Peringati Hari Bumi: Tunas Hijau dan Mercure Surabaya Grand Mirama Gelar Workshop Daur Ulang Tekstil 

Dalam rangka memperingati Hari Bumi 22 April, Hotel Mercure Surabaya Grand Mirama bersama Tunas Hijau menyelenggarakan Workshop Daur Ulang Tekstil, Senin (20/4/2026). Kegiatan ini menjadi bentuk nyata dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan limbah kain secara ramah lingkungan.

Bertempat di Hongkong Room, lantai 3 Hotel Mercure Surabaya Grand Mirama, 100 orang siswa dan guru SD dan SMP se Surabaya mengikuti kegiatan ini. Mereka adalah SMPN 6, SMPN 10, SMPN 41, SMPN 46, SDN Wonorejo I, SDN Keputih 245, SDN Kertajaya Pucang Jajar, SDN Dukuh Pakis I, SDN Ngagel I, SDN Kertajaya V, SDN Kedung Baruk, SDN Pacar Kembang IV, dan SDN Nginden Jangkungan I.

Mengawali pelaksanaan workshop, Aktivis Senior dan Direktur Pendidikan Tunas Hijau Bram Azzaino mengajak para peserta untuk mereview kembali gaya hidup terkait dengan tekstil. “Fenomena yang sering terjadi di masyarakat, khususnya setelah Hari Raya Idul Fitri, adalah meningkatnya jumlah pakaian baru yang dimiliki,” kata Bram Azzaino. 

Banyak baju lama, Bram mengungkap, akhirnya hanya disimpan atau bahkan dialihfungsikan menjadi lap. “Padahal, jika dikelola dengan kreativitas, limbah tekstil tersebut memiliki potensi besar untuk diolah kembali menjadi produk bernilai guna dan bernilai ekonomi,” tambah Bram Azzaino.

Dalam kesempatan yang sama, General Manager Hotel Mercure Surabaya Grand Mirama, Irwan Wirahadykusumah, dalam pengarahan pembukaan menyampaikan komitmen pihak hotel yang dipimpinnya dalam pengelolaan lingkungan. “Termasuk sistem pemilahan sampah yang dilakukan setiap hari disertai pencatatan jumlah secara rutin sebagai bagian dari upaya pengurangan dampak lingkungan,” ujar Irwan Wirahadykusumah. 

Peserta Workshop Daur Ulang Tekstil menunjukkan tas belanja dari kaos bekas yang mereka buat saat workshop

Workshop ini, Irwan menyampaikan kepada seluruh peserta, adalah upaya Hotel Mercure Surabaya Grand Mirama mengajak lebih banyak masyarakat untuk mengolah sampah, khususnya tekstil, yang sering sebelumnya hanya dibuang ke tempat sampah jika rusak,” Irwan Wirahadykusumah menuturkan.

Melalui workshop ini, peserta diajak untuk mengubah cara pandang terhadap limbah tekstil—dari yang semula dianggap tidak berguna, menjadi sumber peluang kreatif. Raihanah Augustin Kirani, Putri III Lingkungan Hidup 2025, dan siswa kelas 5 SDN Margorejo I Surabaya menjadi fasilitator workshop ini. 

Penunjukan Raihanah sebagai fasilitator bukan tanpa alasan. Raihanah mengembangkan proyek lingkungan hidup berupa pengolahan sampah tekstil dalam setahun terakhir. Tidak tanggung-tanggung, Raihanah bahkan telah mengolah sekitar 4500 kilogram sampah tekstil. “Sisa potongan tekstil biasanya saya olah menjadi beragam produk bermanfaat dan bernilai ekonomis,” kata Raihanah. 

Sedangkan busana bekas layak pakai yang dia himpun dari warga sekolahnya dan masyarakat umum disumbangkan kepada masyarakat yang membutuhkan. “Saya menggelar Sedekah Baju Bekas Layak Pakai tiap akhir pekan,” Raihanah Augustin Kirani, Putri III Lingkungan Hidup 2025 SD, menuturkan. 

Pada workshop di Hotel Mercure Surabaya Grand Mirama ini, Raihanah tidak mengajak seluruh peserta mendaur ulang sampah tekstil menjadi tas belanja dan gantungan kunci. Bahannya adalah kaos bekas, yang setiap peserta telah diminta membawa dari rumah masing-masing beserta gunting. 

Dalam sesi praktik, peserta diajak untuk secara langsung mengolah kaos bekas menjadi tas belanja. Proses ini tidak hanya meningkatkan keterampilan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya gaya hidup berkelanjutan. Raihanah nampak memandu langkah demi langkah dari panggung didampingi dua staf Hotel Mercure Surabaya Grand Mirama.

“Potong bagian lengan kaos. Gunting kedua lengan kaos seperti membuat kaos tanpa lengan. Ini akan menjadi pegangan tas,” terang Raihanah Augustin sambil memeragakan.

“Berikutnya, buat lubang di bagian leher. Gunting bagian leher kaos membentuk lubang oval atau bulat yang lebih besar seperti bentuk kerah tas. Ini akan menjadi bukaan tas,” jelas Raihanah.

“Selanjutnya, balik kaos. Balik bagian dalam kaos ke luar jika ingin sambungan tali berada di dalam dan tampak lebih rapi. Potong bagian bawah menjadi rumbai. Gunting bagian bawah kaos sekitar 5–10 cm ke atas, membentuk rumbai-rumbai selebar 1,5–2 cm. Pastikan potongan bagian depan dan belakang sejajar,” Raihanah memandu.

Pada tahap terakhir, Raihanah meminta para siswa untuk mengikat rumbai depan dan belakang. “Ikat satu per satu rumbai depan dan belakang dengan simpul dua kali hingga semua tertutup. Ini akan menutup bagian bawah tas,” Raihanah melanjutkan penjelasannya. 

Raihanah pun meminta para peserta yang sudah tuntas membuat tas belanja dari kaos bekas untuk menunjukkan tas hasil buatannya ke depan untuk dicek hasilnya. Tas-tas dari kaos bekas yang pengerjaannya sudah benar mendapatkan hadiah produk daur ulang tekstil karya Raihanah.

Setelah tuntas seluruh peserta membuat tas belanja dari kaos bekas, sesi praktik pun berlanjut. “Sekarang kumpulkan kembali sisa potongan kaos masing-masing. Kita akan melanjutkan membuat gantungan kunci dari potongan kain,” jelas Raihanah sambil kemudian memandu langkah demi langkah cara pembuatannya sambil masing-masing praktik.

Sebagai bentuk tindak lanjut dari workshop ini, Tunas Hijau juga menghadirkan tantangan kreatif bagi peserta. Para peserta diminta untuk mendokumentasikan penggunaan tas belanja dari kaos bekas dalam kehidupan sehari-hari dan membagikannya melalui media sosial Instagram akun masing-masing, akun orang tua atau akun tim lingkungan sekolah.

Tagar yang digunakan dalam tantangan ini antara lain:
#taskainbuatanku
#daurulangtekstil
#tunashijauid

Penulis: Danuarta Arga Birawa
Penyunting: Mochamad Zamroni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *