Pulang ke Rumah: Lima Orangutan Memulai Babak Baru di Rimba Kalimantan

Perjalanan 5 orangutan menuju kebebasan tidak ditempuh dalam sehari. Ada yang harus belajar kembali memanjat pohon, mengenali buah-buahan hutan, hingga membangun sarang untuk bermalam. Setelah bertahun-tahun menjalani rehabilitasi, lima orangutan itu akhirnya kembali ke tempat yang memang menjadi rumah mereka: hutan hujan Kalimantan.

Pada 30 Juni 2026, suasana hening menyelimuti kawasan Sub-DAS Mendalam di Taman Nasional Betung Kerihun, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Satu per satu pintu kandang dibuka. Benazir, seekor orangutan jantan berusia 14 tahun, menjadi salah satu yang mengawali langkah menuju rimba. Di belakangnya menyusul Jamilah bersama anaknya, Ulin, serta Sinta bersama anaknya, Sabine. Bagi mereka, hari itu bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan awal kehidupan baru sebagai penghuni hutan yang bebas.

Kelima orangutan tersebut merupakan hasil rehabilitasi yang dilakukan melalui kerja sama Kementerian Kehutanan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum, serta Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang. Sebelum dinyatakan layak dilepasliarkan, mereka menjalani rehabilitasi intensif di Sekolah Hutan Jerora, dilanjutkan pemeriksaan kesehatan menyeluruh dan karantina selama satu bulan.

Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran pun bukan perkara mudah. Dari Sintang menuju kawasan hutan di Kapuas Hulu, rombongan harus menempuh perjalanan darat dan sungai selama sekitar 10 hingga 12 jam. Selama proses tersebut, seluruh prosedur dirancang untuk menjaga kondisi fisik dan psikologis orangutan agar tidak mengalami stres berlebihan. Setibanya di lokasi, mereka terlebih dahulu beristirahat di kandang habituasi sebelum benar-benar dilepas ke habitat alaminya.

Sub-DAS Mendalam dipilih bukan tanpa alasan. Kawasan ini memiliki kekayaan vegetasi pakan yang sangat melimpah, mencapai sekitar 52 persen dari seluruh jenis flora yang teridentifikasi. Daya dukung habitat yang tinggi menjadikan kawasan ini sebagai tempat ideal bagi orangutan untuk kembali menjalani kehidupan liar, mencari makan, membangun sarang, berkembang biak, sekaligus berperan menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis Kalimantan.

Pelepasliaran kali ini merupakan tahap ke-18 sejak program dimulai pada 2017. Hingga akhir 2025, sebanyak 39 individu orangutan telah berhasil dikembalikan ke habitat alaminya di Taman Nasional Betung Kerihun. Jumlah tersebut terdiri atas 37 individu hasil rehabilitasi dan dua individu hasil translokasi. Setiap pelepasliaran menjadi langkah kecil yang memberi harapan besar bagi pemulihan populasi orangutan Kalimantan yang terus menghadapi ancaman kehilangan habitat dan aktivitas manusia.

Namun, kebebasan bukan berarti perjalanan mereka berakhir. Justru saat itulah babak baru dimulai. Selama maksimal tiga bulan, tim monitoring yang terdiri atas delapan hingga dua belas personel akan mengikuti kehidupan kelima orangutan menggunakan metode nest-to-nest. Sejak matahari terbit hingga senja, tim akan mengamati bagaimana mereka mencari makan, berpindah pohon, membuat sarang, hingga berinteraksi dengan lingkungan barunya. Semua dilakukan untuk memastikan mereka benar-benar mampu hidup mandiri tanpa bergantung pada manusia.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum, Titik Wurdiningsih, berharap pelepasliaran ini menjadi investasi jangka panjang bagi kelestarian orangutan Kalimantan. Menurutnya, generasi mendatang harus tetap memiliki kesempatan menyaksikan satwa endemik Indonesia itu hidup bebas di alam, bukan hanya mengenalnya melalui buku atau layar gawai.

Ia juga melihat potensi besar kawasan Camp Mentibat di Resor PTN Nanga Hovat untuk dikembangkan sebagai pusat riset dan edukasi orangutan. Keindahan bentang alam menuju lokasi pelepasliaran bahkan dinilai dapat menjadi daya tarik wisata alam, termasuk arung jeram, yang dikelola secara bertanggung jawab tanpa mengganggu kelestarian kawasan konservasi.

Senada dengan itu, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menegaskan bahwa keberhasilan pelepasliaran tahap ke-18 merupakan buah dari komitmen panjang dalam menyelamatkan satwa liar. Baginya, setiap orangutan yang kembali ke hutan bukan sekadar satwa yang dilepas, tetapi simbol harapan bahwa upaya konservasi mampu membalikkan ancaman kepunahan menjadi peluang pemulihan populasi.

Lebih dari sekadar melepas lima individu orangutan, kisah ini menunjukkan bahwa pelestarian alam tidak pernah bisa dikerjakan sendirian. Dibutuhkan kolaborasi pemerintah, lembaga konservasi, peneliti, masyarakat, hingga para penjaga hutan yang bekerja dalam senyap. Ketika semua pihak berjalan bersama, hutan tetap lestari, keanekaragaman hayati tetap terjaga, dan orangutan akhirnya bisa benar-benar pulang ke rumahnya. (*/Mochamad Zamroni)

18 thoughts on “Pulang ke Rumah: Lima Orangutan Memulai Babak Baru di Rimba Kalimantan

  • Juli 5, 2026 pada 22:54
    Permalink

    An BRIAN
    SDN SEMOLOWARU 1/261
    No. Peserta : 157
    Proyek : Budidaya Si Batang Harum SERAYA ( Serai Rakyat Surabaya)

    Kembalinya lima orangutan ke habitat aslinya di rimba Kalimantan merupakan sebuah langkah krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan dan menyelamatkan spesies yang terancam punah ini dari kepunahan.
    ​Upaya pelepasliaran seperti ini patut diapresiasi tinggi, sekaligus menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya menjaga dan melindungi kelestarian hutan Kalimantan sebagai rumah alami mereka.
    Sukses Selalu Tunas hijau ID 🌱🌱✨

    Balas
  • Juli 5, 2026 pada 22:57
    Permalink

    Bismillahirrohmanirrohim.. Dalam kepemimpinan Benazir, Jamilah bersama anaknya, Ulin, serta Sinta bersama anaknya, Sabine bisa survived Di Hutan Hujan Kalimantan.
    Saya mengolah sampah organik seperti kulit nanas menjadi eco enzyme. Manfaat eco enzyme sangat banyak salah satunya untuk kesehatan. Eco enzyme bisa digunakan sebagai larutan desinfektan.
    Bersih dan sehat dengan eco enzyme.
    Ezra Akbar Ulumuddin
    SDN Jemurwonosari 1 Surabaya

    Balas
    • Juli 8, 2026 pada 04:16
      Permalink

      Muhammad Usman Dzikrullah
      SDN Jemur Wonosari 1 Surabaya
      Alhamdulillah ikut terharu dan seneng semoga sehat selalu Benazir,jamilah,Sinta,Sabine dan Ulin
      Lingkungan bersih dg ecoenzim
      Yuk selamatkan bumi dg ecoenzim
      Muhammad Usman Dzikrullah
      SDN Jemur Wonosari 1 Surabaya

      Balas
  • Juli 6, 2026 pada 11:33
    Permalink

    Semoga alam , hutan yang hijau lestari selalu terjaga. Pohon pohon di hutan menghasilkan makanan yang cukup melimpah buat hewan hewan di dalamnya antara lain orang hutan bisa terpenuhi dengan baik. Bagus sekali langkah yang di lakukan buat orang hutan kembali ke hutan. Harapan besar kami lebih banyak lagi orang hutan kembali ke habitatnya dan bisa bertumbuh kembang dengan baik , keanekaragaman hayati juga terjaga.
    Salam bumi salam lestari 👆🏻🌿
    Carissa Putri Fatihasari
    SDN SIDOTOPO WETAN V
    Proyek : VERASSA ( Aloe Vera bersama Carissa )

    Balas
    • Juli 6, 2026 pada 19:09
      Permalink

      Bismillah Semoga alam dan bumi kita selalu dalam lindungan allah dan terjaga Pohon makanan yang cukup melimpah buat hewan ada dihutan misalnya orang hutan dan hewan lain bisa terpenuhi dengan baik.. Harapan kami lebih banyak lagi orang hutan dan hewan lain bisa kembali di hutan dan bisa bertumbuh kembang dengan baik dan bisa memjaga hutan lindung disekitar nya,
      Seandy putri fitriasari
      SDN MOJO III
      Budidaya sayuran toga

      Balas
  • Juli 6, 2026 pada 20:56
    Permalink

    Nama: WILDA AL ALUF
    Proyek: RANCA MANIK (kerajinan kain perca yang menarik dan unik)

    Semoga lingkungan hutan yang hijau aman dan terjaga, akhirnya lima orang utan itu kembali ke tempat semula yang ia anggap rumah bagi mereka semua. Tanpa kerja sama kementerian kehutanan mungkin lima orang utan tidak bisa kembali ke tempat asalnya

    Balas
  • Juli 7, 2026 pada 15:15
    Permalink

    Nama: Arroyan Quinsha Zahwa
    Asal sekolah: SMPN 19 Surabaya
    Proyek lingkungan: RECAP! (Recycle the Cap!)

    Proyek lingkungan yang saya kembangkan yaitu RECAP! Singkatan dari Recycle The Cap. Yaitu sebuah inisiatif saya untuk mengolah sampah plastik berjenis HDPE & PP khususnya pada tutup botol plastik, menjadi berbagai produk baru yang bermanfaat dengan cara dilelehkan & dibentuk ulang.

    Respon saya terhadap artikel ini:
    Artikel ini menjelaskan tentang pelepas liaran 5 orangutan ke hutan kalimantan setelah bertahun-tahun direhabilitasi. Sebelum kembali ke habitat alaminya, mereka dilatih memanjat pohon, mencari makanan, dan membangun sarang agar mampu bertahan hidup mandiri. Pelepasliaran ini menunjukkan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam melindungi orangutan dari ancaman kepunahan. Menurut saya, upaya seperti ini sangat penting dan layak diapresiasi karena tidak hanya menyelamatkan satwa liar, tetapi juga menjaga hutan sebagai habitat aman bagi orangutan di masa depan.

    🌱Salam Bumi, Pasti Lestari!🌱

    Balas
  • Juli 7, 2026 pada 18:22
    Permalink

    hallo sobat hijau 💚🌏
    nama: Mawardah ramadhani
    sekolah:SMPN 45 Surabaya

    setelah saya membaca berita ini saya jadi ingat bahwa menjaga lingkungan memang perlu dilakukan bersama. Semoga orangutan Kalimantan tetap lestari dan populasinya terus bertambah.

    Salam bumi 🌏
    pasti lestari 💚

    Balas
  • Juli 7, 2026 pada 22:15
    Permalink

    masyaallah, kisah ini benar-benar menyentuh hati. 🌿 “Pulang ke rumah” bukan hanya tentang kembali ke hutan, tetapi juga tentang mengembalikan hak satwa liar untuk hidup bebas di habitat alaminya. Salut kepada semua pihak yang telah berjuang merehabilitasi dan melepasliarkan Benazir, Jamilah, Ulin, Sinta, dan Sabine. Semoga mereka dapat hidup mandiri, berkembang biak, dan menjaga kelestarian hutan Kalimantan. Mari kita terus mendukung upaya konservasi, karena menjaga hutan berarti menjaga masa depan orangutan dan bumi kita bersama.

    Balas
  • Juli 8, 2026 pada 22:08
    Permalink

    Nama:Fica Widya Paramitha
    Asal sekolah:SMPN 26 Surabaya
    Nama proyek:KeyCycle(Keychain Recycle)

    Proyek lingkungan saya yaitu KeyCycle-Keychain Recycle, yaitu mengubah sampah botol plastik bekas menjadi gantungan kunci dengan cara melelehkan tutup botol plastik yang telah digunting dengan setrika lalu badan botolnya dijadikan sapu halaman.

    Seneng dan terharu rasanya, akhirnya Benazir, Jamilah sama Ulin, serta Sinta sama Sabine bisa pulang ke pelukan bumi dan rimba Kalimantan yang jadi rumah asli mereka,ternyata perjalanan mereka buat kembali ke alam butuh waktu dan perjuangan yang sangat panjang ya.Artikel ini membuat kita sadar betapa pentingnya menjaga hutan agar bumi tetap lestari dan satwa bisa hidup bebas.Semoga mereka tumbuh sehat dan bahagia di tengah kekayaan alam yang indah itu🍃.

    Balas
  • Juli 8, 2026 pada 22:16
    Permalink

    Nama: Nadia Putri Angeli
    Asal Sekolah: SMP Negeri 28 Surabaya
    Proyek: DAKARA (Daun Kering Tiada Tara)

    Kisah kepulangan lima orangutan ke habitat alaminya menjadi pengingat bahwa hutan bukan hanya sumber kehidupan bagi manusia, tetapi juga rumah bagi beragam satwa liar. Semoga semakin banyak pihak yang terus berkolaborasi menjaga kelestarian hutan dan keanekaragaman hayati Indonesia. 🙏🦧🌳

    Saya juga mengikuti Penganugerahan Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup 2026 melalui proyek DAKARA (Daun Kering Tiada Tara), yaitu pemanfaatan daun kering menjadi Briket Bio-Arang sebagai energi alternatif yang ramah lingkungan sekaligus membantu mengurangi sampah organik. ♻️

    Saya percaya, setiap langkah kecil dalam menjaga lingkungan akan memberikan dampak besar bagi masa depan bumi. Semoga DAKARA dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk selalu mengelola sampah organik secara kreatif dan berkelanjutan, sehingga alam Indonesia tetap hijau, lestari, dan menjadi rumah yang aman bagi seluruh makhluk hidup. 🍃

    Balas
  • Juli 9, 2026 pada 16:36
    Permalink

    NAMA : Khaira Tyza Putri Rahimsyah
    Asal Sekolah : SMPN 39 SBY
    Proyek : #SobatLarva

    Haalloo Sobat Hijau! 🌱💚
    Artikel ini mengajarkanku bahwa pelepasliaran orangutan bukan sekadar mengembalikan satwa ke habitatnya, tetapi merupakan hasil dari proses panjang dan kolaborasi banyak pihak. Aku juga suka dengan pesan bahwa setiap orangutan yang kembali ke hutan menjadi simbol harapan untuk memulihkan populasi satwa endemik Indonesia. 🦧🌿

    Hal itu menginspirasiku untuk ikut berkontribusi melalui proyek #SobatLarva, dengan mengolah sampah organik menggunakan Larva BSF bersama teman-teman di sekolah dan keluarga di rumah. Semoga semakin banyak anak muda yang mau ikut bergerak, karena menjaga lingkungan selalu dimulai dari aksi kecil yang dilakukan bersama.
    Salam Bumi, Pasti Lestari!

    Balas
  • Juli 10, 2026 pada 12:57
    Permalink

    Kelima orangutan ini adalah simbol kemenangan kecil dari perjuangan panjang melawan kepunahan. Semoga kisah dari Kalimantan Barat ini menjadi pemantik semangat bagi daerah lain di Indonesia untuk terus merawat dan mengembalikan hak satwa endemik kita ke rumah asli mereka rimba raya yang lestari.

    Nama : Syifaul Ummah
    Asal Sekolah : SMPN 38 Surabaya
    Proyek : Budidaya Taliba (Tanaman Lidah Buaya)

    Balas
  • Juli 10, 2026 pada 14:11
    Permalink

    Apresiasi luar biasa untuk seluruh tim penyelamat dan konservasi yang terlibat dalam proses panjang ini. Mengembalikan orangutan ke alam liar bukanlah perkara mudah. Ini adalah bukti nyata bahwa komitmen menjaga keanekaragaman hayati Indonesia masih kuat. Semoga hutan Kalimantan tetap terjaga agar menjadi rumah yang aman bagi mereka

    Aqilla Alifiana Reagan
    SMPN 38 Surabaya
    Proyek: GERIK ( gerakan ecobrick ) aksi nyata menyelamatkan lingkungan

    Balas
  • Juli 10, 2026 pada 20:43
    Permalink

    Nama: Rifqi Adi Putra
    Proyek: “sundah” sulap sampah non-organik jadi indah
    Sekolah: SMP NEGERI 54 SURABAYA sunggu bahagia dan terharu,akhirnya Benazir, Jamilah, Ulin, Sinta dan Sabine bisa pulang ke habitatnya dan rimba Kalimantan yang jadi rumah asli mereka untuk tinggal,ternyata perjalanan mereka buat kembali ke alam butuh waktu dan perjuangan yang sangat panjang sehingga sampai detik ini.
    Artikel ini membuat kita sadar betapa pentingnya menjaga hutan agar bumi tetap lestari dan satwa bisa hidup bebas dan juga tidak punah.

    Balas
  • Juli 14, 2026 pada 16:12
    Permalink

    langkah nyata yang sangat luar biasa menyelamatkan hewan langkah dari kepunahan, aksinya sudah berjalan 9 tahun atau di mulai sejak tahun 2017.

    persiapan yang cukup matang, dari sekolah hutan dan pemantauan ketat, pemilihan habitat, serta kolaborasi dengan pemrintah, lembaga konservasi dan masyarakat.

    elena subekti
    SMPN 11 surabaya
    proyek budi daya tanaman pepaya

    Balas
  • Juli 15, 2026 pada 17:51
    Permalink

    Sangat menyentuh dan menginspirasi membaca kisah perjalanan 5 orangutan ini untuk kembali ke rumah asli mereka di Rimba Kalimantan. Proses rehabilitasi yang membutuhkan waktu bertahun-tahun membuktikan bahwa mengembalikan kelestarian alam yang sempat rusak tidaklah instan dan butuh komitmen besar.

    Berita ini bikin saya makin semangat buat jalanin proyek “Lebara”, yaitu budidaya kangkung hidroponik. Fokus utama proyek saya adalah untuk menyediakan sayuran segar yang sehat di sekolah sekaligus menciptakan ketahanan pangan lokal yang lebih kuat dan berkelanjutan.

    Salam bumi pasti lestari 🌱

    Balas
    • Juli 15, 2026 pada 18:07
      Permalink

      Nama = Kalyca Arij Aruna
      Sekolah = SMPN 1 SURABAYA
      Proyek = Lebara (budidaya kangkung hidroponik)

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *