“Peran Guru Mewujudkan Pembatasan Gadget di Sekolah” Webinar Nasional Seri#250
Pandemi Covid-19 telah mengubah banyak tatanan kehidupan dalam sekejap. Di antaranya, setiap individu, khususnya siswa dan guru, dipaksa untuk menggunakan gadget. Pembelajaran disampaikan melalui gadget. Pelaksanaan ujian pun menggunakan gadget.
Penggunaan gadget secara berlebihan di kalangan pelajar semakin menjadi perhatian serius berbagai pihak, terutama para pendidik. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan peningkatan kasus anak yang mengalami gangguan konsentrasi, penurunan prestasi belajar, serta masalah emosi dan sosial akibat kecanduan gadget.
Refleksi dari berbagai kasus ini menunjukkan bahwa sekolah dan guru tidak bisa tinggal diam. Perlu ada langkah konkret untuk membatasi akses gadget yang tidak mendukung proses belajar, dan mendampingi anak agar mampu menggunakan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab.
Menjawab tantangan tersebut, pemerintah telah mengesahkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 atau dikenal sebagai PP Tunas, yang secara khusus mengatur tata kelola penyelenggaraan sistem elektronik dalam pelindungan anak. PP ini menjadi dasar hukum penting bagi sekolah dan guru dalam menyusun kebijakan internal, menyaring konten digital, serta membatasi penggunaan perangkat elektronik yang berisiko.
Guru diharapkan tidak hanya memahami regulasi ini secara normatif, tetapi juga mampu menerjemahkannya ke dalam kebijakan dan praktik pembelajaran yang konkret, adil, dan berorientasi pada kepentingan terbaik bagi anak.
Namun, upaya pembatasan gadget tidak cukup hanya mengandalkan aturan. Diperlukan pendekatan psikologis yang tepat agar anak tidak merasa dihukum, melainkan didampingi dan dimotivasi.
Guru perlu memahami tahapan perkembangan psikologis anak, mengenali tanda-tanda kecanduan digital, serta menerapkan strategi pembentukan perilaku dengan pendekatan yang empatik dan persuasif.
Pendidikan karakter, penanaman disiplin positif, dan penyediaan alternatif kegiatan non-digital yang menarik menjadi bagian penting dalam mewujudkan lingkungan belajar yang lebih seimbang.
Dengan memahami kondisi faktual, regulasi pemerintah, dan pendekatan psikologi pendidikan, guru memiliki peran strategis dalam mewujudkan pembatasan gadget di sekolah. Tugas ini bukan sekadar tanggung jawab administratif, tetapi bagian dari misi luhur membentuk generasi yang sehat secara mental, tangguh secara sosial, dan bijak dalam memanfaatkan teknologi.
Kolaborasi guru, orang tua, dan pihak sekolah menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem belajar yang mendukung tumbuh kembang anak secara utuh.
—
Tunas Hijau Indonesia bersama Forum Kota Surabaya Sehat, PT Dharma Lautan Utama, serta dirukung oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Kementerian Komunikasi dan Digital RI, dan Fakultas Psikologi Universitas Surabaya, menyelenggarakan Webinar Nasional Seri#250 “Peran Guru Mewujudkan Pembatasan Gadget di Sekolah”.
Webinar ini akan diselenggarakan pada Sabtu, 5 Juli 2025 Pukul 12.00-15.00 WIB melalui Zoom dan Live YouTube “TunasHijauID”.
Narasumber:
1. Drs. Kawiyan, M.I.Kom (Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia)
2. Dr. Mary Philia Elisabeth, S.Psi., M.Psi, Psikolog (PSIKOLOG & Dosen Psikologi Ubaya)
3. Mediodecci Lustarini, S.K.M., S.H., M.C.MS. (Sekretaris Ditjen Pengawasan Ruang Digital Kementerian Komunikasi dan Digital RI)
Moderator:
1. Fatih Adbul Aziz, S.Pd (Guru SMP Negeri 12 Surabaya; Aktivis senior Tunas Hijau Indonesia)
2. Khoirota Nurin (Mahasiswi Jurusan Biologi Unesa; Putri 2 Lingkungan Hidup 2019)
3. Zahra Zahiyah Pasha (Siswi SMA Negeri 14 Surabaya; Putri 2 Lingkungan Hidup 2024)
Pendaftaran gratis melalui : https://bit.ly/guru-batasi-gadget
Setiap peserta terdaftar dan mengisi daftar hadir akan mendapatkan sertifikat.
Narahubung: Nizamudin 085854366508
Penulis: Bram Azzaino


Upaya pembatasan gadget perlu dilakukan, oleh karena itu dalam hal ini peran guru di sekolah sangatlah penting untuk mewujudkan lingkungan belajar yang seimbang.
Nama : Fathan Alby A
Asal sekolah : SDN Banyu Urip III Sby
Proyek LH : Pengolahan Limbah Minyak Jelantah Menjadi Sabun Anti Nyamuk.
Halo sobat hijau 🌳
Limbah minyak jelantah seringkali dibuang sembarangan ke saluran air atau tanah, sehingga dapat mencemari lingkungan, merusak ekosistem, dan mengganggu kualitas air tanah. Sabun yang dihasilkan dari pengolahan limbah minyak jelantah memiliki fungsi tambahan sebagai anti nyamuk yang pastinya aman digunakan karena mengandung bahan alami. Dengan mengolah limbah minyak jelantah menjadi produk yang bermanfaat adalah salah satu solusi hidup ramah lingkungan. Yuk, jaga lingkungan kita.
Salam bumi, pasti lestari 🌱
Pembatasan gadget memang harus dilaksanakan terutama kepada anak anak, guru memang harus membatasi murid menggunakan gadget di sekolah dan bisa mengajarkan cara berinternet aman 👌🏻😁.
Nama: Adinda Quenza Ramadhani
Sekolah: SDN KANDANGAN 1 Surabaya
No peserta: 224
Proyek: budidaya tanaman terong 🍆
Salut banget buat para guru yang berani mengambil langkah tegas membatasi gadget di sekolah. Di tengah era digital yang serba cepat, tetap butuh kontrol agar siswa fokus belajar dan nggak kecanduan. Peran guru benar-benar luar biasa, bukan hanya mengajar tapi juga membimbing karakter generasi muda.
kenalkan namaku aqeel ataullah yahyaputra, SMPN 6 surabaya, proyek : ketahanan pangan dengan cara budidaya tanaman selada
Nama: Erhan Surya Pramudya
Sekolah: SDN Kaliasin 1
No. Peserta: 123
Proyek: Magot sebagai Pengolah Sampah Organik
Kolaborasi guru, orang tua, dan pihak sekolah menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem belajar yang mendukung tumbuh kembang anak secara utuh.
Pembatasan penggunaan gadget memang perlu dilakukan agar anak dapat menggunakannya secara benar dan bijak.
Salam bumi pasti lestari🍀💪🏻
Hai Sobat Hijau!!!
Nama: Erhan Surya Pramudya
Sekolah: SDN Kaliasin 1
No. Peserta: 123
Proyek: Magot sebagai Pengolah Sampah Organik
Kolaborasi guru, orang tua, dan pihak sekolah menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem belajar yang mendukung tumbuh kembang anak secara utuh.
Pembatasan penggunaan gadget memang perlu dilakukan agar anak dapat menggunakannya secara benar dan bijak.
Salam bumi pasti lestari🍀💪🏻
Pembatasan gadget memang penting untuk semua kalangan, anak anak, remaja maupun dewasa. Jadi Pentingnya guru peduli terhadap siswa mengenai penggunaan gadget disekolah perlu dibatasi untuk pentingnya memori belajar dll
Desty Anggita Budiono _1070
SMPN 3 SURABAYA
proyek: “Formulasi pupuk padat berbasis cangkang telur “
Pentingnya pembatasan gadget..
Semoga peran orang tua dan guru dalam membatasi gadget terhadap anak dapat memberi dampak yang baik untuk kedepannya..
Nama : Siti shofiah
Dari : SDN Margorejo III/405
No peserta : 416
Proyek : Budidaya dan Pemanfaatan Tanaman Jahe.
Pentingnya Peran Guru, Guru memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan pembatasan gadget di sekolah, karena mereka dapat memantau dan mengarahkan siswa dalam menggunakan teknologi secara bijak. Pertanyaan saya adalah
Bagaimana guru dapat menyeimbangkan antara penggunaan teknologi sebagai alat pembelajaran dengan pembatasan gadget di sekolah?
Nama: Nanok Rudy Setiawan
Sekolah: SMPN 56 SURABAYA
No peserta: 675
Proyek: Budidaya Tanaman Cabai rawit
Kolaborasi guru dan pihak sekolah menjadi kunci pembatasan gadget disekolah untuk menciptakan ekosistem belajar yang mendukung tumbuh kembang anak secara utuh.
Saya Hafsa Faizal Tamir Raffa, sering dipanggil Hafsa, saya bersekolah di SMPN 38 Surabaya. Dengan nomor peserta 603.
Judul proyek saya adalah KERTANI (Kertas Tanam Inovatif).
Tujuan proyek saya adalah untuk mendaur ulang kertas atau buku bekas menjadi kertas baru, lalu kertas baru itu dijadikan kertas tanam. Ini bertujuan untuk mengurangi sampah kertas yang menumpuk dirumah kita ataupun rumah tetangga.
📱➡️📖 Dari Kecanduan ke Kendali: Peran Guru Menjadi Penentu! 👨🏫👩🏫
Webinar ini benar-benar membuka mata 👁️ bahwa pembatasan gadget bukan soal larangan semata, tapi soal pendampingan dan pembentukan karakter digital yang sehat! 🌱💻
Salut untuk semua narasumber yang luar biasa dan pencerahan dari sudut pandang psikologi, perlindungan anak, hingga regulasi digital! 🎯💬
Semoga semakin banyak guru dan sekolah yang menerapkan pendekatan empatik, bukan menghukum, demi generasi pelajar yang tangguh mental, cerdas digital, dan kuat karakter! 💪🌟
🤝 Kolaborasi guru, orang tua, dan sekolah adalah kunci utama!
💚 Mari kita ciptakan ekosistem pendidikan yang seimbang, aman, dan penuh cinta!
#GuruBijakDigital #PembatasanGadget #PelajarSehatMental #WebinarTunasHijau #Tahap2Lestari
Kenzo Anugrah Rahmadhan
567 | SMPN 26 Surabaya
Proyek: EGGSELENT – Dari Cangkang Telur Jadi Solusi, Bukan Polusi 🥚🌿
#pangeranputrilh2025SMP_567 #SMPN26Surabaya #AksiUntukBumi
bagus banget untuk anak sekolah apalagi orang remaja…. tetap semangat
nama ibrahim tubagus maulana
sekolah sdn jemur wonosari 1
nama proyek minyak jelantah
nomer peserta 115
Informasi yang sangat bagus.
Yunita Permata Sari dari SMP NEGERI 31 SURABAYA dengan Nomer Peserta 1116 Proyek Menjadikan Sabun Bekas Sebagai Hiasan Rumah
Artikel yang bermanfaat trimakasih
Nama:Moh.Alby Maulidan
Sekolah: SDN kaliasin V/284 Surabaya
🌟 Wahh… baru ngeh ternyata guru bisa sekeren itu ya perannya dalam ngurangin kecanduan gadget di sekolah! Salut banget buat para guru yang mau turun tangan langsung. Bener-bener bukan cuma ngajarin pelajaran, tapi juga jadi penyelamat generasi muda dari “jebakan layar” 📵🔥
Nama:Jessica Rachel avrina
Sekolah: SMPN 20 Surabaya
Nomor Peserta: 990
Judul Proyek: TEBA’AT Telang banyak manfaat
Nama: Tisya Ayodya Prameswari
Asal : SDI Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya
Proyek: ECOZY (Eco Enzyme)
Capaian: Saya telah membuat Eco Enzyme sebanyak 590,4 kg
Halo sobat hijau! 🌱
Salam bumi, pasti Lestari! 🌍📵
Di era digital saat ini, gadget memang mempermudah akses informasi, tapi di sisi lain juga membawa dampak negatif bila digunakan berlebihan—terutama di lingkungan sekolah. Saya sangat mendukung upaya pembatasan penggunaan gadget di sekolah, dan percaya bahwa guru memiliki peran penting sebagai teladan dan pengarah.
Dengan bimbingan guru, kita bisa lebih fokus belajar, aktif berinteraksi langsung, dan lebih peduli pada lingkungan sekitar. Pengurangan waktu layar juga bisa mendorong siswa terlibat dalam aktivitas nyata seperti kegiatan kebersihan, penanaman, hingga proyek lingkungan.
📌 Nama: Nashifah Kamilia Arsya Salsabila
🏫 Sekolah: SMP Negeri 3 Mejayan
🔢 Nomor Peserta: 1464
🌿 Proyek: BION AMOS (Bio Lotion Anti Mosquito)
📄 Penjelasan Proyek:
Melalui BION AMOS, saya membuat lotion anti nyamuk alami dari minyak atsiri serai, kulit jeruk, dan daun pandan. Proyek ini mendorong pemanfaatan tanaman lokal serta pengurangan bahan kimia sintetis berbahaya.
Peranan Guru terhadap kendali gadget disekolah sangat penting bekerja sama dengan walimurid yg mengawasi anak2 dirumah.
Pemakaian Gadget tanpa pengarahan dan pengawasan dari ortu dan guru bisa membahayakan anak-anak di bawah umur.
Media yg bisa membantu kita mendapatkan banyak informasi positip bisa kembali menjadi mata pisau yang akan menghancurkan kita, anak-anak generasi emas Indonesia jika tdk Di gunakan sebagai mana mestinya.
Salam dari saya.
Marshall Dastan Putra R
Sdn. Ketabang 1/288 Surabaya
No peserta 207
Project : KOMANDAN ( Koleksi Tanaman Pandan)
di jaman sekarang banyak sekali anak di bawah umur yang kurang wawasan tentang bahaya narkoba, dari workshop ini kita di belanja kalau guru di sekolah juga bisa membimbing kita semua untuk mengetahui bahaya narkotika
Muhammad Raffa Zamzani / SMP negeri 9 Surabaya
zoom ini sangat membantu para guru ataupun orang tua dalam membatasi anak anak dalam gadget
nama Andita Karenina
no urut 1376
judul proyek telang bunga cantik yang bikin kita cantik
guru memang perlu memperhatukan murid muridnya tetapi tidak juga harus guru orang tua dirumah lebih harus memperhatikan anaknya dlama penggunaan gadget
ajeng chaesa setia rahayu/1034
smpn 24 surabaya
eco.grow(pupuk eceng gondok)
guru memang perlu memperhatukan murid muridnya tetapi tidak juga harus guru orang tua dirumah lebih harus memperhatikan anaknya dlama penggunaan gadget
nama ibrahim tubagus maulana
sekolah sdn jemur wonosari 1
judul proyek minyak jelantah
no 115
Kolaborasi antar segala kalangan baik itu guru, orang tua, dan pihak sekolah menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem belajar yang mendukung tumbuh kembang anak secara utuh.
Jasmine Azzahra Abqoriah SDN TAMBAKSARI 1 SURABAYA (690)