersebut kami donasikan. 

Sekarang kami sudah punya sumur resapan. Selain punya sendiri di rumah kami juga punya 3 adopsi sumur resapan yaitu 1 sumur resapan di rumah teman ibu di Lidahkulon dan 2 adopsi sumur resapan di Karangrejo VII. Sumur resapan dapat menampung dan meresapkan air hujan ke dalam tanah dan sekaligus dapat mencegah banjir.

Pengolahan sampah organik terus dilakukan di rumahnya

Pengalaman yang sangat menarik saat ibu mengajak tetangga dan teman- teman ibu untuk mensosialisasikan pengumpulan jelantah, ajakan zero waste, aksi hemat energi, menanam pohon, membuat lubang resapan biopori, menyiapkan tas siaga bencana, simulasi tanggap bencana, kampanye tanggap bencana dan membuat video mengenai perubahan iklim. 

Saat melakukan simulasi tanggap bencana bersama tetangga, banyak kejadian lucu yang di luar perkiraan ada tetangga yang salah membawa barang. Seharusnya tetangga kami membawa tas siaga bencana malah membawa sapu sambil berlari-lari. Ada juga yang berlari sampai mau terjatuh dan bertabrakan seperti benar-benar terjadi. Pokoknya sangat mengesankan, lucu dan tidak bisa terlupakan.

Ada lagi pengalaman yang sangat unik, menarik dan berkesan saat kami sekeluarga merealisasikan poin 15 yaitu penggunaan transportasi publik bersama keluarga untuk bepergian. Ibu dan kakakku mengajak aku menggunakan kereta api, MRT (Moda Raya Terpadu), LRT (Lintas Raya Terpadu), Bus Trans Jakarta, Sky Lift TMII, dan angkutan kota sekaligus. Bahkan kami sampai menggunakan Whoosh si kereta api cepat dengan kecepatan 350 KM per jam. Waktu tempuh perjalanan Jakarta Bandung hanya 45 menit. Sungguh waktu tempuh yang sangat efisien.

Wah perjalanan yang seru, Kereta Cepat Whoosh yang megah dan keren merupakan kereta cepat pertama di Indonesia dan di Asia Tenggara yang diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Bapak Joko Widodo.

Pengalaman unik saat kami akan menaiki MRT, kami harus menuruni tangga karena stasiun MRT berada di bawah tangga, untuk menaiki LRT harus berjalan cukup jauh dan menaiki tangga karena stasiun LRT lokasi nya berada di atas. Pembayaran MRT, LRT dan bus trans Jakarta kita harus menggunakan KUE (Kartu Uang Elektronik)

Hilang sudah rasa cape dan kesal karena aku bisa menggunakan berbagai transportasi umum. Dengan menggunakan transportasi umum kita bisa menghemat energi, mengurangi kemacetan, mengurangi polusi udara dan sehat karena untuk naik MRT, LRT, Whoosh, angkot, kereta api, Sky Lift kita harus berjalan cukup jauh dan menaiki/menuruni tangga.

Nah itulah sebagian pengalamanku saat merealisasikan Keluarga Sadar Iklim Tanggap Bencana Nasional 2024. Pengalaman yang seru, unik, menyenangkan yang kadang ada beberapa tantangan yang harus aku lalui. Kami sekeluarga sudah terbiasa merealisasikan 21 point Keluarga Sadar Iklim dan Tanggap Bencana Nasional 2024

Terimakasih kepada Ibuku, kedua kakakku, keluargaku, Tunas Hijau, Kak Roni, Kak Bram dan Kak Nizamudin, bapak & ibu guru & teman-temanku SMP Negeri 28 Surabaya dan semua yang sudah mendukung, dan memotivasiku.

Penulis: Iqbal Fajar Khrisna Reyhan Halim

2 thoughts on “Kami Sekeluarga Merasakan Semua Jenis Transportasi Umum

  • Oktober 31, 2024 pada 09:13
    Permalink

    Keren banget Kak Iqbal, sangat menginspirasi sekali

    Rasyid Maulana Riffat
    Nomor peserta 241 SD
    SDN Pacarkeling V/186 Surabaya
    Project budiros nyakman selalu di hati (Budidaya Rosella Banyak Manfaatnya)

    Balas
  • November 1, 2024 pada 12:16
    Permalink

    Sangat menginspirasi sekali kak Iqbal

    Melati Sekar Arum Berliana Damayanti
    No. Peserta: 454
    SDN PLOSO III Surabaya
    BELING SIGAR (Bersih lingkungan dengan sirih gading udara jadi segar)

    Balas

Tinggalkan Balasan ke Rasyid Maulana Riffat Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *