Belajar Daisugi dari Jepang: Satu Pohon, Banyak Batang, dan Pelajaran tentang Konservasi

Pernah membayangkan satu pohon dapat menghasilkan banyak batang tanpa harus ditebang seluruhnya? Konsep tersebut dikenal sebagai Daisugi, yaitu teknik budidaya pohon tradisional Jepang yang menarik perhatian karena menunjukkan bagaimana manusia dapat memanfaatkan hasil pohon sekaligus mempertahankan pohon induknya tetap hidup. Daisugi terutama dikenal dalam pengelolaan cedar Jepang atau Cryptomeria japonica, khususnya cedar Kitayama yang berkembang di kawasan Kyoto.

Dalam praktiknya, pohon induk Daisugi dipangkas dan dirawat sedemikian rupa sehingga menghasilkan batang-batang baru yang tumbuh tegak dari bagian atas pohon. Batang-batang tersebut dipelihara agar tumbuh lurus dan berkualitas. Setelah mencapai ukuran yang sesuai, batang dapat dipanen tanpa harus menebang keseluruhan pohon induk. Pohon induk kemudian dapat terus dirawat dan menghasilkan pertumbuhan baru untuk dipanen pada siklus berikutnya.

Teknik ini lahir dari kebutuhan untuk memperoleh kayu berkualitas tinggi secara efisien ketika lahan untuk menanam pohon terbatas. Dengan satu pohon induk yang mampu menghasilkan banyak batang, pemanfaatan ruang dapat dilakukan secara lebih intensif. Daisugi kemudian menjadi bagian dari tradisi kehutanan masyarakat Jepang dan berkaitan erat dengan produksi kayu cedar Kitayama yang memiliki karakteristik khusus.

Yang menarik dari Daisugi bukan sekadar bentuk pohonnya yang unik, melainkan prinsip pengelolaannya. Ada gagasan penting bahwa memanfaatkan pohon tidak selalu harus berarti menghabiskan pohonnya. Bagian yang dapat dipanen dimanfaatkan, sementara pohon induk dipertahankan agar terus tumbuh. Prinsip tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran tentang pemanfaatan sumber daya alam secara lebih bijaksana, meskipun teknik Daisugi sendiri tidak dapat diterapkan begitu saja pada semua jenis pohon.

Bagi generasi muda, Daisugi dapat menjadi inspirasi untuk melihat pohon bukan hanya sebagai penghasil kayu, tetapi sebagai bagian dari sistem kehidupan yang perlu dirawat dalam jangka panjang. Satu pohon dapat memberikan manfaat ekologis melalui penyimpanan karbon, penyediaan habitat, perlindungan tanah dan air, serta berbagai manfaat sosial lainnya. Dari sini muncul pesan sederhana: sebisa mungkin, jangan buru-buru menebang pohon ketika masih ada cara untuk mempertahankan dan memperbanyak manfaatnya.

Daisugi akhirnya memberikan sebuah pelajaran yang relevan di tengah tantangan lingkungan saat ini: sumber daya alam harus dikelola dengan memikirkan keberlanjutan, bukan hanya kebutuhan hari ini. Semangat tersebut dapat diterjemahkan dalam aksi sederhana di sekolah, rumah, maupun lingkungan sekitar—menanam pohon, merawat pohon yang sudah ada, memperbanyak tanaman, dan menggunakan produk kayu secara bijak. Satu pohon mungkin terlihat kecil, tetapi jika dirawat dan dimanfaatkan dengan tepat, manfaatnya dapat terus berkembang dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (*/Mochamad Zamroni)

42 thoughts on “Belajar Daisugi dari Jepang: Satu Pohon, Banyak Batang, dan Pelajaran tentang Konservasi”

  • September 18, 2026 pada 10:49
    Permalink

    Sangat menginspirasi! Teknik Daisugi membuktikan bahwa pemanfaatan alam dan kelestarian tidak harus saling mengorbankan. Pohon induk tetap hidup dan memberi manfaat ekologis, sementara kebutuhan manusia akan kayu tetap terpenuhi. Semoga pola pikir keberlanjutan seperti ini semakin banyak diterapkan di Indonesia. Terima kasih Tunas Hijau!

    Balas
    • September 21, 2026 pada 18:55
      Permalink

      Sangat bagus ya teknik Daisugi di Jepang.bisa di contoh buat orang Indonesia. Di sini banyak hutan bisa di buat percontohan. Biasanya menanam merawat baru memanen. Teknik ini bisa cepat panen berkali berkali asal di rawat dengan baik.
      Carissa Putri Fatihasari
      SDN SIDOTOPO WETAN V
      Proyek VERASSA (Aloe Vera bersama Carissa)
      Peserta pangputlh 2026 no. 0458

      Balas
  • September 18, 2026 pada 17:00
    Permalink

    memakai konsep daesugi sangat bagus untuk kelangsungan hidup pohon,manfaat pohon pun sangat banyak terutama untuk penyerapan air dan manfaat sosial lainnya,sehingga kita bisa mendapatkan inspirasi dari cara daesugi ini untuk kita lakukan dilingkungan kita meskipun tidak semua pohon bisa dipakaikan cara daesugi,kita bisa melakukan gerakan aksi menanam pohon disekolah atau dirumah.
    Fanny ramadhani
    SDN Simolawang KIP 156 Surabaya
    no.peserta : 0460
    proyek : budidaya tanaman lidah buaya

    Balas
    • September 24, 2026 pada 16:33
      Permalink

      Artikel ini sangat bagus untuk memberi informasi bagi masyarakat ysng memgetahui daisugi semoga informasi ini bisa di co toh oleh masyarakat indonesia dan semoga bermanfaat
      Abhinaya Azka O.K
      SDN Sawunggaling 1/382 Surabaya
      Proyek “BUROBI” (Budidaya bunga rosella abi)
      No peserta 0223

      Balas
  • September 18, 2026 pada 18:56
    Permalink

    Daisugi dari Jepang bukan sekadar teknik kehutanan kuno. Saya sebagai calon putri lingkungan Hidup Tunas Hijau, Daisugi adalah inspirasi besar tentang efisiensi ruang dan keberlanjutan. Filosofi “satu pohon, banyak batang” mengajarkan kita bahwa alam memiliki kapasitas luar biasa untuk terus memberi, asalkan kita merawat akarnya dengan bijak.

    Nama: Azzahra Septialika Dewi
    No peserta: 1304
    Sekolah: SDN Ngagel Rejo III
    Proyek:SIKUBU ( solusi inovatif kulit buah)

    Salam bumi salam lestari🌱✨

    Balas
  • September 18, 2026 pada 22:00
    Permalink

    Artikel yang keren. Yang memberikan informasi mengenai Daisugi yang jarang orang ketahui. Daisugi merupakan konsep yang unik yang . Dimana induk pohon tidak harus dikorbankan untuk mendapatkan kayu yang berkualitas. Sedangkan proses penanaman pohon sendiriembutuhkan waktu yang lama. Jadi menggunakan teknik Daisugi ini tidak harus menanam pohon dari awal lagi. Hanya butuh perawatan induk pohon agar mendapatkan batang yang berkualitas

    Ayshava Berliani Al Hakim
    SDN Kebonsari 1 Surabaya
    No peserta 140
    Judul Proyek ” tabung pohon”

    Balas
  • September 19, 2026 pada 14:45
    Permalink

    Nama: Mikhaela
    No.peserta: 0940
    Sekolah: SMPN 29 Surabaya
    Proyek: Budidaya tanaman asem dan pandan

    Yang menarik dari Daisugi bukan sekadar bentuk pohonnya yang unik, melainkan prinsip pengelolaannya.

    Balas
  • September 20, 2026 pada 00:06
    Permalink

    Achmad Brian Al Virendra ( BRIAN)
    SDN SEMOLOWARU 1/261
    NO. Peserta : 229
    Proyek : Budidaya Si Batang Harum SERAYA ( Serai Rakyat Surabaya)

    Sangat inspiratif dan mencerahkan artikelnya..
    Sukses membuka wawasan Saya ataupun pembaca lainnya bahwa konservasi dan ekonomi (pemanfaatan sumber daya) bukanlah dua hal yang harus saling mematikan, melainkan bisa berjalan beriringan melalui inovasi teknik yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

    Balas
  • September 20, 2026 pada 23:13
    Permalink

    Bagus sekali, semoga bisa menjadi inspirasi bagi yang lain.

    Balas
    • Oktober 10, 2026 pada 06:20
      Permalink

      Sangat inspiratif dan mencerahkan artikelnya..
      Sukses membuka wawasan untuk semua generasi muda ataupun pembaca lainnya bahwa konservasi dan ekonomi (pemanfaatan sumber daya) bukanlah dua hal yang harus saling mematikan, melainkan bisa berjalan beriringan melalui inovasi teknik yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

      Seandy putri fitriasari
      SDN MOJO III
      Budidaya tanaman sayuran berkah

      Balas
  • September 22, 2026 pada 12:27
    Permalink

    Nama: Amritha Hafsah Rheva Ramadhina
    No. Peserta: 002
    Sekolah: SD Al Uswah 2 Surabaya
    Proyek: PELITA OBAT (Pengelola Limbah Tangguh Obat Keluarga)

    Artikel yang sangat filosofis dan membuka wawasan konservasi kehutanan dunia! Teknik daisugi tradisional dari Jepang membuktikan kearifan ekologis masa lampau, di mana kebutuhan kayu lurus berkualitas tinggi dapat dipenuhi secara berulang dari tunas vertikal tanpa harus menebang pohon induk pohon aras (Kitayama cedar). Prinsip memanen manfaat tanpa mematikan sumber kehidupan ini mengajarkan nilai keberlanjutan yang sangat mendalam: menjaga keseimbangan daya dukung alam melalui efisiensi sumber daya dan perlindungan ekosistem pohon purba.

    Kearifan teknik daisugi dalam merawat integritas pohon induk dan sistem perakarannya memiliki relasi mendasar dengan fokus aksi saya di Tahap III Putri Lingkungan Hidup 2026 melalui proyek PELITA OBAT. Keberhasilan pohon induk untuk terus menumbuhkan tunas-tunas baru selama ratusan tahun sangat bergantung pada media perakaran yang sehat, subur, serta bebas dari pencemaran zat racun kimia. Di lingkungan perkotaan, kesehatan media tanam pohon pelindung dan tanaman pekarangan sering kali terancam oleh kebiasaan membuang sisa limbah farmasi secara sembarangan ke tanah, seperti membuang antibiotik kedaluwarsa, cairan sirup rusak, atau salep kimia sintetis. Residu zat aktif farmasi yang meresap ke dalam tanah dapat merusak mikoriza (jamur akar yang menguntungkan), membunuh mikroorganisme penyubur tanah, dan mengganggu penyerapan nutrisi alami tanaman. Melalui proyek PELITA OBAT, saya terus mengedukasi keluarga dan masyarakat untuk disiplin memilah limbah obat di wadah khusus sejak dari rumah tangga, sehingga tanah tempat pohon berpijak tetap murni, kaya unsur hara, dan mampu menopang kehidupan flora dengan lestari.

    Mari kita petik pelajaran berharga dari teknik daisugi: merawat bumi dengan bijak, melestarikan tegakan pohon, dan menjaga kemurnian tanah dari segala bentuk residu kimia berbahaya!

    Salam Bumi, Pasti Lestari! 🌿✨

    Balas
  • September 22, 2026 pada 16:32
    Permalink

    Teknik Daisugi mengajarkan bahwa memanfaatkan alam tidak selalu berarti menghabiskannya. Dengan merawat pohon induk dan memanen secara bijaksana, manfaatnya dapat terus berkembang dan dinikmati dalam jangka panjang. Sebuah pelajaran sederhana namun mendalam bagi kita semua: jaga pohonnya, nikmati manfaatnya, dan wariskan kehidupannya. Semoga semangat keberlanjutan seperti ini menginspirasi generasi muda untuk menanam, merawat, dan menggunakan sumber daya alam dengan lebih bijak. Karena satu pohon yang kita selamatkan hari ini dapat menjadi kehidupan bagi generasi esok.

    Nama: Alesheea Farzana Nayyara
    Proyek: PELITA (Pengolahan Limbah Minyak Jelantah)
    Asal Sekolah : SDN Semolowaru I/261 Surabaya
    Nomor peserta: 0424

    Balas
  • September 22, 2026 pada 23:46
    Permalink

    Menambah wawasan tentang Daisugi, sebuah teknik unik yang mungkin masih belum banyak diketahui.

    Daisugi merupakan cara menghasilkan kayu berkualitas tanpa harus menebang pohon induknya. Dengan perawatan yang tepat, pohon induk dapat terus menghasilkan batang baru, sehingga tidak perlu menanam pohon dari awal lagi.

    Nama : Lita Anggraeni
    Sekolah : SDN Jemurwonosari I/417 Surabaya
    Proyek : Pengelolaan Cangkang Telur
    No Peserta : 0112

    Balas
  • September 22, 2026 pada 23:47
    Permalink

    Menambah wawasan tentang Daisugi, sebuah teknik unik yang mungkin masih belum banyak diketahui.

    Daisugi merupakan cara menghasilkan kayu berkualitas tanpa harus menebang pohon induknya. Dengan perawatan yang tepat, pohon induk dapat terus menghasilkan batang baru, sehingga tidak perlu menanam pohon dari awal lagi.

    Nama : Nadia Hibatillah Amalia
    Sekolah : SDN Jemurwonosari I/417 Surabaya
    Proyek : Pengelolaan Cangkang Telur
    No Peserta : 0112

    Balas
  • September 23, 2026 pada 10:43
    Permalink

    Belajar Daisugi dari Jepang: Satu Pohon, Banyak Batang, dan Pelajaran tentang Konservasi
    sangat menarik sekali teknik Daisugi, menunjukkan bagaimana manusia dapat memanfaatkan hasil pohon sekaligus mempertahankan pohon induknya tetap hidup.

    ​🌿✨ PROYEK: SERASIKU (Sereh Asri Inspirasi Kreativitas Usaha) ✨🌿

    ​🪴 Aksi Menanam Bibit Sereh

    👧 Nama:Naysia Aqila Andriani
    🆔 No. Peserta:1298
    🏫 Sekolah:SDN Ngagelrejo III/398
    🌿 Proyek:SERASIKU (Sereh Asri Inspirasi Kreativitas Usaha)

    “Satu langkah kecil hari ini, sejuta manfaat untuk bumi di masa depan.”🌱💚

    Balas
  • September 23, 2026 pada 19:26
    Permalink

    Daisugi adalah teknik kehutanan tradisional asal Jepang dari abad ke-14 untuk memanen kayu cedar lurus berkualitas tinggi tanpa harus menebang pohon induknya. Kata ” dai ” berarti meja, dan ” sugi ” berarti pohon cedar (aras). Secara harfiah, teknik ini seperti menanam pohon di atas meja. Metode ini berasal dari daerah Kitayama, Kyoto, ketika lahan tanam terbatas namun permintaan kayu untuk gaya arsitektur tradisional (seperti rumah teh) sangat tinggi.

    Keunggulan dan Manfaatnya adalah :

    Ramah Lingkungan : Mencegah penggundulan hutan karena tidak perlu menebang pohon utama saat panen
    Kualitas Kayu Tinggi : Batang anakan tumbuh sangat lurus, minim mata kayu (simpul), 200% lebih kuat, dan lebih padat daripada cedar biasa
    Efisiensi Lahan : Memaksimalkan hasil produksi kayu dalam area tanam yang sempit.

    Hal inilah yang menjadikannya daisugi sangat unik, dan membuatnya menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah penebangan hutan, serta alternatif untuk pelestarian alam. Teknik ini juga bisa digunakan untuk menyiasati keterbatasan lahan.

    Sekarang, teknik ini memang sudah mulai tersisihkan oleh metode penanaman lain yang jauh lebih modern dan efisien. Namun teknik daisugi masih kerap digunakan untuk tanaman tradisional Jepang.

    Nayla Thalita Azzahra
    SMPN 4 Sby
    No Peserta : 1358
    Judul Proyek : Lidah Buaya untuk Riset & Lingkungan ( LIBURAN )

    Balas
  • September 23, 2026 pada 22:26
    Permalink

    Nama:Fica Widya Paramitha
    Asal sekolah:SMPN 26 Surabaya
    Nama proyek:KeyCycle(Keychain Recycle)

    Proyek lingkungan saya yaitu KeyCycle-Keychain Recycle, yaitu mengubah sampah botol plastik bekas menjadi gantungan kunci dengan cara melelehkan tutup botol plastik yang telah digunting dengan setrika lalu badan botolnya dijadikan sapu halaman.
     

     

    Menarik banget, teknik Daisugi ini bijak sekali. Bisa ambil manfaatnya tanpa harus menghabiskan pohonnya. Cocok jadi pelajaran: memanfaatkan alam tidak berarti merusaknya. Satu pohon tetap hidup, terus memberi manfaat berkali-kali lipat. Bagus sekali pesannya! 🌳💚

     

    Balas
  • September 25, 2026 pada 10:53
    Permalink

    🌱✨ Jumat,25 September 2026

    Hai…teman-teman sahabat lingkungan! Perkenalkan, saya Alesya Zahra Santosa,Nomor Peserta 0164 salah satu peserta pemilihan Puteri Lingkungan Hidup 2026 dari SDN Kertajaya

    💚Judul Proyek saya adalah Hijaunya Sirihku Hijaunya Bumiku🌿🌿🌿

    Pendekatan seperti Daisugi mengajarkan kita bahwa pelestarian lingkuangan dan kebutuhan ekonomi bisa berjalan berdampingan jika di kelola dengan teknik yang tepat dan penuh tanggung jawab.

    Setiap benih yang kita tanam hari ini adalah harapan untuk bumi yang lebih hijau esok hari 🌍✨

    Balas
  • September 28, 2026 pada 13:44
    Permalink

    satu pohon dapat menghasilkan banyak batang tanpa harus ditebang seluruhnya. Konsep tersebut dikenal sebagai Daisugi, yaitu teknik budidaya pohon tradisional Jepang. yang menarik perhatian karena menunjukkan bagaimana manusia dapat memanfaatkan hasil pohon sekaligus mempertahankan pohon induknya tetap hidup.
    batang dapat dipanen tanpa harus menebang keseluruhan pohon induk. Pohon induk kemudian dapat terus dirawat dan menghasilkan pertumbuhan baru untuk dipanen pada siklus berikutnya.
    Teknik ini sebagai contoh tidak terjadinya penggundulan tanaman – tanaman yang ada di hutan.melestarikan lingkungan dan menjaga habitat yang ada.

    FAKHRIE ZHAFRAN KHAIRY
    SMPN 12 Surabaya
    No Peserta: 709
    Proyek: Pengelolaan Sampah Organik

    Balas
    • Oktober 9, 2026 pada 23:54
      Permalink

      Tekhnik yang hebat,bahwa untuk menghasilkan sesuatu yang baru tidak harus membuang yang lama
      1 pohon manfaat dan hasilnya bisa dinikmati dari generasi ke generasi

      Ni Kadek Kirana Dyah Gitarja
      SDN Dr Sutomo V
      No Peserta 62
      Proyek Emas Hitam dari Limbah Sayur Pasar

      Balas
  • September 30, 2026 pada 23:57
    Permalink

    Artikel Daisugi ini luar biasa membuka wawasan! mengajarkan kita makna konservasi yang sesungguhnya.
    Satu pohon induk Kitayama Sugi bisa menghasilkan ratusan batang lurus tanpa harus menebang pohon induknya. Induknya tetap hidup, menyerap CO2, menjaga tanah, dan tetap produksi selama ratusan tahun. Ini adalah prinsip Tebang Batangnya, Bukan Pohonnya!

    Nama : Andra Devaro kadang
    No peserta : 0685
    Sekolah : SDN NGAGEL REJO III / 398 Surabaya
    Proyek : SI PERIANG (Solusi inovatif pemanfaatan air Leri dan kulit bawang)
    Mengurangi limbah sampah dan melindungi lingkungan🌍 🌿🌱

    Balas
  • Oktober 4, 2026 pada 13:34
    Permalink

    Nama = Chika Yoshi Quenby
    Sekolah = SMPN 38 surabaya
    Nomer peserta = SMPN 38 surabaya
    Proyek = Takakura go green

    Teknik Daisugi sangat bermanfaat dan luar biasa

    Balas
    • Oktober 10, 2026 pada 10:31
      Permalink

      Pernah membayangkan satu pohon dapat menghasilkan banyak batang tanpa harus ditebang seluruhnya? Konsep tersebut dikenal sebagai Daisugi, yaitu teknik budidaya pohon tradisional Jepang yang menarik perhatian karena menunjukkan bagaimana manusia dapat memanfaatkan hasil pohon sekaligus mempertahankan pohon induknya tetap hidup. Daisugi terutama dikenal dalam pengelolaan cedar Jepang atau Cryptomeria japonica, khususnya cedar Kitayama yang berkembang di kawasan Kyoto.
      nama: Nawan Arifalle Safni
      No peserta: 0667
      Asal sekolah: smpn 56 surabaya
      Judul proyek: Aksi Ecobrick

      Balas
  • Oktober 5, 2026 pada 20:19
    Permalink

    😂😂😂 AQ pikir daisugi adl saingan nobita ternyata teknik budidaya pohon yg menghasilkan banyak batang pohon tanpa harus menebangnya 🤓🤓🤓
    Terimakasih tunas Hijau AQ jadi lebih bnyk tahu 😉😉😉

    Lingkungan bersih dg ecoenzim ♻️🤓
    Yuk selamatkan bumi 🌍 dg ecoenzim ♻️🤓

    🌱 Muhammad Usman Dzikrullah (61)🌱
    🤓 Eco warrior SDN Jemur Wonosari 1 Surabaya 🤓
    Judul proyek Pengolahan sampah organik menjadi ecoenzim ♻️🤓

    Balas
  • Oktober 7, 2026 pada 08:22
    Permalink

    Nama : Yusra Malika Putri
    Asal Sekolah : SMPN 16 SURABAYA
    Kategori : Peserta Putri Lingkungan Hidup 2026
    No. Peserta : 0860

    Keren banget teknik Daisugi ini. Awalnya cuma bentuk pohon biasa yang unik, ternyata ada teknik pengelolaan luar biasa di baliknya. Ini dapat membuktikan bahwa manusia dengan alam sebenarnya bisa saling dukung kalau kitanya bijak. Terimakasih tunas Hijau telah menambah wawasan baru untuk kamiiiii!!:)🥰

    Salam Bumi🌏, Pasti Lestari👌🏻

    Balas
  • Oktober 7, 2026 pada 09:46
    Permalink

    Teknik Daisugi dari Jepang ini menjadi bukti nyata bahwa kearifan tradisional mampu menjawab tantangan modern. Memanen kayu tanpa menebang pohon induk adalah konsep keberlanjutan (sustainability) yang luar biasa dan patut menjadi inspirasi dunia dalam mengelola sumber daya alam.
    sebaiknya Indonesia bisa mengadopsi cara ini..

    Nama : Azkayra Safiratul Azqia
    No. Peserta : 128
    Asal Sekolah : SDN Kandangan 1/121 Surabaya
    Judul Proyek : “Potensi Bayam Malabar (Basella alba) sebagai Sumber Pangan Strategis di Wilayah Perkotaan Berlahan Sempit”

    Balas
  • Oktober 8, 2026 pada 17:00
    Permalink

    Nama:Mikhaela Adeva
    Sekolah:SMPN 29 Surabaya
    No peserta:940
    Proyek:budidaya tanaman asem dan pandan

    Yang menarik dari Daisugi bukan sekadar bentuk pohonnya yang unik, melainkan prinsip pengelolaannya. Ada gagasan penting bahwa memanfaatkan pohon tidak selalu harus berarti menghabiskan pohonnya. Bagian yang dapat dipanen dimanfaatkan, sementara pohon induk dipertahankan agar terus tumbuh. Prinsip tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran tentang pemanfaatan sumber daya alam secara lebih bijaksana, meskipun teknik Daisugi sendiri tidak dapat diterapkan begitu saja pada semua jenis pohon.

    Balas
  • Oktober 8, 2026 pada 20:45
    Permalink

    Saya baru tahu tentang teknik Daisugi dari artikel ini. Ternyata satu pohon bisa menghasilkan banyak batang tanpa harus menebang pohon induknya. Menurut saya, cara ini mengajarkan kita untuk memanfaatkan pohon dengan bijak dan tetap menjaga kelestariannya.

    Nama : Naladhipa Bintang
    Sekolah : SD Al-Muttaqien
    Judul Proyek : Bintang Kejora
    Nomor Peserta : 1324

    Balas
  • Oktober 9, 2026 pada 08:30
    Permalink

    Teknik Daisugi ini sangat sederhana tetapi bisa diterapkan di sekolah, rumah, maupun lingkungan sekitar. Teknik menanam pohon, merawat pohon yang sudah ada, memperbanyak tanaman, dan menggunakan produk kayu secara bijak. Satu pohon mungkin terlihat kecil, tetapi jika dirawat dan dimanfaatkan dengan tepat, manfaatnya dapat terus berkembang dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

    Balas
  • Oktober 9, 2026 pada 08:32
    Permalink

    Teknik Daisugi ini sangat sederhana tetapi bisa diterapkan di sekolah, rumah, maupun lingkungan sekitar. Teknik menanam pohon, merawat pohon yang sudah ada, memperbanyak tanaman, dan menggunakan produk kayu secara bijak. Satu pohon mungkin terlihat kecil, tetapi jika dirawat dan dimanfaatkan dengan tepat, manfaatnya dapat terus berkembang dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
    Ezra Akbar “Eco Warrior JWS 1” siap beraksi untuk menyelamatkan bumi dengan eco enzyme.
    Saya mengolah sampah organik seperti kulit nanas/ kulit buah lainnya menjadi eco enzyme. Manfaat eco enzyme sangat banyak salah satunya untuk kesehatan. Eco enzyme bisa digunakan sebagai antiseptic dan desinfektan.
    Sehat Jiwa Raga dengan eco enzyme.
    🧒 Ezra Akbar Ulumuddin
    ♻️Mengolah Sampah Organik menjadi eco enzyme.
    🏫SDN Jemurwonosari 1 Surabaya
    🆔Nomor Peserta 057

    Balas
  • Oktober 9, 2026 pada 19:57
    Permalink

    Keren sekali

    Deandra Ahmed Alfarizzi (055)
    SDN Jemurwonisari 1/417
    Pengelolaan sampah organik dengan maggot.
    MAGMED

    Balas
  • Oktober 9, 2026 pada 20:31
    Permalink

    Keren, dari satu pohon kita bisa belajar banyak tentang konservasi, menjaga alam, dan pentingnya melestarikan untuk masa depan.

    Aqeel tsani ramadham/ 051
    SDN Jemurwonosari 1/417 surabaya
    “Lindungi 🌏 dari sampah organik dengan maggot”.

    Balas
  • Oktober 10, 2026 pada 01:02
    Permalink

    Keren dan menarik banget artikelnya! Baru tahu ada teknik daisugi dari Jepang yang memungkinkan kita memanen kayu tanpa harus menebang seluruh pohonnya. Inspiratif sekali buat pelajaran konservasi alam dan kelestarian hutan. Terima kasih Tunas Hijau ilmunya! 🌲🇯🇵✨

    Nama: SAFIRA AZZALFA RECHA
    No. Peserta: 0014
    Sekolah: SD KYAI IBRAHIM SURABAYA
    Proyek: PEMANFAATAN LIMBAH PLASTIK UNTUK BUDIDAYA KANGKUNG

    Balas
  • Oktober 10, 2026 pada 01:40
    Permalink

    🧒 : Arsyanendra Reynand Alghani
    📋 : 0217
    📝 : Proyek Pengolahan Sampah Organik Berkelanjutan dengan Judul ” Trash For Future, Mengubah Sampah Menjadi Harapan”

    Teknik daisugi dari Jepang memang teknik yang luar biasa bagi tumbuhan. Dan hal ini wajib dicontoh oleh masyarakat kita. Karena dari teknik ini kita bisa menebang kayu tanpa harus menebang sampai keseluruhan pohon

    Balas
  • Oktober 10, 2026 pada 12:29
    Permalink

    Sangat menarik sekali teknik Daisugi, menunjukkan bagaimana manusia dapat memanfaatkan hasil pohon sekaligus mempertahankan pohon induknya tetap hidup.
    Nama: Abdullah Fattah Ghazali
    Asal sekolah: SMPN 9 Surabaya
    No peserta:0337
    Judul proyek: Budidaya Limiku organik yang ramah lingkungan

    Balas
  • Oktober 10, 2026 pada 14:48
    Permalink

    Artikel yang sangat menarik dan inspiratif! 🌱 Teknik Daisugi dari Jepang mengajarkan bahwa pemanfaatan sumber daya alam tidak harus mengorbankan kelestariannya. Kita bisa mengambil manfaat dari alam sekaligus menjaga agar alam tetap tumbuh dan lestari. Semoga konsep ini dapat menginspirasi masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda, untuk lebih peduli terhadap lingkungan melalui kegiatan menanam, merawat pohon, dan menerapkan prinsip konservasi dalam kehidupan sehari-hari. Terima kasih Tunas Hijau atas artikel yang menambah wawasan dan menumbuhkan kesadaran untuk menjaga bumi bagi generasi mendatang!

    Anjani Ringga Anggara
    SDN Nginden Jangkungan 1
    Proyek Ecovitaliq
    Pangpud LH no 0358

    Balas
  • Oktober 10, 2026 pada 18:51
    Permalink

    Sangat menginspirasi, teknik dri jepang ini sangat luar biasa.

    Nama : Sabrina Kayla Azzahra
    asal : SMPN 11 SURABAYA
    Nomor peserta : 0800
    Proyek : pupuk organik cair

    Balas
  • Oktober 10, 2026 pada 20:20
    Permalink

    Teknik Daisugi dari Kyoto, Jepang ini benar-benar membuka mata kita tentang betapa cantiknya perpaduan antara kearifan lokal, estetika, dan inovasi keberlanjutan. Konsep memanen batang kayu cedar tanpa menebang pohon induknya membuktikan bahwa manusia sebenarnya bisa memenuhi kebutuhan hidup tanpa harus merusak alam.

    Teknik Daisugi yang dikembangkan sejak abad ke-14 ini ternyata melahirkan kayu cedar Kitayama (Kitayama Sugi) dengan kualitas yang luar biasa superior. Karena tumbuh lurus sempurna tanpa mata kayu (knots), kayu hasil Daisugi memiliki kerapatan serat yang sangat tinggi, 140% lebih kuat, serta dua kali lebih lentur dibanding kayu cedar biasa! Di zaman dulu, kayu super lurus ini merupakan bahan utama pilar arsitektur rumah minum teh tradisional (Sukiya-zukuri) di Jepang.

    Pesan bagi kita sebagai generasi muda, Teknik Daisugi mengajarkan bahwa menjaga lingkungan itu bukan cuma soal menanam pohon baru, tetapi juga merawat dan memaksimalkan manfaat dari pohon yang sudah ada secara bijaksana. Kita bisa menciptakan sesuatu yang indah tanpa perlu merusak yang sudah ada…

    Princess Zelda Ilmiah
    SMPN 29 Surabaya
    Postwaste-City (Processing Organic Waste To Support Food Security)

    Balas
  • Oktober 10, 2026 pada 20:35
    Permalink

    Ilmu baru tentang pengembangan tanaman dengan tetap.merawat induknya dan membuat banyak daham2 baru, utk mengakalai lahan sempit.
    Teknik Daisugi bisa kita pelajari utk kota coba terapkan di sini.

    Salam Bumi Pasti Lestari
    Marshall Dastan PR
    Asal Sekolah: SMP NEGERI 1 SURABAYA
    Project : KOMANDAN

    Balas
  • Oktober 11, 2026 pada 02:36
    Permalink

    Teknik budidaya pohon tradisional Jepang yang menarik !
    Nama : Diandra Melody Letya Finauri
    Asal Sekolah : SDN Kalisari II/513 Surabaya
    No Peserta: 0122
    Project: Budidaya Timun Giok

    Balas
  • Oktober 11, 2026 pada 02:38
    Permalink

    Teknik budidaya pohon tradisional Daisugi Jepang yang sangat menarik !
    Nama : Diandra Melody Letya Finauri
    Asal Sekolah : SDN Kalisari II/513 Surabaya
    No Peserta: 0122
    Project: Budidaya Timun Giok

    Balas
  • Oktober 11, 2026 pada 02:40
    Permalink

    Sangat perlu untuk belajat hal-hal sederhana , yaitu tentang keknik budidaya pohon tradisional Daisugi Jepang !
    Nama : Diandra Melody Letya Finauri
    Asal Sekolah : SDN Kalisari II/513 Surabaya
    No Peserta: 0122
    Project: Budidaya Timun Giok

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *