Cerita Revalina Fernanda, Anak Utusan Surabaya di Tokyo Global Forum on Children 2026 (1)

Langit Tokyo menjadi saksi langkah besar seorang anak Surabaya. Revalina Fernanda, Eco Student of the Year 2025 dan Putri V Lingkungan Hidup 2024, sekaligus siswa SMPN 1 Surabaya, untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di luar negeri melalui keikutsertaannya dalam Tokyo Global Forum on Children 2026

Bagi Revalina Fernanda, perjalanan ini bukan sekadar berpindah negara, melainkan perjalanan belajar tentang kemandirian, keberanian, dan tanggung jawab membawa nama kota dan bangsa.

Perjalanan udara menuju Jepang menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Mulai dari proses membuat paspor, mengurus visa, membeli tiket, hingga boarding pesawat, semuanya merupakan hal baru baginya. “Saya merasa sangat bersemangat dan bahagia. Semua proses itu memberi saya pengalaman berharga, sekaligus mengajarkan untuk belajar mandiri,” tutur Reva, yang juga anggota Forum Anak Surabaya dan siswa SMPN 1 Surabaya ini.

Loket tiket kereta api di Tokyo

Kesan mendalam langsung dirasakan Revalina saat tiba di Bandara Haneda, Tokyo, Selasa (3/2/2026). Rasa tak percaya bercampur bahagia menyelimuti langkah pertamanya di Jepang. Ia terkesan dengan kebersihan bandara, pemandangan pesawat yang tertata rapi, serta sky view yang menarik. 

Bandara Haneda juga terintegrasi dengan stasiun kereta, sehingga memudahkan mobilitas menuju berbagai wilayah di Tokyo. “Kereta sangat ramai penumpang dan sangat nyaman, masyarakat Jepang mayoritas memilih transportasi umum dan berjalan kaki untuk beraktivitas,” ujarnya.

Dalam beberapa jam pertama berada di Tokyo, Revalina juga mengamati langsung pengelolaan lingkungan hidup di kota tersebut. Ia melihat tempat sampah terpilah tersedia hampir di setiap sudut.

“Tempat khusus untuk food waste atau sampah makanan yang tidak boleh dicampur dengan jenis sampah lain. Isinya sesuai dengan keterangan yang dipasang pada tempat sampah,” terang Revalina Fernanda. 

Suasana di dalam kereta di Tokyo

Selama beberapa jam pertama di menginjakkan kakinya di Jepang, dia juga tida melihat sampah berserakan. “Bahkan di area penjual minuman di pinggir jalan. Setiap toko menyediakan tempat sampah terpisah untuk botol plastik, botol kaca, dan kaleng, dan masyarakat sangat patuh membuang sampah sesuai jenisnya,” terang Revalina.

Kesadaran lingkungan juga tercermin dari kebiasaan warga yang berjalan kaki dan menggunakan transportasi umum seperti kereta dan shuttle bus. Menurut Revalina, hal ini menunjukkan kepedulian masyarakat Jepang terhadap perubahan iklim. Ia juga menyoroti pengelolaan air di fasilitas umum, di mana kran air dan sabun diatur secara otomatis sehingga tidak terjadi pemborosan.

Selama mengikuti rangkaian program di Tokyo, Revalina berharap seluruh kegiatan dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat nyata. “Saya ingin membawa pulang praktik-praktik baik yang dapat diimplementasikan di Kota Surabaya agar semakin maju dan berkelanjutan,” harapnya. 

Tempat sampah khusus makanan

Selain itu, ia berharap dapat membangun relasi dengan anak-anak dari berbagai negara. “Supaya kami bisa saling berbagi dan sharing kebaikan dari negara masing-masing,” Revalina melanjutkan harapannya.

Di forum global tersebut, Revalina mengemban misi khusus. Ia membawa nama baik Kota Surabaya sebagai kota dunia yang layak anak. Menurutnya, Surabaya memiliki berbagai program inovatif yang mendukung pemenuhan hak anak, hasil kolaborasi pemerintah, komunitas, dan partisipasi aktif anak-anak. Ia juga bertekad menyerap praktik-praktik baik dari Tokyo dan negara lain untuk mendorong perubahan positif di Surabaya dan Indonesia.

Langkah kecil Revalina Fernanda di Tokyo menjadi gambaran besar suara anak Surabaya di panggung dunia. Dari pengalaman pertama ke luar negeri hingga membawa pesan kota layak anak dan lingkungan berkelanjutan, Revalina menunjukkan bahwa anak-anak mampu menjadi duta perubahan. Tokyo menjadi ruang belajar, dan Surabaya menanti praktik baik untuk diwujudkan. 

Pemilahan sampah diterapkan sangat disiplin di Jepang.

Penulis: Mochamad Zamroni

1 thoughts on “Cerita Revalina Fernanda, Anak Utusan Surabaya di Tokyo Global Forum on Children 2026 (1)

  • Februari 4, 2026 pada 11:17
    Permalink

    Selamat kak Reva .. semoga dapat mengemban tugasnya, menyuarakan suara anak bangsa di kancah dunia. Serta ilmu dan pengalamannya bisa diadopsi dan ditularkan ke kita paguyuban PangPut ya…😊

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *