Simulasi Bencana di Sekolah: Jangan Sekadar Formalitas!

Simulasi bencana di sekolah sering kali dilakukan hanya sebagai bentuk pemenuhan kewajiban administratif atau formalitas tahunan tanpa memperhatikan esensi pembelajaran yang seharusnya menjadi tujuan utama.

Padahal, sekolah merupakan salah satu lokasi yang paling rentan saat terjadi bencana karena tingginya konsentrasi anak-anak di satu tempat. Ketika dilakukan dengan serius dan terencana, simulasi bencana bisa menyelamatkan banyak nyawa dan menanamkan budaya kesiapsiagaan sejak dini.

Strategi pertama agar simulasi bencana menjadi pembelajaran bermakna adalah dengan melakukan risk assessment atau pemetaan risiko bencana yang benar-benar berbasis kondisi lokal sekolah. Misalnya, sekolah di daerah rawan gempa harus menekankan prosedur evakuasi saat gempa.

Sedangkan sekolah yang berada di dekat sungai besar harus melatih respons terhadap potensi banjir atau tanah longsor. Keterlibatan guru, siswa, dan bahkan orang tua dalam pemetaan risiko ini sangat penting agar semua pihak memahami bahaya yang mungkin terjadi.

Kedua, skenario simulasi harus disusun secara realistis dan sesuai dengan jenis bencana yang paling mungkin terjadi di wilayah sekolah tersebut. Hindari membuat simulasi yang terlalu singkat, tanpa tantangan, atau hanya berfokus pada baris-berbaris keluar kelas.

Tambahkan unsur kejutan yang dapat memicu pengambilan keputusan kritis. Di antaranya rute evakuasi yang tiba-tiba tertutup atau informasi korban yang belum ditemukan. Hal ini akan melatih kemampuan berpikir cepat dan kerja sama tim dalam kondisi darurat.

Ketiga, penting untuk mengintegrasikan edukasi kebencanaan dalam kurikulum pembelajaran secara rutin, tidak hanya pada saat simulasi. Edukasi ini dapat diberikan melalui mata pelajaran sains, geografi, hingga kegiatan ekstrakurikuler.

Siswa harus memahami apa itu gempa, bagaimana tsunami terbentuk, atau dampak perubahan iklim terhadap risiko kebencanaan. Pemahaman ini akan memperkuat kesadaran dan respons mereka saat simulasi maupun ketika bencana sesungguhnya terjadi.

Keempat, pelibatan pihak luar seperti BPBD, PMI, atau relawan kebencanaan dalam simulasi akan menambah nilai edukatif dan kedekatan siswa dengan lembaga kebencanaan. Kehadiran mereka tidak hanya memberi otoritas pada pelaksanaan simulasi, tetapi juga membuka wawasan baru tentang bagaimana koordinasi dilakukan secara nyata dalam situasi darurat. Selain itu, kolaborasi ini membangun jejaring yang bisa diandalkan ketika sekolah mengalami bencana sebenarnya.

Kelima, evaluasi dan refleksi pasca simulasi wajib dilakukan secara menyeluruh dan melibatkan semua peserta. Tidak cukup hanya dengan menyatakan bahwa simulasi “berjalan lancar”. Tim manajemen risiko sekolah harus mengidentifikasi bagian mana dari simulasi yang masih kurang, kesalahan yang terjadi, atau hal-hal tak terduga yang bisa menjadi pelajaran berharga. Dokumentasi dan laporan evaluasi ini sebaiknya ditindaklanjuti dengan revisi rencana kontingensi sekolah.

Keenam, keterlibatan aktif siswa sebagai agent of change dalam simulasi akan memberikan dampak lebih kuat. Siswa tidak hanya sebagai peserta pasif, melainkan bisa dilatih sebagai tim siaga sekolah yang bertugas memberi instruksi, mendampingi evakuasi, atau memberikan pertolongan pertama. Ketika anak-anak memiliki peran strategis, mereka cenderung lebih memahami, mengingat, dan menghargai proses mitigasi bencana.

Ketujuh, simulasi sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan inklusi, seperti melibatkan siswa berkebutuhan khusus atau difabel. Aspek ini sering luput dari perencanaan padahal sangat krusial. Rencana evakuasi yang inklusif, petunjuk visual dan suara, hingga jalur aman untuk kursi roda atau alat bantu jalan, akan memastikan tidak ada yang tertinggal dalam situasi darurat.

Kedelapan, penting juga untuk membangun budaya kesiapsiagaan yang berkelanjutan melalui pengingat visual, latihan berkala, dan komunikasi rutin tentang risiko bencana. Poster, video pendek, dan simulasi mini di kelas bisa membantu memperkuat pemahaman tanpa harus menunggu agenda simulasi tahunan. Sekolah harus menjadi zona yang aman dan siaga setiap waktu.

Kesembilan, strategi komunikasi dalam simulasi juga harus diperhatikan, baik komunikasi internal maupun eksternal. Sekolah perlu memastikan bahwa semua pihak—termasuk wali murid dan komunitas sekitar—mengetahui peran mereka jika terjadi bencana. Gunakan sistem peringatan dini sederhana seperti peluit, sirine, atau pengeras suara yang dipahami semua warga sekolah.

Kesepuluh, pada akhirnya, simulasi bencana bukan soal “seberapa cepat keluar dari kelas”, melainkan seberapa siap semua pihak untuk menghadapi kondisi darurat dengan tenang, efektif, dan kolaboratif. Dalam konteks ini adalah seluruh warga sekolah.

Dengan pendekatan yang tepat dan partisipatif, simulasi bisa menjadi pendidikan karakter, keterampilan hidup, dan bentuk nyata perlindungan anak di lingkungan pendidikan. Jangan biarkan simulasi bencana hanya jadi rutinitas tahunan yang kosong makna. Jadikan ia proses belajar yang menyelamatkan kehidupan.

👥 Struktur dan Anggota Tim Siaga Bencana Sekolah (TSBS)

1. Koordinator Umum (1 orang)

  • Biasanya: Kepala Sekolah atau Wakil Kepala Sekolah.
  • Peran:
    • Memimpin dan mengkoordinasi seluruh kegiatan kesiapsiagaan bencana.
    • Mengambil keputusan saat simulasi dan kondisi darurat.

2. Sekretaris/Dokumentasi (1 orang)

  • Biasanya: Guru atau staf tata usaha.
  • Peran:
    • Mendokumentasikan proses simulasi dan hasil evaluasi.
    • Menyiapkan laporan kegiatan dan evaluasi pasca simulasi.

3. Koordinator Evakuasi (2–3 orang)

  • Bisa dari: Guru PJOK, guru kelas, staf keamanan.
  • Peran:
    • Mengatur dan memastikan jalur evakuasi digunakan dengan benar.
    • Mengarahkan siswa dan guru ke titik kumpul.

4. Tim Medis / Pertolongan Pertama (2 orang)

  • Bisa dari: Guru UKS, petugas P3K, atau guru IPA.
  • Peran:
    • Menangani simulasi korban luka ringan.
    • Bertanggung jawab atas kotak P3K dan penanganan darurat awal.

5. Tim Logistik & Peralatan (2 orang)

  • Bisa dari: Guru IPA/TIK dan staf sekolah.
  • Peran:
    • Menyiapkan alat bantu simulasi (APAR, peluit, megaphone, tandu).
    • Menyediakan alat edukasi dan komunikasi saat latihan.

6. Tim Keamanan & Komunikasi (2 orang)

  • Bisa dari: Staf keamanan sekolah atau guru.
  • Peran:
    • Menjaga ketertiban dan keamanan saat simulasi.
    • Bertugas sebagai penghubung ke BPBD atau pihak luar jika diperlukan.

7. Perwakilan Siswa (2–3 orang)

  • Bisa dari: OSIS, Ketua Kelas, PMR atau Pramuka.
  • Peran:
    • Membantu edukasi sebaya (peer learning).
    • Menjadi contoh dalam pelaksanaan evakuasi.

📌 Catatan Penting

Pembagian peran juga harus disimulasikan dalam kegiatan rutin sekolah.(*/Mochamad Zamroni)

Idealnya semua guru dan karyawan sekolah diberi peran minimal 1 fungsi.

TSBS sebaiknya dilatih langsung oleh pihak berwenang seperti BPBD, PMI, atau Dinas Pendidikan.

45 thoughts on “Simulasi Bencana di Sekolah: Jangan Sekadar Formalitas!

  • Juli 14, 2025 pada 07:03
    Permalink

    Hexa afzal hermawan
    Sdn wonokusumo 6/45
    Peserta pangeran lingkungan hidup thn 2025 dengan no peserta 421
    Proyek saya adalah buditacabi,budidaya tanaman cabai
    Tujuan proyek saya adalah mengolah tanaman cabai menjadi balsam.
    Simulasi bencana di sekolah sering kali dilakukan hanya sebagai bentuk pemenuhan kewajiban administratif atau formalitas tahunan tanpa memperhatikan esensi pembelajaran yang seharusnya menjadi tujuan utama.

    Balas
    • Juli 14, 2025 pada 07:41
      Permalink

      Simulasi bencana di sekolah memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan siswa serta guru dalam menghadapi berbagai jenis bencana yang mungkin terjadi. Simulasi ini tidak hanya memberikan pemahaman tentang bagaimana bertindak saat terjadi bencana, tetapi juga melatih ketahanan mental dan fisik untuk mengurangi kepanikan..semoga kita selalu diberikan kesehatan ..keselamatan..dan dijauhkan dari musibah..amin
      Reynando Yudhistira putra
      SDN Wiyung 1 Surabaya
      No peserta 409
      Pengolahan sampah plastik

      Balas
      • Juli 20, 2025 pada 14:05
        Permalink

        Halo haii shobat hijau

        Perkenalkan biodata diri saya dulu yaaa

        👌🏻NAMA : MUHAMMAD HAKAM YASIN
        🏫SEKOLAH : SMP NEGERI 46 SURABAYA
        💻PROYEK : nahh shobat hijau pasti kalian belum kenal kan sama proyek aku kalau aku jelasin simak baik baik ya jadi proyek aku yaitu BUDIDAYA BUNGA TELANG YANG SAYA BERI NAMA TEATEL

        Simulasi bencana di sekolah memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan siswa serta guru dalam menghadapi berbagai jenis bencana yang mungkin terjadi. Simulasi ini tidak hanya memberikan pemahaman tentang bagaimana bertindak saat terjadi bencana, tetapi juga melatih ketahanan mental dan fisik untuk mengurangi kepanikan..semoga kita selalu diberikan kesehatan..keselamatan..dan dijauhkan dari musibah..amin

        Balas
    • Juli 14, 2025 pada 21:01
      Permalink

      Simulasi bencana di sekolah sangat penting dilakukan, hal ini berguna untuk meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri dalam menghadapi risiko bencana, sehingga tidak panik saat ada ĺkejadian nyata.

      Nama saya : Naziya Putri Syafira Ariwibowo
      Sekolah : SDN Sawunggaling 1 Surabaya
      Nomor peserta : 612
      Judul Proyek : N O B I T A (iNOvasi BIdara Tumbuh Alami)

      Salam Bumi 🌎 Pasti Lestari 🌳

      Terima kasih 🙏

      Balas
    • Juli 23, 2025 pada 13:32
      Permalink

      Wah, keren ya! Simulasi bencana gak cuma seremonial, penting banget soal kesiapsiagaan dan sikap saat situasi nyata terjadi. Artikel ini jadi pengingat betapa latihan bisa menyelamatkan nyawa, bukan sekadar ikut-ikutan saja

      Nama: Keisya Azellia Putri
      Sekolah: SMPN 38 Surabaya
      Nomor Peserta: 1142
      Judul Proyek: Budidaya Sambung Nyawa
      Penjelasan: Proyek ini bertujuan memanfaatkan lahan kosong di lingkungan sekitar untuk menanam tanaman obat sambung nyawa. Tanaman ini bermanfaat untuk kesehatan dan bisa menjadi alternatif pengobatan alami. Proyek ini juga mengajak masyarakat peduli lingkungan melalui edukasi, daur ulang, dan kegiatan berkebun bersama. Saat ini, penanaman sudah dimulai di rumah dan sekolah, serta dibagikan ke lingkungan sekitar. Target ke depan adalah memperluas penanaman dan melibatkan lebih banyak orang, terutama anak muda, sebagai agen perubahan hijau.

      Balas
    • Juli 23, 2025 pada 15:53
      Permalink

      wahhh sangat mengedukasi

      saya frisdya lanikmaruf isfani dari smpn 57 surabaya dengan no peserta: 1382, dengan proyek pengolahan samaph GALBOT (Galon dan Botol) sebagai kreasi furniture dan fashion aksesoris

      Balas
  • Juli 14, 2025 pada 09:18
    Permalink

    Simulasi bencana bisa menjadi pendidikan karakter, keterampilan hidup, dan bentuk nyata perlindungan anak di lingkungan pendidikan.

    Nama : Siti shofiah
    No peserta : 416
    Dari : SDN Margorejo III/405
    Proyek : Budidaya dan Pemanfaatan Tanaman Jahe

    Balas
    • Juli 14, 2025 pada 12:52
      Permalink

      Simulasi bencana di sekolah memang perlu dilakukan agar mengajarkan siswa dan siswi untuk menyelamatkan diri nya dari bencana , ini perlu dilakukan di semua sekolah dan bukan sekedar formalitas.
      Nama: Adinda Quenza Ramadhani
      Sekolah: SDN KANDANGAN 1 Surabaya
      No peserta: 224
      Judul proyek: Terong 🍆 dilahan sempit, solusi hijau 💚 untuk sekolah mandiri pangan 🏫

      Balas
  • Juli 14, 2025 pada 12:57
    Permalink

    simulasi bencana alam di sekolah di perlukan agar siswa siswi dapat menyelamatkan diri dari bencana

    nama ibrahim tubagus maulana
    sekolah sdn jemur wonosari 1
    judul proyek minyak jelantah
    no peserta 115

    Balas
  • Juli 14, 2025 pada 12:59
    Permalink

    Simulasi bencana ini harus sekali di peragakan di semua sekolah agar jika ada sesuatu yang tidak di ingin kan bisa bersembunyi di tempat yang lebih paling aman agar tidak terjadi sesuatu.

    Nama:Fernanda salma Basiru
    Sekolah:SDN krembangan selatan VII
    No. Peserta:306
    Proyek:budidaya lidah buaya

    Balas
  • Juli 14, 2025 pada 13:06
    Permalink

    Dengan adanya Simulasi Bencana di Sekolah menghasilkan generasi yang tangguh dan siap menghadapi bencana.

    Nama : Akifa Maulidya
    Sekolah : SDN Tandes Kidul 1
    Nomor Peserta : 698
    Proyek LH : Budidaya organik tanaman kale

    Balas
  • Juli 14, 2025 pada 14:37
    Permalink

    Pentingnya simulasi bencana untuk anak sekolah: Mendidik sejak dini. Anak-anak yang dilatih sejak kecil akan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang kuat dalam menghadapi bencana. Meningkatkan kesadaran anak-anak tentang risiko gempa bumi dan pentingnya kesiapsiagaan.

    Balas
  • Juli 14, 2025 pada 14:38
    Permalink

    Pentingnya simulasi bencana untuk anak sekolah: Mendidik sejak dini. Anak-anak yang dilatih sejak kecil akan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang kuat dalam menghadapi bencana. Meningkatkan kesadaran anak-anak tentang risiko gempa bumi dan pentingnya kesiapsiagaan.
    Nama : Arsy Shakilah Putri Romadania
    SDN Balongsari 1/500
    No. Peserta:24
    Judul Project: Pengolahan Minyak Jelantah

    Balas
  • Juli 14, 2025 pada 14:55
    Permalink

    perkenalkan nama saya fitria Kania nafasa dari smp negeri 31 Surabaya nomer peserta 1104 memberi tanggapan untuk simulasi bencana alam di sekolah sangat penting untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapan siswa serta guru dalam menghadapi potensi bencana alam , sekian terimakasih

    Balas
  • Juli 14, 2025 pada 16:23
    Permalink

    Simulasi bencana alam sangat penting,karna jika bencana alam terjadi,kita dapat melindungi diri.

    Nama:clarette isabella cristina surbakti
    Sekolah:sdn jemur wonosari 1

    Balas
    • Juli 16, 2025 pada 13:31
      Permalink

      Nama : Lutfiah Nuril Ibadillah
      No.peserta : 0216
      Asal : sdn kaliasin 5
      Judul proyek : enzyma
      Alhamdulillah lolos tahap 2 semoga bisa terus lolos sampai final
      Saya setiap hari selalu melakukan aksi, semoga selalu diberikan kelancaran

      Balas
  • Juli 14, 2025 pada 17:34
    Permalink

    Pentingnya dilakukan simulasi bencana disekolah agar bisa menyelamatkan banyak nyawa dan menanamkan budaya kesiapsiagaan sejak dini.Siswa juga harus memahami apa itu gempa, bagaimana tsunami terbentuk, atau dampak perubahan iklim terhadap risiko kebencanaan agar dapat memperkuat kesadaran dan respons mereka saat simulasi atau ketika terjadi bencana sesungguhnya.

    Nama: Naura Adelia Shafiqa Ghozali
    Sekolah:Sdn Tandes Kidul 1 Surabaya
    Proyek saya: Pengolahan limbah cangkang telur
    No.peserta: 704

    Balas
  • Juli 14, 2025 pada 19:36
    Permalink

    Simulasi bencana di sekolah sering kali dilakukan hanya sebagai bentuk pemenuhan kewajiban administrasi atau formalitas tabunan tanpa memperhatikan esensi pembelajaran yang seharusnya menjadi tujuan utama.Kita juga harus mengetahui jenis jenis bencana , tempat yang aman saat bencana terjadi karena kita juga tidak tau kapan bencana itu akan terjadi.Dan jangan lupa berdoa kepada Allah SWT agar terhindar dari timbunan benda benda saat bencana terjadi.

    Kayla Ayu Anindya
    SDN Wiyung 1 Surabaya
    No peserta:710
    Proyek:,MOL MAGIC WATER

    Salam bumi pasti lestari 🌍🪴🌍

    Balas
  • Juli 14, 2025 pada 19:43
    Permalink

    Simulasi bencana itu penting, bukan hanya formalitas. Kesadaran sejak dini bisa menyelamatkan banyak nyawa, Semangat untuk terus mengutamakan keselamatan dan edukasi yang bermakna

    NAMA : EZRA BINTANG IZDIHAR KURNIAWAN
    NOMOR URUT : 003
    SEKOLAH : SD KYAI IBRAHIM

    Balas
  • Juli 15, 2025 pada 07:19
    Permalink

    Simulasi Bencana juga sangat perlu di ajarkan di sekolah sekolah agar para siswa sejak dini mengerti tanda tanda akan terjadi bencana dan bagaimana seharusnya untuk menyelamatkan diri jika terjadi bencana. Kemanakah kita harus mengevakuasi diri jika hal itu terjadi sudah di fahami oleh para siswa.
    Edukasi ini sangat penting agar bisa mengurangi korban akibat bencana.

    FAKHRIE ZHAFRAN KHAIRY
    SDN Margorejo 1/403 Surabaya
    No Peserta: 253
    Proyek: Pengolahan Sampah Organik Dapat Memberikan Nutrisi Pada Tanaman

    Balas
    • Juli 15, 2025 pada 08:57
      Permalink

      Simulasi bencana di sekolah ini sangat penting,agar para siswa siswi dapat menyelamatkan diri jika terjadi bencana,,

      Muhammad dafiansyah
      SDN Lontar 481 SBY
      No peserta 229
      Proyek : membuat ECO enzyme

      Balas
  • Juli 15, 2025 pada 13:25
    Permalink

    Terima kasih infonya…dengan adanya simulasi bencana alam membuat semua warga sekolah tanggap bencana dan siap hadapi bencana yang bisa terjadi kapan saja.

    Habel Marcelo Eryawan
    237,
    SDN Manukan Wetan IV 616
    Proyek Melestarikan Tanaman Daun Afrika untuk Bumi yang Lebih Sehat

    Balas
  • Juli 15, 2025 pada 16:11
    Permalink

    Artikel yang sangat membantu..simulasi bencana mengajarkan siswa siswi untuk paham apa yg harus dilakukan ketika terjadi bencana di sekitar tempat tinggal.
    Saya Tevy Janeeta Adriana dari SDN Pakis V/372 Surabaya dengan nomor peserta 498,proyek Budidaya Binahong Merah.

    Balas
    • Juli 15, 2025 pada 16:39
      Permalink

      Simulasi bencana di sekolah sangat penting dilakukan agar semua siswa memiliki kesiapsiagaan dalam memahami risiko bencana dan bagaimana menghadapinya serta membantu meningkatkan keselamatan dengan mempersiapkan mereka untuk menghadapi situasi darurat

      Balas
  • Juli 16, 2025 pada 13:15
    Permalink

    Simulasi sangat penting untuk dipelajari karena sebagai bentuk percaya diri dalam menghadapi bencana alam. Terimakasih Tunas Hijau.

    Nama:Moh.Alby Maulidan

    Sekolah: SDN kaliasin V/284 Surabaya

    Balas
  • Juli 16, 2025 pada 13:25
    Permalink

    Nama : Lutfiah Nuril Ibadillah
    No.peserta : 0216
    Asal : sdn kaliasin 5
    Judul proyek : enzyma
    Alhamdulillah lolos tahap 2 semoga bisa terus lolos sampai final
    Saya setiap hari selalu melakukan aksi, semoga selalu diberikan kelancaran

    Balas
  • Juli 16, 2025 pada 22:52
    Permalink

    Jujur kadang latihan simulasi itu terasa kayak acara wajib yang gak penting. Tapi ternyata justru itu latihan yang bisa bikin kita siap di kondisi nyata. Mindset-nya harus diubah!

    Simulasi yang serius = nyawa yang selamat. Simple tapi ngena.

    Nama:Jessica Rachel avrina
    Sekolah: SMPN 20 Surabaya
    Nomor Peserta: 990
    Judul Proyek: TEBA’AT Telang banyak manfaat

    Balas
  • Juli 17, 2025 pada 22:19
    Permalink

    Tulisan ini sangat menggugah! Simulasi bencana seharusnya bukan hanya formalitas tahunan, tapi jadi bagian dari budaya sekolah yang berkelanjutan. Edukasi visual dan keterlibatan seluruh warga sekolah penting agar semua siap bertindak saat bencana terjadi. Ini bukan sekadar soal evakuasi cepat, tapi kesiapan mental dan kerja sama yang menyelamatkan! 🚨🏫💡

    💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
    🙋🏻Nama: Lintang Pandega Permana
    🏫Sekolah: SMP Negeri 57 Surabaya
    🔢Nomor Peserta: 679
    🌱Proyek: SWEET (Stevia Wellness Eco-friendly Extract Technology)
    💌Penjelasan: Proyek ini adalah proyek yang berfokus membudidayakan tanaman Stevia, yaitu tanaman yang daun nya mengandung rasa manis karna memiliki senyawa tertentu.

    Saya memilih proyek ini karna fenomena isu lingkungan seperti krisis air, degradasi lahan yang disebabkan oleh industri gula konvensional.., maka dari itu saya memilih alternatif gula lain yang lebih ramah lingkungan dan “Stevia” menjadi jawabannya.

    Saya ingin mengenalkan Stevia yang memiliki banyak manfaat ke masyarakat sekitar, rencana kedepannya saya akan menginovasikan Stevia ini menjadi ekstrak gula cair, permen sehat dan ramah lingkungan, teh sehat dengan pemanis alami, serta banyak lagi.
    Dukung aku teruss yaa, sobat hijau! 🥰
    💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚

    Balas
  • Juli 18, 2025 pada 03:23
    Permalink

    Simulasi tanggap bencana memang perlu dilakukan disekolah sebagai pengenalan terhadap siswa. Agar mereka dapat memahami dan mempraktekkan dilingkungan masyarakat. Dan jika terjadi bencana yang sesungguhnya mereka tahu apa yang harus dilakukan.
    Ummu Ghaid Mudma’inah
    SDN Dr Sutomo 1
    Nomor peserta 068
    Proyek CATERAN cangkang telur ramah lingkungan

    Balas
  • Juli 18, 2025 pada 18:53
    Permalink

    Terkadang simulasi memang terdengar biasa saja tetapi dampak dari simulasi yang sudah kita pelajari dan dipraktekan sangat berpengaruh apalagi untuk waspada bencana alam yang kapan saja bisa terjadi dan dengan adanya simulasi ini kita dapat mengetahui hal yang seharusnya dipriositaskan dahulu dibanding menyelamatkan barang atau lainnya.

    Nama : Nayla Nafisa Nufi
    Sekolah : SMPN 11 Surabaya
    Proyek : Budidaya Kombucha

    Balas
  • Juli 18, 2025 pada 21:05
    Permalink

    Dari kecil juga bisa melakukan aksi kecil ini. Aksi ini bisa dilakukan dengan cara
    1. Jika terjadi bencana didalam rumah bisa dilakukan dari sekarang seperti membuat tas tanggap bencana dan ditempatkan ditempat yang mudah dijangkau. Jika terjadi gempa pergi keluar rumah. Jika pintunya terhalang oleh benda yang jatuh, maka berlindunglah dibawah meja.
    2. Jika terjadi gempa disekolah. Berlindunglah dibawah meja, lalu berlindunglah hingga gempa berhenti. Jika gempa berhenti, pergilah ke lapangan. Yaitu titik kumpul. Lalu ikuti sesuai instruksi disekolah.
    Mari bersama-sama melakukan mitigasi bencana mulai dari sekarang

    🙋‍♀️: Mazida Shabrina Yasmin
    🏫: SDN WONOKUSUMO 6 SURABAYA
    🔢: 728
    📌: Proyek SERBU(Serbuk Berproyek Horta)

    Balas
  • Juli 18, 2025 pada 22:46
    Permalink

    Setuju sekali, bahwa melakukan simulasi bencana haruslah memperhatikan esensi pembelajaran yang menjadi tujuan utama, karena ketika esensi dari sebuah pembelajaran dapat tercapai, maka para peserta simulasi bencana, akan mudah paham, kemudian masuk ke mindset, sehingga saat dihadapkan pada bencana (real) respon refleknya bagus seperti pemahaman yang didapatkan saat melakukan simulasi.

    Salam,
    AISYAH AVICENA RHAZES LAVOISIER
    SMPN 21 SURABAYA
    Project :
    DATELA GREEN REVITALIZATION

    Revitalisasi lahan merupakan proses menghidupkan kembali kawasan yang sebelumnya tidak dimanfaatkan atau terbengkalai menjadi ruang hijau yang produktif dan bermanfaat bagi lingkungan serta masyarakat. Lahan-lahan yang dulunya penuh semak belukar, limbah, atau bekas bangunan rusak, kini dapat disulap menjadi taman, kebun produktif, atau hutan kota melalui tahapan yang terencana.

    Proses ini dimulai dengan identifikasi kondisi lahan, termasuk tingkat kerusakan tanah, keberadaan polusi, dan potensi lingkungan sekitar. Selanjutnya dilakukan pembersihan area dari sampah, limbah berbahaya, atau reruntuhan yang mengganggu. Setelah itu, tanah yang rusak direhabilitasi melalui pengolahan, penambahan bahan organik, atau penggunaan tanaman remediasi untuk memperbaiki kualitas tanah.

    Tahap selanjutnya adalah penanaman vegetasi yang sesuai, baik berupa tanaman peneduh, tanaman pangan, maupun tanaman penghasil komoditas ekonomi seperti sayuran, buah-buahan, atau tanaman herbal. Dalam beberapa kasus, juga dilakukan integrasi dengan sistem pertanian ramah lingkungan seperti pertanian organik, urban farming, atau agroforestry.

    Selain aspek ekologis, revitalisasi lahan juga membawa manfaat sosial dan ekonomi. Lahan hijau produktif dapat menjadi tempat edukasi, ruang komunitas, bahkan sumber pendapatan baru bagi warga sekitar. Program ini juga membantu mengurangi polusi udara, meningkatkan cadangan air tanah, dan menciptakan iklim mikro yang lebih sejuk.

    Balas
    • Juli 21, 2025 pada 13:53
      Permalink

      Simulasi bencana sangat penting di berikan kepada anak anak. Menambah ilmu dan menumbuhkan kesadaran pentingnya tanggal bencana.

      Respati Syafiq Wijaya
      SDN Wiyung I Surabaya
      No peserta 405
      Memanfaatkan cangkang telur sebagai pupuk organik

      Balas
  • Juli 20, 2025 pada 16:12
    Permalink

    Sangat penting melakukan simulasi di sekolah karena bencana akan datang kapan saja jadi harus siap siaga.

    Nama:clarette isabella C.S
    Sekolah:SDN jemur wonosari 1 surabaya
    No peserta:174
    Proyek:budidaya lidah mertua

    Balas
  • Juli 20, 2025 pada 20:33
    Permalink

    Artikel ini sangat penting! Simulasi bencana di sekolah itu bukan cuma formalitas, tapi harus jadi bagian dari pembelajaran yang serius. Anak-anak perlu tahu cara menghadapi bencana sejak dini, supaya mereka bisa tetap tenang dan siap saat situasi darurat. Dengan melibatkan semua pihak, termasuk orang tua dan guru, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih aman. Semoga semua sekolah bisa menerapkan ini dengan baik! Terima kasih Tunas Hijau atas informasinya

    Nama: Keisya Azellia Putri
    Sekolah: SMPN 38 Surabaya
    Nomor Peserta: 1142
    Judul Proyek: Budidaya Sambung Nyawa
    Penjelasan: Proyek ini bertujuan memanfaatkan lahan kosong di lingkungan sekitar untuk menanam tanaman obat sambung nyawa. Tanaman ini bermanfaat untuk kesehatan dan bisa menjadi alternatif pengobatan alami. Proyek ini juga mengajak masyarakat peduli lingkungan melalui edukasi, daur ulang, dan kegiatan berkebun bersama. Saat ini, penanaman sudah dimulai di rumah dan sekolah, serta dibagikan ke lingkungan sekitar. Target ke depan adalah memperluas penanaman dan melibatkan lebih banyak orang, terutama anak muda, sebagai agen perubahan hijau.

    Balas
  • Juli 21, 2025 pada 12:27
    Permalink

    Simulasi bencana harusnya bukan sekedar formalitas tapi harus bener2 bisa memberikan edukasi kepada anak2 agar paham tindakan apa yang perlu dilakukan jika bencana itu benar2 ada

    Nama : Fatimah Nawal Rahman
    Asal Sekolah : SDN Balongsari 1/500 Surabaya
    No. Peserta : 026

    Daur ulang sampah plastik kemasan menjadi produk kerajinan
    Upaya : mengurangi sampah plastik yang berakhir ditempat pembuangan sampah untuk didaur ulang menjadi kerajinan tangan

    Balas
  • Juli 23, 2025 pada 06:36
    Permalink

    Nama : Abid Maher Ar Rayyan
    Sekolah : SDN KETABANG 1/288 Surabaya
    Proyek : Butong (Budidaya Tanaman Binahong)
    Simulasi bencana di sekolah sangat bermanfaat agar kita bs mengetahui cara menghadapi bencana ketika berada di sekolah.

    Balas
  • Juli 23, 2025 pada 15:45
    Permalink

    Simulasi yang sangat penting bagi anak-anak agar sigap dalam menghadapi bencana, apalagi bencana gempa yang datangnya kita tidak tahu. terimakasih atas informasi yang diberikan, sangat membantu sekali…

    RAH HANDARU HATMAJI MARSUDI
    SMP NEGERI 1 SURABAYA
    NO PESERTA 453
    JUDUL PROYEK : BUDIDAYA TANAMAN HIAS SANSEVIERIA SEBAGAI PENYERAP POLUTAN DALAM MENGURANGI POLUSI UDARA.

    Balas
  • Juli 24, 2025 pada 21:54
    Permalink

    Generasi muda harus dilatih untuk cepat, tanggap, dan tahu jalur evakuasi. Dengan latihan rutin, kita dapat meminimalkan kepanikan, melindungi diri, dan menyelamatkan lebih banyak nyawa.

    📌 Nama: Nashifah Kamilia Arsya Salsabila
    🏫 Sekolah: SMP Negeri 3 Mejayan
    🔢 Nomor Peserta: 1464
    🌿 Proyek: BION AMOS (Bio Lotion Anti Mosquito)

    📄 Penjelasan Proyek:
    BION AMOS adalah inovasi lotion anti nyamuk alami berbahan minyak atsiri serai, kulit jeruk, dan daun pandan. Proyek ini lahir dari semangat menciptakan solusi ramah lingkungan dan sehat, tanpa bahan kimia berbahaya, serta mengajak anak muda untuk peduli pada lingkungan sekitar.

    Balas
  • Juli 25, 2025 pada 04:59
    Permalink

    Simulasi yang sangat penting untuk di ajarkan kepada anak anak, dengan ini mereka akan siap cegah bencana tanpa rasa takut dan panik

    Nama : Hanny Nur Ayni
    No peserta : 1266
    Asal Sekolah : SMP NEGERI 46 SURABAYA
    Proyek : Pupuk Organik Cair dari Limbah Buah
    Saya memiliki proyek pengelolahan limbah buah menjadi pupuk organik cair, saya berhasil mengumpulkan 30,6 kg limbah buah

    Salam Bumi Pasti Lestari 👌🏻🌍✨🍃

    Balas
  • Juli 25, 2025 pada 17:53
    Permalink

    Simulasi bencana harus serius dan rutin, bukan sekadar formalitas, agar siswa benar-benar siap saat bencana terjadi.

    Nama:Erlinda dwi clarista
    Sekolah:SMP negeri 38 surabaya
    No peserta:1136
    Judul proyek:budidaya tanaman bunga matahari sebagai upaya penghijauan dan estetika lingkungan

    Balas
  • Juli 25, 2025 pada 19:33
    Permalink

    Simulasi bencana harus serius, bukan hanya sekedar formalitas

    Nama: Nafisa Fitri Ramadania
    Sekolah: SDN jemur Wonosari 1/417 Surabaya
    No peserta: 192
    Judul proyek: budidaya tanaman lidah mertua

    Balas
  • Juli 25, 2025 pada 21:47
    Permalink

    Namanya juga bencana, datangnya bisa kapan aja. Gak ada nunggu kita siap. Jadi, simulasi itu bukan cuma formalitas atau buat postingan sekolah doang, tapi supaya kita bener-bener tau: harus ngapain, ke mana larinya, dan gimana bantu teman lain.

    Setiap ada simulasi bencana di sekolah, pasti rame. Ada yang pura-pura luka, ada yang lari-lari keluar kelas, bahkan kadang ada sirine segede toa masjid. Tapi… setelah itu? Lupa. Gak inget lagi harus ngapain kalau beneran ada bencana.

    Nama = Kalyca Arij Aruna
    Asal = SMPN 1 SURABAYA
    No = 762
    Proyek = Verdalya Pandanova (Budidaya Tanaman Pandan)

    Balas
  • Juli 30, 2025 pada 10:14
    Permalink

    Artikel ini menyoroti pentingnya menjadikan simulasi bencana di sekolah sebagai pembelajaran yang nyata, bukan sekadar formalitas. Sebagai pembaca, artikel ini terasa kuat dalam mendorong perubahan cara pandang — bahwa kesiapsiagaan harus melibatkan semua pihak, dirancang sesuai kondisi lokal, dan menyentuh aspek inklusif, emosional, serta teknis. Pesannya jelas: simulasi yang serius bisa menyelamatkan nyawa, sementara yang asal-asalan justru berisiko.

    Saya, adalah salah satu peserta PANGPUT lingkungan Hidup tahun 2025 dengan
    Nama : Maulana Akbar Al Habib
    Nomor Peserta : 469
    Sekolah : SMPN 11 Surabaya
    Dari Kota : Surabaya
    Dengan proyek : Pengelolaan sampah organik

    Semoga komentar saya bisa memberikan dampak yang baik untuk artikel inii 😀

    Balas
  • September 2, 2025 pada 16:59
    Permalink

    Nah,,,Simulasi bencana di sekolah memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan siswa serta guru dalam menghadapi berbagai jenis bencana yang mungkin terjadi. Seperti hal sepele tapi sangat penting sekali simulasi bencana,,, Semoga kita selalu terhindar dari musibah bencana…
    -~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~-
    Nama: aisshiren dwi Wulan sari
    Peserta: pangputlh tahun 2025
    Sekolah: SMPN 53 Surabaya
    Nomor peserta: 1296

    Balas

Tinggalkan Balasan ke Kalyca Arij Aruna Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *