Ajak Anak-Anak Sekitar, Pangeran Putri Lingkungan Hidup Penghijauan di Claket
Putri Lingkungan Hidup 2025 Naziya Putri Syafira kembali memprakarsai aksi penanaman pohon di kawasan hutan. Kali ini kegiatan berlangsung di kawasan perhutanan sosial Dusun Sembung, Desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (7/2/2026).
Kegiatan ini diselenggarakan bersama oleh Tunas Hijau, PT Dharma Lautan Utama – Armada Pelayaran Nasional, dan Terrace Nusa Rasa – Eatery & Coffee – Cita Rasa Sambal Nusantara, serta didukung Kelompok Tani Hutan Sumber Agung Claket.
Naziya Putri Syafira, yang juga siswa kelas V SDN Sawunggaling I Surabaya, mengajak sekitar 50 anggota Paguyuban Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup 2025 beserta keluarga masing-masing untuk terlibat dalam aksi tersebut.
Selain itu, sekitar 60 siswa dan guru dari beberapa sekolah di wilayah Kecamatan Pacet turut berpartisipasi, yakni MI Tri Bakti Claket, SDN Claket, SMPN 2 Pacet, SMPN 3 Pacet, dan SMK Kehutanan Walisongo Pacet.
“Sekitar 200 pohon ditanam di kawasan hutan sosial Dusun Sembung, Desa Claket,” kata Naziya Putri Syafira, Putri Lingkungan Hidup 2025 tingkat SD.
“Jenis pohonnya antara lain bambu, manggis, petai, mahoni, alpukat, durian, kelengkeng, dan matoa,” jelasnya.
Selain itu, Naziya juga secara khusus membawa 102 tanaman bidara hasil budidayanya untuk ditanam di rumah dan sekolah para peserta aksi tanam pohon di wilayah Pacet.
“Kami memberi challenge kepada peserta aksi dari Pacet, Mojokerto, untuk menanam dan merawat tanaman bidara di rumah dan sekolah masing-masing,” tutur Naziya.
Ia pun menyampaikan kegembiraannya dapat kembali memprakarsai aksi tanam pohon di kawasan hutan.
“Alhamdulillah, pada musim penghujan ini, untuk kedua kalinya saya bisa kembali menanam pohon bersama banyak orang. Semoga semua pohonnya hidup subur dan memberi manfaat,” harap Naziya Putri Syafira.

I Made Satria Dharma Wishnu, Pangeran Lingkungan Hidup 2025 tingkat SD yang juga siswa SDN Ketabang I Surabaya, turut mengembangkan proyek pengolahan sampah organik dalam aksi penanaman pohon di Desa Claket ini.
“Saya membagikan kantong atau tas pengomposan kepada tim sekolah peserta aksi penanaman pohon yang berasal dari Pacet. Saya juga mengajak mereka untuk mengolah sampah organik di sekolah masing-masing,” terang I Made Satria Dharma Wishnu.
Wishnu juga mengolah sampah sisa makanan dari peserta aksi penanaman pohon tersebut.
“Bersama Paguyuban Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup yang ikut serta beserta keluarganya, kami mengolah sampah organik sejak dari sumbernya. Ini adalah cara jitu dalam pengelolaan sampah,” ujarnya.
Aksi Menanam Penuh Tantangan
Seluruh peserta aksi penanaman pohon, baik rombongan dari Surabaya maupun dari sekolah-sekolah sekitar Pacet, berkumpul di Pusat Edukasi Bambu Dusun Mligi, Desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.
Untuk menuju lokasi penanaman di Dusun Sembung, Desa Claket, sebagian besar peserta menggunakan kendaraan yang sebelumnya digunakan oleh rombongan Paguyuban Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup dari Surabaya. Sementara itu, beberapa peserta memilih berjalan kaki menuju lokasi penanaman yang berjarak sekitar 1,5 kilometer.
Trisha Maulidina Azarine, Eco Student IV (Junior) of the Year 2025 yang juga siswa SMPN 5 Surabaya, mengaku sangat terkesan dengan aksi penanaman pohon di Claket ini.
“Kami harus berjalan kaki dengan jalur yang cukup menanjak menuju lokasi penanaman,” ujar Trisha.
Ia juga sempat mengalami tergelincir ringan di area penanaman yang memiliki kemiringan.
“Pokoknya perlu cukup effort untuk aksi penanaman pohon di kawasan perhutanan sosial Desa Claket, Pacet, Kabupaten Mojokerto ini,” tambah Trisha Maulidina Azarine.
Bermain di Kawasan Sumber Mata Air
Padizha Nikeisyandria Aisyzarra, Putri Lingkungan Hidup 2025 tingkat SMP yang juga siswa SMPN 4 Surabaya, mengaku banyak belajar tentang konservasi air dan pelestarian sumber mata air dari aksi penanaman pohon di Claket ini.

“Alhamdulillah, saya dan teman-teman Paguyuban Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup 2025 sangat menikmati lokasi Desa Claket yang juga dikenal sebagai desa wisata,” kata Padizha.
Ia mengaku dapat melihat langsung beberapa sumber mata air di lokasi berkumpulnya para peserta aksi tanam pohon.
“Sumber mata air pegunungan seperti ini tidak bisa kami temukan di perkotaan seperti Surabaya. Kami sangat menikmati bermain air yang mengalir jernih di saluran air di antara bebatuan besar pegunungan,” tutur Padizha.
Penulis: Mochamad Zamroni

