“Habitat Sehat, Kota Sehat: Manusia & Satwa Berbagi Ruang” Webinar Nasional#316, Sabtu (3/10/2026)
Hari Habitat Sedunia menjadi momentum untuk melihat kembali bagaimana manusia membangun dan menghuni kota. Kota bukan hanya ruang bagi gedung, jalan, kendaraan, dan pusat aktivitas ekonomi, tetapi juga habitat bagi berbagai makhluk hidup. Kualitas habitat perkotaan pada akhirnya berkaitan erat dengan kualitas kehidupan manusia.
Kota yang memiliki ruang terbuka hijau, air yang bersih, udara yang lebih baik, pepohonan yang cukup, serta pengelolaan sampah yang baik akan menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dan mendukung kesehatan manusia. Karena itu, mewujudkan kota sehat membutuhkan lingkungan yang sehat, dan lingkungan yang sehat menjadi salah satu fondasi bagi manusia yang sehat.
Dalam habitat perkotaan, manusia sebenarnya tidak hidup sendirian. Berbagai jenis satwa telah beradaptasi dan berbagi ruang dengan manusia, termasuk serangga. Meski sering dianggap mengganggu, serangga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem kota.
Lebah dan berbagai serangga penyerbuk membantu proses reproduksi tumbuhan, sementara kumbang, semut, dan organisme lainnya berperan dalam proses penguraian bahan organik serta siklus unsur hara. Kehadiran serangga tertentu juga dapat menjadi bagian dari rantai makanan bagi satwa lain. Serangga kota mungkin kecil ukurannya, tetapi besar perannya dalam mempertahankan fungsi ekologis habitat perkotaan.
Keberadaan serangga juga dapat menjadi gambaran tentang kondisi lingkungan. Taman, kebun, pepohonan, dan vegetasi yang beragam menyediakan makanan serta tempat berlindung bagi berbagai jenis serangga. Sebaliknya, lingkungan yang terlalu didominasi beton, minim vegetasi, tercemar, atau menggunakan pestisida secara berlebihan dapat mengurangi keanekaragaman serangga.
Karena itu, menjaga tanaman berbunga, mengurangi penggunaan bahan kimia yang tidak perlu, mengelola sampah organik dengan baik, serta memperbanyak ruang hijau dapat membantu menciptakan habitat yang lebih ramah bagi serangga sekaligus mendukung ekosistem kota.
Selain serangga, burung kota juga merupakan penanda kehidupan di habitat perkotaan. Burung memanfaatkan pepohonan, taman, semak, lahan basah, sungai, pesisir, hingga ruang terbuka sebagai tempat mencari makan, berlindung, dan berkembang biak. Semakin beragam habitat yang tersedia, semakin banyak pula peluang berbagai jenis burung untuk hidup di dalamnya.
Pengamatan terhadap keberadaan dan keragaman burung dapat menjadi salah satu cara sederhana bagi masyarakat untuk mengenali perubahan kondisi lingkungan di sekitarnya. Kota yang masih menyediakan pepohonan dan ruang alami memungkinkan manusia menikmati suara, warna, dan aktivitas burung sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Membangun habitat perkotaan yang sehat tidak berarti mengutamakan satwa di atas manusia. Justru sebaliknya, kota yang mampu menyediakan ruang hidup bagi berbagai makhluk hidup dapat menjadi kota yang lebih nyaman bagi manusia.
Pepohonan memberikan keteduhan, vegetasi membantu mendukung kualitas udara dan mengurangi panas, ruang terbuka menyediakan tempat beraktivitas, sementara ekosistem yang berfungsi baik membantu menjaga keseimbangan lingkungan. Karena itu, perencanaan kota perlu memperhatikan keterhubungan antara manusia, tumbuhan, serangga, burung, dan berbagai organisme lainnya sebagai satu kesatuan ekosistem.
Hari Habitat Sedunia dapat menjadi pengingat bahwa rumah kita bukan hanya bangunan tempat tinggal, tetapi juga lingkungan yang lebih luas tempat manusia dan satwa berbagi ruang. Menanam dan merawat pohon, menjaga sungai dan saluran air, mengurangi sampah, menyediakan tanaman yang mendukung serangga penyerbuk, serta melindungi ruang hidup burung merupakan tindakan sederhana yang dapat dilakukan bersama.
Habitat sehat, kota sehat, manusia sehat bukan sekadar rangkaian kata, melainkan tujuan bersama untuk membangun kota yang mampu mendukung kehidupan—bukan hanya hari ini, tetapi juga bagi generasi mendatang.
————
WEBINAR NASIONAL SERI#316 “Habitat Sehat, Kota Sehat: Manusia dan Satwa Berbagi Ruang”
Dalam rangka Hari Habitat Sedunia akan digelar pada Sabtu, 3 Oktober 2026 Pukul 12.00 – 15.00 WIB
melalui Zoom dan Live YouTube “Tunas Hijau Indonesia”
Pendaftaran gratis melalui : https://bit.ly/habitat-sehat-kota-sehat
Narasumber:
- Dr. dr. Then Suyanti, M.M. – Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan RI;
- Prof. Dra. Djunijanti Peggie, M.Sc., Ph.D. – Ahli Entomologi Spesialisasi Lepidoptera/kupu-kupu Indonesia dan Guru Besar Riset BRIN;
- Prof. Ign. Pramana Yuda, M.Si., Ph.D. – Guru Besar Universitas Atma Jaya Yogyakarta / Indonesian Ornithologists Union (IdOU);
Moderator:
Aisyah Avicena R. L. – Putri 2 LH 2025; Siswi SMPN 21 Surabaya;
Rudhy Syahputra Alam – Pangeran LH 2025 SMP; Siswa SMAN 9 Surabaya;
Zahra Zahiyah Pasah – Putri 3 LH 2024; Siswi SMAN 14 Surabaya;
Setiap peserta terdaftar dan mengisi daftar hadir akan mendapatkan sertifikat.
Narahubung Nizamudin 0851-7747-0596 (WA chat only)
(*/Mochamad Zamroni)

