Inovasi Popok Pakai Ulang Antar Surabaya Menjadi Kota Pemenang Dunia

Langkah Kota Surabaya menata masa depan lingkungan kembali mendapat pengakuan dunia. Di tengah tantangan pengelolaan sampah perkotaan yang semakin kompleks, Kota Pahlawan justru tampil dengan solusi berani dan inovatif. Melalui gagasan penguatan penggunaan popok dan pembalut pakai ulang produksi lokal, Surabaya resmi dinobatkan sebagai salah satu dari 24 kota pemenang ajang Bloomberg Philanthropies Mayors Challenge 2025–2026.

Pengumuman tersebut dipublikasikan melalui laman resmi Bloomberg Philanthropies, yang menegaskan komitmen lembaga filantropi global tersebut dalam mendorong inovasi pemerintahan kota untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Kompetisi ini menilai kebaruan gagasan, potensi dampak, serta kesiapan implementasi dari setiap proposal yang diajukan.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyampaikan bahwa pencapaian ini menjadi momentum penting bagi Kota Pahlawan untuk memperkuat layanan dasar sekaligus menghadirkan solusi inovatif yang berdampak luas dan berkelanjutan.

“Sebagai Kota Pahlawan, Surabaya harus memberi teladan. Kami memperluas penggunaan popok dan pembalut pakai ulang produksi lokal untuk memperkuat ekonomi sirkular dan memberdayakan perempuan serta keluarga. Bersama warga, tenaga kesehatan, rumah sakit, sekolah dan universitas, ritel, organisasi nirlaba, dan mitra sektor swasta, kami mengurangi sampah popok dan pembalut sekali pakai yang berbahaya untuk melindungi Sungai Brantas dan lingkungan, menciptakan pekerjaan yang bermartabat, serta memastikan masa depan yang lebih sehat bagi anak-anak kita,” ujar Eri, Selasa (24/2/2026).

Sebagai kota pemenang, Surabaya akan menerima pendanaan sebesar USD 1 juta, dukungan operasional, serta tambahan pembiayaan bagi staf khusus guna memperluas inovasi yang telah diuji coba. Program ini mendorong rumah tangga dan berbagai institusi beralih ke produk pakai ulang produksi lokal sebagai pengganti popok dan pembalut sekali pakai. Selain menekan kebocoran sampah plastik ke sungai dan lingkungan, langkah tersebut memperkuat ekonomi sirkular dan membuka peluang kerja berbasis komunitas.

“Surabaya merupakan salah satu dari 24 pemerintah kota dari 20 negara yang menerima penghargaan atas gagasan terobosan untuk meningkatkan layanan dasar bagi masyarakat,” tambahnya.

Pendiri Bloomberg Philanthropies sekaligus mantan Wali Kota New York tiga periode, Michael R. Bloomberg, menyampaikan bahwa 24 kota pemenang berasal dari 20 negara dan melayani lebih dari 35 juta penduduk. Ia menilai pemerintah kota memegang peran krusial dalam menjawab tantangan layanan publik yang semakin kompleks.

“Balai kota yang paling efektif adalah yang berani, kreatif, dan proaktif dalam memecahkan masalah serta memenuhi kebutuhan warga. Mayors Challenge kami luncurkan untuk membantu lebih banyak kota berhasil. Kami menantikan untuk mendukung 24 pemenang tahun ini dalam mewujudkan proyek inovatif mereka dan melihat ide-ide ini menyebar ke kota-kota lain di seluruh dunia,” ujar Bloomberg.

Mayors Challenge 2025–2026 diluncurkan oleh Michael R. Bloomberg pada Oktober 2024 dalam forum Bloomberg CityLab di Mexico City dan mendapat antusiasme tinggi dengan lebih dari 630 kota mendaftarkan diri. Dari ratusan pendaftar tersebut, diseleksi 50 kota finalis yang mengembangkan prototipe inovasi sebelum akhirnya ditetapkan 24 kota pemenang.

Adapun 24 kota pemenang itu berasal dari berbagai kawasan dunia, yakni As-Salt (Yordania), Barcelona (Spanyol), Beira (Mozambik), Belfast (Inggris), Benin City (Nigeria), Boise (Amerika Serikat), Budapest (Hungaria), Cape Town (Afrika Selatan), Cartagena (Kolombia), Fez (Maroko), Fukuoka (Jepang), Ghaziabad (India), Ghent (Belgia), Kanifing (Gambia), Lafayette (Amerika Serikat), Medellín (Kolombia), Netanya (Israel), Pasig (Filipina), Rio de Janeiro (Brasil), South Bend (Amerika Serikat), Surabaya (Indonesia), Toronto (Kanada), Turku (Finlandia), dan Visakhapatnam (India).

Pada tahap lanjutan Juli 2025, sebanyak 200 pejabat kota dari 50 kota finalis termasuk perwakilan Surabaya mengikuti Ideas Camp yang diselenggarakan Bloomberg Philanthropies di Bogotá. Forum tersebut menjadi ruang kolaborasi untuk menyempurnakan konsep bersama para ahli sebelum implementasi lebih luas. Sebagai finalis, Surabaya menerima hibah awal sebesar USD 50.000 disertai pendampingan teknis.

Program ini melanjutkan lebih dari satu dekade komitmen Bloomberg Philanthropies dalam menemukan, mengembangkan, dan memperluas inovasi di berbagai kota dunia. Dalam lima putaran sebelumnya, sebanyak 38 kota pemenang telah memperoleh pendanaan dan dukungan teknis. Dengan mendukung replikasi ide-ide terbaik tersebut, dampak Mayors Challenge telah diperluas ke 337 kota di seluruh dunia dan menjangkau lebih dari 100 juta penduduk.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, Dedik Irianto, menambahkan bahwa dukungan tersebut akan mempercepat perluasan implementasi program ke berbagai kampung yang terintegrasi dengan Program Kampung Pancasila. Edukasi masyarakat akan terus diperkuat untuk meningkatkan pemahaman mengenai manfaat kesehatan, lingkungan, dan ekonomi dari penggunaan produk pakai ulang.

Menurutnya, pelaksanaan program dilakukan secara kolaboratif bersama tenaga kesehatan, rumah sakit, ritel, organisasi nirlaba, serta mitra sektor swasta untuk mendampingi keluarga beralih ke produk pakai ulang produksi lokal. Selain mendorong perubahan perilaku ramah lingkungan, program ini juga mencakup pelatihan bagi produsen berbasis komunitas guna menciptakan lapangan kerja layak, memperkuat ekonomi sirkular Surabaya, serta menjaga kelestarian Sungai Brantas.

“Inisiatif ini membantu Surabaya mengurangi limbah berbahaya, melindungi Sungai Brantas, dan menekan beban TPA sekaligus menciptakan pekerjaan hijau bagi masyarakat. Program ini membuktikan bahwa perlindungan lingkungan dan pemberdayaan komunitas dapat berjalan seiring,” ujar Dedik.

Hasil uji coba di Surabaya menunjukkan dampak terukur dan signifikan. Penggunaan popok sekali pakai pada keluarga peserta menurun hingga 80 persen, disertai penurunan tajam kasus ruam popok serta tidak ditemukannya laporan infeksi saluran kemih. Pembuangan popok ke sungai berhasil dihentikan dengan tingkat adopsi mencapai 99 persen dari 300 keluarga peserta. Dalam satu bulan, uji coba tersebut mampu mencegah lebih dari tujuh ton sampah popok, meskipun cakupannya masih sekitar 0,2 persen bayi di Surabaya.

Capaian ini menjadi bukti bahwa perubahan perilaku masyarakat dapat dibangun melalui pendekatan edukatif dan kolaboratif. Ke depan, praktik inovasi ini akan terus diperluas agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat sekaligus memperkuat perlindungan lingkungan dan masa depan generasi mendatang. (*)

8 thoughts on “Inovasi Popok Pakai Ulang Antar Surabaya Menjadi Kota Pemenang Dunia

  • Juli 20, 2026 pada 21:54
    Permalink

    Semoga dr program barang yg bs digunakan berulangkali bisa berdampak pada lingkungan. Dan bs menjadikan kita sbg orang yg tidak konsumtif dan penyumbang sampah yg sulit di urai dilingkungan.
    Nafisa Haura Ainun Mahya
    SDN Gununganyar 273 Surabaya
    Ikut mendukung aksi trsebut dan siap menjadi bagian dalam program penekanan sampah yg sulit diurai dan PR dalam penumpukan sampah rumah tangga.

    Balas
  • Juli 23, 2026 pada 12:24
    Permalink

    Nama: Pramitha Adhisty Abinaya
    Asal: SDN KAndangan III SUrabaya
    Proyek: Pengelolaan Limbah Sisa Makanan Menjadi Takakura

    Dengan menerapkan sistim popok ulang seperti pada artikel ini memberi tahukan bahwa mulai sekarang kita harus waspada dan tanggap dengan kondisi iklim kita dan lingkungan.
    Perduli dengan lingkungan dengan mengolah sampah dari rumah juga sangat berdampak pada iklim.

    Balas
  • Juli 23, 2026 pada 20:46
    Permalink

    Aksi nyata yang patut diacungi jempol. Semoga bisa terus menginspirasi lebih banyak orang ya! Semangat!

    Proyek saya mengolah cangkang telur dari dapur juga semoga menginspirasi teman-teman semua.

    Gibran Al-ahza S.
    SDN Kendangsari 1 Sbya
    no. peserta : 0097

    Balas
  • Juli 24, 2026 pada 18:03
    Permalink

    Hai Sobat Hijau

    Salam Bumi, Pasti Lestari 🌱

    Saya Zivanisa Alicia W

    Dari SDN Ketabang I / 288 Surabaya

    Nama Proyek saya adalah SIPATAS

    (kolekSI samPAh kerTAS)
    .
    Saya mempunyai adik bayi yang menggunakan popok sekali pakai. Dalam satu hari, adik saya bisa ganti popok 6 sampai 8 kali. Jika dikalikan 30 hari, satu tahun, dua tahun, dan dikalikan bayi seluruh dunia, tentu sampah popok ini akan menjadi sumber masalah baru.
    Inovasi popok pakai ulang ini sangat bagus dan memberikan dampak yang nyata bagi lingkungan 🌱
    .
    Semangat terus menjadi generasi peduli, produktif dan anti rebahan yang mendunia
.
.
    .
    Oh ya, saya punya Jargon nih :

    Ayo mengolah sampah kertas

    Menjaga bumi tanpa batas

    Menjadi generasi anti cemas

    Salam bumi pasti lestari 🌱
    .
    Sekilas tentang proyek SIPATAS :
    – mengumpulkan sampah kertas

    – mengolah menjadi barang yg bermanfaat

    Balas
  • Agustus 1, 2026 pada 20:00
    Permalink

    Hi Taka Friends! ♻️💚

    Namaku Christopher Nathan dari SMP Kr. Petra 1, nomor peserta 0271.

    Dari artikel ini, kita bisa belajar bahwa perubahan besar dimulai dari langkah kecil. Keberhasilan Surabaya menunjukkan bahwa ketika masyarakat mau berinovasi dan peduli terhadap lingkungan, dampaknya bisa dirasakan hingga tingkat dunia. 🌍✨ Kita juga bisa memulai dari rumah melalui Takakura, dengan mengolah sampah organik menjadi kompos yang bermanfaat dan ikut menciptakan lingkungan yang lebih hijau. 🌱

    Proyekku adalah Takakura For Green Living

    Pengomposan Takakura adalah cara gampang, cepat, dan ramah lingkungan untuk mengubah sampah organik menjadi kompos yang bermanfaat sekali. Metode ini dapat mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA, menyuburkan tanah, dan membantu tanaman tumbuh lebih baik.

    Takakura juga gampang dibuat, murah, tidak menimbulkan bau yang menyengat, dan cocok digunakan di rumah, sekolah, dan banyak tempat.

    Dengan menggunakan metode ini, kita dapat mengelola sampah dengan lebih baik sekaligus ikut menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. 🌿🌎

    Balas
  • Agustus 13, 2026 pada 11:45
    Permalink

    Nama: Marista Nur Kirana Putri
    Asal Sekolah: Smp Negeri 38 Surabaya
    Judul Proyek: RIMPANG KUJALENCUR

    novasi yang sangat kreatif dan bermanfaat! 👏 Popok pakai ulang dapat membantu mengurangi sampah sekaligus mendorong Surabaya menjadi kota yang lebih ramah lingkungan. Semoga inovasi ini terus berkembang dan menginspirasi masyarakat! 🌱💚

    Balas
  • Agustus 13, 2026 pada 15:08
    Permalink

    Hai…teman-teman sahabat lingkungan! Perkenalkan, saya Alesya Zahra Santosa salah satu peserta pemilihan Puteri Lingkungan Hidup 2026 dari SDN Kertajaya,Nomor peserta 0164

    💚Judul Proyek saya adalah Hijaunya Sirihku Hijaunya Bumiku🌿🌿🌿

    Langkah Surabaya ini sangat patut di apresiasi sebagai terobosan berani dalam penataan lingkungan perkotaan.Kemenangan di ajang Internasional ini menjadi awal yang baik,Namun kunci keberhasilan yang sebenarnya terletak pada eksekusi program di lapangan,konsistensi sosialisasi,dan keterlibatan aktif masyarakat.

    Melalui proyek Hijaunya Sirihku Hijaunya Bumiku.Saya ingin menunjukkan menyelamatkan bumi tidak harus di lakukan dengan cara yang rumit karena dengan menanam tanaman,mengurangi sampah,menghemat air serta menjagah kebersihan lingkungan adalah tindakan sederhana yang dapat di lakukan oleh siapa saja.Dengan semangat kebersamaan kepedulian terhadap alam,kuta dapat mewujudkan bumi yang lebih hijau ,lebih sehat dan lebih nyaman.

    Balas
  • Agustus 16, 2026 pada 00:55
    Permalink

    Popok pakai ulang menjadi inovasi ramah lingkungan untuk mengurangi sampah dan menjaga kebersihan kota. 🌱♻️

    Nama : Nadia Hibatillah Amalia
    Nomor Peserta : 0112
    Asal Sekolah : SDN Jemurwonosari I Surabaya
    Judul Proyek : Cangkang Telur

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *