Pelatihan Pengolahan Sampah Organik dengan Compost Bag bersama Bank Mandiri 

Sampah organik merupakan salah satu jenis limbah yang jumlahnya cukup besar di lingkungan masyarakat. Sampah ini sering kali hanya dibiarkan membusuk tanpa dimanfaatkan, padahal memiliki potensi besar untuk diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman. 

Untuk mendukung pengelolaan sampah yang lebih baik, kegiatan pelatihan “Pengolahan Sampah Organik dengan Compost Bag” diselenggarakan oleh Tunas Hijau bersama Bank Mandiri pada Selasa (26/11/2024) di SDN Pacarkeling I Surabaya. 

Kegiatan ini diikuti oleh 52 peserta yang terdiri dari para orang tua siswa dari SMPN 23, SMPN 6, SMPN 8, SDN Pacarkeling V, SDN Rangkah I, SDN Gading I, SDN Kaliasin I, SDN Pacarkeling IX, SDN Rangkah VI, SDN Jemur Wonosari I, SMPN 57, SDN Tambaksari III, SMPN 1, dan SMPN 43 Surabaya. 

Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan keterampilan kepada masyarakat, khususnya orang tua siswa, mengenai cara mengolah sampah organik dengan metode yang sederhana, hemat tempat, dan ramah lingkungan menggunakan compost bag

Zamroni menjelaskan cara pengolahan sampah organik dengan compost bag. Termasuk juga cara panen komposnya

Compost bag adalah kantong khusus yang dirancang untuk proses pengomposan. Metode ini sangat cocok untuk digunakan di lingkungan perkotaan atau rumah dengan lahan terbatas,” kata Mochamad Zamroni, Aktivis Senior Tunas Hijau yang menjadi pemateri pelatihan ini didampingi M. Zuhud Ardityawan finalis pangeran lingkungan hidup 2024 dari SDN Jemur Wonosari I yang mengembangkan proyek pengolahan sampah organik. 

Koordinator Tim Penyuluhan Masyarakat Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya Satiah yang hadir sangat mengapresiasi pelatihan ini. “Tolong bantu Pemerintah Kota Surabaya mengurangi sampah yang dikirim ke tempat pengolahan akhir sampah (TPA) Benowo. Saat ini sudah sekitar 1600 ton sampah yang dikirim ke TPA Benowo dalam sehari,” tutur Satiah.

Pelatihan dimulai dengan sesi teori yang menjelaskan konsep dasar pengomposan, manfaat kompos, dan prinsip kerja compost bag. Peserta juga diajarkan cara memilah sampah organik dari limbah rumah tangga seperti sisa makanan, daun kering, dan kulit buah. Setelah sesi teori, pelatihan dilanjutkan dengan praktik langsung. 

Setiap peserta diberikan satu compost bag dan diajarkan cara mengisi, mengelola, dan memonitor proses pengomposan agar menghasilkan kompos berkualitas. Antusiasme peserta terlihat saat sesi tanya jawab berlangsung. Banyak peserta yang bertanya tentang cara menangani masalah seperti bau tidak sedap atau belatung yang mungkin muncul selama proses pengomposan. 

Peserta Pelatihan Pengolahan Sampah Organik Compost Bag

“Bila bau tidak sedah muncul atau belatung tumbuh di atasnya, maka solusi praktisnya bisa dengan  menambahkan dedaunan atau rumput kering untuk mengurangi bau dan menjaga keseimbangan komposisi material dalam compost bag,” jelas Zamroni. 

Peserta juga diajarkan cara memanen kompos dan menggunakannya sebagai pupuk organik untuk tanaman. Pada akhir pelatihan, peserta menyampaikan rasa puas dan bersemangat untuk menerapkan ilmu yang mereka dapatkan di rumah masing-masing. 

Dami, Kepala SDN Pacarkeling I Surabaya, sangat berterima kasih bisa menjadi tuan rumah pelatihan ini. “Banyak orang tua siswa dan juga saya kini menjadi paham cara mengolah sampah organik menggunakan compost bag ini. Saya akan menerapkannya di rumah,” tutur Dami. (*)

Penulis: Mochamad Zamroni 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *