Mangrove Clungup Berpeluang Hasilkan Kredit Karbon, Masyarakat Jadi Kunci

MALANG – Menjaga mangrove bukan hanya tentang mempertahankan benteng alami pesisir dari abrasi dan melestarikan keanekaragaman hayati. Jika memenuhi persyaratan yang ditetapkan, upaya konservasi tersebut juga berpeluang menghasilkan nilai ekonomi melalui perdagangan karbon yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat setempat.

Peluang itu tengah dijajaki di kawasan Clungup Mangrove Conservation (CMC), Kabupaten Malang. Kawasan konservasi yang dikelola melalui kegiatan pelestarian lingkungan dan ekowisata ini diproyeksikan menjadi salah satu perintis pengembangan kredit karbon berbasis komunitas di Indonesia.

Potensi tersebut dibahas dalam kunjungan Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bursa Efek Indonesia (BEI) ke CMC, Kamis (15/10/2026). Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya menjajaki hubungan antara konservasi ekosistem pesisir, pengembangan pasar karbon, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Ketua BAKN Andreas Eddy Susetyo mengatakan, konservasi berbasis masyarakat memiliki peluang untuk berpartisipasi dalam pasar karbon sukarela atau voluntary carbon market. Namun, peluang tersebut perlu didukung persiapan yang memadai agar kredit karbon yang dihasilkan memenuhi standar dan memiliki daya tarik bagi calon pembeli.

“Perusahaan-perusahaan itu sangat menginginkan pelestarian bumi ini juga mempunyai manfaat ekonomi dan menyejahterakan masyarakat,” ujar Andreas.

Menurut Andreas, CMC berpeluang menjadi titik awal pembentukan jejaring komunitas konservasi mangrove di berbagai wilayah Indonesia. Melalui jejaring tersebut, komunitas diharapkan dapat memperluas kolaborasi, memperkuat upaya pelestarian, dan membuka peluang pengembangan kegiatan ekonomi yang selaras dengan perlindungan lingkungan.

Meski demikian, keberadaan kawasan mangrove saja belum cukup untuk menghasilkan kredit karbon yang dapat diperdagangkan. Potensi penyerapan dan penyimpanan karbon harus dihitung dengan metode yang sesuai, kemudian melalui proses verifikasi dan sertifikasi berdasarkan ketentuan yang berlaku.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menjelaskan, perdagangan karbon melalui bursa di Indonesia telah dimulai sejak September 2023. Namun, pasokan unit karbon yang diperdagangkan masih terbatas dan didominasi oleh pelaku usaha korporasi.

Keterlibatan komunitas konservasi, termasuk pengelola ekosistem mangrove, dinilai dapat memperluas sumber pasokan unit karbon. Dengan begitu, masyarakat yang selama ini berperan menjaga ekosistem pesisir berpeluang memperoleh manfaat ekonomi tambahan dari kegiatan konservasi yang mereka lakukan.

Mangrove memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida dan menyimpan karbon dalam biomassa, seperti batang, cabang, akar, dan daun, serta dalam sedimen di bawahnya. Karbon yang tersimpan di ekosistem pesisir dan laut, termasuk mangrove, dikenal sebagai blue carbon atau karbon biru.

Potensi tersebut dapat menjadi dasar pengembangan kredit karbon. Namun, besarnya potensi karbon tidak serta-merta sama dengan jumlah kredit yang dapat dijual. Perhitungannya harus mengikuti metodologi yang diakui dan memperhitungkan persyaratan teknis yang relevan.

Hasan menjelaskan bahwa terdapat sejumlah tahapan yang perlu dipenuhi sebelum unit karbon dapat diperdagangkan melalui bursa karbon.

“Tahapannya mencakup pemenuhan legalitas, pengukuran potensi penyerapan emisi, sertifikasi, hingga pencatatan unit karbon terverifikasi dalam sistem registri nasional sebelum dapat diperdagangkan melalui bursa karbon,” ujar Hasan.

Rangkaian tahapan tersebut diperlukan untuk memastikan bahwa unit karbon memiliki dasar pengukuran yang dapat dipertanggungjawabkan. Kejelasan mengenai asal-usul, jumlah, dan kredibilitas unit karbon juga penting untuk memberikan kepastian kepada calon pembeli sekaligus menjaga kepercayaan terhadap pasar karbon.

BAKN bersama OJK dan BEI mendorong pengembangan ekosistem perdagangan karbon berbasis konsep tiga C, yaitu conservation, conversation, dan penguatan community. Konservasi menjadi fondasi utama, sementara dialog dan kolaborasi diharapkan mempertemukan berbagai pihak yang memiliki kepentingan dalam perlindungan lingkungan.

Pengembangan platform digital juga direncanakan untuk menghubungkan komunitas pelestari lingkungan dan memperluas kerja sama antarkawasan. Melalui pendekatan ini, komunitas konservasi diharapkan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan dapat membangun jejaring yang memperkuat kapasitas pengelolaan sekaligus membuka peluang ekonomi.

Andreas berharap inisiatif tersebut tidak berhenti pada pengembangan perdagangan karbon. Lebih jauh, penguatan komunitas konservasi diharapkan dapat menciptakan kesempatan kerja, terutama bagi generasi muda, sekaligus memastikan bahwa manfaat ekonomi dari pelestarian lingkungan dapat dirasakan masyarakat sekitar.

Sementara itu, Hasan mengapresiasi kegiatan konservasi yang dilakukan CMC sejak 2005. Menurutnya, pengelolaan kawasan yang dipadukan dengan ekowisata berpotensi menciptakan nilai tambah, baik melalui kegiatan wisata maupun peluang ekonomi lain yang tumbuh dari upaya pelestarian lingkungan.

“Pada akhirnya akan menyejahterakan tidak hanya anggotanya, tapi masyarakat, rakyat, lingkungan sekitarnya melalui penciptaan lapangan kerja maupun nilai tambah penciptaan nilai ekonomi,” jelas Hasan.

Pengembangan perdagangan karbon berbasis komunitas di Clungup masih memerlukan pemenuhan persyaratan teknis dan administratif. Dukungan OJK dan BEI diharapkan dapat membantu komunitas memahami mekanisme pasar karbon serta mempersiapkan diri untuk berpartisipasi sesuai ketentuan yang berlaku.

Jika seluruh persyaratan dapat dipenuhi, konservasi mangrove di Clungup berpeluang memperoleh sumber nilai ekonomi tambahan di luar ekowisata. Namun, realisasi manfaat tersebut tetap bergantung pada hasil pengukuran dan verifikasi karbon, pemenuhan persyaratan sertifikasi, serta tersedianya pembeli yang bersedia membeli kredit karbon yang dihasilkan.

Pada akhirnya, keberhasilan inisiatif ini tidak hanya ditentukan oleh potensi karbon yang tersimpan di kawasan mangrove. Keberhasilan juga bergantung pada kemampuan membangun tata kelola yang kredibel, menjaga kelestarian ekosistem, dan memastikan masyarakat yang merawatnya ikut merasakan manfaat dari upaya konservasi tersebut.

Penulis: Mochamad Zamroni

20 thoughts on “Mangrove Clungup Berpeluang Hasilkan Kredit Karbon, Masyarakat Jadi Kunci”

  • Oktober 16, 2026 pada 06:21
    Permalink

    Kunci utamanya memang ada di masyarakat. Tanpa kepedulian dan aksi nyata warga lokal, potensi kredit karbon tidak akan terwujud. Semoga inisiatif ini bisa jadi contoh bagi daerah pesisir lainnya di Indonesia! 🇮🇩✨

    WILDA AL ALUF
    RANCA MANIK (kepanjangan dari kerajinan kain perca yang menarik dan unik)
    No peserta 0608
    SMPN 2 SURABAYA

    Balas
  • Oktober 16, 2026 pada 07:20
    Permalink

    Aksinya mantap dan menginspirasi banget ya sobat Hijau…🌿✨
    Mari kita jaga terus konsistensi aksi lingkungan ini demi bumi yang lebih hijau dan bersih.
    Salam hijau dari Surabaya, siap dukung dan sukses Selalu Tunas hijau ID

    Achmad Brian Al Virendra ( BRIAN)
    SDN SEMOLOWARU 1/261
    NO. Peserta : 229
    Proyek : Budidaya Si Batang Harum SERAYA ( Serai Rakyat Surabaya)

    Balas
  • Oktober 16, 2026 pada 07:24
    Permalink

    Assalamualaikum, Izin berkomentar, saya Jasmine Azzahra Abqoriah No. Peserta 478 dengan Proyek Jasmora (Jasmine Mengolah Sampah Organik Menjadi Pupuk Organik).

    > Artikel yang sangat membuka wawasan! Saya baru paham ternyata menjaga mangrove di Clungup Mangrove Conservation (CMC) Malang sejak 2005 itu bukan hanya soal cegah abrasi dan jaga keanekaragaman hayati, tapi juga bisa punya nilai ekonomi lewat perdagangan karbon / blue carbon.

    > Penjelasan dari Ketua BAKN Bapak Andreas Eddy Susetyo dan Kepala Eksekutif OJK Bapak Hasan Fawzi sangat jelas, bahwa mangrove yang menyerap CO2 dan menyimpan karbon di batang, akar, daun, dan sedimen itu harus dihitung dengan metode yang sesuai, diverifikasi, dan disertifikasi dulu baru bisa diperdagangkan di bursa karbon yang sudah ada sejak September 2023. Jadi tidak asal jual.

    > Saya sangat setuju dengan konsep 3C: conservation, conversation, dan community. Ini relate sekali dengan Proyek Jasmora saya. Kalau di CMC masyarakat pesisir jadi kunci penjaga mangrove, di kampung mitra saya masyarakat jadi kunci pengolah sampah organik. Sama-sama, kalau tata kelolanya kredibel, manfaat ekonominya bisa kembali ke masyarakat, bukan hanya korporasi.

    > Semoga jejaring komunitas konservasi mangrove yang didorong BAKN, OJK, dan BEI ini berhasil, sehingga menciptakan lapangan kerja untuk generasi muda dan kesejahteraan warga sekitar. Terima kasih Tunas Hijau ID dan penulis Kak Mochamad Zamroni atas artikel nasional yang sangat penting ini! Semoga Clungup jadi perintis kredit karbon berbasis komunitas pertama di Indonesia.

    Balas
  • Oktober 16, 2026 pada 12:46
    Permalink

    Tanaman mangrove banyak menyimpan manfaat dan tujuan bagi ekosistem dan manfaat bagi kita .
    Mangrove memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida dan menyimpan karbon dalam biomassa, seperti batang, cabang, akar, dan daun, serta dalam sedimen di bawahnya. Karbon yang tersimpan di ekosistem pesisir dan laut, termasuk mangrove, dikenal sebagai blue carbon atau karbon biru.
    Dari potensi mangrove itu dapat menjadi dasar pengembangan kridit karbon.
    pemenuhan legalitas, pengukuran potensi penyerapan emisi, sertifikasi, hingga pencatatan unit karbon terverifikasi dalam sistem registrian nasional sebelum dapat diperdagangkan
    inisiatif ini juda berdampak positif bagi
    penguatan komunitas konservasi .diharapkan dapat menciptakan kesempatan kerja, terutama bagi generasi muda, sekaligus memastikan bahwa manfaat ekonomi dari pelestarian lingkungan dapat dirasakan masyarakat sekitar.
    Sehingga konsep 3 C , Conservation,conversation, dan penguatan community. Menjadi fondasi utama . Dan kolaborasi dari berbagai pihak untuk kepentingan perlindungan lingkungan.
    Berbagai lapisan masyarakat juga diperlukan adanya kepedulian lingkungan.
    Terimakasih Tunas Hijau atas artikelnya yang sangat bermanfaat.

    FAKHRIE ZHAFRAN KHAIRY
    SMPN 12 Surabaya
    No Peserta: 709
    Proyek. : Pengelolaan Sampah Organik

    Balas
  • Oktober 18, 2026 pada 12:17
    Permalink

    Daya serap karbon mangrove jauh lebih besar dari hutan daratan. Melestarikan alam adalah misi utama, dan manfaat ekonominya adalah bonus yang menyejahterakan warga.
    Mangrove bukan cuma pelindung abrasi, tapi juga menyimpan potensi ekonomi luar biasa dari karbon biru. Dari pesisir Malang untuk Indonesia yang lebih hijau dan berdaya! 🌊💚
    Terimakasih Tunas Hijau atas artikelnya yang sangat bermanfaat.

    Azzahra Septialika Dewi
    SDN NGAGELREJO III Surabaya
    No peserta : 1304
    Proyek : SIKUBU (solusi inovatif kulit buah)

    Balas
  • Oktober 19, 2026 pada 05:20
    Permalink

    kita jaga terus konsistensi aksi lingkungan ini demi bumi yang lebih hijau dan bersih. Dengan aksi nyata memujudkan alam menjadi lestari contoh :menanam Tanaman mangrove banyak menyimpan manfaat dan tujuan bagi ekosistem dan manfaat bagi kita .
    Mangrove memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida dan menyimpan karbon dalam biomassa yang luar biasa.

    SEANDY PUTRI FITRIASARI
    SDN MOJO III
    No peserta 346
    Budidaya tanaman sayuran berkah

    Balas
  • Oktober 20, 2026 pada 08:48
    Permalink

    This article offers eye-opening insights and a fresh perspective for us as student activists! The concept of carbon credits and coastal conservation proves that protecting nature doesn’t just safeguard marine ecosystems—it also holds international ecological and economic value. The story at Clungup Mangrove highlights one fundamental truth: the ultimate key to real change lies in local community engagement and consistent grassroots action. As the younger generation, it teaches us that protecting mangroves means securing our climate shield for the future.

    By Sanggrama Rasio Al-Warisyi – SMPN 6 Surabaya

    Balas
  • Oktober 21, 2026 pada 20:21
    Permalink

    Dengan kolaborasi akan berdampak lebih luas dan nyata.
    Terus hijaukan bumi 🌏 🌱🌿
    Untuk kebaikan bumi 🌏 ♻️
    Ezra Akbar “Eco Warrior JWS 1” siap beraksi untuk menyelamatkan bumi dengan eco enzyme.
    Saya mengolah sampah organik seperti kulit nanas/ kulit buah lainnya menjadi eco enzyme. Manfaat eco enzyme sangat banyak salah satunya untuk kesehatan. Eco enzyme bisa digunakan sebagai antiseptic dan desinfektan.
    Sehat Jiwa Raga dengan eco enzyme.
    🧒 Ezra Akbar Ulumuddin
    ♻️Mengolah Sampah Organik menjadi eco enzyme.
    🏫SDN Jemurwonosari 1 Surabaya
    🆔Nomor Peserta 057

    Balas
  • Oktober 22, 2026 pada 00:30
    Permalink

    Salut untuk semua pihak yang terus berupaya melestarikan ekosistem mangrove. Semangat untuk bumi yang lebih hijau!

    Balas
  • Oktober 23, 2026 pada 17:06
    Permalink

    Nama: Amritha Hafsah Rheva Ramadhina
    No. Peserta: 002
    Sekolah: SD Al Uswah 2 Surabaya
    Proyek: PELITA OBAT (Pengelola Limbah Tangguh Obat Keluarga)

    Artikel yang sangat mencerahkan dan membuka wawasan luas mengenai potensi besar ekosistem pesisir! Konservasi mangrove di Clungup Mangrove Conservation (CMC) Malang membuktikan bahwa pelestarian lingkungan tidak hanya berfungsi sebagai benteng alami pencegah abrasi dan penjaga keanekaragaman hayati, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi luar biasa melalui perdagangan karbon (blue carbon). Keberhasilan ini menegaskan bahwa masyarakat lokal dan komunitas akar rumput adalah kunci utama penjaga kelestarian alam yang berkelanjutan.

    Semangat pelestarian ekosistem hulu-hilir dan perlindungan lingkungan berskala luas ini memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan aksi nyata saya melalui proyek PELITA OBAT. Dalam menjaga keseimbangan ekosistem bumi—baik di kawasan pesisir mangrove maupun di lingkungan perkotaan—kita harus memastikan bahwa media air dan tanah terbebas dari ancaman pencemaran berbahaya. Kebiasaan membuang limbah B3 domestik, seperti sisa obat cair, sirup kedaluwarsa, antibiotik, atau kemasan farmasi ke saluran air dan pekarangan, dapat merusak ekosistem perairan dan menurunkan kualitas lingkungan hidup. Melalui proyek PELITA OBAT, saya aktif mengampanyekan pengelolaan dan pemilahan limbah obat rumah tangga ke fasilitas Drop Box khusus agar perairan, pesisir, dan tanah kita tetap steril dari zat kimia beracun. Menjaga kelestarian alam dan mengamankan limbah obat dari sumbernya adalah wujud nyata tanggung jawab kita untuk bumi yang lestari!

    Terima kasih Tunas Hijau Indonesia atas sajian artikel nasional yang sangat mengedukasi ini. Sukses selalu untuk gerakan konservasi mangrove Indonesia!

    Salam Bumi, Pasti Lestari! 🌿🌊✨

    Balas
  • Oktober 25, 2026 pada 22:24
    Permalink

    Masyarakat berperan penting dalam menjaga kelestarian mangrove demi bumi yang lebih hijau dan bebas karbon.

    Nama : Nadia Hibatillah Amalia
    No Peserta : 112
    Sekolah : Sdn Jemurwonosari I/417 Surabaya
    Proyek : Pengelolaan Cangkang Telur

    Balas
  • Oktober 29, 2026 pada 17:16
    Permalink

    Menjaga mangrove ternyata bukan hanya melindungi pesisir dan keanekaragaman hayati, tetapi juga berpeluang meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perdagangan karbon. Inisiatif Clungup Mangrove Conservation menjadi inspirasi bahwa pelestarian lingkungan dan pertumbuhan ekonomi bisa berjalan beriringan, asalkan dilakukan dengan tata kelola yang baik, transparan, dan tetap mengutamakan kelestarian alam.

    Semoga langkah ini membuka peluang bagi semakin banyak komunitas untuk menjaga mangrove, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar. Mari terus merawat mangrove sebagai penjaga pesisir, penyimpan karbon biru, dan warisan berharga bagi generasi mendatang.

    Nama: Alesheea Farzana Nayyara
    Proyek: PELITA (Pengolahan Limbah Minyak Jelantah)
    Asal Sekolah : SDN Semolowaru I/261 Surabaya
    Nomor peserta: 0424

    Balas
  • November 1, 2026 pada 19:47
    Permalink

    Praja Wijanarko Nugroho
    SDN Sedati Gede 1
    Telaga : Telangku untuk Lingkungan dimulai dari Keluarga

    Sangat menarik dan inspiratif! Pelestarian ekosistem mangrove ternyata tidak hanya berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan, melindungi pesisir, dan menyerap karbon, tetapi juga memiliki potensi ekonomi melalui perdagangan kredit karbon. Hal yang paling penting adalah keterlibatan dan pemberdayaan masyarakat lokal sebagai pelaku utama konservasi. Semoga inisiatif ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain, sehingga pelestarian lingkungan berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

    Balas
  • November 3, 2026 pada 10:24
    Permalink

    Mangrove Clungup Berpeluang Hasilkan Kredit Karbon, Masyarakat Jadi Kunci
    tanaman mangrove dengan banyak manfaatnya ,

    ​🌿✨ PROYEK: SERASIKU (Sereh Asri Inspirasi Kreativitas Usaha) ✨🌿

    ​🪴 Aksi Menanam Bibit Sereh

    👧 Nama:Naysia Aqila Andriani
    🆔 No. Peserta:1298
    🏫 Sekolah:SDN Ngagelrejo III/398
    🌿 Proyek:SERASIKU (Sereh Asri Inspirasi Kreativitas Usaha)

    “Satu langkah kecil hari ini, sejuta manfaat untuk bumi di masa depan.”🌱💚

    Balas
  • November 3, 2026 pada 19:25
    Permalink

    Artikel yang sangat membuka wawasan! Mangrove Clungup Tiga Warna Malang ini bukti nyata “Merawat Bumi Pertiwi Berdampak Ekonomi”.Saya setuju, masyarakat adalah kunci! Tanpa masyarakat pesisir Tambakrejo, mangrove tidak akan lestari 20 tahun.
    Saya sebagai peserta Pangput LH 2026.siap dukung gerakan mangrove Wonorejo agar bisa seperti Clungup. Ayo kita jaga mangrove Surabaya, jangan buang sampah ke sungai yang bermuara ke laut!

    Nama : Andra Devaro kadang
    No peserta : 0685
    Sekolah : SDN NGAGEL REJO III / 398
    Surabaya
    Proyek : SI PERIANG (solusi inovatif pemanfaatan air Leri dan kulit bawang)
    Mengurangi limbah sampah dan melindungi lingkungan🌎 🌱🌿

    Balas
  • November 4, 2026 pada 08:04
    Permalink

    Nama: Yusra Malika Putri
    Asal Sekolah: SMPN 16 SURABAYA
    Kategori: Peserta Putri Lingkungan Hidup SMP 2026
    No. Peserta: 0860

    Keren banget! Mangrove Clungup tidak hanya membuktikan potensinya sebagai benteng alami pesisir dan penyerap karbon yang luar biasa, tetapi juga membuka peluang besar di sektor ekonomi hijau. Artikelnja sangat membuka wawasan bahwa pelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat bisa berjalan beriringan. Masyarakat lokal benar-benar kunci utama keberhasilan aksi iklim ini! 🌿✨

    Balas
  • November 4, 2026 pada 20:43
    Permalink

    Sangat setuju bahwa masyarakat harus menjadi kunci utama dalam menjaga alam. Semoga sinergi antara pelestarian mangrove dan perdagangan karbon ini membawa kesejahteraan bagi warga sekitar sekaligus menjaga bumi kita.

    🧒Nama : Nizam Nakhla Hartono
    🏫Sekolah : SDN NGAGELREJO III/398
    📄No.peserta : 0697
    🌱Proyek : KOMPAS ( Kompos Pasar Sehat )

    Balas
  • November 6, 2026 pada 15:09
    Permalink

    Pelestarian hutan mangrove di Clungup Mangrove Conservation merupakan langkah inspiratif yang tidak hanya menjaga ekosistem pesisir, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Melalui pengembangan kredit karbon, masyarakat dapat berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan. Semoga upaya ini menjadi contoh bagi daerah lain untuk mengembangkan konservasi mangrove yang berkelanjutan demi bumi yang lebih hijau dan lestari. 🌱🌊
    Rah Handaru hatmaji Marsudi
    SMP Negeri 1 Surabaya
    No Peserta 297
    Taman Si Vieria

    Balas
  • November 7, 2026 pada 21:16
    Permalink

    Wah, keren sekali ternyata menjaga hutan mangrove bukan hanya bisa melindungi pantai dari abrasi, tetapi juga bisa memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui perdagangan karbon. Aku baru tahu bahwa mangrove bisa menyimpan karbon biru yang bermanfaat untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Menurutku, kegiatan seperti ini sangat bagus karena alam tetap terjaga dan masyarakat juga bisa mendapatkan manfaatnya. Semoga semakin banyak orang yang peduli untuk menjaga dan menanam mangrove. Yuk, kita jaga alam bersama agar bumi tetap sehat dan lestari!

    Nama: Naladhipa Alula Akselia Wilda (Bintang)
    Sekolah: SD Al-Muttaqien Surabaya
    Proyek: Bintang Kelola Ekosistem Jadikan Sampah Organik Ramah Alam

    Balas
  • November 8, 2026 pada 16:12
    Permalink

    Artikel yang sangat inspiratif! 🌳💚 Pelestarian mangrove ternyata tidak hanya melindungi pesisir dari abrasi dan menjaga keanekaragaman hayati, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui kredit karbon. Keren sekali karena masyarakat dilibatkan sebagai kunci utama dalam menjaga kelestarian alam. Semoga upaya konservasi Mangrove Clungup terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi daerah lain. Mari jaga alam sekaligus sejahterakan masyarakat demi masa depan bumi yang lebih baik! 🌍🌱

    Nama: Diky Yulia Efendi
    No peserta: 0397
    Sekolah: SMP Negeri 11 Surabaya
    Proyek: Reverda (pengelolaan sampah kering menjadi barang bernilai)

    Olah sampah tuntas dari sumbernya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *