Inspirasi dari Al-Qur’an untuk Meneliti Siklus Air
Air merupakan salah satu unsur paling esensial dalam kehidupan kita. Sudah menjadi anggapan umum bahwa di mana kita menemukan air, di sana ada harapan akan kehidupan. Dalam kehidupan manusia, air tawar digunakan untuk minum, mengolah makanan, mandi, energi, transportasi, pertanian, industri, dan rekreasi. Oleh karena itu, memahami siklus air menjadi sangat penting.
Menurut USGS, siklus air atau daur air adalah pergerakan air yang terus-menerus di atas, di dalam, dan di permukaan Bumi, yang mengubah wujudnya antara cair, uap, dan es (Gambar 1). Siklus ini mencakup proses utama: evaporasi/transpirasi, kondensasi, presipitasi, serta limpasan dan infiltrasi, yang memastikan ketersediaan air bersih di seluruh planet. Matahari dan gravitasi menjadi komponen penting yang mendorong proses tersebut.
Proses ini dimulai dengan penguapan air dari laut, danau, dan sungai (evaporasi), serta pelepasan uap air dari tumbuhan (transpirasi) ke atmosfer. Uap air kemudian terbawa angin menuju wilayah bersuhu lebih rendah di daratan. Selanjutnya terjadi kondensasi, yaitu proses ketika uap air di atmosfer mendingin dan berubah menjadi butiran air halus yang membentuk awan.
Awan kemudian mengalami presipitasi, yaitu proses jatuhnya air kembali ke permukaan Bumi dalam bentuk hujan, salju, atau es. Ketika hujan turun ke permukaan Bumi, sebagian air akan meresap ke dalam tanah dan mengisi kembali akuifer (air tanah). Sebagian lainnya melimpas sebagai air permukaan (runoff) yang mengalir menuju sungai, danau, dan lautan. Ada pula air yang tersimpan dalam jangka waktu lama di lautan, es, gletser, maupun di dalam tanah.
Siklus air telah berlangsung dengan baik bahkan sebelum manusia ada. Namun, kondisi ini mulai berubah ketika jumlah manusia semakin bertambah, diikuti meningkatnya kebutuhan papan, pangan, sandang, serta perkembangan industri.

Salah satu contohnya adalah penemuan dan perkembangan industri berbahan plastik sejak sekitar tahun 1960-an. Limbah plastik yang dihasilkan sangat sulit terurai secara alami dan membutuhkan waktu lebih dari 300 tahun untuk terdegradasi. Plastik umumnya hanya pecah menjadi ukuran yang lebih kecil, yaitu mikroplastik hingga nanoplastik.
Partikel mikroplastik dan nanoplastik yang terdapat di lautan, danau, dan sungai dapat ikut menguap dan masuk ke dalam siklus air. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian menunjukkan bahwa uap air di atmosfer mengandung mikroplastik dan nanoplastik. Akibatnya, air dari berbagai sumber dapat tercemar, masuk ke dalam tubuh manusia melalui aliran darah, bahkan terdeteksi hingga pada janin bayi.
Gunung yang berhutan lebat memiliki koefisien limpasan kurang dari 20 persen. Artinya, lebih dari 80 persen air hujan dapat meresap ke dalam tanah dan mengisi cadangan air tanah, baik yang dangkal maupun yang dalam. Air tanah ini kemudian muncul kembali sebagai sumber mata air di sekitar gunung dan menyuplai aliran sungai.
Namun, meningkatnya kebutuhan lahan permukiman dan kawasan industri menyebabkan perubahan kawasan resapan di pegunungan. Akibatnya, air limpasan dapat meningkat menjadi lebih dari 80 persen, sementara air yang meresap ke dalam tanah menjadi jauh berkurang. Kondisi ini memicu berbagai bencana hidrometeorologi. Pada musim hujan muncul erosi, longsor, banjir bandang, dan banjir. Sementara pada musim kemarau terjadi kekeringan dan kebakaran lahan.
Perubahan iklim semakin memperparah krisis air serta meningkatkan frekuensi bencana hidrometeorologi.
Perintah Meneliti Air dari Al-Qur’an
“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan, dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya serta menjadikannya bergumpal-gumpal…”
(QS. Ar-Rum: 48)
“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan bagian-bagiannya, lalu menjadikannya bertindih-tindih sehingga kamu melihat hujan keluar dari celah-celahnya? Allah juga menurunkan butiran-butiran es dari langit, yaitu dari gumpalan-gumpalan awan seperti gunung-gunung…”
(QS. An-Nur: 43)
“Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (ukuran yang diperlukan), lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati. Seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).”
(QS. Az-Zukhruf: 11)
“Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.”
(QS. Al-Mu’minun: 18)
“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya…”
(QS. Ar-Ra’d: 17)
“Apakah kamu tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, lalu diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi. Kemudian dengan air itu ditumbuhkan-Nya tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya…”
(QS. Az-Zumar: 21)
Allah juga telah mengingatkan:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat-ayat tersebut merupakan pelajaran mendasar tentang sunnatullah siklus air. Ada air yang menetap di Bumi sebagai benua es, ada yang meresap dan tersimpan di dalam tanah, ada yang mengalir di dalam tanah, ada yang keluar sebagai mata air, ada yang masuk ke danau, ada yang mengalir melalui sungai, ada yang menuju laut, dan ada pula yang menguap kembali ke atmosfer. Semuanya berlangsung dalam ukuran dan keseimbangan tertentu (Gambar 2).
Karena jumlah dan sebarannya, air menjadi salah satu unsur paling penting bagi kehidupan makhluk di Bumi, termasuk manusia. Allah telah memberi petunjuk sekaligus perintah kepada manusia yang berakal agar memahami sunnatullah air ini secara teliti dan terukur.
Manusia diciptakan di Bumi sebagai khalifah, yaitu pengelola Bumi. Untuk dapat mengelola, manusia harus memahami ciptaan Allah. Kita perlu mengetahui ukuran-ukurannya serta hubungan antarunsur dalam sistem alam semesta, sehingga kita dapat menjadi umat yang rahmatan lil ‘alamin.
Jika manusia tidak bijak dalam menggunakan air, air bisa terbuang sia-sia, bahkan berubah menjadi sumber bencana.
Selamat memperingati Nuzulul Qur’an.
Penulis: Amien Widodo

