Serunya Orang Tua Siswa Berlatih Olah Kulit Buah menjadi Eco Enzim bersama Bank Mandiri
Pelatihan Pengolahan Sampah Organik menjadi Eco Enzim diselenggarakan oleh Tunas Hijau bersama Bank Mandiri di SDN Nginden Jangkungan I Surabaya, Senin (25/11/2024).
Peserta pelatihan ini adalah 55 orang tua siswa dari SDN Nginden Jangkungan I, SDN Keputih 245, SDN Menur Pumpungan IV, SMPN 5, SMPN 57, SDN Rungkut Menanggal I, SMPN 23, SMPN 3, SD Islam Al Azhar Kelapa Gading, SDN Jemur Wonosari I, dan SDN Klampis Ngasem I.
Narasumber webinar ini adalah pangeran putri lingkungan hidup 2023 dan 2024 dengan proyek pengolahan sampah organik menjadi eco enzim. Mereka Mayfrina Aisyahrani (Putri II Lingkungan Hidup 2023), M. Zuhud Ardityawan (Finalis Pangeran Lingkungan Hidup 2024), Raihan Jouzu (Finalis Pangeran Lingkungan Hidup 2024) dan Kayla Azzalea Yasmin (Finalis Putri Lingkungan Hidup 2024).
Mereka berempat mengembangkan proyek pengolahan sampah organik menjadi eco enzim dengan capaian sampah organik yang sudah diolah masing-masing telah mencapai ribuan kilogram.

Mengawali pemaparannya, Mayfrina Aisyahrani menjelaskan bahwa Eco Enzim adalah cairan alami multifungsi alami hasil fermentasi dari bahan organik (kulit buah dan sayuran), gula merah/molase dan air.
“Cairan ini memiliki banyak manfaat di berbagai bidang kehidupan, baik untuk lingkungan, kesehatan, maupun rumah tangga. Untuk lingkungan bisa mengurangi polusi air, mengurai limbah organik dan menjaga kualitas udara,” kata Mayfrina Aisyahrani yang telah mengolah 6 ton sampah organik menjadi eco enzim.
Eco enzim juga bisa bermanfaat untuk keluarga. “Untuk keluarga, eco enzim bisa berfungsi untuk cairan pembersih serbaguna, penghilang bau dan pestisida alami,” Mayfrina Aisyahrani menambahkan penjelasannya.

Eco enzim juga bisa berfungsi untuk pertanian. “Untuk pertanian, eco enzim bisa berfungsi sebagai pupuk alami dan pengendali hama,” terang Mayfrina. “Untuk kesehatan, eco enzim bisa berfungsi sebagai antibakteri alami dan aromaterapi. Sedangkan untuk industri, eco enzim bisa berfungsi untuk mengolah limbah dan pembersih alami,” jelas Mayfrina.
Untuk membuat eco enzim, dikenal dengan rumusan 1 : 3 : 10. “1 kilogram molase atau gula merah, dicampur dengan 3 kilogram sampah organik dan 10 liter air. Untuk air, sebaiknya menggunakan air sumur atau air buangan AC. Jika menggunakan air PDAM, maka harus didiamkan semalam dulu,” terang Mayfrina.
Cara pembuatannya cukup mudah. “Pertama, masukkan bahan organik (kulit buah/sayur) ke dalam wadah tertutup seperti galon. Kedua, masukkan gula merah atau molase. Ketiga, Tambahkan air lalu diaduk. Keempat, fermentasi selama 90 hari atau 3 bulan,” Mayfrina berkata sambil mempraktekkan.

Khayla Azzalea Yasmin, siswa SD Islam Al Azhar Kelapa Gading Surabaya menambahkan bahwa dia telah mengolah 1205 kilogram sampah organik menjadi eco enzim. “Saya pernah mendapati galon eco enzim saya meledak karena lupa memberi rongga pembuangan udara,” tutur Yasmin.
M Zuhud Ardityawan menambahkan, bahwa untuk pemanenan setelah 90 hari bisa dilakukan dengan menyaringnya menggunakan kain atau serbet yang bersih. “Eco enzim yang telah dipanen tidak ada masa kadaluarsanya,” terang Zuhud merespon pertanyaan peserta pelatihan.
Setelah sesi tanya jawab, seluruh peserta praktik bersama membuat eco enzim menggunakan galon dan bahan yang telah disediakan oleh Bank Mandiri. Seluruh peserta nampak bersemangat memilih sampah kulit buah yang telah disediakan oleh panitia dan menimbangnya.

Setelah 3 kilogram, kulit buah itu dimasukkan ke dalam galon dan mencampurkannya dengan cairan molase 1 kilogram. Untuk kemudahan dalam membawa pulang galon olahan eco enzim itu, mereka akan menambahkan 10 liter air setelah sampai di rumah. (*)
Penulis: Mochamad Zamroni


Semangat untuk penghijauan alam menjadi segar dan damai
keren banget!🍄💪
gambar nya bagus banget lagi, semangat ya! ✨🌷
🏫sekolah : SDN pakis v/372 surabaya
🎀nama : klarissa Asita Dewi
⌨️no peserta : 494
🌱nama proyek : sereh punya ku