Tanam 465 Pohon, Pangeran Putri LH dan Pramuka Perkuat Ekosistem Hutan Puspo
Langkah-langkah kecil itu menyusuri tanah licin dan jalur sempit di lereng hutan lindung Puspo, Pasuruan. Sebagian harus berjalan beriringan, sebagian lain menahan napas saat melewati jembatan bambu di atas jurang. Minggu pagi, 11 Januari 2026, ratusan anak muda memilih berkeringat dan berlumpur demi satu tujuan: menanam kehidupan baru di jantung hutan.
Mereka adalah anggota Pramuka Saka Wanabakti Kabupaten Pasuruan dan Paguyuban Pangeran Putri Lingkungan Hidup dari komunitas Tunas Hijau. Datang dari berbagai daerah di Jawa Timur—Pasuruan, Malang, Mojokerto, Kediri, hingga Surabaya—mereka bertemu dalam satu kegiatan bertajuk Kemah Bakti Penanaman Hutan IV (KBPH IV). Hutan lindung Puspo menjadi ruang belajar, ruang uji nyali, sekaligus ruang pengabdian bagi generasi muda yang peduli lingkungan.
Perjalanan menuju lokasi tanam di Petak 40D bukanlah perkara mudah. Hujan sehari sebelumnya membuat jalur tanah menjadi becek dan licin. Peserta harus membawa bibit tanaman, sekop kecil, serta perlengkapan pribadi sambil mendaki dan menuruni bukit. Namun kelelahan itu terbayar oleh kesejukan udara hutan dan pemandangan lereng Gunung Bromo yang memanjakan mata. Di sela perjalanan, tawa dan foto bersama menjadi penanda bahwa alam bukan hanya untuk dijaga, tetapi juga untuk dinikmati dengan penuh hormat.

Sesampainya di lokasi, kegiatan diawali dengan seremoni pembukaan. Seluruh peserta berkumpul di lapangan dengan semangat yang sama. Acara dibuka oleh Kak Yudha Triwidya Sasongko, Ketua Harian Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kabupaten Pasuruan yang juga menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Pasuruan. Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa bangga dan terima kasih atas partisipasi seluruh peserta, serta mengapresiasi konsistensi generasi muda dalam menjaga kawasan hutan lindung.
Apresiasi khusus diberikan kepada Tunas Hijau dan Pangeran Putri Lingkungan Hidup yang datang dari Surabaya dengan membawa tanaman hasil pembibitan mandiri. Secara simbolis, bibit-bibit tersebut—bidara, asem, trembesi, dan kaliandra—diserahkan kepada Kak Yudha untuk kemudian ditanam bersama. Dari total 465 bibit yang ditanam, 300 di antaranya merupakan hasil budidaya mandiri para Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup 2025.
Naziya Putri Syafira membawa sekitar 200 bibit bidara, sementara Mikhaela Adeva Abbialya menyumbangkan 100 bibit asem. Princess Zelda Ilmiah dan Sanggrama Rasio turut membawa puluhan bibit trembesi dan kaliandra. Menanam hasil pembibitan sendiri di kawasan hutan lindung menjadi pengalaman baru yang membekas. Ada rasa bangga sekaligus harap, ketika bibit-bibit kecil itu akhirnya berpindah dari polybag ke tanah hutan yang sesungguhnya.
Pilihan jenis tanaman pun bukan tanpa pertimbangan. Bidara dan asem memiliki akar tunggang yang kuat sehingga efektif mencegah erosi dan menjaga struktur tanah. Trembesi, yang dikenal sebagai pohon hujan, memiliki kemampuan tinggi dalam menyerap dan menahan air tanah sekaligus menyerap karbon. Sementara itu, kaliandra berperan memperbaiki kualitas tanah melalui kemampuannya mengikat nitrogen. Kombinasi tanaman ini diharapkan memperkuat fungsi ekologis Hutan Lindung Puspo dalam jangka panjang.

Berbekal tangan yang kotor dan pakaian yang penuh lumpur, satu per satu bibit ditanam dengan hati-hati. Akar muda diluruskan, tanah dipadatkan perlahan, lalu disiram secukupnya. Tak sedikit peserta yang memanjatkan doa dalam hati, berharap tanaman itu tumbuh kuat dan kelak memberi manfaat bagi banyak makhluk. Meski lelah, senyum tak lepas dari wajah mereka—senyum karena telah menaklukkan medan, dan karena telah melakukan sesuatu yang berarti.
Kegiatan ini juga bertepatan dengan peringatan Hari Gerakan Satu Juta Pohon yang diperingati setiap 10 Januari. Gerakan nasional yang dicanangkan sejak 1993 itu kembali menemukan relevansinya hari ini, di tengah maraknya bencana ekologis akibat deforestasi, perubahan iklim, dan pemanasan global yang kian nyata.
Di hutan Puspo, aksi menanam pohon bukan sekadar rutinitas seremonial. Ia menjadi pernyataan sikap bahwa generasi muda tidak ingin tinggal diam. Lewat langkah kecil, bibit kecil, dan tangan-tangan muda yang bekerja bersama, harapan akan hutan yang lestari kembali ditumbuhkan—pelan, namun penuh keyakinan.
Kebanggaan itu juga dirasakan langsung oleh Naziya Putri Syafira, Putri Lingkungan Hidup 2025. Ia menyampaikan rasa syukurnya karena mampu menyumbangkan 200 bibit tanaman bidara hasil pembibitan mandiri untuk ditanam di kawasan Hutan Lindung Puspo. Bagi Naziya, menanam pohon di hutan bukan sekadar aktivitas simbolik, melainkan puncak dari proses panjang merawat, membesarkan, dan kemudian menyerahkan tanaman kembali kepada alam.

Pengalaman tersebut justru menambah semangat Naziya untuk terus membudidayakan tanaman bidara dan berbagai jenis tanaman penghijauan lainnya. “Saya berkomitmen menjadikan budidaya tanaman bidara sejak Mei 2025 sebagai bagian dari gerakan berkelanjutan, agar aksi penanaman pohon tidak berhenti di satu lokasi saja,” tutur Naziya.
Ke depan, Naziya berharap bibit-bibit hasil budidayanya dapat mendukung gerakan penghijauan di lebih banyak daerah di Jawa Timur, bahkan di berbagai wilayah Indonesia, dengan melibatkan semakin banyak anak muda dan komunitas lokal.
Sementara itu, I Made Satria Dharma Wishnu, Pangeran Lingkungan Hidup 2025 dari SDN Ketabang I Surabaya, juga mengaku sangat bangga bisa terlibat banyak pada aksi penanaman pohon di kawasan hutan ini di Puspo, Kabupaten Pasuruan ini.
“Saya sangat happy juga karena bisa keturutan membawa kompos hasil dari proyek pengolahan sampah organik yang saya lakukan sejak Mei 2025 untuk memupuk tanaman yang baru ditanam. Saya bawa 3 tas pengomposan dengan kapasitas masing-masing 50 liter,” pungkas I Made Satria Dharma Wishnu, Pangeran Lingkungan Hidup 2025.
Penulis: Mochamad Zamroni


Terimakasih para kakak tunas hijau memberikan kesempatan untuk menanam pohon dengan penuh keseruan berpetualang dan pengalaman yang menarik untuk Nando
Alhamdulillah, terima kasih kak Yudha, dan kakak kakak saka Wana bakti atas kesempatannya untuk menanam tanaman bidara di kawasan hutan lindung Puspo 🙏. Semoga bibit bibit yang kita tanam memberikan manfaat yang maksimal terhadap lingkungannya🤲 aammiinn
Pengalaman yang sangat mengesankan.
Kesempatan dan pengalamn yang sangat berharga, bagiku dan sekeluarga. Mulai proses menanam benih dahulu yang ada di surabaya, ada yang sudah tumbuh daun banyak, ada yang tumbuh daun beberapa, ada pula tanaman asem yang besar kesayangan kami, juga angkut2 tanaman asem dari sekolah Mika dan sekolah kakak. Bangun dan persiapan jauh hari sebelumnya, hingga pagi buta sudah otw, sangat mengesankan karena bertemu dengan udara segar, pemandangan ASRI dan perjalanan menanam berliku. Seruuuu karena sambil pengamatan tanaman dengan kawan2 Fathan, Keenan, Ajun dan menebak-nebak nama tanaman, diselingi tebakan lain. Eh,…… ada yang kepleset.. tidak bikin kapok malah bikin menikmati lempung/tanah. Tak kala seru bertemu dnegan keramahan kakak pembina pramuka yang akrab menyapa seolah sudah kenal lama. tak terasa capek, sampaai pulang ke rumah menikmati durian2. Bersyukur bisa berada di tengah2 orang baik, Kak Nizam, Kak Roni, Kak Bram, dan Terimakasih amma Kak Padiza SMPN 4 Surabaya atas jamuan makanan tinggi protein.. juga mama Kak Trisha atas rendangnya. Nikmat Tuhan Manakah Yang Bisa Didustakan… Aamiinnn..
Saya Sanggrama Rasio Al Warisyi n Fams.
SDN Kaliasin 1 Surabaya
Utilization of Eggshellwaste to Green The Earth and Innovate Food Material