Dari Kebun Rumah di Sumba, Lahir Spesies Baru Serangga Tongkat

Kekayaan biodiversitas Indonesia kembali bertambah dengan ditemukannya spesies baru serangga tongkat dari Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Menariknya, penemuan ini dilakukan oleh seorang mahasiswa muda bernama Davis Marthin Damaledo.

Davis merupakan mahasiswa semester 4 Fakultas Pertanian Program Studi Agroekoteknologi Universitas Udayana. Pemuda kelahiran Kota Kupang tersebut dikenal memiliki ketertarikan besar pada penelitian serangga.

Serangga yang ditemukan Davis termasuk dalam genus Nesiophasma Günther, 1934, yaitu kelompok serangga tongkat tanpa sayap yang tersebar di kawasan Wallacea. Genus ini sebelumnya telah direvisi oleh peneliti Frank H. Hennemann pada 2021 dan kembali ditinjau bersama timnya pada 2023.

Penemuan ini menjadi penting karena merupakan spesies ketiga dari genus Nesiophasma yang diketahui dari Kepulauan Sunda Kecil sekaligus serangga tongkat pertama yang tercatat dari Pulau Sumba. Hal ini disampaikan oleh peneliti serangga Garda Bagus Damastra kepada Mongabay Indonesia pada 10 Maret 2026.

Garda merupakan mentor Davis sekaligus pendiri Indonesian Mantis and Phasmid Forum (IMPF), komunitas pecinta serangga dengan sekitar 3.600 anggota. Namanya bahkan diabadikan sebagai nama spesies serangga temuannya, Phyllium gardabagusi.

Spesies baru tersebut kemudian diberi nama Nesiophasma davisdamaledoi sp. nov. Penelitian mengenai spesies ini mendeskripsikan karakter jantan, betina, serta telurnya secara ilmiah.

Awal penemuan spesies ini terjadi ketika paman Davis di Sumba mengirimkan foto serangga ranting yang ditemukan di rumah temannya. Rasa penasaran membuat Davis turun langsung ke lapangan hingga akhirnya menemukan dua spesimen di Kabupaten Sumba Tengah dan Sumba Timur.

Menariknya, salah satu spesimen ditemukan di kebun kecil di depan rumah yang tidak memiliki kawasan hutan di sekitarnya. Di lokasi tersebut terdapat beberapa pohon jambu yang menjadi habitat serangga ini.

Hasil penelitian kemudian dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Zootaxa, sementara spesimen utama (holotype) telah didaftarkan dan disimpan di Laboratorium Entomologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Serangga ini berukuran sekitar 13–18 cm, memiliki bercak hitam pada bagian pipi, serta mampu berkamuflase menyerupai ranting. Davis dan Garda berharap penemuan ini dapat menambah pengetahuan tentang biodiversitas Indonesia serta mendorong semakin banyak peneliti muda mempelajari serangga yang masih kurang diteliti.

Tulisan ini dirangkum dari laporan Mongabay Indonesia (mongabay.co.id). (*/Mochamad Zamroni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *