Grebek Pasar hingga Pura: Perjalanan Wishnu, Siswa SD, Olah Sampah Organik

Tumpukan limbah sayur dan bunga yang biasanya berakhir di tempat pembuangan justru berubah menjadi sumber harapan di tangan seorang siswa sekolah dasar di Surabaya. Di tengah persoalan sampah organik perkotaan yang kerap memicu pencemaran tanah, air, dan udara, seorang bocah kelas 6 memilih tidak tinggal diam. Ia membuktikan bahwa solusi lingkungan tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar, tetapi bisa lahir dari kepedulian sederhana dan konsisten.

Adalah I Made Satria Dharma Wishnu, siswa kelas 6 SDN Ketabang 1/288 Surabaya, yang berhasil mengolah lima ton sampah organik menjadi pupuk kompos. Proyek ambisiusnya ini mengantarkannya menjadi finalis ajang Pangeran Lingkungan Hidup 2025 yang diselenggarakan Tunas Hijau Indonesia. Puncak capaian tersebut ditandai dengan panen raya di Rumah Induk Mosaik RW 7 Kelurahan Sukolilo Baru, Jumat (22/11/2025), disaksikan warga dan sejumlah pemangku kepentingan.

Gerakan Wishnu bermula dari keprihatinannya melihat limbah bunga di Pura Kenjeran yang terbuang sia-sia. Ia kemudian berinisiatif mengumpulkan sisa bunga tersebut untuk diolah menjadi kompos. Dari langkah kecil itu, semangatnya berkembang. Ia memperluas aksi dengan mengumpulkan limbah dapur rumah tangga hingga melakukan “grebek pasar” di Pasar Keputran Surabaya.

Aksi pengumpulan di pasar terbilang masif. Wishnu berhasil menghimpun hingga 1,5 ton limbah sayur dalam satu aksi kegiatan. “Limbah dari Pasar Keputran ini langsung diangkut menggunakan mobil bak terbuka menuju ke Rumah Induk Mosaik untuk diproses menjadi pupuk,” ujar Wishnu saat ditemui di lokasi pengolahan.

Dukungan penuh datang dari orang tua serta pihak sekolah. Kepala SDN Ketabang 1/288, Sutiana, menjelaskan bahwa sekolah memberikan pendampingan intensif sekaligus merancang proyek berkelanjutan selama satu tahun ke depan. Empat metode pengolahan sampah organik diterapkan secara konsisten, yakni biopori, tong aerob, kompos bag, dan metode Takakura. “Semua ini selalu dilakukan dan disosialisasikan oleh Ananda Wishnu ke kelas-kelas agar menjadi budaya sekolah,” jelas Sutiana.

Presiden Tunas Hijau Indonesia, Mohammad Zamroni yang akrab disapa Roni, turut mengapresiasi capaian tersebut. Ia menegaskan bahwa ajang Pangeran Lingkungan Hidup mendorong peserta tidak sekadar kampanye, tetapi menghasilkan dampak terukur. “Para finalis kami targetkan mampu menghasilkan olahan limbah hingga 1.000 kilogram. Wishnu bahkan melampaui itu,” ujarnya.

Apresiasi juga datang dari Camat Bulak, Hudaya, yang hadir dalam panen raya. Ia menilai inisiatif pengelolaan sampah organik secara mandiri oleh siswa sekolah dasar merupakan teladan bagi masyarakat. “Semoga hasil kompos ini dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan lahan pertanian atau perkebunan di lingkungan sekitar,” katanya.

Hasil panen kompos rencananya akan dibagikan kepada warga, sementara sebagian lainnya dijual untuk mendukung pembangunan rumah induk pengolahan sampah organik berikutnya. Bagi Wishnu, langkah ini bukan akhir, melainkan awal gerakan yang lebih luas. Ia ingin memastikan sampah organik tidak lagi menjadi sumber pencemaran, melainkan kembali ke tanah sebagai penyubur kehidupan. (ron)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *