Takdir Gempa Indonesia

Indonesia terletak di kawasan tektonik aktif karena berada di pertemuan tiga lempeng tektonik besar, yaitu Lempeng Indo-Australia di bagian selatan, Lempeng Eurasia di bagian utara, dan Lempeng Pasifik di bagian timur. Ketiga lempeng tersebut terus bergerak dan saling menekan wilayah Indonesia.

Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Eurasia (karena sebagian besar wilayah Indonesia berada pada Lempeng Eurasia). Sementara itu, Lempeng Pasifik bergerak ke arah barat dan juga menunjam di bawah Lempeng Eurasia.

Kawasan tumbukan lempeng atau zona subduksi merupakan sumber gempa bumi yang dapat terjadi pada kedalaman 0 km hingga lebih dari 600 km. Pada batas pertemuan lempeng ini terjadi akumulasi energi. Ketika kekuatan batuan di lapisan litosfer tidak lagi mampu menahan tekanan tersebut, energi dilepaskan secara tiba-tiba dan terjadilah gempa bumi.

Karena lempeng-lempeng ini terus bergerak dengan kecepatan sekitar 7–11 cm per tahun, maka gempa akan terus terjadi dan berulang. Gempa dapat muncul dalam siklus waktu yang berbeda: setiap tahun, puluhan tahun, bahkan ratusan tahun. Zona subduksi ini juga berpotensi menghasilkan gempa sangat besar dengan magnitudo lebih dari M 8, yang dikenal sebagai gempa megathrust.

Indonesia dapat diibaratkan sebagai tumpukan berbagai lapisan material—seperti beton, baja, kayu, plastik, hingga gabus—yang didorong oleh tiga buldoser dari tiga arah dengan kecepatan tetap. Pergerakan lempeng (diibaratkan sebagai gerakan buldoser) akan menekan, melipat, dan mematahkan lapisan-lapisan tersebut.

Lapisan gabus mungkin patah dalam hitungan detik, lapisan kayu dalam hitungan hari, lapisan plastik dalam ratusan hari, lapisan baja mungkin membutuhkan waktu puluhan tahun, sedangkan lapisan beton bisa memerlukan waktu hingga ratusan tahun sebelum akhirnya patah.

Bayangkan ketika batuan terus ditekan (kompresi): awalnya akan muncul retakan-retakan kecil. Jika tekanan terus berlanjut, retakan tersebut semakin banyak hingga akhirnya batuan hancur. Retakan-retakan kecil dapat dianalogikan sebagai gempa-gempa awal, sedangkan kehancuran besar menggambarkan gempa utama.

ADAPTASI dan MITIGASI adalah kunci keselamatan. Hal penting yang harus dipahami semua orang adalah bahwa gempa pada dasarnya tidak membunuh manusia, tetapi dampak yang ditimbulkannya yang dapat menyebabkan korban.

Gempa dapat menyebabkan bangunan roboh; memicu tsunami, likuifaksi, dan longsor; memicu kebakaran; serta merusak infrastruktur dan jaringan vital. Kerusakan tersebut dapat membuat banyak orang terisolasi tanpa air bersih, listrik, maupun telekomunikasi.

Oleh karena itu, gempa terbesar yang pernah terjadi di suatu wilayah harus menjadi dasar dalam perencanaan bangunan, infrastruktur, dan jaringan vital lainnya, serta menjadi dasar edukasi kepada seluruh elemen masyarakat agar setiap individu dan komunitas tahu apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi.

Penulis: Amien Widodo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *