Longsor Tidak Ujug-Ujug
Longsor bukanlah bencana yang datang tiba-tiba tanpa aba-aba. Begitulah penegasan Dr. Ir. Amien Widodo, M.Si, dosen Teknik Geofisika ITS sekaligus peneliti senior di Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim ITS, mengenai meningkatnya potensi bencana hidrometeorologi di banyak daerah. “Tuhan selalu memberi peringatan kepada umat-Nya sebelum sebuah bencana terjadi. Tugas kitalah yang peka membaca tanda-tandanya,” jelasnya.
Menurut Dr. Amien, kondisi iklim saat ini sedang berada dalam fase ekstrem. Meskipun seharusnya memasuki musim kemarau, hujan intensitas tinggi masih sering turun di banyak wilayah. Situasi ini memberi tekanan besar pada lereng perbukitan dan daerah dengan struktur tanah yang labil. Karena itu, ia menekankan pentingnya tindakan cepat. “Kita perlu melakukan survei cepat ke semua lokasi rawan longsor di wilayah masing-masing. Jangan menunggu kejadian, tetapi lakukan pemeriksaan saat tanda bahaya mulai muncul,” ujar Amien.
Survei cepat ini bukan hanya untuk melihat kondisi permukaan tanah, tetapi juga untuk menilai tiga hal penting:
- Tingkat bahaya longsor, termasuk apakah tanah sudah menunjukkan ketidakstabilan signifikan.
- Jarak jangkau material longsoran, yang menentukan apakah rumah warga, jalan, atau aset vital lainnya berada dalam zona ancaman.
- Potensi dampak lanjutan, misalnya apakah material longsor akan mengubah alirannya menjadi banjir bandangyang dapat merusak jembatan, jalan, saluran irigasi, hingga bangunan bendungan.
“Kita tidak hanya bicara tanah bergerak turun. Banyak longsor yang akhirnya berubah menjadi aliran lumpur besar yang kecepatannya tinggi. Ini jauh lebih berbahaya,” jelas Dr. Amien.
Tanda-Tanda Tanah Mau Longsor
Dr. Amien menegaskan bahwa setiap warga dapat melakukan deteksi dini melalui pengamatan sederhana di lingkungan sekitar. Setidaknya terdapat tujuh tanda yang sering muncul sebelum terjadinya longsor besar:
- Muncul longsor-longsor kecil pada lereng. Ini adalah alarm awal bahwa tanah sudah mulai kehilangan daya ikatnya.
- Retakan di tanah, tembok rumah, atau pagar. “Retakan ini tidak boleh dianggap sepele. Bila melebar, ia bisa berubah menjadi gerakan tanah dan amblesan,” jelasnya.
- Pintu dan jendela rumah tiba-tiba sulit dibuka karena struktur tanah di bawah bangunan mulai bergerak.
- Pohon atau tiang listrik miring, tanda bahwa tanah tempat berpijaknya ikut bergeser.
- Akar pohon terlihat terangkat seperti tersibak dari bawah.
- Sumur tiba-tiba kehilangan air di daerah lereng, menandakan perubahan jalur air bawah tanah.
- Muncul mata air baru di lereng, sebagai indikasi tekanan air pori meningkat—salah satu pemicu longsor.
Jika salah satu atau beberapa tanda ini muncul, masyarakat diminta tidak menunda laporan. “Segera laporkan kepada kepala desa atau camat, agar bisa diteruskan ke BPBD atau pihak berwenang lainnya. Keterlambatan dapat memperbesar risiko korban jiwa,” tegas Dr. Amien.
Kewaspadaan Kolektif untuk Mengurangi Korban
Dr. Amien menutup wawancara dengan ajakan yang kuat. Longsor memang dipengaruhi hujan dan kondisi alam, tetapi mitigasi adalah tanggung jawab manusia. “Kita tidak bisa menghentikan hujan. Tapi kita bisa mengurangi risiko. Kuncinya adalah peka, cepat, dan mau bertindak,” ujarnya.
Dalam kondisi iklim yang makin tidak menentu, kemampuan membaca tanda-tanda alam adalah perlindungan terbaik yang dimiliki masyarakat. Dengan kewaspadaan dini, pelaporan cepat, dan survei lapangan yang rutin, potensi bencana longsor dapat ditekan, dan lebih banyak nyawa dapat diselamatkan. (*/Mochamad Zamroni)


Pergi ke bukit memetik melati,
Singgah sebentar di pohon jati.
Mari menjaga alam lestari,
Agar longsor tidak terjadi.
Air disungai warnanya keruh,
Tanda hujan telah tiba.
Waspadalah diri jangan mengeluh,
Semoga selamat dari musibah.
Reynando Yudhistira putra
SDN Wiyung 1 Surabaya
Pengolahan sampah plastik
No peserta 409
Yokk.. hentikan penebangan pohon liar, yokk tanam lebih banyak pohon.
DB. Abisatya
SD-319
SDN Rangkah VI Sby
Aksi Nyata Lindungi Bumi
Mitigasi tanah longsor tanggung jawab manusia dengan mengurangi resiko dan dampaknya.
Yaitu dengan tidak menebangi hutan lindung, penebangan pohon di lereng gunung. Lakukan Reboisasi ( penanaman hutan kembali ) dan penghijauan.
FAKHRIE ZHAFRAN KHAIRY
SDN Margorejo 1/403 Surabaya
No Peserta: 253
Proyek: Pengolahan Sampah Organik Dapat Memberikan Nutrisi Pada Tanaman
Longsor tidak terjadi ujug-ujug. Melalui pemahaman ini, kita diajak untuk lebih peduli menjaga alam—menanam pohon, merawat tanah, dan mengelola lingkungan dengan bijak. Kesadaran kecil dari setiap orang bisa menjadi langkah besar mencegah bencana di masa depan.
Messa eko putri -018
-membudidaya 5000 tanaman lidah buaya
Judul proyek : menyelamatkan bumi dengan lidah buaya
Hexa afzal hermawan
Sdn wonokusumo 6
Finalis pangeran lingkungan hidup thn 2025 dengan no peserta 421
Proyek saya adalah budita cabi budidaya tanaman cabai.
Keren
Nayla Thalita Azzahra
No Peserta : 524
SDN Petemon IX
Judul Project : Lets Go to Bali Badung ( Ayo Budidaya Lidah Buaya dengan Produk Unggulan )
Terjadinya tanah longsor ataupun banjir bandang adalah akumulasi dari akibat semakin maraknya illegal logging atau penebangan liar di hutan – hutan yang seharusnya mampu menjadi penahan longsornya tanah maupun berfungsi sebagai penyerap air tanah. Sehingga kuantitas vegetasi menurun sehingga rawan sekali menyebabkan bencana. Oleh karena itu marilah kita sebagai manusia tidak berpikir dan bertindak egois demi keuntungan segelintir orang namun membahayakan ekosistem dan membahayakan orang lain. Cintai hutan kita, lindungi hutan kita, demi anaka cucu kita kelak.
Salam Bumi Pasti Lestari
Y betul kita harus tau cara pencegahan terjadi ny longsor, kesiap siagaan bencana. Belajar memahami iklim dan tanda tanda terjadi nya longsor
Semoga kita selalu dilindungi dr segala musibah
Eno wahyu kamagading
SDN Pacarkeking 1/182 surabaya
Eco enzym
452
Longsor tidak ujug ujug terjadi.
Artinya pasti ada sebabnya dan terjadi banyak hal sebelumnya hingga reejadilah longsor.
Diantaranya penebangan pohon di hutan secara liar.
Maka kita giatkan kembali reboisasi dan menanam pohon di sekitaran kita.
Mari kita jaga alam ini demi masa depan anak cucu kita.
Salam Bumi Pasti Lestari
Salam Komandan.
Marshall Dastan Putra R
Sdn. Ketabang 1/288
No peserta 207
Project : KOMANDAN (Koleksi Tanaman Pandan)
artikel yang sangat memberikan informasi yang bermanfaat agar terhindar dari bencana alam, tetap waspada ya teman teman semua!!
Mitigasi bencana tanah longsor harus kita ketahui agar tetap waspada. Terima kasih Tunas Hijau untuk ilmunya yg sangat bermanfaat ini.
Nama : Fathan Alby Andhitama
No : 0037
Asal sekolah : SDN Banyu Urip III Sby
Proyek LH : Pengolahan Limbah Minyak Jelantah Menjadi Sabun
Halo sobat hijau 🌳
Limbah minyak jelantah seringkali dibuang sembarangan ke saluran air atau tanah, sehingga dapat mencemari lingkungan. Dengan mengolah limbah minyak jelantah menjadi produk yang bermanfaat seperti sabun adalah salah satu solusi hidup ramah lingkungan.
Salam bumi, pasti lestari 🌱
Hentikan penebangan pohon di hutan secara liar,Dan kita harus giatkan lagi kembali reboisasi dan menanam pohon di sekitaran kita.Mari kita jaga alam ini demi masa depan kita semuanya.
Nama: Muhammad Hidayahtullah
Sekolah; SDN KAPASARI 1/292 Surabaya
No Peserta: 145
Proyek: Budidaya Daun Pandan
Artikel “Longsor Tidak Ujug-Ujug” ini benar-benar membuka mata bahwa bencana longsor bukanlah kejadian mendadak, melainkan akumulasi tanda-tanda yang seringkali kita abaikan. Penjelasan Dr. Amien Widodo sangat menegaskan bahwa alam selalu memberi sinyal sebelum bencana terjadi—tugas kitalah untuk lebih peka, lebih peduli, dan lebih cepat bertindak.
Di tengah kondisi iklim yang makin ekstrem, pesan tentang survei cepat dan deteksi dini menjadi sangat penting. Retakan kecil, pohon miring, pintu sulit dibuka, hingga muncul mata air baru di lereng—semuanya adalah tanda bahaya yang tidak boleh dianggap remeh. Edukasi sederhana namun detail seperti ini sangat dibutuhkan masyarakat untuk mencegah korban jiwa.
Saya sangat setuju bahwa mitigasi bukan hanya urusan pemerintah, tetapi kewaspadaan kolektif. Semakin cepat masyarakat melapor, semakin besar peluang penyelamatan. Apa yang disampaikan Dr. Amien bukan sekadar teori, tetapi ajakan moral agar kita lebih peduli terhadap lingkungan tempat tinggal kita sendiri.
Semoga informasi ini menyebar lebih luas dan semakin banyak warga yang memahami pentingnya membaca tanda-tanda alam. Karena dengan kepekaan dan tindakan cepat, kita bisa mengurangi risiko, menyelamatkan nyawa, dan membangun masyarakat yang lebih tangguh dalam menghadapi bencana.
Bencana memang tidak selalu bisa dicegah, tetapi dampaknya selalu bisa diminimalkan jika kita mau peka dan bergerak. 🌱🌧️🧭
Kenzo Anugrah Ramadhan/567
EGGSELENT FOR GROW
Pengolahan cangkang telur dijadikan pupuk
Longsor Tidak Ujug-Ujug
Menambah ilmu pengetahuan tenyang longsor
Nama : Naysia Aqila Andriani
Sekolah : SDN Ngagelrejo3
No peserta: 428
Proyek budi daya sereh
proyek tanaman sereh dengan hasil olahan Sereh lemon dan wedang uwuh
🌱Naysia Aqila Andriani_SDN Ngagelrejo3_428_
Artikel “Longsor tidak ujug – ujug” ini memberikan edukasi penting terhadap masyarakat dan kita semua. Dr. Amien menjelaskan dengan detail bahwa longsordapat kita kurangi risikonya dengan peka terhadap tanda tanda kecil seperti kaca jendela yang sulit dibuka, tiang miring, atau munculnya mata air baru. Semoga dengan adanya artikel ini kita dapat mengurangi risiko korban jiwa akibat longsor.
Naziya Putri S. A. – 612
SDN Sawunggaling 1/382
Dengan judul proyek NoBiTA
saya frisdya lanikmaruf isfani dari SMPN 57 Surabaya dengan nomer urut 1382 proyek saya yaitu pengolahan sampah GALBOT (Galon dan botol) sebagai kreasi furnitur dan fashion aksesoris
nah jadi teman teman perlunya kita menanam masal di daerah kita untuk mencegah longsor
Mitigasi tanah longsor tanggung jawab manusia dengan mengurangi resiko dan dampaknya.
Yaitu dengan tidak menebangi hutan lindung, penebangan pohon di lereng gunung. Lakukan Reboisasi ( penanaman hutan kembali ) dan penghijauan.
Nama :Muhammad hakam Yasin
Sekolah :smpn negeri 46 surabaya
Dengan melalui artikel ini kita harus bisa antisipasi untuk mencegah bencana longsor karena bencana longsor tidak ujug ujug disebabkan adanya penebangan dihutan secara liar maka dari itu kita harus peduli terhadap lingkungan dengan reboisasi dan penanaman pohon. Yuk kita peduli dengan lingkungan dengan menjaga dan melestarikan lingkungan. Semoga kita semua terhindar dari bahaya amiin ya robbal alamin.
Jangan Lupa Intip Proyek saya ya teman-teman.
Saya Muhammad Khabibi Nur Rokhman
Saya adalah Finalis pangeran dan putri lingkungan hidup tahun 2025
No.Peserta 31
Saya dari SDN BANJARSUGIHAN V/617 SURABAYA
Proyek Lingkungan Hidup Saya adalah PESAN OJEC APIK(Pemanfaatan Sampah Non Organik Jadi Ecobrick dan Anyaman Plastik)
Disini saya mengajak semua untuk peduli lingkungan dengan mengurangi sampah plastik karena jumlah sampah plastik semakin banyak salah satunya kemasan sachet yang tidak didaur ulang maka saya memanfaatkannya menjadi barang yang bermanfaat yaitu ecobrick dan anyaman plastik daripada sampah plastik tersebut terbuang begitu saja.
Salam Bumi Pasti Lestari
Salam Sadar Iklim
Salam Zerowaste
Salam Basuma Jaya Jaya Jaya
Pokoe ngeten pun
Potensi bencana hidrometeorologi makin sering muncul belakangan ini. Hujan ekstrem, banjir, angin kencang, sampai tanah longsor semua saling berkaitan. Penting banget buat kita siap siaga dan jaga lingkungan biar dampaknya bisa diminimalkan.
Isvara Nareswari Aryanto
SDN Kaliasin 1
Budidaya Tanaman Pacar Air
Pahami bahaya longsor dan cara menghindarinya.Tanam pohon berakar kuat untuk menahan tanah.
Akifa Maulidya (698)
SDN Tandes Kidul 1
Budidaya organik tanaman kale
Ini lah pentingnya mempelajari mitigasi tanggap bencana nasional, agar masyarakat bs ambil tindakan cepat dan tepat saat terjadi bencana dan juga bs meningkatkan kesadaran masyarakatnya untuk pentingnya menanam pohon sebagai antisipasi bencana longsor
Nama : Fatimah Nawal Rahman
Asal Sekolah : SDN Balongsari 1/500 Surabaya
No. Peserta : 026
Pencapaian : 1.793,75 kg
Daur ulang sampah An Organik menjadi produk kerajinan
Upaya : mengurangi sampah plastik yang berakhir ditempat pembuangan sampah untuk didaur ulang menjadi kerajinan tangan
Artikel Longsor Tidak Ujug-Ujug ini sangat penting untuk membuka kesadaran masyarakat bahwa bencana longsor sebenarnya selalu memberikan tanda-tanda awal yang bisa diamati. Penjelasan Dr. Amien Widodo mengenai kondisi iklim ekstrem dan perlunya survei cepat ke wilayah rawan longsor benar-benar relevan dengan keadaan saat ini. Banyak orang mengira longsor datang tiba-tiba, padahal tanda-tandanya seperti retakan tanah, pohon miring, hingga mata air baru di lereng sudah menjadi alarm alami yang harus segera ditindaklanjuti. Artikel ini mengajak kita untuk lebih peka, tidak menunda laporan, dan membangun kewaspadaan kolektif. Jika masyarakat, pemerintah desa, dan BPBD bergerak lebih cepat, risiko korban bisa jauh berkurang. Terima kasih Tunas Hijau telah terus menghadirkan edukasi kebencanaan yang sangat dibutuhkan generasi muda
Ulasan ini sangat informatif dan mencerahkan karena menjelaskan bencana longsor secara ilmiah namun mudah dipahami masyarakat. Penekanan pada tanda-tanda dini dan pentingnya kewaspadaan kolektif menjadi edukasi yang sangat berharga.
Saya Hafsa Faizal Tamir Raffa, sering dipanggil Hafsa, saya bersekolah di SMPN 38 Surabaya. Dengan nomor peserta 603.
Judul proyek saya adalah KERTANI (Kertas Tanam Inovatif).
Tujuan proyek saya adalah untuk mendaur ulang kertas atau buku bekas menjadi kertas baru, lalu kertas baru itu dijadikan kertas tanam. Ini bertujuan untuk mengurangi sampah kertas yang menumpuk dirumah kita ataupun rumah tetangga.