Rini Muharini: Ahli Kimia, Pendiri Tunas Hijau dan Juri Pangeran Putri Lingkungan Hidup 2025 

Kepedulian terhadap lingkungan hidup tidak selalu lahir dari ruang-ruang kebijakan besar. Bagi Dr. rer. nat. Rini Muharini, S.Si., M.Si., kepedulian itu justru bertumbuh sejak usia muda dan terus dirawat melalui pendidikan, riset, serta pembinaan generasi penerus. Perempuan yang akrab disapa Rini ini dikenal sebagai salah satu pendiri Tunas Hijau, organisasi yang konsisten menanamkan nilai cinta lingkungan sejak dini.

Jejak panjang pengabdiannya bermula pada tahun 1999, ketika Rini terpilih sebagai salah satu dari lima peserta Indonesia dalam program Indonesia–Australia Green Scout Exchange di Australia Barat. Program pertukaran tersebut menjadi pengalaman penting yang membentuk pandangannya tentang pendidikan lingkungan hidup, mulai dari pengelolaan sampah dan daur ulang berkelanjutan, pelestarian keanekaragaman hayati, hingga pembangunan sistem dan budaya peduli lingkungan di masyarakat. Dari sanalah gagasan Tunas Hijau menemukan fondasi awalnya.

Lahir dan besar di Surabaya, Rini kini mengabdikan diri sebagai dosen PNS di Program Studi Pendidikan Kimia, Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat. Selain mengajar, ia aktif meneliti dan mempublikasikan hasil riset tentang kandungan kimia dan aktivitas biologi tumbuhan hutan tropis rawa gambut serta jamur endofitik.

Penelitian tersebut diharapkan memberi nilai tambah bagi tumbuhan lokal, baik sebagai sumber bahan obat, zat pewarna, maupun minyak atsiri, sehingga masyarakat setempat semakin menyadari potensi sekaligus pentingnya pelestarian sumber daya alam.

Rini Muharini (tengah) saat exchange di Australia Barat pada Maret 1999

Komitmen Rini terhadap pendidikan dan lingkungan juga tercermin ketika ia dipercaya menjadi juri Penganugerahan Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup 2025. Saat mengamati pemaparan proyek lingkungan hidup para finalis, Rini mengaku kagum pada kualitas dan kesungguhan anak-anak.

“Anak-anak ini memperlihatkan kegigihan, tanggung jawab, dan ketekunan dalam merealisasikan ide dan pikiran sehingga menjadi bentuk karya nyata,” ujarnya.

Menurutnya, para finalis tidak hanya mampu menuangkan gagasan secara lisan dan tulisan, tetapi juga menunjukkan kemampuan berkolaborasi dalam mengembangkan proyek. Sikap dan keterampilan positif tersebut, kata Rini, merupakan bekal penting yang harus terus dipupuk agar anak-anak memiliki karakter kuat di masa depan.

Meski demikian, ia juga memberikan catatan evaluatif. Berdasarkan pengamatannya, sebagian proyek telah menunjukkan kesesuaian antara ide awal, permasalahan yang diangkat, dan keterlaksanaan di lapangan. Namun, tidak sedikit pula proyek yang belum sepenuhnya menjawab masalah utama.

“Hendaknya proyek difokuskan pada satu penyelesaian masalah yang diangkat terlebih dahulu secara detail dan tuntas,”jelasnya.

Rini Muharini (berdiri paling kanan) di salah satu pusat pemulihan satwa liar di Australia

Bagi Rini, proses belajar anak-anak dalam proyek lingkungan hidup jauh lebih penting daripada sekadar hasil akhir. Empati, kepedulian, dan keberanian untuk bertindak adalah fondasi yang akan menuntun mereka menjadi agen perubahan di masa depan.

“Terima kasih anak-anak, sudah berempati terhadap lingkungan sekitar, peduli terhadap lingkungan hidup, dan telah berusaha sebaik mungkin. Semoga anak-anak finalis Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup 2025 sukses dan terus berkarya,” tuturnya menutup.

Melalui perannya sebagai pendidik, peneliti, aktivis, dan pembina generasi muda, Rini Muharini menunjukkan bahwa menjaga lingkungan hidup adalah kerja panjang yang memerlukan ilmu, keteladanan, dan kesabaran. Sebuah ikhtiar sunyi yang dampaknya kelak akan tumbuh besar, seiring tumbuhnya generasi yang peduli dan berkarakter. (Mochamad Zamroni)

3 thoughts on “Rini Muharini: Ahli Kimia, Pendiri Tunas Hijau dan Juri Pangeran Putri Lingkungan Hidup 2025 

  • Januari 15, 2026 pada 10:14
    Permalink

    Keren sekali ibu…semoga semakin sukses dan ilmunya bisa menjadi inspirasi anak-anak🙏🙏🙏

    Balas
  • Januari 15, 2026 pada 10:21
    Permalink

    Terimakasih sudah menumbuhkan Tunas hijau bersama Kak Roni sehingga Tunas hijau memberikan manfaat hingga kini dan nanti

    Balas
  • Januari 16, 2026 pada 05:28
    Permalink

    Salam Kenal Ibu.
    Terimakasih sudah membentuk Tunas Hijau sebagai wadah generasi pecinta lingkungan , bagi generasi penerus
    Terimakasih juga buat kak Roni , Kak Bram dan Kak Nizam yang tidak lelah membimbing dan mensupport Kami dalam mencintai dan Aksi Nyata Lingkungan.
    Semoga ilmunya menjadi Inspirasi Kami semua

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *