Hari Sungai Sedunia: Menjaga Sungai, Menjaga Kehidupan
Minggu, 27 September 2026, diperingati sebagai Hari Sungai Sedunia (World Rivers Day). Peringatan yang berlangsung setiap Minggu terakhir September ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga sungai dan ekosistemnya.
Sungai bukan sekadar aliran air yang membelah kota dan desa. Di dalamnya mengalir kehidupan, menopang kebutuhan manusia, menjadi habitat berbagai makhluk hidup, sekaligus membantu menjaga keseimbangan ekosistem. Namun, sungai juga menjadi salah satu ruang yang paling mudah menerima dampak aktivitas manusia. Sampah, limbah, pencemaran, sedimentasi, hingga perubahan tata guna lahan terus mengancam kesehatan sungai.
Hari Sungai Sedunia menjadi momentum untuk kembali melihat sungai sebagai bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Sungai yang sehat tidak hanya ditandai oleh air yang terlihat jernih, tetapi juga oleh ekosistem yang berfungsi, keanekaragaman hayati yang terjaga, serta tidak adanya pencemaran yang membahayakan manusia dan lingkungan. Karena itu, menjaga sungai bukan hanya urusan pemerintah atau komunitas peduli lingkungan, melainkan tanggung jawab seluruh masyarakat.
Salah satu persoalan yang paling mudah ditemukan di sungai adalah sampah. Sampah yang dibuang sembarangan di daratan dapat terbawa air hujan menuju selokan, sungai, dan akhirnya ke laut. Sampah plastik menjadi persoalan serius karena membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai dan dapat terfragmentasi menjadi mikroplastik. Sungai pun akhirnya menjadi jalur perpindahan sampah dari wilayah daratan menuju pesisir dan lautan.
Upaya menjaga sungai sebenarnya dapat dimulai dari sumbernya. Masyarakat perlu membiasakan diri mengurangi penggunaan barang sekali pakai, membawa tumbler dan wadah makan guna ulang, serta mengolah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah. Sampah yang masih memiliki nilai guna dapat digunakan kembali atau didaur ulang, sementara sampah organik dapat diolah menjadi kompos atau dimanfaatkan dengan metode pengolahan yang sesuai.
Selain persoalan sampah, kualitas sungai juga sangat dipengaruhi oleh limbah cair. Air bekas kegiatan rumah tangga, usaha, pertanian, maupun industri yang tidak dikelola dengan baik dapat membawa berbagai bahan pencemar ke badan sungai. Karena itu, pengelolaan air limbah perlu dilakukan secara bertanggung jawab sebelum air dikembalikan ke lingkungan. Sungai bukan tempat pembuangan akhir berbagai jenis limbah.
Menjaga sungai juga berarti menjaga habitat berbagai satwa dan tumbuhan. Ikan, burung air, serangga, tumbuhan tepian sungai, hingga berbagai organisme kecil memiliki peran dalam menjaga keseimbangan ekosistem perairan. Sungai yang sehat menyediakan ruang hidup bagi keanekaragaman hayati sekaligus memberikan manfaat ekologis bagi manusia.
Di kawasan perkotaan, sungai juga memiliki peran penting dalam menghadapi perubahan iklim. Sungai dan daerah sempadannya yang terjaga dapat membantu mengalirkan air, mengurangi risiko genangan, serta menjadi ruang terbuka hijau yang mendukung kenyamanan kota. Karena itu, pembangunan kota perlu memperhatikan daya dukung sungai dan tidak menghilangkan fungsi ekologisnya.
Hari Sungai Sedunia akhirnya bukan sekadar peringatan tahunan. Ini adalah ajakan untuk mengubah kebiasaan: tidak membuang sampah ke sungai, mengurangi sampah dari sumbernya, mengelola limbah dengan benar, menjaga vegetasi di sekitar sungai, serta ikut memantau dan membersihkan lingkungan perairan. Sungai yang sehat adalah cermin perilaku masyarakat yang peduli. Menjaga sungai hari ini berarti menjaga air, kehidupan, dan masa depan generasi mendatang. (*/Mochamad Zamroni)

