Peran Kritis Pendidik Saat Guncangan Gempa Terjadi

Indonesia merupakan negara yang rawan gempa bumi. Guncangannya dapat memicu rangkaian bencana yang mematikan. Kelangsungan hidup warga sekolah tidak bergantung pada keberuntungan, melainkan pada penguasaan prosedur keselamatan yang harus dilakukan dalam hitungan detik.

Keputusan yang keliru, seperti berlari saat guncangan terjadi, sering kali menjadi penyebab utama korban jiwa, bahkan lebih besar daripada akibat runtuhnya bangunan itu sendiri. Memahami bahwa tindakan yang cepat dan tepat dapat menyelamatkan nyawa merupakan fondasi utama keselamatan. Namun, agar dapat bertindak secara efektif, setiap pendidik harus memahami profil risiko yang spesifik di lingkungan sekolahnya.

Guru merupakan pusat ketenangan saat terjadi gempa bumi. Ketika guncangan dimulai, instruksi yang diberikan harus mampu memutus rantai kepanikan siswa melalui perintah yang jelas, tegas, dan penuh keyakinan.

Perintah Suara Utama

“GEMPA BUMI! DROP, COVER, HOLD ON!”

atau

“GEMPA BUMI! Merunduk, Berlindung, Berpegangan!”

Untuk anak usia dini, gunakan instruksi yang lebih visual, seperti:

“Turtle Up!” (Jadilah seperti kura-kura.)

Protokol Krisis

  1. Lindungi Diri Sendiri Terlebih Dahulu
    Anda tidak akan dapat membantu satu kelas yang berisi sekitar 30 siswa apabila Anda sendiri pingsan akibat tertimpa AC atau benda lain di dalam kelas. Setelah memberikan perintah, segera lakukan Drop, Cover, Hold On (DCH).
  2. Gunakan Suara yang Otoritatif
    Gunakan nada suara yang tenang, jelas, dan tegas untuk meredakan kepanikan siswa. Sebut nama siswa yang terlihat membeku atau panik agar instruksi lebih efektif, misalnya, “Budi, masuk ke bawah meja sekarang!”
  3. Jangan Tinggalkan Siswa
    Guru memiliki tanggung jawab moral dan hukum terhadap keselamatan peserta didik. Jangan pernah meninggalkan siswa tanpa pengawasan, baik selama maupun setelah guncangan berlangsung.
  4. Gunakan Pendekatan Sesuai Usia
    Untuk anak usia dini, gunakan instruksi visual seperti “Turtle Up!” (Jadilah seperti kura-kura.) Sementara itu, untuk siswa SMA, libatkan mereka sebagai Safety Buddies, yaitu teman siaga yang membantu rekan-rekan yang membutuhkan bantuan khusus.

Sumber: https://earthquakeradar.io/blog/earthquake-safety-schools-teachers.html

Penulis: Amien Widodo

30 thoughts on “Peran Kritis Pendidik Saat Guncangan Gempa Terjadi

  • Agustus 4, 2026 pada 07:58
    Permalink

    Nama : Shanum Farzana Althaf
    Sekolah : SDN Kandangan 3/621
    No peserta : 136

    GEMPA BUMI! DROP, COVER, HOLD ON
    Akan selalu ku ingat kode ini, sangat bermanfaat sekali . Terimakasi tunas hijau

    Balas
    • Agustus 4, 2026 pada 08:08
      Permalink

      Terima kasih tunas hijau atas artikel dan edukasinya.Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan saya bagaimana cara menyikapi terjadinya gempa.

      Nama : Andra Devaro kadang
      No peserta : 0685
      Sekolah : SDN NGAGEL REJO III / 398
      Surabaya.
      Proyek : SI PERIANG ( solusi inovatif pemanfaatan air Leri dan kulit bawang)
      Mengurangi limbah sampah dan melindungi lingkungan 🌍🌿🌱

      Balas
      • Agustus 4, 2026 pada 08:40
        Permalink

        Saya Aqifa Putri Nur Naila
        Dari SDN Kertajaya V/211 Surabaya Jawa Timur

        Terima kasih sekali untuk ilmu yg telah dibagikan sangat bermanfaat dan menambah wawasan bagi smuanya…..
        Semangat trus dalam berbagi ilmunya….

        Balas
      • Agustus 4, 2026 pada 08:43
        Permalink

        Materinya sangat informatif dan mudah dipahami. Penekanan pada prinsip Drop, Cover, Hold On (DCH) serta pentingnya peran guru sebagai pemimpin saat keadaan darurat sangat relevan. Dengan adanya panduan yang jelas dan sesuai usia peserta didik, diharapkan warga sekolah dapat merespons gempa dengan cepat, tepat, dan tidak panik sehingga risiko korban dapat diminimalkan. Simulasi secara berkala juga penting agar prosedur ini benar-benar siap diterapkan saat terjadi gempa.

        Nama: Jezizta Velove Vandhana
        Proyek: Budidaya Piper Betle (melakukan penanaman daun piper betle yang dapat di manfaatkan menjadi obat)🌿
        Sekolah: SMP Negeri 16 Surabaya

        Balas
    • Agustus 4, 2026 pada 08:14
      Permalink

      GEMPA BUMI ! DROP, COVER, HOLD ON (DCH) INI KODE YANG HARUS SELALU DI INGAT.
      DAN GUNAKAN SUARA YANG otoritatif
      GUNA TURTLE UP PENDEKATAN SESUAI USIA.
      Terimakasih tunas hijau selalu menghadirkan ilmu ilmu yg sangat bermanraat bagi kita smua. Sukses terus tunas hijau
      AJUN SAFARAZ BIMAWANSYAH JUNIOR
      SDN SEMOLOWARU 1/261 SURABAYA
      NOMER URUT PESERTA 0235
      PROYEK BIPOSA ( BIBIT POHON SALAM AJUN)

      Balas
  • Agustus 4, 2026 pada 08:00
    Permalink

    Selama mengikuti webinar, melihat, artikel membaca artikel keseluruhan yg disampaikan Tunas Hijau membuka mata saya akan banyak hal pelajaran / edukasi yg saya dapatkan,,, TRIms kak akhirnya pengetahuan sy bertambah,, sungguh keren🥰

    Balas
    • Agustus 4, 2026 pada 08:13
      Permalink

      Selama mengikuti webinar saya jadi tahu apa yang harus saya lakukan ketika terjadi gempa merunduk berlindung dibawah meja dan berpegangan, dan tidak ini merupakan perlindungan diri yang harus saya ingat ,
      Regitha novita azzahra
      Sdn pacarkeling 1 sby
      Nomer peserta 374
      Judul proyek megolah cangkang telur ( pukcanglor/pupuk cangkang telor)

      Balas
  • Agustus 4, 2026 pada 08:16
    Permalink

    Dengan adanya artikel ini memberikan pengalaman tentang bagaimana tanggap terhadap bencana sehingga bisa meminimalisir korban yang ada.

    Ayshava Berliani Al Hakim
    SDN Kebonsari 1 Surabaya
    Tabung pohon

    Balas
    • Agustus 4, 2026 pada 09:17
      Permalink

      Terimakasih tunas hijau untuk edukasi mengenai penanganan ketika terjadi gempa bumi,tindakan apa yang harus kita lakukan ketika hal tersebut terjadi tetap tenang ,jangan panik,merunduk berlindung berpegangan dan jadilah kura kura”TURTLE UP” istilah yang lucu tapi benar2 mudah di mengerti dan dilakukan anak anak seusia kami,mengetahui tindakan ini kita bisa melindungi diri dan mengurangi jatuh nya korban bencana gempa bumi
      Nama : Saskia almahyra
      Sekolah : SDN kertajaya v/211 surabaya
      No. :0190

      Balas
  • Agustus 4, 2026 pada 08:20
    Permalink

    Peran Kritis Pendidik Saat Gempa:
    1. *Penenang & Teladan* – Tetap tenang agar siswa tidak panik
    2. *Komandan Evakuasi* – Komando Drop, Cover, Hold On_. Pimpin evakuasi tertib ke titik aman
    3. *Penggerak Kesiapsiagaan* – Ajarkan mitigasi & lakukan simulasi rutin sebelum gempa
    4 *Latihan rutin simulasi gempa minimal 1X per semester bersama.

    intinya adalah Kesiapan, ketenangan, dan komando guru adalah kunci utama meminimalisir korban di sekolah saat gempa.

    Balas
  • Agustus 4, 2026 pada 08:22
    Permalink

    Saya sangat mengapresiasi peran kritis para guru sebagai garis depan keselamatan saat gempa terjadi. Kemampuan pendidik dalam memberikan instruksi yang otoritatif dan tenang sangat krusial untuk memutus kepanikan siswa. Namun, ke depan, pihak sekolah perlu memastikan seluruh staf pendidik mendapatkan pelatihan simulasi krisis secara berkala agar prosedur ‘Drop, Cover, Hold On’ dapat refleks dilakukan secara otomatis

    nama :kevin emilio al irzan
    no urut. :0687
    judul proyek. : PANDORA (Pandan Organik,Ramah dan Alami)
    Dari :SDN ngagelrejo III surabaya

    Balas
  • Agustus 4, 2026 pada 08:23
    Permalink

    Alvano Rizki Kurniawan
    Kelas 5A No. Urut 0211
    Pangeran 2026
    SDN Nginden JK 1
    Surabaya – Jatim
    Selama mengikuti webinar, melihat, membaca semua artikel yg disampaikan Tunas Hijau membuka mata saya akan banyak hal pelajaran / edukasi yg saya dapatkan,,, TRIms kak akhirnya pengetahuan sy bertambah,, sungguh keren habis semua edukasi maupun action nya 🥰

    Balas
  • Agustus 4, 2026 pada 08:37
    Permalink

    Nama : Azzahra Septialika Dewi
    No peserta: 1304
    Sekolah: SDN Ngagelrejo III
    Judul proyek: SIKUBU (solusi inovatif kulit buah)

    Terimakasih dengan membaca artikel ini, untuk nantinya saya akan berusaha tenang dan tidak panik mengingat kode instruksi seperti Drop, Cover, Hold On.

    Balas
  • Agustus 4, 2026 pada 09:10
    Permalink

    Saat terjadi gempa harus selalu ingat pesan suara ! DROP, COVER, HOLD ON!”
    atau
    “GEMPA BUMI! Merunduk, Berlindung, Berpegangan!”.
    Pemahaman untuk semuanya saat terjadi gempa dengan mengambil keputusan yang tepat dan tidak dianjurkan
    , seperti berlari saat guncangan terjadi, sering kali menjadi penyebab utama korban jiwa, bahkan lebih besar daripada akibat runtuhnya bangunan itu sendiri. Memahami bahwa tindakan yang cepat dan tepat dapat menyelamatkan nyawa merupakan fondasi utama keselamatan.

    Balas
  • Agustus 4, 2026 pada 09:56
    Permalink

    Pengetahuan dan informasi ini harus segera disebarkan dan dipraktekan bersama Di sekolah.
    Ezra Akbar “Eco Warrior JWS 1” siap beraksi untuk menyelamatkan bumi dengan eco enzyme.
    Saya mengolah sampah organik seperti kulit nanas menjadi eco enzyme. Manfaat eco enzyme sangat banyak salah satunya untuk kesehatan. Eco enzyme bisa digunakan sebagai antiseptic dan desinfektan.
    Sehat Jiwa Raga dengan eco enzyme.
    Ezra Akbar Ulumuddin
    SDN Jemurwonosari 1 Surabaya
    Nomor Peserta 057

    Balas
  • Agustus 4, 2026 pada 14:31
    Permalink

    Membaca tulisan ini memberikan pemahaman bahwa peran guru saat terjadi gempa bumi sangat penting dalam menentukan keselamatan seluruh warga sekolah. Dalam kondisi darurat, siswa cenderung merasa panik dan kebingungan sehingga membutuhkan sosok yang mampu memberikan arahan dengan tenang, jelas, dan cepat. Oleh karena itu, guru harus memahami prosedur keselamatan seperti Drop, Cover, Hold On serta mampu mengomunikasikannya dengan baik agar kepanikan tidak berkembang menjadi situasi yang lebih berbahaya.

    Saya juga belajar bahwa kesiapsiagaan tidak dapat dibentuk hanya melalui teori, tetapi harus dilatih secara rutin melalui simulasi bencana di sekolah. Dengan latihan yang berulang, siswa akan lebih terbiasa mengenali jalur evakuasi, titik kumpul, serta langkah-langkah yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah gempa. Latihan seperti ini juga membantu guru mengevaluasi apakah prosedur yang telah disusun sudah berjalan dengan baik atau masih perlu diperbaiki.

    Hal yang menarik dari artikel ini adalah pentingnya pendekatan yang disesuaikan dengan usia peserta didik. Anak usia dini memerlukan instruksi yang sederhana dan mudah dipahami, sedangkan siswa yang lebih besar dapat dilibatkan sebagai Safety Buddies untuk membantu teman-temannya yang membutuhkan bantuan. Menurut saya, pendekatan ini menunjukkan bahwa mitigasi bencana bukan hanya tentang menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga membangun kepedulian, kerja sama, dan rasa tanggung jawab terhadap sesama.

    Sebagai pelajar, saya menyadari bahwa pengetahuan tentang mitigasi bencana merupakan keterampilan hidup yang sangat penting. Indonesia berada di kawasan cincin api sehingga risiko gempa bumi akan selalu ada. Karena itu, setiap sekolah sebaiknya memiliki program edukasi dan simulasi kebencanaan yang dilakukan secara berkala, didukung oleh bangunan yang aman, jalur evakuasi yang jelas, serta guru yang telah mendapatkan pelatihan khusus. Dengan demikian, sekolah benar-benar menjadi tempat belajar yang aman bagi seluruh peserta didik.

    Saya berharap semakin banyak sekolah di Indonesia yang menjadikan kesiapsiagaan bencana sebagai bagian dari budaya sekolah. Ketika guru, siswa, tenaga kependidikan, dan orang tua memiliki pengetahuan serta latihan yang memadai, risiko korban jiwa dapat dikurangi secara signifikan. Kesiapsiagaan bukanlah tanda bahwa kita takut terhadap bencana, melainkan wujud kepedulian untuk melindungi kehidupan dan membangun masyarakat yang lebih tangguh.

    Nama: Harley Fatahillah Yodhaloka Sunoto
    Sekolah: SMP Negeri 1 Surabaya
    No. Urut: 285
    Proyek: Mangrove Warrior dan EcoGeniuz Pillow

    Balas
  • Agustus 4, 2026 pada 15:09
    Permalink

    Peran Kritis Pendidik Saat Guncangan Gempa Terjadi

    Artikel yang sangat menambah wawasan dan pengalaman tentang bagaimana tanggap terhadap bencana . agar kita smua siap mengahadapi bila terjadi sewaktu- waktu

    ​🌿✨ PROYEK: SERASIKU (Sereh Asri Inspirasi Kreativitas Usaha) ✨🌿

    ​🪴 Aksi Menanam Bibit Sereh

    👧 Nama:Naysia Aqila Andriani
    🆔 No. Peserta:1298
    🏫 Sekolah:SDN Ngagelrejo III/398
    🌿 Proyek:SERASIKU (Sereh Asri Inspirasi Kreativitas Usaha)

    “Satu langkah kecil hari ini, sejuta manfaat untuk bumi di masa depan.”🌱💚

    Balas
  • Agustus 4, 2026 pada 15:33
    Permalink

    Adrian Ramadhansyah Wicaksana
    SDN Kebonsari I Surabaya

    Dengan adanya artikel ini, besar harapan saya diadakannya eduksi dan simulasi secara rutin/ berkala terkait penanganan saat gempa terhadap pendidik dan murid. Sehingga apabila terjadi musibah gempa para murid dan tenaga pendidik tidak panik dan bisa bertindak secara efektif saat peristiwa terjadi.

    Balas
  • Agustus 4, 2026 pada 18:05
    Permalink

    Pendidik tidak hanya membimbing masa depan, tetapi juga melindungi nyawa di saat krisis. Ketenangan dan kesiapsiagaan guru saat gempa adalah penentu utama keselamatan murid di sekolah. Penting bagi setiap sekolah untuk terus memperkuat simulasi bencana secara berkala agar seluruh warga sekolah selalu siap menghadapi situasi darurat.

    Balas
  • Agustus 7, 2026 pada 13:26
    Permalink

    Nama: Jasmine Kanaya Almeera
    Sekolah: SDN Kedungdoro 4
    No Peserta: 1342
    Judul Proyek: Pengolahan Daun Kelor menjadi Puding Sehat.

    Terima kasih artikelnya sangat bermanfaat dan menambah wawasan saya..

    Balas
  • Agustus 12, 2026 pada 09:29
    Permalink

    Materinya singkat tapi menarik, guru sebagai salah satu sumber informasi dan tekadan bagi murid-muridnya dituntut memiliki pengetahuan yang memadai bila terjadi gempa di sekolah. Guru mampu memberi instruksi yang bisa menyelamatkan murid-muridnya bila terjadi gempa di sekolah secara mendadak.

    Muhammad Fajrul Mubarok, SDN Kejawan Putih I/243, proyek “budidaya aloevera untuk sekolah hijau”

    Balas
  • Agustus 13, 2026 pada 11:30
    Permalink

    Artikel yang sangat penting dan membuka mata. Di negara rawan bencana seperti Indonesia, peran pendidik tidak hanya terbatas pada mentransfer ilmu akademik, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam menjaga keselamatan serta ketenangan para siswa saat krisis terjadi. Edukasi mitigasi dan simulasi/drill gempa yang berkala di lingkungan sekolah memang sudah seharusnya menjadi prosedur standar, bukan sekadar pelengkap. Terima kasih Tunas Hijau atas ulasan yang sangat edukatif ini!

    Balas
  • Agustus 13, 2026 pada 12:15
    Permalink

    🌱✨ Rabu, 29 April 2026

    Hai…teman-teman sahabat lingkungan! Perkenalkan, saya Alesya Zahra Santosa salah satu peserta pemilihan Puteri Lingkungan Hidup 2026 dari SDN Kertajaya ,Nomor Peserta 0164

    💚Judul Proyek saya adalah Hijaunya Sirihku Hijaunya Bumiku🌿🌿🌿

    Artikel ini memberikan pesan yang sangat bermanfaat sekali bagi dunia pendidikan di indonesia.Penekanan bahwa keselamatan warga sekolah bergantung penguasaan prosedur keselamatan bukan keberuntunga .

    Balas
  • Agustus 15, 2026 pada 00:13
    Permalink

    Pendidik berperan penting dalam menjaga ketenangan, mengarahkan siswa, dan memastikan proses evakuasi berjalan dengan aman saat terjadi gempa.

    Nama: Nadia Hibatillah Amalia
    No. Peserta: 0112
    Asal Sekolah: SDN Jemurwonosari I Surabaya
    Judul Proyek: Cangkang Telur

    Balas
  • Agustus 16, 2026 pada 23:56
    Permalink

    Semoga informasi tentang gempa ini dapat meningkatkan kesadaran kita untuk selalu siap dan peduli terhadap keselamatan bersama. 🙏

    Balas
  • Agustus 17, 2026 pada 08:07
    Permalink

    Nama: Amritha Hafsah Rheva Ramadhina
    No. Peserta: 002
    Sekolah: SD Al Uswah 2 Surabaya
    Proyek: PELITA OBAT (Pengelola Limbah Tangguh Obat Keluarga)

    Artikel yang sangat berbobot dan membuka kesadaran kita semua. Peran pendidik sebagai pusat ketenangan, komandan evakuasi dengan protokol Drop, Cover, Hold On, serta penggerak kesiapsiagaan di sekolah sangat menentukan keselamatan nyawa para siswa saat bencana gempa bumi terjadi.

    Kesiapsiagaan dan mitigasi darurat bencana ini memiliki benang merah yang sangat kuat dengan fokus proyek PELITA OBAT yang saya jalankan di Tahap II Putri Lingkungan Hidup 2026. Kesiapsiagaan di sekolah dan rumah tidak hanya mencakup evakuasi fisik, tetapi juga penataan mitigasi bahaya lingkungan pascabencana. Penyimpanan persediaan obat-obatan di ruang UKS sekolah maupun di rumah yang tidak tertata rapi sangat berisiko jatuh, pecah, dan menumpahkan limbah kimia berbahaya saat guncangan gempa terjadi. Melalui proyek ini, saya terus mengedukasi warga sekolah dan keluarga mengenai tata kelola, pemilahan, serta pengamanan limbah dan persediaan obat secara tepat agar lingkungan sekolah dan rumah tetap aman, tangguh bencana, serta bebas dari pencemaran zat kimia berbahaya.

    Mari kita dukung penuh para pendidik dalam membangun budaya sadar bencana dan ciptakan lingkungan sekolah yang aman serta berbudaya lingkungan!

    Salam Bumi, Pasti Lestari! 🌿✨

    Balas
  • Agustus 18, 2026 pada 21:25
    Permalink

    Artikel yang bermanfaat. Menjadikan kita lebih waspada dan siap siaga terhadap bencana yang terjadi.

    Ayshava Berliani Al Hakim
    SDN Kebonsari 1 Surabaya
    Judul Proyek ” tabung pohon”
    No peserta 140

    Balas
  • Agustus 21, 2026 pada 10:52
    Permalink

    Sekolah aman gempa adalah konsep perlindungan satuan pendidikan melalui standar konstruksi bangunan tahan gempa serta penerapan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang mencakup jalur evakuasi, simulasi rutin, dan penyediaan ruang kelas darurat saat terjadi bencana.

    Sosialisasi dan edukasi sekolah aman gempa menjadi prioritas dalam pengurangan risiko bencana. Apalagi gempa berpotensi menimbulkan bahaya berantai (earthquake cascading hazards). Bahaya berantai terjadi ketika suatu bahaya utama memicu serangkaian peristiwa sekunder, menciptakan reaksi berantai bencana yang dampaknya bisa jauh lebih parah daripada peristiwa awalnya. Fenomena ini mencerminkan perubahan mendasar dalam cara kita memandang risiko bencana di dunia yang semakin saling terhubung ini. Berbeda dengan bahaya yang berdiri sendiri, bahaya berantai melibatkan interaksi kompleks di mana satu peristiwa memperparah dampak bahaya berikutnya melalui sistem fisik, sosial, dan infrastruktur yang saling terkait.

    Oleh karena itu, mitigasi yang terjebak pada bahaya tunggal dianggap tidak memadai lagi karena kaskade bencana mencakup interaksi kompleks antara fenomena alam, infrastruktur teknis, dan sistem sosial-ekonomi yang dampaknya bisa jauh lebih destruktif serta bisa berlangsung lama dibandingkan guncangan pertamanya. Waktunya mengembangkan budaya PROAKTIF dalam menghadapi berbagai kejadian. Bersikap proaktif merupakan sikap bagaimana kita menentukan terhadap segala hal yang terjadi di sekitar kita. Bersikap proaktif merupakan cara bagaimana kita mengendalikan hidup kita, bukan malah hidup kita yang mengendalikan sikap kita. Yaitu dengan belajar, menemukan pemecahan, serta solusi yang tepat agar kedepannya tidak terulang kembali atau justru melakukan sesuatu yang lebih berdaya.

    Nayla Thalita Azzahra
    SMPN 4 Sby
    No Peserta : 1358
    Judul Proyek : Lidah Buaya untuk Riset & Lingkungan

    Balas
  • Agustus 23, 2026 pada 13:50
    Permalink

    “GEMPA BUMI! DROP, COVER, HOLD ON!”
    Akan selalu saya ingat jika terjadi gempa. Terima kasih tunas hijau untuk artikel yang memberikan edukasi bermanfaat untuk kita semua.

    Nama : Muhammad Usman Dzikrullah
    No Peserta : 61
    Sekolah : SDN Jemurwonosari I Surabaya
    Proyek : Pengolahan Sampah Organik Menjadi Ecoenzim

    Balas
  • Agustus 24, 2026 pada 03:45
    Permalink

    Nama:Fica Widya Paramitha
    Asal sekolah:SMPN 26 Surabaya
    Nama proyek:KeyCycle(Keychain Recycle)

    Proyek lingkungan saya yaitu KeyCycle-Keychain Recycle, yaitu mengubah sampah botol plastik bekas menjadi gantungan kunci dengan cara melelehkan tutup botol plastik yang telah digunting dengan setrika lalu badan botolnya dijadikan sapu halaman.
     

    Ini penting banget buat diingat semua, apalagi di sekolah. Ternyata keputusan yang salah kayak lari pas gempa itu justru bahayanya lebih besar daripada bangunannya sendiri. Guru harus tetap tenang, perintahnya jelas merunduk, Berlindung, Berpegangan dan jangan pernah tinggalkan siswa. Kita juga harus diajarin sesuai umur, biar semua paham dan bisa bertindak tepat waktu. Intinya bukan keberuntungan yang nyelamatin kita, tapi prosedur yang bener dan dilatih terus. Semoga semua sekolah rutin latihan kayak gini ya, biar kalau ada apa-apa kita udah siap! 🏫

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *