1,7 Ton Sampah Pantai Taman Suroboyo, dari Laut atau Warga Sekitar?

Sebanyak 1,7 ton sampah dikumpulkan relawan Aksi Bersih Pantai Seri#247 di sekitar Taman Suroboyo, Sabtu (26/9/2026). Namun, di balik tumpukan sampah yang diangkat dari pesisir, ada persoalan lain yang tak kalah penting: dari mana sebenarnya sampah-sampah tersebut berasal?

Para peserta menyusuri kawasan pantai, memungut berbagai jenis sampah, lalu memasukkannya ke dalam karung. Aksi tersebut menjadi bentuk nyata keterlibatan anak dan remaja dalam menjaga kebersihan pesisir sekaligus membuka kembali persoalan sampah yang terus ditemukan di kawasan pantai.

Sejumlah peserta merupakan peserta Tahap III Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup 2026 yang hadir bersama keluarga. Tim sekolah juga turut ambil bagian, salah satunya SDN Margorejo I Surabaya yang dipimpin langsung kepala sekolahnya, Sri Kis Untari.

Enam peserta tercatat mengumpulkan sampah dalam jumlah cukup banyak. Mereka adalah Mayzaluna dari SDN Lidah Kulon 1 sebanyak 2 karung, Muhammad Fattan Ramah Dirga dari SDN Ketabang 1 sebanyak 4 karung, Asrya Nendra dari SDN Pakis 8 sebanyak 3 karung, Hilmi dari SMPN 11 Surabaya sebanyak 8 karung, Sabrina dari SMPN 11 Surabaya sebanyak 5 karung, serta Cinta dari SMPN 1 Surabaya sebanyak 2 karung.

Hilmi dari SMPN 11 Surabaya menjadi peserta yang tercatat mengumpulkan sampah terbanyak, yakni 8 karung. Temuan tersebut menunjukkan masih adanya sampah dalam jumlah signifikan yang dapat dijumpai dan dikumpulkan dalam satu kegiatan di kawasan pesisir.

Namun, sampah yang ditemukan tidak serta-merta dapat dikategorikan berasal dari satu sumber. Paiman dan Iin, pedagang makanan dan minuman di sekitar pantai, mengamati adanya sampah yang kemungkinan terbawa dari laut dan kemudian menepi di kawasan Taman Suroboyo.

Paiman mencontohkan sampah tekstil yang terlihat berbelit-belit dan membentuk gumpalan atau pusaran. Menurut pengamatannya, kondisi tersebut terjadi ketika sampah terbawa arus laut hingga akhirnya terkumpul dan terdampar di tepi pantai.

“Salah satunya adalah sampah tekstil yang terlihat berbelit-belit dan membentuk gumpalan atau pusaran ketika terbawa arus laut. Kondisi tersebut membuat sampah dari laut tampak menyatu dan berkumpul sebelum akhirnya sampai ke tepi pantai,” kata Paiman.

Iin menyampaikan pengamatan serupa. Menurut keduanya, sebagian sampah yang ditemukan di pantai memiliki kemungkinan terbawa dari laut hingga akhirnya terdampar di kawasan pesisir.

Namun, tidak semua sampah yang ditemukan dapat dikaitkan dengan laut. Totok Subroto, Pembina Adiwiyata SMPN 9 Surabaya sekaligus warga sekitar yang aktif mengikuti aksi bersih pantai setiap akhir pekan, memiliki pengamatan berbeda. Menurutnya, sebagian sampah kemungkinan berasal dari aktivitas masyarakat.

Ia mencontohkan sampah kain yang tidak berbelit atau tidak membentuk gumpalan sebagai salah satu jenis sampah yang menurut pengamatannya berasal dari sekitar kawasan.

“Kalau yang kain-kain apa itu memang dari sini, saya mengakui benar memang,” ujar Totok.

Totok juga menyampaikan bahwa sampah yang terbawa dari laut tidak selalu dalam jumlah banyak. Sementara itu, sebagian sampah lainnya, menurut pengamatannya, kemungkinan berasal dari masyarakat sekitar maupun masyarakat dari luar kawasan.

Perbedaan pengamatan tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah di Taman Suroboyo tidak cukup diselesaikan hanya dengan memungut sampah yang sudah terdampar. Penelusuran sumber sampah menjadi penting agar upaya penanganan juga menyasar pencegahan sejak dari sumbernya.

Rudhy Syahputra Alam, Pangeran Lingkungan Hidup 2025, alumni SMPN 11 Surabaya yang kini menjadi siswa SMAN 9 Surabaya, menyampaikan salah satu langkah yang menurutnya dapat dilakukan di kawasan tersebut.

“Penyediaan tempat sampah memadai di tempat yang menjadi timbunan sampah perlu dilakukan. Ini untuk mengantisipasi potensi oknum masyarakat yang membuang sampah ke pantai,” pungkas Rudhy.

Aksi 1,7 ton sampah tersebut akhirnya bukan hanya tentang berapa banyak sampah yang berhasil diangkat. Lebih jauh, aksi ini menjadi pengingat bahwa menjaga kebersihan pantai membutuhkan dua langkah sekaligus: membersihkan sampah yang sudah ada dan mencegah sampah baru masuk ke pesisir.

Keduanya membutuhkan keterlibatan masyarakat, generasi muda, komunitas, pelaku usaha, serta pemerintah secara berkelanjutan.

Penulis: Esterina Christyn Febyanti Suharto
Editor: Mochamad Zamroni

2 thoughts on “1,7 Ton Sampah Pantai Taman Suroboyo, dari Laut atau Warga Sekitar?”

  • September 30, 2026 pada 06:19
    Permalink

    Berita 1,7 Ton sampah di Pantai Taman Suroboyo ini miris tapi jadi cermin kita. Jawabannya: *Keduanya benar.*
    Sebagian sampah memang kiriman laut (terbawa arus & pasang), tapi mayoritas yang saya lihat waktu mengikuti bersih-bersih dipantai taman suroboyo adalah sampah domestik segar – plastik kemasan makanan, sedotan, styrofoam, yang jelas ditinggalkan pengunjung Taman Suroboyo sendiri.Jadi belum ada kesadaran dari warga sekitar untuk membuang sampah pada tempatnya.

    Nama : Andra Devaro kadang
    No peserta : 0685
    Sekolah :SDN NGAGEL REJO III / 398 Surabaya
    Proyek : SI PERIANG (Solusi inovatif pemanfaatan air Leri dan kulit bawang)
    Mengurangi limbah sampah dan melindungi lingkungan🌍 🌱🌿

    Balas
  • September 30, 2026 pada 17:39
    Permalink

    Dari laut atau ulah kita sendiri? 🤔
    Sebanyak 1,7 ton sampah berhasil dibersihkan dari Pantai Taman Suroboyo. Faktanya, banyak ditemukan sampah plastik segar bekas aktivitas pengunjung. Tempat sampah sudah ada, kesadaran dan kepedulian yang harus ditambah.

    Mari jaga pesisir Surabaya tetap asri. Bersihkan yang ada, cegah yang baru masuk! ✨

    Nama : Azzahra Septialika Dewi
    No peserta : 1304
    Sekolah : SDN Ngagel Rejo III
    Proyek : SIKUBU (solusi inovatif kulit buah)

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *