Menikmati Angin, Merawat Budaya: Surabaya Kite Festival 2026 Meriahkan Langit Pakuwon City
Angin tidak hanya menggerakkan dedaunan dan pepohonan. Di tangan para pelayang, hembusannya menjadi kekuatan yang menerbangkan karya seni, mempertemukan kreativitas dengan budaya, sekaligus menghadirkan ruang rekreasi yang dekat dengan alam. Suasana itulah yang terasa dalam Surabaya Kite Festival 2026 di Long Beach Area Selatan, Pakuwon City, Surabaya.
Mengusung tema “Budaya dan Kuliner”, festival layang-layang tahunan tersebut digelar Sabtu (29/8/2026) hingga Minggu (30/8/2026). Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berkolaborasi dengan PT Pakuwon Jati Tbk menghadirkan 100 peserta dari 38 kelompok komunitas layang-layang, baik dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara.
Langit kawasan Pakuwon City pun berubah menjadi ruang pertunjukan terbuka. Beragam bentuk dan desain layang-layang diterbangkan di tengah antusiasme ribuan pengunjung. Peserta internasional hadir antara lain dari Malaysia, Swedia, dan Jepang. Perwakilan Denmark dan India juga menyampaikan komitmennya untuk berpartisipasi pada penyelenggaraan tahun depan.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengapresiasi kembali digelarnya festival yang sempat vakum beberapa waktu tersebut. Menurutnya, Surabaya Kite Festival memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi ajang layang-layang yang semakin diperhitungkan di tingkat internasional.
“Alhamdulillah, festival layang-layang yang sempat vakum kini sudah kembali rutin digelar. Tahun ini diikuti peserta dari berbagai daerah hingga luar negeri seperti Malaysia, Swedia, dan Jepang. Bahkan ada perwakilan dari Denmark serta India tadi menyampaikan komitmennya untuk langsung berpartisipasi tahun depan,” ujar Eri di lokasi acara, Minggu (30/8/2026).
Potensi tersebut mendorong Pemkot Surabaya untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pada tahun mendatang. Selain meningkatkan kenyamanan venue, nilai total hadiah juga ditargetkan naik dari sekitar Rp52 juta pada tahun ini menjadi Rp100 juta.
“Tahun ini total hadiahnya sekitar Rp52 juta. Tahun depan target kita alokasikan total hadiah mencapai Rp100 juta. Penyelenggaraannya akan disesuaikan dengan kondisi angin terbaik,” lanjutnya.
Dukungan internasional juga menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan tahun ini. Konsulat Jenderal India memberikan dukungan berupa kesempatan bagi pemenang utama Surabaya Kite Festival 2026 untuk mengikuti festival layang-layang terbesar di India pada periode Januari–Februari mendatang dengan pembiayaan penuh.
“Jadi, selain mendapatkan hadiah, mereka yang menang akan mendapatkan kesempatan dibiayai oleh Konsulat Jenderal India untuk berlaga di festival terbesar,” jelas Eri.
Kompetisi tidak hanya menilai keindahan layang-layang. Penilaian dilakukan melalui dua tahapan utama, yakni aspek teknis desain dan kesesuaian tema ketika berada di darat, serta keseimbangan dan kemampuan layang-layang bermanuver ketika diterbangkan.
Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah layang-layang dengan karakter Punakawan. Tokoh pewayangan seperti Semar dan Petruk menjadi representasi budaya Indonesia yang diterbangkan ke langit dan diperkenalkan kepada peserta maupun pengunjung dari berbagai negara.
“Ciri khas Indonesia yang disukai di tingkat dunia adalah Punakawan. Tokoh seperti Semar dan Petruk ini unik dan tidak dimiliki negara lain, sehingga menjadi identitas budaya yang terus kita tonjolkan,” terang Eri.
Untuk menjaga kualitas kompetisi, Pemkot Surabaya melibatkan tim juri yang memiliki pengalaman di tingkat nasional. Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya Herry Purwadi mengatakan, tim juri antara lain melibatkan perwakilan Museum Layang-Layang Jakarta, Ketua Persatuan Layang-Layang Jawa Timur, serta tokoh dari Persatuan Pelayang Nasional.
“Tim juri yang bertugas sangat kredibel, di antaranya melibatkan perwakilan dari Museum Layang-Layang Jakarta, Ketua Persatuan Layang-Layang Jawa Timur, hingga tokoh dari Persatuan Pelayang Nasional,” kata Herry.
Antusiasme masyarakat ternyata jauh melampaui perkiraan awal. Penyelenggara sebelumnya menargetkan sekitar 3.000 pengunjung. Namun, sejak hari pertama hingga hari kedua pelaksanaan, jumlah pengunjung tercatat telah menembus lebih dari 5.000 orang.
“Target awal kami sebenarnya sekitar 3.000 pengunjung. Namun sejak hari pertama Sabtu kemarin hingga hari kedua ini, jumlah pengunjung tercatat sudah menembus lebih dari 5.000 orang. Ini luar biasa sekali,” ungkap Herry.
Festival ini juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat melalui keterlibatan 20 UMKM lokal di kawasan kegiatan. Dengan demikian, Surabaya Kite Festival tidak hanya menghadirkan tontonan di langit, tetapi juga mempertemukan budaya, pariwisata, ekonomi masyarakat, kreativitas, dan pemanfaatan ruang terbuka.
Lebih dari sekadar menerbangkan layang-layang, festival ini mengingatkan bahwa alam dapat menjadi bagian dari ruang edukasi dan rekreasi masyarakat. Angin yang selama ini hadir sebagai bagian dari keseharian dapat dimanfaatkan menjadi kekuatan yang menghidupkan kreativitas, sementara budaya lokal dapat terus diperkenalkan melalui karya yang sederhana namun memiliki daya tarik lintas negara. (*/Mochamad Zamroni)


Budaya dan lingkungan harus jalan bareng.
Festival ini contoh bagus: meriahkan langit Pakuwon City dengan seni, tapi tetap merawat angin/budaya Surabaya. Semoga ada edukasi pengelolaan sampah, penggunaan bahan ramah lingkungan, dan pelibatan anak muda. Sukses acaranya Tunas Hijau 🌳💚🍏
Nama : Andra Devaro kadang
No peserta : 0685
Sekolah : SDN NGAGEL REJO III / 398 Surabaya
Proyek : SI PERIANG ( Solusi inovatif pemanfaatan air Leri dan kulit bawang)
Mengurangi limbah sampah dan melindungi lingkungan🌍🌿🌱
sukses meriahkan langit kota dengan kehadiran lebih dari 100 peserta dari 38 komunitas lokal dan mancanegara. Memadukan rekreasi ruang terbuka dan pelestarian tradisi. Keterlibatan 20 UMKM kuliner di sekitar lokasi acara membuktikan bahwa festival ini turut menggerakkan roda ekonomi kerakyatan
SUROBOYO KEREN🍃🪁🪁🪁
Nama : Azzahra Septialika Dewi
No peserta : 1304
Sekolah: SDN NGAGELREJO III
Proyek: SIKUBU (solusi inovatif kulit buah)
Sukses terus untuk festival layang – layang.nyaa..
Tahun depan hadiah total 100 jutaa
Wahhhh..
Pasti antusias masyarakat semakin besar nih
Suroboyo Kerenn
Suroboyo Wani
🧒🏻 Saya Jericho Kurniawan Jr.
✅️ Nomer peserta 109
🏫 Dari SDN Ketabang I / 288 Surabaya
♻️ Nama Proyek saya adalah BuMaHong (Budidaya Tanaman Binahong)
Mengusung tema “Budaya dan Kuliner”, festival layang-layang tahunan tersebut digelar Sabtu (29/8/2026) hingga Minggu (30/8/2026). Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berkolaborasi dengan PT Pakuwon Jati Tbk menghadirkan 100 peserta dari 38 kelompok komunitas layang-layang, baik dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara. Event ini sangat menarik bagi warga kota surabaya dalam memainkan layangan terutama pada bentuk dan gambar karena adanya ciri khas dari daerah masing masing.
Nama : Nawan Arifalle Safni
Asal Sekolah : SMPN 56 SURABAYA
Nomer Peserta : 0667
Proyek : Aksi Ecobrick
FESTIVAL 2026 ini mengusungkan tema budaya dan kuliner dan festival layang-layang yang di ikuti dari berbagai daerah dan luar negeri. Wah keren sekali dan sangat menyenangkan memeriahkan langit
WILDA AL ALUF
SMPN 2 SURABAYA
NO URUT: 608
Bermain layang-layang 🪁 🪁 itu seru dan menyenangkan 🤟
Dibutuhkan keahlian memperhatikan arah angin serta timing yang tepat saat menarik layang-layang 🪁 🪁
Saya bisa bermain layang-layang 🪁 🪁 kalau pulang ke desa karena masih ada area luas yaitu sawah.
Ezra Akbar “Eco Warrior JWS 1” siap beraksi untuk menyelamatkan bumi dengan eco enzyme.
Saya mengolah sampah organik seperti kulit nanas/ kulit buah lainnya menjadi eco enzyme. Manfaat eco enzyme sangat banyak salah satunya untuk kesehatan. Eco enzyme bisa digunakan sebagai antiseptic dan desinfektan.
Sehat Jiwa Raga dengan eco enzyme.
🧒 Ezra Akbar Ulumuddin
♻️Mengolah Sampah Organik menjadi eco enzyme.
🏫SDN Jemurwonosari 1 Surabaya
🆔Nomor Peserta 057