Anak dan Bencana: Cara Tepat Mengedukasi Tanpa Menakuti

Bencana alam adalah bagian dari realitas hidup yang tidak bisa kita hindari. Gempa bumi, banjir, kebakaran, dan angin kencang bisa terjadi kapan saja. Namun, mengenalkan hal ini kepada anak seringkali menjadi dilema bagi orang tua: bagaimana cara memberi pengetahuan yang cukup agar mereka siap, tetapi tanpa menimbulkan rasa takut yang berlebihan? Pendekatan yang ramah anak menjadi kunci agar edukasi kebencanaan bisa diterima dengan baik.

Langkah pertama adalah menyesuaikan bahasa dan cara penyampaian sesuai usia anak. Untuk anak usia dini, gunakan kata-kata sederhana dan contoh konkret. Hindari istilah teknis atau visualisasi bencana yang terlalu ekstrem. Alih-alih menampilkan gambar kerusakan besar, tunjukkan ilustrasi yang menjelaskan apa yang harus dilakukan jika bencana terjadi, seperti “jika gempa, ayo kita sembunyi di bawah meja.”

Kedua, gunakan permainan dan aktivitas kreatif sebagai sarana edukasi. Banyak anak lebih mudah belajar saat mereka bermain. Misalnya, orang tua bisa mengajak anak bermain “simulasi evakuasi” di rumah. Permainan ini bisa berupa lomba menemukan jalur keluar terdekat atau mencari tempat aman di dalam rumah. Dengan cara ini, anak belajar sambil tetap merasa senang dan nyaman.

Ketiga, libatkan cerita dan tokoh yang mereka sukai. Buku cerita bergambar atau video animasi tentang pahlawan cilik yang membantu orang lain saat bencana bisa menjadi media efektif. Cerita ini tidak hanya memberi pemahaman, tetapi juga membangun rasa percaya diri bahwa mereka bisa berperan positif jika suatu saat menghadapi situasi darurat.

Keempat, lakukan latihan kecil secara rutin agar pengetahuan anak terjaga. Misalnya, setiap dua bulan sekali mengadakan “hari siaga bencana” di rumah. Ajak anak menyiapkan tas siaga yang berisi air minum, senter, baju ganti, dan makanan ringan. Beri kesempatan mereka untuk memeriksa dan memperbarui isinya. Kebiasaan ini melatih mereka untuk siap tanpa merasa tertekan.

Kelima, berikan informasi yang menekankan harapan dan solusi, bukan hanya ancaman. Saat menjelaskan banjir, misalnya, tekankan bahwa ada cara untuk tetap aman, seperti pindah ke tempat lebih tinggi dan menyimpan barang penting di lokasi aman. Sikap optimis ini membantu anak merasa bencana adalah tantangan yang bisa dihadapi, bukan ancaman yang tak terhindarkan.

Keenam, libatkan anak dalam aksi nyata pencegahan bencana. Mengajak mereka menanam pohon di halaman untuk mencegah erosi, membersihkan saluran air untuk mencegah banjir, atau membuat kotak P3K keluarga adalah contoh aktivitas yang menggabungkan edukasi dengan kontribusi positif. Anak akan merasa bangga karena ikut menjaga keselamatan bersama.

Ketujuh, dengarkan perasaan dan pertanyaan anak. Kadang, setelah mendengar tentang bencana, mereka akan punya banyak pertanyaan atau bahkan rasa cemas. Orang tua perlu memberi ruang aman untuk anak bercerita dan mengungkapkan rasa takutnya. Jawablah pertanyaan mereka dengan jujur, tetapi tetap dengan nada menenangkan.

Kedelapan, manfaatkan momen bersama untuk mengulang pesan penting. Saat makan malam atau berkumpul bersama, orang tua bisa menyelipkan kuis ringan tentang langkah yang harus diambil saat gempa atau banjir. Aktivitas ini membuat pengetahuan bencana menjadi bagian dari obrolan sehari-hari, bukan pembahasan yang hanya muncul saat ada kejadian darurat.

Terakhir, kesembilan, ingatlah bahwa edukasi kebencanaan pada anak adalah proses berkelanjutan. Tidak cukup sekali atau dua kali. Dengan pendekatan yang konsisten, menyenangkan, dan penuh empati, anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, siap menghadapi bencana dengan tenang, dan mampu membantu orang lain di sekitarnya. Pada akhirnya, kita tidak hanya melindungi mereka dari risiko, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan hidup yang berharga sepanjang masa. (*/Mochamad Zamroni)

30 thoughts on “Anak dan Bencana: Cara Tepat Mengedukasi Tanpa Menakuti

  • Agustus 11, 2025 pada 07:58
    Permalink

    Terima kasih atas ilmunya yang bermanfaat.

    Saya Hafsa Faizal Tamir Raffa, sering dipanggil Hafsa, saya bersekolah di SMPN 38 Surabaya. Dengan nomor peserta 603.
    ‎Judul proyek saya adalah KERTANI (Kertas Tanam Inovatif).

    ‎Tujuan proyek saya adalah untuk mendaur ulang kertas atau buku bekas menjadi kertas baru, lalu kertas baru itu dijadikan kertas tanam. Ini bertujuan untuk mengurangi sampah kertas yang menumpuk dirumah kita ataupun rumah tetangga.

    Balas
  • Agustus 11, 2025 pada 08:45
    Permalink

    Messa Eko Putri – 018 Artikel ini bisa menambah wawasan kami tentang pentingnya menjaga lingkungan dan Tunas Hijau 2025 benar-benar menjadi wadah hebat untuk calon pemimpin masa depan. Bangga dengan semangat “Peduli, Produktif, Anti Rebahan, Mendunia”!

    Balas
  • Agustus 15, 2025 pada 05:23
    Permalink

    Bencana alam tidak bisa dihindari. Edukasi kebencanaan kepada anak sebaiknya dengan pendekatan yang ramah agar dapat diterima dan dipahami dengan baik. Terima kasih ilmunya.

    Nama : Fathan Alby A
    Asal sekolah : SDN Banyu Urip III Sby
    No : 37
    Proyek LH : Pengolahan Limbah Minyak Jelantah Menjadi Sabun Anti Nyamuk.

    Halo sobat hijau 🌳
    Limbah minyak jelantah seringkali dibuang sembarangan ke saluran air atau tanah, sehingga dapat mencemari lingkungan. Dengan mengolah limbah minyak jelantah menjadi produk yang bermanfaat seperti sabun adalah salah satu solusi hidup ramah lingkungan.
    Salam bumi, pasti lestari 🌱

    Balas
  • Agustus 15, 2025 pada 09:11
    Permalink

    🙋‍♂️ Nama: IRZIANDRO PUTRA FAHREZI
    🏫 Sekolah: SMPN 3 Mejayan
    📌 Nomor Peserta: 705

    ✍️ Tanggapan pada Artikel Tersebut:
    Anak dan Bencana: Cara Tepat Mengedukasi Tanpa Menakuti. Edukasi mengenai kebencanaan sejak dini sangat penting agar anak-anak memiliki kesiapan mental dan pengetahuan saat menghadapi situasi darurat. Namun, cara penyampaiannya harus tepat, penuh empati, dan tidak menimbulkan rasa takut berlebihan. Dengan metode belajar yang menyenangkan, anak dapat memahami risiko bencana sekaligus tahu cara melindungi diri dan membantu orang lain.

    💡 Penjelasan Proyek:
    Selulosa batang pohon pisang adalah susunan rantai panjang yang terdiri dari molekul glukosa. Susunan tersebut membuat batang pohon pisang berserat dan sangat tebal. Limbah batang pohon pisang yang melimpah, jika tidak diolah dengan benar, dapat menimbulkan bau tidak sedap dan menjadi sarang penyakit. Melalui lomba menggambar dan mewarnai, ide pemanfaatan limbah ini dapat divisualisasikan agar lebih mudah dipahami dan menjadi inspirasi bagi masyarakat luas.

    Balas
  • Agustus 15, 2025 pada 20:10
    Permalink

    Edukasi mengenai kebencanaan sejak dini sangat penting agar anak-anak memiliki kesiapan mental dan pengetahuan saat menghadapi situasi darurat. Namun, cara penyampaiannya harus tepat, penuh empati, dan tidak menimbulkan rasa takut berlebihan. Dengan metode belajar yang menyenangkan, anak dapat memahami risiko bencana sekaligus tahu cara melindungi diri dan membantu orang lain.

    Nama : Muhammad Raffa Zamzani
    Asal sekolah : SMPN 9 Surabaya
    Nomor peserta : 697
    Judul proyek : Budidaya Bunga Telang Dan Pemanfaatannya

    Balas
  • Agustus 18, 2025 pada 10:09
    Permalink

    Artikel yang bermanfaat mengingatkan bahwa bencana bisa terjadi kapan saja, Edukasi kebencanaan baik di perkenalkan kepada anak anak agar anak anak tahu cara menghadapi situasi darurat dengan baik👍🏻👍🏻.
    Nama: Adinda Quenza Ramadhani
    Sekolah: SDN KANDANGAN 1 Surabaya
    No peserta: 224
    Judul proyek: Terong 🍆 dilahan sempit solusi hijau 💚 untuk sekolah mandiri pangan 🏫

    Balas
    • Agustus 30, 2025 pada 21:24
      Permalink

      Tulisan yang sangat bermanfaat! Edukasi kebencanaan sejak dini memang penting agar anak-anak tumbuh tangguh dan siap menghadapi situasi darurat. Pendekatan ramah anak seperti yang dijelaskan di artikel ini bisa jadi inspirasi nyata bagi orang tua maupun pendidik.

      💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
      🙋🏻Nama: Lintang Pandega Permana
      🏫Sekolah: SMP Negeri 57 Surabaya
      🔢Nomor Peserta: 679
      🌱Proyek: SWEET (Stevia Wellness Eco-friendly Extract Technology)
      💌Penjelasan: Proyek ini adalah proyek yang berfokus membudidayakan tanaman Stevia, yaitu tanaman yang daun nya mengandung rasa manis karna memiliki senyawa tertentu.

      Saya memilih proyek ini karna fenomena isu lingkungan seperti krisis air, degradasi lahan yang disebabkan oleh industri gula konvensional.., maka dari itu saya memilih alternatif gula lain yang lebih ramah lingkungan dan “Stevia” menjadi jawabannya.

      Saya ingin mengenalkan Stevia yang memiliki banyak manfaat ke masyarakat sekitar, rencana kedepannya saya akan menginovasikan Stevia ini menjadi ekstrak gula cair, permen sehat dan ramah lingkungan, teh sehat dengan pemanis alami, serta banyak lagi.
      Dukung aku teruss yaa, sobat hijau! 🥰
      💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚

      Balas
  • Agustus 23, 2025 pada 22:10
    Permalink

    wow keren sekali cara menyampaikan informasi yang ada di dalam artikel ini tentang bencana tanpa menakut nakuti pembaca

    nama Andita Karenina
    judul proyek telang bunga cantik yang bikin kita
    asal sekolah SMPN 57 SURABAYA

    Balas
    • September 3, 2025 pada 22:54
      Permalink

      inspiratif! Edukasi bencana sejak dini dengan cara yang menyenangkan dan penuh empati benar-benar penting

      Nama: Keisya Azellia Putri
      Sekolah: SMPN 38 Surabaya
      Nomor Peserta: 1142
      Judul Proyek: Budidaya Sambung Nyawa
      Penjelasan: Proyek ini bertujuan memanfaatkan lahan kosong di lingkungan sekitar untuk menanam tanaman obat sambung nyawa. Tanaman ini bermanfaat untuk kesehatan dan bisa menjadi alternatif pengobatan alami. Proyek ini juga mengajak masyarakat peduli lingkungan melalui edukasi, daur ulang, dan kegiatan berkebun bersama. Saat ini, penanaman sudah dimulai di rumah dan sekolah, serta dibagikan ke lingkungan sekitar. Target ke depan adalah memperluas penanaman dan melibatkan lebih banyak orang, terutama anak muda, sebagai agen perubahan hijau.

      Balas
  • Agustus 24, 2025 pada 05:02
    Permalink

    Edukasi mengenai kebencanaan sejak dini sangat penting agar anak-anak memiliki kesiapan mental dan pengetahuan saat menghadapi situasi darurat. Namun, cara penyampaiannya harus tepat, penuh empati, dan tidak menimbulkan rasa takut berlebihan. Dengan metode belajar yang menyenangkan, anak dapat memahami risiko bencana sekaligus tahu cara melindungi diri dan membantu orang lain.

    NAMA: MUHAMMAD HARAM YASIN SEKOLAH: SMP NEGERI 46 SURABAYA
    NOMOR PESERTA :657
    PROYEK : TEATEL

    Balas
  • Agustus 25, 2025 pada 15:16
    Permalink

    Dengan mengenalkan bencana kepada anak, kita dapat membantu mereka untuk lebih siap dan responsif dalam menghadapi bencana, serta meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan mereka.

    DB. Abisatya
    SD-319
    Pengolahan Sampah Organik, Lindungi Bumi dengan Aksi Nyata

    Balas
  • Agustus 26, 2025 pada 10:45
    Permalink

    Anak dan Bencana: Cara Tepat Mengedukasi Tanpa Menakuti
    edukasi yang benar dan cara memberi pengetahuan yang cukup agar mereka siap tanpa menimbulkan rasa takut yang berlebihan.

    Tunas hijau 🌱selalu menginspirasi masyarakat agar selalu menjaga dan melestarikan lingkungan untuk keseimbangan alam ..

    Nama : Naysia Aqila Andriani
    Sekolah : SDN Ngagelrejo3
    No peserta: 428
    Proyek budi daya sereh

    proyek tanaman sereh dengan hasil olahan Sereh lemon dan wedang uwuh
    🌱Naysia Aqila Andriani_SDN Ngagelrejo3_428_

    Balas
  • Agustus 27, 2025 pada 20:52
    Permalink

    Alhamdulillah saya dan keluarga sudah mengetahui langkah-langkah siaga bencana semoga akan segera ada program sosialisasi dengan berbagai macam cara yg informatif dan menarik.

    Nama : Fatimah Nawal Rahman
    Asal Sekolah : SDN Balongsari 1/500 Surabaya
    No. Peserta : 026

    Daur ulang sampah An Organik menjadi produk kerajinan
    Upaya : mengurangi sampah plastik yang berakhir ditempat pembuangan sampah untuk didaur ulang menjadi kerajinan tangan

    Balas
  • Agustus 31, 2025 pada 20:00
    Permalink

    Nama Sanggrama Rasio Al Warisyi
    Proyek pemanfaatan limbah cangkang telur untuk hijaukan bumi dan innovasi bahan pangan.
    Akhirnya saya mengetahui langkah langkah yang perlu dilakukan saat ada bencana Alam.
    Salam bumi pasti lestari☘☘☘

    Balas
  • September 1, 2025 pada 04:54
    Permalink

    Anak-anak adalah generasi yang paling rentan sekaligus paling berharga ketika bencana alam terjadi. Karena itu, memberikan edukasi mitigasi bencana sejak dini sangat penting. Namun, cara penyampaiannya harus bijak: cepat, mudah dipahami, dan tidak menimbulkan rasa takut.

    Pendekatan yang tepat dapat dilakukan melalui cerita, permainan edukatif, simulasi sederhana, dan visual menarik. Misalnya, mengajarkan anak cara berlindung saat gempa dengan lagu atau gerakan yang menyenangkan, atau mengenalkan jalur evakuasi lewat permainan petualangan. Dengan begitu, anak-anak akan lebih cepat mengingat langkah-langkah penyelamatan diri tanpa merasa cemas.

    Edukasi yang ramah anak bukan hanya menumbuhkan kesiapsiagaan, tetapi juga rasa percaya diri bahwa mereka mampu bertindak benar ketika menghadapi situasi darurat. Selain itu, melibatkan anak dalam latihan bersama keluarga atau sekolah akan memperkuat kebiasaan positif dan menumbuhkan solidaritas sejak dini.

    Dengan memberikan cara cepat dan menyenangkan dalam mengenalkan mitigasi bencana, kita sedang menyiapkan generasi yang tangguh, peduli, dan siap menghadapi tantangan alam tanpa kehilangan rasa aman dalam masa tumbuh kembang mereka.

    Salam,
    AISYAH AVICENA RL
    SMPN 21 SURABAYA
    Project : DATELA GREEN REVITALIZATION
    Proyek yang berfokus pada pemilihan lahan terbengkalai menjadi lahan yang produktif kembali 🌿💚

    Balas
  • September 1, 2025 pada 19:37
    Permalink

    Nama : Tisya Ayodya Prameswari
    Nomer :006
    Judul proyek : ECOZY
    Capaian :
    Telah mengolah sampah organik kulit buah sebanyak 670,4 kg

    Balas
  • September 1, 2025 pada 21:37
    Permalink

    Artikel yang sangat bermanfaat…
    Memang bencana tidak bisa dihindari namun diri kita bisa mengantisipasi…
    Dengan membaca artikel ini

    Nama : Princess Zelda Ilmiah
    No : 110
    Sekolah : SMP 29 Surabaya
    Project : BOBAZYME (Bahan Organik Serbaguna untuk Eco Enzyme dan Kompos)

    Balas
  • September 2, 2025 pada 20:32
    Permalink

    Mengedukasi anak tentang bencana tanpa membuat mereka takut memang butuh pendekatan yang tepat. Artikel ini sangat membantu dalam memberikan panduan agar anak-anak bisa lebih siap dan tangguh menghadapi situasi darurat, tanpa merasa cemas berlebihan. Terima kasih atas informasi yang edukatif dan penuh empati!

    Nama : Leyna Mayyasha Qorri Ain
    Asal Sekolah : SDN Pacarkeling V Surabaya
    Nomer Peserta : 468
    Proyek : aloe sobat sehat, solusi hebat untuk keluarga sehat
    Melalui budi daya Aloe Vera, saya berharap setiap halaman rumah warga mempunyai 1 tanaman

    Balas
  • September 3, 2025 pada 20:01
    Permalink

    Edukasi kebencanaan untuk anak memang penting, cara penyampaiannya yang penuh empati dan menyenangkan membuat anak bisa belajar tanpa rasa takut, dengan begitu anak2 akan tumbuh lebih tangguh, mampu melindungi diri sekaligus membantu orang lain saat bencana datang

    NAMA : EZRA BINTANG IZDIHAR KURNIAWAN
    SEKOLAH: SD KYAI IBRAHIM
    NOMOR URUT: 003
    PROYEK LH : PEMANFAATAN LAHAN KOSONG DAN LIMBAH PLASTIK UNTUK BUDIDAYA KEMANGI

    Balas
  • September 4, 2025 pada 13:54
    Permalink

    Edukasi penanganan bencana pada anak sangat penting agar dapat meningkatkan kewaspadaan dan dapat menyelamatkan diri dengan aman.

    Nama: Mikhaela Adeva Abbialya
    Sekolah: SDN.Kalisari 2-513 Surabaya
    No.peserta: 218
    Proyek: Budidaya tanaman asem jawa dan produksi minuman kesehatan tradisional sinom

    Balas
  • September 5, 2025 pada 01:40
    Permalink

    Panduan penting bagi orang tua dalam mengedukasi anak tentang bencana tanpa menimbulkan rasa takut. Penting untuk menggunakan bahasa yang sederhana dan sesuai usia anak, serta menghindari konten yang menakutkan. Selain itu, pendekatan melalui permainan dan aktivitas kreatif dapat membantu anak memahami langkah-langkah kesiapsiagaan dengan cara yang menyenangkan. Misalnya, melakukan simulasi evakuasi di rumah atau menggunakan media seperti buku cerita dan video animasi yang ramah anak. Dengan metode ini, anak tidak hanya belajar tentang bencana, tetapi juga merasa lebih siap dan tidak panik saat menghadapi situasi darurat.

    Mayfrina Aisyahrani
    SMPN 3 SURABAYA
    PENGOLAHAN SAMPAH ORGANIK BERKELANJUTAN

    Balas
  • September 6, 2025 pada 12:46
    Permalink

    Penting untuk menyampaikan langkah-langkah penanganan bencana dengan santai dan penuh empati. Ketika penjelasan ditawarkan dengan rasa aman, anak cenderung lebih tanggap dan siap, bukannya cemas.

    Nama:Diky Yulia Efendi
    No peserta:459
    Proyek: integrasi pengelolahan air limbah dan konservasi air
    Sekolah:SMP Negeri 11 Surabaya

    Balas
  • September 6, 2025 pada 16:56
    Permalink

    Pendekatan yang ramah anak menjadi kunci agar edukasi kebencanaan bisa diterima dengan baik. Dengan pendekatan yang konsisten, menyenangkan, dan penuh empati, anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, siap menghadapi bencana dengan tenang, dan mampu membantu orang lain di sekitarnya.

    Nama : Siti shofiah
    No peserta : 416
    Dari : SDN Margorejo III/405
    Proyek : Budidaya dan Pemanfaatan Tanaman jahe

    Balas
    • Oktober 5, 2025 pada 18:19
      Permalink

      Pendekatan yang ramah anak menjadi kunci agar edukasi kebencanaan bisa diterima dengan baik. Dengan pendekatan yang konsisten, menyenangkan, dan penuh empati, anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, siap menghadapi bencana dengan tenang, dan mampu membantu orang lain di sekitarnya.

      nama ibrahim tubagus maulana
      sekolah sdn jemur wonosari 1
      judul proyek pengolahan minyak jelantah
      no peserta 115

      Balas
  • September 7, 2025 pada 14:00
    Permalink

    Mengedukasi anak tentang bencana tanpa menimbulkan rasa takut kita dapat mengunakan bahasa sederhana dan contoh konkret, libatkan cerita dan permainan, fokus pada tindakan yg aman seperti berlindung atau evakuasi dan pastikan tetap tenang dan optimis.

    Nama : Akifa Maulidya
    Sekolah : SDN Tandes Kidul 1
    Nomor Peserta : 698
    Proyek LH : Budidaya organik tanaman kale

    Balas
  • September 7, 2025 pada 22:07
    Permalink

    Semoga di indonesia kita tercinta tidak terlalu banyak bencana yang terjadi. Jika terjadi gempa jangan panik, ambil tas tanggap bencana dan bantal. Taruh dikepala untuk melindungi dari benda-benda yang jatuh menimpa kepala. Langsung berlari keluar rumah. pergi ke ruang terbuka dan berkumlul dengan warga sekitar yang akan mengungsi

    🙋‍♀️: Mazida Shabrina Yasmin
    🏫: SDN Wonokusumo 6 Surabaya
    🔢: 728
    📍: Proyek SERBUK(Serbuk Berproyek Horta)

    Balas
  • September 8, 2025 pada 22:49
    Permalink

    Mengedukasi tanpa menakuti berarti menyampaikan informasi dengan cara yang positif dan mendukung, sehingga orang lain merasa termotivasi dan percaya diri untuk belajar dan berkembang.

    nama: Bara Ikmal Ghani
    sekolah: SMPN 38 Surabaya
    nomor peserta: 601
    proyek: mengolah sampah organik🌿

    Balas
  • Oktober 1, 2025 pada 22:24
    Permalink

    Pendekatan ramah anak untuk edukasi kebencanaan ini sangat inspiratif 👍. Dengan bahasa sederhana, permainan, dan cerita, anak bisa belajar tanpa merasa takut. Cara ini bukan hanya menanamkan kesiapsiagaan, tapi juga membangun rasa percaya diri sejak dini. 🌟

    💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
    🙋🏻Nama: Lintang Pandega Permana
    🏫Sekolah: SMP Negeri 57 Surabaya
    🔢Nomor Peserta: 679
    🌱Proyek: SWEET (Stevia Wellness Eco-friendly Extract Technology)
    💌Penjelasan: Proyek ini adalah proyek yang berfokus membudidayakan tanaman Stevia, yaitu tanaman yang daun nya mengandung rasa manis karna memiliki senyawa tertentu.

    Saya memilih proyek ini karna fenomena isu lingkungan seperti krisis air, degradasi lahan yang disebabkan oleh industri gula konvensional.., maka dari itu saya memilih alternatif gula lain yang lebih ramah lingkungan dan “Stevia” menjadi jawabannya.

    Saya ingin mengenalkan Stevia yang memiliki banyak manfaat ke masyarakat sekitar, rencana kedepannya saya akan menginovasikan Stevia ini menjadi ekstrak gula cair, permen sehat dan ramah lingkungan, teh sehat dengan pemanis alami, serta banyak lagi.
    Dukung aku teruss yaa, sobat hijau! 🥰
    💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚

    Balas
  • Oktober 2, 2025 pada 06:54
    Permalink

    Artikel Tunas Hijau ID ini sangat inspiratif karena menghadirkan edukasi lingkungan yang bermanfaat serta memotivasi masyarakat untuk lebih peduli dan beraksi nyata menjaga bumi.
    /Kamila L.A 854

    Balas
  • Oktober 5, 2025 pada 12:22
    Permalink

    Artikel ini sangat mengedukasi dan sangat inspiratif.

    Terima kasih 🙏 tetap semangat 💪

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *