Sampah Organik Terabaikan, Mahasiswa FKM Unair dan Tunas Hijau Aksi Community Development

Sampah selalu hadir dalam setiap aktivitas manusia. Dari dapur rumah tangga hingga kegiatan sehari-hari, sampah organik dan anorganik terus dihasilkan tanpa henti. Namun, pertanyaannya sederhana: sudahkah kita benar-benar mengelolanya?

Kementerian Pengabdian Masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga didampingi oleh Tunas Hijau mencoba menjawab persoalan ini melalui program Community Development. Program ini hadir sebagai upaya untuk membangun kesadaran masyarakat, khususnya dalam pengelolaan sampah organik yang selama ini kerap terabaikan.

Dalam sebuah sesi edukasi bersama Tunas Hijau di Aula FKM Unair, Senin (6/4/2026) sore, peserta diajak merefleksikan kebiasaan sehari-hari. “Siapa di rumahnya sudah mengolah sampah?” menjadi pertanyaan sederhana yang justru membuka realitas bahwa masih sedikit masyarakat yang benar-benar melakukan pengelolaan sampah, khususnya sampah organik, secara mandiri.

Padahal, sampah organik merupakan jenis sampah yang paling sering kita hasilkan. Sisa makanan, sayur, hingga daging termasuk dalam kategori ini. Bahkan, limbah seperti cangkang telur disebut sebagai limbah “istimewa” karena membutuhkan waktu lebih lama untuk terurai.

“Sampah organik itu bisa menghasilkan gas,” ungkap salah satu mahasiswa FKM Unair menjelaskan ciri-ciri sampah organik seperti yang diminta oleh pemateri Tunas Hijau Mochamad Zamroni. Gas yang dimaksud adalah metana, yang diketahui memiliki daya panas sekitar 24 kali lebih berbahaya dibandingkan karbon dioksida terhadap lingkungan bila tidak diolah dengan baik.

Kondisi ini semakin mengkhawatirkan ketika melihat data di lapangan. Kota Surabaya, misalnya, menghasilkan sekitar 1.800 ton sampah setiap harinya. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.600 ton berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Ironisnya, sebagian besar merupakan sampah organik yang sebenarnya harus diolah di sumbernya.

Namun, tren yang terjadi justru sebaliknya. Sejak tahun 2022, pengelolaan sampah organik di Surabaya cenderung menurun, sementara pengolahan sampah anorganik seperti plastik semakin meningkat. Banyak kampung bahkan belum memiliki sistem pengelolaan sampah organik yang memadai.

Di sisi lain, perubahan lingkungan juga ikut memperparah keadaan. Lahan tanah yang semakin sempit dan digantikan oleh paving membuat proses alami penguraian sampah semakin sulit terjadi. Padahal, alam sebenarnya memiliki “pengolah alami”, seperti hewan di sekitar kita.

Dampak dari pengelolaan sampah yang buruk tidak bisa dianggap remeh. Sekitar 20% emisi gas rumah kaca berasal dari aktivitas yang berkaitan dengan sampah organik. Selain itu, Indonesia tercatat sebagai salah satu penghasil sampah makanan terbesar di dunia, dengan jumlah mencapai 115–184 kg per orang setiap tahunnya.

Ketika sampah organik tidak dikelola dengan baik, masalah pun merembet ke sampah anorganik. Sampah yang tercampur sulit untuk diolah dan berpotensi mencemari lingkungan. Bahkan, kondisi ini dapat menjadi ancaman bagi satwa liar dan menyebabkan berbagai kerusakan ekosistem.

Fenomena yang paling dekat dengan kita adalah sungai yang tersumbat oleh sampah. Air meluap, lingkungan menjadi kotor, dan risiko penyakit meningkat. Berbeda dengan di beberapa negara lain, dampak sampah mungkin tidak langsung terlihat, tetapi tetap berbahaya bagi kehidupan makhluk hidup di dalamnya.

Melalui program Community Development, mahasiswa FKM Unair didampingi oleh Tunas Hijau tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga melakukan pendampingan secara berkelanjutan. Tujuannya adalah agar masyarakat tidak hanya paham, tetapi juga mampu menerapkan pengelolaan sampah secara mandiri.

Program ini juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu yang mereka pelajari di bangku kuliah ke dalam kehidupan nyata. Mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi, semua dilakukan secara langsung bersama masyarakat.

Lebih dari itu, kegiatan ini juga berkontribusi dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek kesehatan yang baik, kota dan permukiman berkelanjutan, serta konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Kini, langkah kecil perlu dimulai dari rumah. Memilah sampah organik dan anorganik bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Karena pada akhirnya, lingkungan yang bersih dan sehat adalah tanggung jawab bersama.

Penulis: Danuarta Arga Birawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *