Kecombrang dan Konservasi: Menjaga Rempah Nusantara, Menjaga Ekosistem

Kecombrang (Etlingera elatior), juga dikenal sebagai honje, kantan, atau bunga rias, adalah tanaman rempah tropis yang banyak tumbuh di Indonesia dan Asia Tenggara. Tanaman ini terkenal karena aroma segarnya yang khas, membuatnya sering digunakan dalam berbagai masakan tradisional seperti arsik Batak, sambal kecombrang, dan kuah masakan Minangkabau. Tidak hanya sebagai penyedap, kecombrang juga memiliki banyak manfaat kesehatan.

Tanaman ini memiliki batang semu menyerupai jahe dengan tinggi mencapai 3–5 meter. Bagian yang paling sering dimanfaatkan adalah bunga, buah, dan batang mudanya. Bunga kecombrang berwarna merah muda atau merah cerah dengan bentuk yang indah, sehingga selain sebagai bahan makanan, tanaman ini juga sering ditanam sebagai tanaman hias.

Kecombrang termasuk keluarga Zingiberaceae atau keluarga jahe-jahean. Tidak mengherankan jika aromanya kuat dan khas, mirip jahe namun lebih segar dan floral. Aroma ini dihasilkan oleh minyak atsiri yang terkandung dalam bunga dan batangnya, membuat kecombrang berpotensi sebagai bahan parfum alami.

Dalam dunia kuliner Nusantara, kecombrang memiliki tempat yang istimewa. Masyarakat Batak memadukan kecombrang dalam masakan ikan arsik, sementara di Jawa kecombrang sering dijadikan campuran sambal atau urap. Di Bali, kecombrang menjadi bumbu pada lawar. Kehadirannya membuat rasa masakan menjadi lebih tajam dan segar.

Selain sebagai rempah, kecombrang juga kaya akan manfaat kesehatan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kecombrang memiliki kandungan antioksidan yang tinggi. Antioksidan ini bermanfaat untuk melawan radikal bebas, menjaga kesehatan kulit, serta mendukung sistem kekebalan tubuh.

Kecombrang juga diketahui memiliki sifat antibakteri dan antijamur. Ekstrak bunganya mampu menghambat pertumbuhan bakteri seperti Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Ini membuat kecombrang sering digunakan sebagai pengawet makanan alami atau bahan tambahan dalam olahan tradisional.

Dalam pengobatan tradisional, kecombrang digunakan untuk menurunkan demam, membersihkan darah, dan membantu pencernaan. Air rebusan batang atau bunga kecombrang dipercaya dapat membantu meredakan bau badan dan menjaga kesehatan lambung.

Tanaman ini relatif mudah dibudidayakan. Kecombrang dapat tumbuh di pekarangan rumah yang memiliki pencahayaan cukup dan tanah gembur yang lembap. Perbanyakannya dilakukan melalui rimpang yang ditanam langsung di tanah. Dengan perawatan sederhana seperti penyiraman dan pemupukan organik, kecombrang dapat tumbuh subur dalam 6–12 bulan.

Panen kecombrang dapat dilakukan ketika bunga mulai mekar dan memiliki warna cerah. Bunga yang dipanen pagi hari biasanya memiliki aroma paling kuat. Untuk penggunaan kuliner, bunga dapat diiris tipis dan langsung dicampurkan dalam masakan atau disimpan dalam lemari es untuk mempertahankan kesegarannya.

Kecombrang adalah tanaman yang bukan hanya memberikan cita rasa unik pada masakan Nusantara, tetapi juga memiliki nilai kesehatan dan potensi ekonomi. Dengan semakin tingginya minat masyarakat terhadap kuliner tradisional dan tanaman herbal, kecombrang dapat menjadi alternatif tanaman pekarangan yang bermanfaat bagi keluarga. Memperkenalkan kecombrang kepada generasi muda juga berarti menjaga warisan rempah Nusantara agar tetap lestari dan dikenal luas.

Panduan Budidaya Kecombrang (Etlingera elatior)

Tanaman rempah aromatik ini bisa ditanam di pekarangan rumah, kebun, maupun pot besar. Perawatannya juga sangat mudah.

1. Pemilihan Lokasi Tanam

Kecombrang menyukai lingkungan lembap dan cahaya matahari yang cukup.

  • Tempatkan di area yang mendapat sinar pagi hingga siang (4–6 jam per hari).
  • Cocok ditanam di tepi sungai, dekat pagar, atau area tanah gembur.

2. Persiapan Tanah

Tanah yang ideal untuk kecombrang adalah:

  • Gembur, kaya bahan organik, dan tidak tergenang.
  • pH tanah 5,5–7.0
    Campurkan tanah dengan kompos/kotoran sapi matang dengan perbandingan 2:1. Tambahkan sedikit pasir jika tanah terlalu padat agar drainase lebih baik.

3. Bahan Tanam (Rimpang)

Kecombrang paling mudah diperbanyak menggunakan rimpang, bukan biji.

  • Pilih rimpang sehat, tidak busuk, berwarna cerah, dan memiliki mata tunas.
  • Potong rimpang sepanjang 10–15 cm.
  • Olesi bagian potongan dengan abu dapur atau fungisida organik (optional) agar tidak mudah busuk.

4. Cara Menanam

  • Buat lubang tanam sedalam 15–20 cm.
  • Masukkan rimpang secara mendatar.
  • Tutup dengan tanah dan padatkan sedikit.
  • Siram hingga lembap, jangan sampai becek.
    Untuk pekarangan, jarak tanam ideal adalah 1 × 1 meter agar rumpun tumbuh besar.

5. Penyiraman

Kecombrang menyukai kelembapan, tetapi tidak toleran terhadap genangan.

  • Siram 2–3 kali seminggu pada musim kemarau.
  • Pada musim hujan, cukup 1 kali seminggu atau disesuaikan dengan kondisi tanah.

6. Pemupukan

Pemupukan dilakukan secara organik agar tanaman tumbuh sehat.

  • Gunakan pupuk kompos atau kotoran sapi/kambing fermentasi setiap 1–2 bulan.
  • Tambahkan cairan MOL, pupuk NPK organik, atau air cucian beras 1 kali seminggu untuk mempercepat pertumbuhan.

7. Perawatan Rutin

  • Bersihkan gulma di sekitar tanaman agar tidak berebut nutrisi.
  • Pangkas batang tua atau kering agar pertumbuhan tunas baru optimal.
  • Cegah hama seperti ulat atau kumbang dengan semprotan neem oil atau air sabun ramah lingkungan.

8. Waktu Tumbuh dan Panen

Kecombrang mulai produktif pada umur 8–12 bulan.
Bagian yang bisa dipanen:

  • Bunga: dipetik ketika warna cerah dan belum terlalu mekar.
  • Batang muda: digunakan sebagai bumbu tumis atau campuran sayur.
  • Buah: sering dipakai dalam masakan khas Batak.

Panen ideal dilakukan pagi hari agar aroma tetap kuat.

9. Penyimpanan Bunga Kecombrang

Untuk mempertahankan aroma dan warna:

  • Simpan dalam suhu dingin (lemari es) dalam plastik berlubang kecil.
  • Jangan mencuci bunga sebelum disimpan (cuci saat akan digunakan).

Bunga segar bisa bertahan 3–5 hari di lemari es.

10. Peluang Ekonomi Kecombrang

Kecombrang memiliki nilai jual cukup baik:

  • Bunga segar dijual Rp 15.000–40.000 per ikat (tergantung daerah).
  • Bisa diolah menjadi sambal kecombrang kemasan, teh herbal kecombrang, atau bumbu masak siap pakai.
  • Cocok untuk UMKM dan kebun keluarga.

9 thoughts on “Kecombrang dan Konservasi: Menjaga Rempah Nusantara, Menjaga Ekosistem

  • November 19, 2025 pada 11:56
    Permalink

    Alhamdulillah.
    Begitu kayanya Indonesia sebagai negara Tropis. Begitu banyaknya tumbuhan yang diciptakan Allah ada di Indonesia.
    Dari tumbuhan rempah- rempah , tanaman herbal , buah – buahan hingga bunga – bunga yang indah. Yang menjaga ekosistem alam. Dan menjaga konservasi air dan tanah.
    Tanaman kecombrang ternyata mengandung banyak manfaat.untuk di konsumsi , kesehatan, keindahan.
    Kita wajib menjaga kekayaan flora yang ada di Tanah Air.

    FAKHRIE ZHAFRAN KHAIRY
    SDN Margorejo 1/403 Surabaya
    No Peserta: 253
    Proyek: Pengolahan Sampah Organik Dapat Memberikan Nutrisi Pada Tanaman

    Balas
  • November 19, 2025 pada 19:02
    Permalink

    Nayla Thalita Azzahra
    No Peserta : 524
    SDN Petemon IX
    Judul Project : Lets Go to Bali Badung ( Ayo Budidaya Lidah Buaya dengan Produk Unggulan )

    Artikel yang cukup menarik serta informastif. Jujur saya awal mengenal bunga kecombrang adalah 2 tahun lalu saat saya bersama keluarga liburan ke Dieng. Di daerah Wonosobo tersebut memiliki makanan khas yaitu nasi kecombrang. Dari situ saya penasaran seperti apa bentuk bunga kecombrang, ternyata di daerah Wonosobo & Banjarnegara banyak sekali terdapat kebun yang ditanami bunga kecombrang. Ternyata bunga kecombrang memiliki banyak sekali manfaat, diantaranya adalah termasuk tumbungan dengan anti oksidan yang tinggi sehingga bisa memperlambat pertumbuhan sel kangker, memiliki sifat antiseptik atau anti bakteri, melancarkan pencernakan, menghilangkan bau badan, meredakan peradangan, menghilangkan bau masakan serta menyehatkan fungsi jantung.

    Salam Bumi Pasti Lestari

    Balas
  • November 22, 2025 pada 21:16
    Permalink

    baru tau ternyata bunga kecombrang memiliki banyak manfaat, makasih atas artikel ini yang memberikan banyak ilmu!!!

    Balas
  • November 23, 2025 pada 01:54
    Permalink

    Wah, ternyata bunga Kecombrang banyak manfaatnya. Terima kasih ilmunya Tunas Hijau✨️

    Nama : Fathan Alby Andhitama
    No : 0037
    Asal sekolah : SDN Banyu Urip III Sby
    Proyek LH : Pengolahan Limbah Minyak Jelantah Menjadi Sabun

    Halo sobat hijau 🌳
    Limbah minyak jelantah seringkali dibuang sembarangan ke saluran air atau tanah, sehingga dapat mencemari lingkungan. Dengan mengolah limbah minyak jelantah menjadi produk yang bermanfaat seperti sabun adalah salah satu solusi hidup ramah lingkungan.
    Salam bumi, pasti lestari 🌱

    Balas
  • November 24, 2025 pada 22:18
    Permalink

    Kecombrang dan Konservasi: Menjaga Rempah Nusantara, Menjaga Ekosistem
    Menambah ilmu pengetahuan
    Nama : Naysia Aqila Andriani
    Sekolah : SDN Ngagelrejo3
    No peserta: 428
    Proyek budi daya sereh

    proyek tanaman sereh dengan hasil olahan Sereh lemon dan wedang uwuh

    🌱Naysia Aqila Andriani_SDN Ngagelrejo3_428_

    Balas
  • November 25, 2025 pada 19:52
    Permalink

    Kecombrang adalah salah satu tanaman rempah aromatik yang punya banyak kelebihan—bukan hanya mudah dirawat, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan. Menariknya, tanaman ini bisa tumbuh hampir di mana saja: di pekarangan, kebun, bahkan pot besar, asalkan mendapatkan sinar matahari yang cukup dan tanahnya lembap namun tidak tergenang. Proses menanamnya pun sangat sederhana, mulai dari memilih rimpang sehat, menyiapkan tanah gembur kaya bahan organik, hingga menanamnya secara mendatar pada kedalaman 15–20 cm.

    Yang membuat kecombrang istimewa adalah perawatannya yang minim. Cukup rutin menyiram 2–3 kali seminggu, menambahkan pupuk organik tiap 1–2 bulan, serta menjaga area sekitar dari gulma dan hama ringan. Dalam waktu 8–12 bulan, tanaman ini sudah bisa dipanen, baik bunganya yang harum, batang mudanya yang lezat, maupun buahnya yang sering digunakan dalam masakan khas Batak.

    Lebih dari sekadar tanaman dapur, kecombrang juga membuka peluang ekonomi. Harga jualnya cukup tinggi, dan produk olahannya—seperti sambal kecombrang, teh herbal, hingga bumbu siap pakai—berpotensi menjadi usaha rumahan yang menarik. Dengan manfaat kuliner, kesehatan, hingga peluang usaha, kecombrang jelas menjadi tanaman yang layak ditanam oleh siapa pun yang ingin memaksimalkan pekarangan rumah secara produktif.

    Balas
  • November 30, 2025 pada 18:27
    Permalink

    saya frisdya lanikmaruf isfani dari SMPN 57 Surabaya dengan nomer urut 1382 proyek saya yaitu pengolahan sampah GALBOT (Galon dan botol) sebagai kreasi furnitur dan fashion aksesoris

    kecombrang termasuk tanaman rempah yang istimewah, maka dari itu kita perlu wajib menjaga dan melestarikan tanaman istimewah ini

    Balas
  • Desember 10, 2025 pada 18:18
    Permalink

    Kecombrang bukan hanya bumbu masakan unik, tapi juga sumber antioksidan, antibakteri, dan nutrisi bermanfaat untuk kesehatan

    Akifa Maulidya (698)
    SDN Tandes Kidul 1
    Budidaya organik tanaman kale

    Balas
  • Desember 16, 2025 pada 08:33
    Permalink

    Pembahasannya mengalir dan mudah diikuti, menampilkan kecombrang sebagai tanaman yang bernilai budaya sekaligus fungsional. Informasi tentang manfaat dan budidayanya memberi dorongan nyata untuk memanfaatkan pekarangan secara produktif. Pesan pelestarian rempah Nusantara tersampaikan dengan kuat dan relevan.

    Saya Hafsa Faizal Tamir Raffa, sering dipanggil Hafsa, saya bersekolah di SMPN 38 Surabaya. Dengan nomor peserta 603.
    ‎Judul proyek saya adalah KERTANI (Kertas Tanam Inovatif).

    ‎Tujuan proyek saya adalah untuk mendaur ulang kertas atau buku bekas menjadi kertas baru, lalu kertas baru itu dijadikan kertas tanam. Ini bertujuan untuk mengurangi sampah kertas yang menumpuk dirumah kita ataupun rumah tetangga.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *