Delegasi Surabaya Jadi Satu-Satunya Peserta Anak di Forum Dunia di Tokyo (2)
Tokyo—Di tengah deretan wali kota dan pejabat tinggi pemerintah kota dari berbagai negara, satu sosok anak tampak berdiri dengan percaya diri di ruang utama Tokyo Global Forum on Children 2026, Rabu (4/2/2026).
Areli Rashad, anggota Forum Anak Surabaya, dan Revalina Fernanda, Eco Student (Junior) of the Year 2025, Putri V Lingkungan Hidup 2024, siswa SMPN 1 Surabaya, sekaligus anggota Forum Anak Surabaya. Kedua anak Surabaya itu menjadikan Surabaya sebagai satu-satunya kota yang hadir dengan delegasi anak dalam forum internasional tersebut.
Forum ini menjadi ruang dialog global tentang kota ramah anak, di mana sebagian besar peserta adalah orang dewasa dengan latar belakang pengambil kebijakan—wali kota dan pejabat pemerintah kota dari Tokyo, Singapura, Berlin, Auckland, Brasil, Irlandia, dan negara lainnya. Di antara mereka, Revalina membawa perspektif yang berbeda: suara langsung dari anak.
“Aku menjadi satu-satunya delegasi anak. Delegasi lain adalah wali kota atau pejabat pemerintah kota yang mempresentasikan kebijakan dan program di wilayahnya,” ungkap Revalina.
Dari presentasi para pemimpin kota dunia tersebut, Revalina mencatat satu isu yang muncul berulang kali, yakni kesehatan mental anak dan remaja. Menurutnya, meskipun latar belakang kota dan negara berbeda, tantangan yang dihadapi anak-anak ternyata serupa. “Hampir semua kota membahas mental health. Ini menunjukkan bahwa kesehatan mental anak adalah isu global,” katanya.
Pemerintah Tokyo sebagai tuan rumah secara terbuka menyampaikan bahwa mental health menjadi salah satu hambatan utama anak-anak berkembang di kota metropolitan. Tokyo kini berupaya membangun kota yang mendukung dan menciptakan lingkungan layak anak dengan meningkatkan intervensi serta kesadaran publik terhadap kesehatan mental. Revalina menilai pengakuan ini sebagai langkah penting. Ia melihat Tokyo tidak menutup mata terhadap masalah, melainkan berusaha mencari solusi nyata.

“Tokyo ingin membangun kota yang benar-benar mendukung anak, termasuk dengan menyediakan ruang aman dan fasilitas yang ramah anak,” tutur Revalina.
Delegasi Singapura menekankan pentingnya mendengar aspirasi anak secara lebih mendalam. Fokusnya adalah membentuk masyarakat yang paham kesehatan mental dan membuat anak-anak lebih sadar terhadap kondisi mental mereka sendiri. Revalina menangkap pesan bahwa anak tidak boleh hanya menjadi penerima kebijakan. “Anak-anak diajak untuk lebih aware dan berani menyampaikan perasaannya,” ujarnya.
Berlin menyampaikan pandangan tegas bahwa kesehatan mental merupakan bagian dari kesehatan secara menyeluruh. Revalina mengingat kembali pernyataan tersebut dengan kesan mendalam. “Mereka bilang good health itu termasuk mental yang sehat. Jadi mental health tidak bisa dipisahkan dari kesehatan,” kata Revalina.
Sementara itu, Auckland memilih pendekatan dengan terjun langsung ke tengah anak-anak muda. Kota ini menggandeng remaja di komunitas mereka untuk memahami kebutuhan yang sebenarnya, termasuk isu mental health. Menurut Revalina, pendekatan ini menunjukkan kesediaan pemimpin kota untuk hadir di ruang anak. “Anak-anak tidak dipanggil ke kantor, tapi didatangi,” ujarnya.
Brasil mempresentasikan dukungan melalui pembangunan youth city learning and sport center sebagai sarana belajar dan pengembangan diri anak. Revalina menilai fasilitas tersebut penting untuk menjaga kesehatan mental sekaligus membangun masa depan anak. Irlandia menyoroti pendidikan tentang permasalahan sosial, hak anak, serta pentingnya saling membantu antar sesama anak. “Irlandia menekankan empati dan keberanian anak untuk peduli pada anak lain,”kata Revalina.
Pembahasan kemudian berlanjut pada praktik Japan Child Friendly City Initiative (CFCI). Jepang menempati peringkat ketiga dunia dalam pembangunan inklusi sosial bagi remaja yang mengalami krisis. Dalam forum tersebut, dijelaskan bahwa remaja Jepang sering disebut berada pada fase pemberontakan terhadap orang tua dan guru. Namun, menurut Revalina, fase ini dipahami sebagai proses pencarian jati diri. “Remaja dianggap berontak karena mereka sedang mencari identitas dan panutan,” ujarnya.
Karena itu, Jepang memberikan ruang, edukasi, dan kegiatan menarik bagi remaja agar terhindar dari permasalahan serius. Revalina menyoroti berbagai fasilitas ramah anak yang tersedia, seperti Child and Youth Center, Youth Radio Center, youth worker participation, taman kota, perpustakaan, hingga ruang nongkrong gratis bagi anak dan remaja. “Anak-anak benar-benar diberi tempat untuk tumbuh,” katanya.
Di tengah krisis global—mulai dari perubahan iklim, tantangan demokrasi, hingga perdamaian dunia—forum ini menegaskan harapan agar generasi muda kelak mampu memimpin dengan mendengar setiap suara anak. Revalina menangkap pesan tersebut sebagai tanggung jawab besar. “Semua negara berharap anak muda bisa menjadi pemimpin yang mau mendengar,” tuturnya.
Melalui Tokyo Child Policy, siswa SMP dan SMA dilibatkan dalam diskusi pembangunan kota. Kebijakan ini bahkan terbukti berdampak pada peningkatan perekonomian Tokyo. Program lain seperti overseas study ke Denmark dan Swedia, Tokyo Teens Square Project, hingga student giving back setelah partisipasi internasional, menunjukkan kepercayaan besar Jepang terhadap anak muda.
Forum ditutup dengan sesi dreams and hopes, di mana anak-anak Jepang diajarkan untuk mendesain masa depan mereka sendiri. “Di Jepang, setiap anak dipercaya punya passion, kreativitas, dan prestasi masing-masing,” ujar Revalina.
Bagi Revalina Fernanda, berdiri sendiri sebagai satu-satunya delegasi anak di antara para pemimpin kota dunia bukan sekadar simbol. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa kebijakan tentang anak seharusnya tidak hanya dibicarakan oleh orang dewasa, tetapi juga didengar langsung dari suara anak itu sendiri.
Penulis: Mochamad Zamroni

