Ayo Berpuasa yang Membawa Rahmat

Puasa adalah menahan nafsu dari dua anggota badan, yaitu perut dan alat kelamin, selama sehari penuh, sejak terbit fajar kedua hingga terbenam matahari, dengan disertai niat. Puasa merupakan salah satu kewajiban kaum muslimin. Setiap kewajiban yang berasal dari Allah SWT pasti membawa kemaslahatan bagi manusia dan juga bagi alam semesta.

Dari referensi kedokteran disebutkan bahwa puasa berarti mengistirahatkan saluran pencernaan beserta enzim dan hormon. Saat tidak berpuasa, enzim dan hormon tersebut bekerja terus-menerus untuk mencerna makanan selama kurang lebih 18 jam. Dengan berpuasa, organ vital ini dapat beristirahat sekitar 14 jam. Pada kondisi ini, organ tubuh berada dalam posisi lebih rileks, sehingga memiliki kesempatan untuk memperbarui dan meremajakan sel-sel tubuh.

Oleh karena itu, makanan yang masuk saat berbuka harus berkualitas, baik dari segi jumlah maupun kualitasnya—tidak asal makanan dan tidak berlebihan. Maka, makanan yang dikonsumsi harus benar-benar halal dan thayyib.

Sabda Rasulullah SAW dalam hadis disebutkan:
“Tidaklah sekali-kali manusia memenuhi sebuah wadah yang lebih berbahaya daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tubuhnya. Jika ia harus mengisinya, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya.”
(HR. Tirmidzi)

Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.”
(QS. Al-Isra’: 26–27)

Dan firman-Nya:
“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
(QS. Al-A’raf: 31)

Sesuai sunah Nabi dan firman Allah SWT, sangat dianjurkan untuk membeli dan mengonsumsi makanan yang dibuat oleh sesama muslim, menggunakan bahan-bahan lokal, halal, dan thayyib. Dengan demikian, puasa kita akan membawa keberkahan bagi kaum muslimin serta mempererat persaudaraan. Lebih jauh, jika ini terwujud di seluruh masyarakat muslim dunia, maka keberkahan itu akan semakin luas.

Dalam praktiknya, kita cukup makan sahur dan berbuka saja, atau sehari hanya makan dua kali. Jika lebih dari itu, sama saja dengan hari biasa—organ tubuh tetap bekerja seperti hari-hari normal, sehingga manfaat kesehatan dari puasa bisa tidak optimal.

Ayat-ayat tersebut jelas menunjukkan bahwa Allah SWT melarang sikap berlebihan dan menghambur-hamburkan makanan. Lebih jauh, kajian FAO (Food and Agriculture Organization) menyebutkan bahwa sampah makanan berkontribusi terhadap perubahan iklim. FAO memperkirakan bahwa sekitar sepertiga dari produksi pangan global terbuang atau hilang.

Limbah makanan menguras sumber daya alam yang besar, namun justru menjadi kontributor dampak lingkungan negatif. Di tempat pembuangan sampah, makanan yang membusuk menghasilkan gas metana, yaitu gas rumah kaca yang kekuatannya sekitar 23 kali lebih besar daripada CO₂ dalam membentuk emisi gas rumah kaca. Menurut FAO, sampah makanan menyumbang sekitar 8% emisi GHG (Greenhouse Gas) global.

Maka, puasa yang diharapkan adalah puasa yang diisi dengan konsumsi makanan halal, thayyib, tidak berlebihan, dan cukup dua kali sehari. Secara spiritual, kita juga mengikuti tuntunan Nabi Muhammad SAW melalui tarawih, tadarus, tadabbur, dan ibadah lainnya, sehingga puasa kita benar-benar menuju fitri.

Jangan lagi dalam acara berbuka bersama, justru banyak makanan yang akhirnya terbuang.

Penulis: Amien Widodo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *