Sekolah Aman Gempa

Sejarah mencatat bahwa gempa bumi tidak memberikan peringatan. Namun, tingkat kesiapan prosedural sangat menentukan keselamatan penghuni bangunan.

Pada Gempa Meksiko tahun 1985, lebih dari 10.000 jiwa meninggal dunia, termasuk banyak siswa yang terjebak di sekolah. Tragedi yang lebih kelam terjadi pada Gempa Sichuan tahun 2008, ketika ribuan siswa tewas akibat gedung sekolah yang mengalami pancaked (runtuh lapis demi lapis) karena kualitas konstruksi yang buruk.

Di Indonesia, Gempa Cianjur berkekuatan magnitudo 5,6 yang terjadi pada 21 November 2022 juga menjadi pelajaran penting. Hingga 24 November 2022, sekitar 100 anak berusia di bawah 15 tahun dilaporkan meninggal dunia. Sebanyak 2.046 orang mengalami luka-luka, 39 orang dinyatakan hilang, dan 62.882 orang kehilangan tempat tinggal. Pemerintah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, juga melaporkan bahwa 10 guru dan 42 murid meninggal dunia akibat gempa tersebut. Korban didominasi oleh siswa sekolah dasar.

Pelajaran tersebut menunjukkan bahwa kelangsungan hidup di sekolah tidak bergantung pada keberuntungan, melainkan pada penguasaan prosedur keselamatan dalam hitungan detik. Keputusan yang keliru, seperti berlari saat guncangan terjadi, sering kali justru menjadi penyebab utama korban jiwa dibandingkan runtuhnya bangunan itu sendiri.

Memahami bahwa tindakan yang tepat dapat menyelamatkan nyawa merupakan fondasi keselamatan. Agar mampu bertindak efektif, pendidik harus memahami profil risiko di lingkungan sekolah.

Paling tidak terdapat empat alasan mengapa sekolah menjadi lingkungan yang rentan dan berisiko tinggi terhadap gempa. Pertama, kepadatan hunian yang tinggi. Sekolah mengonsentrasikan ratusan hingga ribuan orang dalam satu kawasan sehingga menjaga ketertiban saat kepanikan massal menjadi tantangan besar.

Kedua, bangunan prefabrikasi dan ruang kelas portabel. Banyak sekolah menggunakan bangunan tambahan yang tidak tertanam kuat pada fondasi sehingga lebih rentan bergeser, miring, atau terlepas dari tumpuannya saat terjadi guncangan hebat.

Ketiga, populasi yang rentan. Siswa, terutama anak usia dini, belum memiliki kemampuan menilai risiko (judgment) maupun pengalaman untuk mengambil keputusan secara cepat. Mereka sangat bergantung pada instruksi dan ketenangan guru di dalam kelas.

Keempat, bahaya nonstruktural (proyektil). Ruang kelas dipenuhi rak buku, lemari, peralatan teknologi, dan dekorasi dinding. Tanpa pengamanan yang memadai, benda-benda tersebut dapat berubah menjadi proyektil berbahaya yang mencederai siswa sebelum mereka sempat berlindung.

Sosialisasi dan edukasi mengenai sekolah aman gempa harus menjadi prioritas dalam upaya pengurangan risiko bencana. Terlebih lagi, gempa bumi berpotensi menimbulkan bahaya berantai (earthquake cascading hazards).

Bahaya berantai terjadi ketika satu bahaya utama memicu serangkaian peristiwa sekunder sehingga menciptakan reaksi berantai dengan dampak yang jauh lebih besar daripada bencana awal. Fenomena ini menunjukkan bahwa risiko bencana harus dipahami sebagai interaksi antara sistem fisik, sosial, dan infrastruktur yang saling berkaitan.

Gempa bumi dapat memicu rantai bencana melalui konsep earthquake cascading hazards. Dalam kondisi ini, satu guncangan awal memicu berbagai bencana susulan yang dampaknya dapat lebih mematikan daripada gempa itu sendiri.

Rantai bencana dapat dibedakan menjadi tiga jenis.

Pertama, kaskade fisik-geologi (alam ke alam). Gempa dapat memicu longsor yang menyumbat aliran sungai hingga membentuk bendungan alami. Ketika bendungan tersebut jebol, banjir bandang dapat mengancam kawasan hilir, sebagaimana terjadi pada Gempa Wenchuan tahun 2008. Gempa juga dapat memicu pergeseran tanah, tsunami, dan likuefaksi seperti yang terjadi di Palu pada tahun 2018.

Kedua, kaskade infrastruktur dan teknologi (alam ke manusia). Guncangan gempa dapat merusak jaringan utilitas sehingga memicu kegagalan sistemik. Contohnya adalah pecahnya pipa gas dan putusnya kabel listrik yang memicu kebakaran besar pada Gempa Kobe, Jepang, tahun 1995. Jika pada saat yang sama jaringan air bersih rusak, petugas pemadam kebakaran kehilangan sumber air sehingga kebakaran menjadi semakin sulit dikendalikan. Contoh ekstrem lainnya adalah Gempa Fukushima tahun 2011 yang memicu tsunami, kemudian menyebabkan kegagalan sistem pendingin reaktor nuklir dan kebocoran radiasi.

Ketiga, kaskade sosial-ekonomi dan kesehatan (dampak jangka panjang). Dampaknya dapat berlangsung selama berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun. Kerusakan fasilitas sanitasi dan air bersih pascagempa dapat memicu wabah penyakit menular, seperti kolera di Haiti pada tahun 2010. Kondisi tersebut kemudian dapat berkembang menjadi kelangkaan pangan, migrasi massal, hingga krisis pengungsi.

Oleh karena itu, sosialisasi dan pengenalan bahaya kaskade gempa, asesmen cepat terhadap kondisi bangunan, serta peningkatan kesiapsiagaan sekolah menjadi langkah yang sangat krusial dalam upaya mengurangi risiko bencana dan menyelamatkan nyawa.
——–
WEBINAR NASIONAL SERI#307 “SEKOLAH DAN MADRASAH AMAN GEMPA”
Sabtu, 1 Agustus 2026 pukul 12.00-15.00 WIB
melalui Zoom dan Live YouTube TunasHijauID

Narasumber:
1.⁠ ⁠Yuni Dwi Trisnowati, S.Kom, M. M.B (Mitigasi, Pelayanan Data Informasi dan Geopotensial Stageof Sleman)
2.⁠ ⁠Dr. Ir. Amien Widodo, M.Si (Peneliti Senior Puslit Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim ITS dan Dosen Teknik Geofisika ITS)
3.⁠ ⁠Dr.Eng. Aniendhita Rizki Amalia, ST, MT (Dosen Teknik Sipil ITS)

Moderator:
1.⁠ ⁠Messa Eko Putri (Putri 2 LH SD 2025; Siswi SDN Airlangga I Surabaya)
2.⁠ ⁠Nayla Thalita Azzahra (Putri 5 LH 2025 SD; Siswi SMPN 4 Surabaya)
3.⁠ ⁠Padizha Nikeisyandria Aisyzarra (Putri Lingkungan Hidup 2025 SMP; Siswi SMPN 4 Surabaya)

Pendaftaran gratis melalui https://bit.ly/sekolah-madrasah-aman-gempa-2026

Setiap peserta terdaftar dan mengisi daftar hadir, akan mendapatkan sertifikat peserta.

Penulis: Amien Widodo

43 thoughts on “Sekolah Aman Gempa”

  • Agustus 4, 2026 pada 14:28
    Permalink

    Sekolah harus menjadi tempat yang aman, termasuk saat terjadi bencana gempa. Banyak korban jiwa pada berbagai gempa besar di dunia bukan hanya disebabkan oleh kuatnya guncangan, tetapi juga karena kurangnya kesiapsiagaan, kualitas bangunan yang tidak memadai, dan ketidaktahuan mengenai prosedur penyelamatan diri. Oleh karena itu, pendidikan mitigasi bencana perlu menjadi bagian dari budaya sekolah, bukan hanya dipelajari saat terjadi bencana.

    Saya juga belajar bahwa gempa dapat memicu bahaya berantai, seperti tsunami, longsor, kebakaran, hingga gangguan terhadap layanan air bersih dan kesehatan. Hal ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari bangunan yang aman, jalur evakuasi yang jelas, simulasi bencana secara berkala, hingga kemampuan seluruh warga sekolah untuk mengambil keputusan dengan cepat dan tepat saat keadaan darurat.

    Menurut saya, setiap sekolah di Indonesia sebaiknya memiliki program Sekolah Aman Gempa yang melibatkan guru, siswa, dan orang tua. Dengan latihan yang dilakukan secara rutin, siswa akan lebih siap menghadapi situasi darurat tanpa panik. Pengetahuan tentang mitigasi bencana merupakan investasi penting untuk melindungi generasi muda dan mengurangi risiko korban jiwa di masa depan.

    Nama: Harley Fatahillah Yodhaloka Sunoto
    Sekolah: SMP Negeri 1 Surabaya
    No. Urut: 285
    Proyek: Mangrove Warrior dan EcoGeniuz Pillow

    Balas
  • Agustus 4, 2026 pada 15:24
    Permalink

    🔥🔥🔥

    Balas
  • Agustus 4, 2026 pada 15:54
    Permalink

    Adrian Ramadhansyah Wicaksana
    SDN Kebonsari I Surabaya

    Melalui artikel tersebut, sudah jelas tempat fasilitas umum seperti halnya sekolah merupakan salah satu tempat yang rawan memakan korban dalam jumlah yang banyak apabila terjadi gempa. Untuk itu perlu diperhatikan dari berbagai aspek seperti halnya pembangunan sekolah harusnya memiliki standar struktur bangunan yang anti gempa. Disamping itu juga perlu adanya respon yang cepat dalam pemulihan setelah pasca gempa. Semoga penerapan standarisasi bangunan anti gempa untuk bangunan fasilitas umum seperti sekolah dapat dilaksanakan di seluruh daerah secara merata terutama pada daerah yang rawan gempa. Dan tidak lupa edukasi dan simulasi secara berkala di setiap kalangan supaya masyarakat tau cara merespon apabila musibah gempa terjadi.

    Balas
  • Agustus 4, 2026 pada 19:54
    Permalink

    Nama: Arroyan Quinsha Zahwa
    Asal sekolah: SMPN 19 Surabaya
    Proyek lingkungan: RECAP! (Recycle the Cap!)

    Proyek lingkungan yang saya kembangkan yaitu RECAP! Singkatan dari Recycle The Cap. Yaitu sebuah inisiatif saya untuk mengolah sampah plastik berjenis HDPE & PP khususnya pada tutup botol plastik, menjadi berbagai produk baru yang bermanfaat dengan cara dilelehkan & dibentuk ulang.

    🌱Salam Bumi, Pasti Lestari!🌱

    Balas
  • Agustus 5, 2026 pada 06:17
    Permalink

    Akibat Gempa yg tidak diantisipasi mengakibatkan timbulnya korban jiwa juga materi pastinya.
    Dengan adanya literasi seperti ini bisa membantu kita semuanya mengetahui cara2 mengantisipasinya.

    Marshall Dastan PR
    SMP negeri 1 Surabaya
    Project : Komandan
    No peserta : 289

    Balas
  • Agustus 11, 2026 pada 10:58
    Permalink

    Pembekalan tindakan untuk mengantisipasi bila terjadi gempa sangat penting diberikan terutama kepada anak-anak usia sekolah karena mereka bisa melakukan tindakan untuk keselamatan mereka.

    Muhammad Fajrul Mubarok, SDN Kejawan Putih I/243, proyek “budidaya aloevera untuk sekolah hijau”

    Balas
  • Agustus 11, 2026 pada 11:01
    Permalink

    Pembekalan tindakan untuk mengantisipasi bila terjadi gempa sangat penting diberikan terutama kepada anak-anak usia sekolah karena mereka bisa melakukan tindakan untuk keselamatan mereka.

    Muhammad Fajrul Mubarok, SDN Kejawan Putih I/243, proyek “budidaya aloevera untuk sekolah hijau”

    Balas
  • Agustus 11, 2026 pada 19:31
    Permalink

    “Tim Tunas Hijau memang ga pernah capek buat bumi. Terima kasih udah jadi inspirasi”
    🌎🌱💚

    Balas
  • Agustus 11, 2026 pada 19:41
    Permalink

    Terimakasih Tunas Hijau sudah menanamkan rasa aman dan bekal penting untuk mereka. Surabaya bangga pnya kalian💚🌎

    Balas
  • Agustus 11, 2026 pada 19:47
    Permalink

    Salut sma Tunas Hijau,,,, semangat terus Mari dukung bersama 💚💪

    Balas
  • Agustus 13, 2026 pada 12:34
    Permalink

    Hai…teman-teman sahabat lingkungan! Perkenalkan, saya Alesya Zahra Santosa salah satu peserta pemilihan Puteri Lingkungan Hidup 2026 dari SDN Kertajaya,Nomor Peserta 0164

    💚Judul Proyek saya adalah Hijaunya Sirihku Hijaunya Bumiku🌿🌿🌿

    Artikel ini memberikan peringatan yang sangat kuat mengenai pentingnya keselamatan bangunan dan prosedur tanggap bencana di lingkungan sekolah,karena sekolah adalah tempat berkumpulnya kelompok yang rentan yaitu anak anak dan tenaga pendidik.

    Balas
  • Agustus 14, 2026 pada 23:40
    Permalink

    Kewaspadaan terhadap gempa sangat penting untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan tanggap bencana.
    🏫🌏

    Nama: Nadia Hibatillah Amalia
    No. Peserta: 0112
    Asal Sekolah: SDN Jemurwonosari I Surabaya
    Judul Proyek: Cangkang Telur

    Balas
  • Agustus 16, 2026 pada 23:56
    Permalink

    Terima kasih Tunas Hijau sudah memberikan edukasi yang bermanfaat tentang kesiapsiagaan menghadapi gempa. 🌏

    Balas
    • Agustus 28, 2026 pada 22:33
      Permalink

      🪅Nama: Marista Nur Kirana Putri
      Asal Sekolah: Smp Negeri 38 Surabaya
      Proyek: RIMPANG KUJALENCUR
      No peserta: 1040

      Menarik, karena menunjukkan bahwa gempa bumi tidak selalu berhenti pada satu kejadian, tetapi dapat memicu berbagai bencana lain yang saling berkaitan. Contoh dari beberapa daerah juga membuat kita lebih memahami bahwa dampaknya bisa meluas hingga kesehatan dan kehidupan sosial masyarakat. Terutama di sekolah. Semoga sosialisasi dan simulasi kebencanaan dapat terus dilakukan agar kita tidak hanya tahu risikonya, tetapi juga lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan setelah gempa terjadi.💪🏻💪🏻😃🌍

      Balas
  • Agustus 17, 2026 pada 08:10
    Permalink

    Nama: Amritha Hafsah Rheva Ramadhina
    No. Peserta: 002
    Sekolah: SD Al Uswah 2 Surabaya
    Proyek: PELITA OBAT (Pengelola Limbah Tangguh Obat Keluarga)

    Artikel yang sangat penting dan edukatif mengenai konsep Sekolah Aman Gempa. Kesiapsiagaan struktural, penyusunan jalur evakuasi, serta simulasi kebencanaan yang terencana adalah kunci utama dalam menciptakan ekosistem sekolah yang aman dan tangguh bagi seluruh warga sekolah.

    Mewujudkan lingkungan sekolah yang aman dari bencana gempa bumi ini sangat selaras dengan komitmen saya di Tahap II Putri Lingkungan Hidup 2026 melalui proyek PELITA OBAT. Mitigasi non-struktural saat terjadi guncangan gempa tidak hanya berfokus pada perabotan besar, tetapi juga penataan ruang UKS dan laboratorium sekolah. Persediaan maupun limbah obat-obatan cair dan padat yang tidak tertata atau tersimpan aman berisiko jatuh, pecah, serta menimbulkan kontaminasi zat kimia berbahaya saat gempa terjadi. Melalui proyek ini, saya terus mengedukasi warga sekolah dan keluarga mengenai manajemen penyimpanan, pemilahan, dan pembuangan limbah obat yang aman agar lingkungan sekolah benar-benar tangguh bencana serta terlindungi dari bahaya paparan zat kimia.

    Mari wujudkan sekolah yang aman, siaga bencana, dan berbudaya lingkungan demi keselamatan bersama!

    Salam Bumi, Pasti Lestari! 🌿✨

    Balas
  • Agustus 18, 2026 pada 13:03
    Permalink

    Sekolah Aman Gempa

    Webinar yang sangat bermanfaat perlunya Sosialisasi dan edukasi mengenai sekolah aman gempa harus menjadi prioritas dalam upaya pengurangan risiko bencana

    ​🌿✨ PROYEK: SERASIKU (Sereh Asri Inspirasi Kreativitas Usaha) ✨🌿

    ​🪴 Aksi Menanam Bibit Sereh

    👧 Nama:Naysia Aqila Andriani
    🆔 No. Peserta:1298
    🏫 Sekolah:SDN Ngagelrejo III/398
    🌿 Proyek:SERASIKU (Sereh Asri Inspirasi Kreativitas Usaha)

    “Satu langkah kecil hari ini, sejuta manfaat untuk bumi di masa depan.”🌱💚

    Balas
  • Agustus 19, 2026 pada 17:30
    Permalink

    Webinar ini menjadi media untuk sosialisasi secara national dan pengenalan bahaya kaskade gempa, asesmen cepat terhadap kondisi bangunan, serta peningkatan kesiapsiagaan sekolah menjadi langkah yang sangat krusial dalam upaya mengurangi risiko bencana dan menyelamatkan nyawa.

    Ezra Akbar “Eco Warrior JWS 1” siap beraksi untuk menyelamatkan bumi dengan eco enzyme.
    Saya mengolah sampah organik seperti kulit nanas/ kulit buah lainnya menjadi eco enzyme. Manfaat eco enzyme sangat banyak salah satunya untuk kesehatan. Eco enzyme bisa digunakan sebagai antiseptic dan desinfektan.
    Sehat Jiwa Raga dengan eco enzyme.
    🧒 Ezra Akbar Ulumuddin
    ♻️Mengolah Sampah Organik menjadi eco enzyme.
    🏫SDN Jemurwonosari 1 Surabaya
    🆔Nomor Peserta 057

    Balas
  • Agustus 19, 2026 pada 22:31
    Permalink

    wah, selain webinar harus lebih sering diadakan simulasi penyelamatan diri dari gempa bumi di sekolah. mungkin dapat dilakukan bergiliran di sekolah-sekolah yang ada di surabaya

    Deandra Ahmed Al Farizzi
    055
    SDN Jemur Wonosari 1
    MAGMED “Maggot Hebat Karya Ahmed”

    Balas
    • September 1, 2026 pada 12:19
      Permalink

      Pembahasannya menarik dan mudah dipahami. Edukasi seperti ini penting banget, terutama untuk meningkatkan kesiapsiagaan di lingkungan sekolah.

      Perkenalkan nama saya Kayla Fatiyatu Zahra Ardani dari SMPN 54 Surabaya, dengan judul proyek Pemanfaatan Sampah Non-organik menjadi Beautiful Craft.

      Balas
  • Agustus 20, 2026 pada 19:35
    Permalink

    Sesi webinar yang menarik terkait penyelamatan nyawa ketika gempa
    Lebih menarik lagi apabila dilaksanakan simulasi penyelamatan

    Balas
  • Agustus 23, 2026 pada 12:59
    Permalink

    Pendidik berperan sebagai pelindung fisik, pendamping psikologis, dan agen edukasi keselamatan sebelum, sesaat, dan setelah bencana gempa bumi terjadi. Di dalam ekosistem sekolah, guru adalah penentu utama keselamatan siswa melalui kesiapsiagaan yang terencana.

    Nama : shanum Farzana Althaf
    Sekolah : SDN Kandangan 3
    No peserta : 136

    Balas
  • Agustus 23, 2026 pada 13:53
    Permalink

    Webinar seperti ini menjadi media untuk sosialisasi pengenalan bahaya kaskade gempa, agar dapat meminimalisir akibat yang ditumbulkan bencana tersebut.

    Nama : Muhammad Usman Dzikrullah
    No Peserta : 61
    Sekolah : SDN Jemurwonosari I Surabaya
    Proyek : Pengolahan Sampah Organik Menjadi Ecoenzim

    Balas
  • Agustus 29, 2026 pada 17:22
    Permalink

    wah keren sekali

    terimakasih tunas hijau telah memberikan artikel ini karna artikel ini sangat bermanfaat dan menambah wawasan saya

    elena subekti nomor 0766
    SMPN 11 surabaya
    proyek budi daya tanaman pepaya

    Balas
    • Agustus 30, 2026 pada 11:51
      Permalink

      Artikel ini sangat informaif sekali Memahami bahwa tindakan yang tepat dapat menyelamatkan nyawa merupakan fondasi keselamatan. Agar mampu bertindak efektif, pendidik harus memahami profil risiko di lingkungan sekolah.

      Terimakasih tunas hijau atas informasi ini.
      Salam bumi pasti lestari

      Zivanisa alicia W
      No peserta : 218
      SDN ketabang 1/288 surabaya
      Proyek : SIPATAS
      (Koleksi sampah kertas)

      Balas
    • September 12, 2026 pada 22:27
      Permalink

      Aqila Zulfikar SMPN 1 Surabaya/ 0572 Judul Proyek: Pengolahan Limbah Ampas Kopi menjadi POC (Pupuk Organik Cair)

      perlunya kesiapsiagaan cepat dan mitigasi terstruktur karena lingkungan sekolah sangat rentan terhadap korban jiwa akibat kepanikan.

      Balas
  • Agustus 30, 2026 pada 17:52
    Permalink

    Nama:Mikhaela Adeva
    Sekolah:SMPN 29 surabaya
    Nomor:940
    Proyek:budidaya tanaman asem dan pandan

    Webinar ini dapat mengdukasi kita dan memberikan manfaat.

    Balas
  • Agustus 30, 2026 pada 19:49
    Permalink

    Nama : Fiorenza Batrisya Filia
    Sekolah : SMPN 10 Surabaya
    Kelas : 7 B
    No Peserta : 728
    Judul Proyek : Ecomat Daur Ulang Kain Perca

    Menurut saya, sekolah yang aman dari gempa itu penting banget. Kita juga harus tahu apa yang harus dilakukan saat gempa supaya tetap tenang dan tidak panik. Semoga sekolah kita selalu aman dan semua warga sekolah terlindungi 😊🏫

    Balas
  • Agustus 30, 2026 pada 19:56
    Permalink

    tema webinar yang sangat menarik, keren banget untuk menambah wawasan

    Nama: Alesheea Farzana Nayyara
    Proyek: PELITA (Pengolahan Limbah Minyak Jelantah)
    Asal Sekolah : SDN Semolowaru I/261 Surabaya
    Nomor peserta: 0424

    Balas
  • Agustus 31, 2026 pada 19:31
    Permalink

    Wabinar kali ini sangat menarik untuk kita ikuti agar kita bisa mempelajari antisipasi datangnya gempa.

    Aqeel tsani ramadhan
    No.0051
    SDN jemurwonosari 1 surabaya
    “Pengelolaan sampah organik dengan maggot”.

    Balas
  • Agustus 31, 2026 pada 20:51
    Permalink

    Artikel yang sangat bermanfaat dan membuka wawasan tentang pentingnya menciptakan sekolah yang aman dan siap menghadapi gempa. Saya jadi semakin memahami bahwa kesiapsiagaan bukan hanya tentang mengetahui apa yang harus dilakukan saat gempa terjadi, tetapi juga perlu dimulai dari mengenali risiko, memahami prosedur keselamatan, dan membangun kebiasaan siaga di lingkungan sekolah. Semoga semakin banyak sekolah yang memperkuat edukasi dan kesiapsiagaan bencana agar seluruh warga sekolah dapat lebih aman dan tangguh. 🌏🏫💚

    Nama: Diky Yulia Efendi
    No. Peserta: 0397
    Sekolah: SMP Negeri 11 Surabaya
    Proyek: REVERDA (Pengelolaan Sampah Kering Menjadi Barang Bernilai Ekonomis)

    Balas
  • September 1, 2026 pada 15:07
    Permalink

    Nama: Danisha Cantiqa Putri
    No. Peserta: 1120
    Asal Sekolah: SMP Negeri 46 Surabaya
    Proyek: D’KOPIS (Danisha Kreasi Olahan Produk Inovatif Serbaguna Ampas Kopi)

    Sekolah seharusnya bukan hanya tempat untuk belajar, tetapi juga tempat yang mampu melindungi setiap warga di dalamnya. Gempa memang tidak dapat kita cegah, tetapi risiko dan dampaknya dapat dikurangi jika sekolah memiliki bangunan yang aman, jalur evakuasi yang jelas, serta warga sekolah yang memahami apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi.

    Menurut saya, kesiapsiagaan tidak cukup hanya dilakukan ketika simulasi. Edukasi kebencanaan perlu menjadi budaya yang terus dilatih agar siswa tidak hanya tahu teori, tetapi mampu bertindak dengan tepat dalam situasi nyata.

    Semoga semakin banyak sekolah yang benar-benar siap dan aman menghadapi bencana. Karena menciptakan sekolah yang tangguh berarti ikut menjaga masa depan generasi penerus.

    Balas
  • September 2, 2026 pada 00:19
    Permalink

    nah, simulasi penyelamatan diri saat terjadi bencana alam perlu sekali dilakukan di sekolah. tujuannya agar murid dapat mengetahui bagaimana cara menyelamatkan diri dalam keadaan genting

    from:
    – Deandra Ahmed Alfarizzi
    – Calon Pangeran SD / 55
    – SDN Jemur Wonosari 1 Surabaya

    Balas
  • September 2, 2026 pada 19:21
    Permalink

    Zoom inii sangat penting dan mengedukasi para siswa siswi lebih tenang saat terjadinya gempa di sekolah kunci nya adalah tidak panik dan lewat jalur evakuasi. Semoga tidak adaa masalah di sekolah di surabaya inii.
    Nama : Nawan Arifalle Safni
    Asal Sekolah : SMPN 56 SURABAYA
    Nomer Peserta : 0667
    Proyek : Aksi Ecobrick

    Balas
  • September 3, 2026 pada 10:52
    Permalink

    ternyata lemari, papan tulis, dan rak buku di kelas itu bisa jadi bahaya pas gempa kalau enggak dipasang dengan kuat. Kasihan juga ya Bapak dan Ibu Guru, mereka harus tetap tenang buat jagain kita semua yang panik. Makanya pas latihan simulasi gempa di sekolah nanti, aku mau serius dan enggak main-main lagi

    Nama : Azkayra Safiratul Azqia
    No. Peserta : 128
    Asal Sekolah : SDN Kandangan 1/121 Surabaya
    Judul Proyek : “Potensi Bayam Malabar (Basella alba) sebagai Sumber Pangan Strategis di Wilayah Perkotaan Berlahan Sempit”

    Balas
  • September 3, 2026 pada 14:31
    Permalink

    Sangat setuju! Sekolah aman bencana adalah fondasi penting agar siswa bisa belajar dengan tenang dan selamat. Sukses terus Tunas Hijau! 🏫✨

    Nama: SAFIRA AZZALFA RECHA
    No. Peserta: 0014
    Sekolah: SD KYAI IBRAHIM SURABAYA
    Proyek: PEMANFAATAN LIMBAH PLASTIK UNTUK BUDIDAYA KANGKUNG

    Balas
  • September 3, 2026 pada 14:39
    Permalink

    Sangat bermanfaat sekali

    Balas
  • September 6, 2026 pada 00:19
    Permalink

    – Muhammad Fathan Ramadirgha
    – SDN Ketabang 1/288
    – Nomer Peserta : 111
    – Proyek ” KOLBU ”
    ( Koleksi Lidah Buaya )

    Yuk.. Sosialisasi dan edukasi mengenai sekolah aman gempa harus menjadi prioritas dalam upaya pengurangan risiko bencana.

    Balas
  • September 6, 2026 pada 21:52
    Permalink

    🧒 : Arsyanendra Reynand Alghani
    📋 : 0217
    📝 : Proyek Pengolahan Sampah Organik Berkelanjutan dengan Judul ” Trash For Future, Mengubah Sampah Menjadi Harapan”

    Mengetahui tentang gempa bumi adalah hal yang sangat diperlukan.
    Apalagi untuk sekolah yang aman bagi kegiatan belajar mengajar.
    Di usahakan untuk lebih banyak diadakan simulasi gempa di sekolah, sehingga saat terjadi gempa semua warga sekolah akan memiliki kesiapan dan kesigapan

    Balas
  • September 6, 2026 pada 22:22
    Permalink

    Sependapat, sekolah harus menjadi tempat aman dari bencana.

    Balas
  • September 6, 2026 pada 22:51
    Permalink

    🧒 : Aqilla Naura Lovindra
    📑 : Nomor Peserta 1118
    📝 : Proyek Pengolahan Sampah yg Organik dengan Judul ” Sampah Organik Menjadi Barang Berharga”.

    Sekolah yang aman adalah tempat belajar mengajar yang sangat nyaman bagi semua warga sekolah.
    Oleh sebab itu pentingnya simulasi gempa dan ilmu serta pengetahuan bagi para murid dan ibu guru

    Balas
  • September 8, 2026 pada 20:54
    Permalink

    Saya setuju sekali, sekolah harus menjadi tempat yang aman dari bencana. dan tempat enyelamatkan hidup.

    Nama : Anjani Ringga Anggara
    Sekolah : SDN Nginden Jangkungan 1
    No : 0358
    Judul Proyek : Ecovitaliq

    Balas
  • September 20, 2026 pada 23:10
    Permalink

    Sangat positif dan menginspirasi.

    Balas
  • Oktober 10, 2026 pada 20:44
    Permalink

    NAMA PROYEK: PAHLAWAN MAGGOT & SACIENZ
    NOMOR PESERTA : 0523
    NAMA PESERTA : RIZKY ARIEF PRATAMA
    ASAL SEKOLAH : SMP NEGERI 29 SURABAYA

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *