Sekolah Aman Gempa
Sejarah mencatat bahwa gempa bumi tidak memberikan peringatan. Namun, tingkat kesiapan prosedural sangat menentukan keselamatan penghuni bangunan.
Pada Gempa Meksiko tahun 1985, lebih dari 10.000 jiwa meninggal dunia, termasuk banyak siswa yang terjebak di sekolah. Tragedi yang lebih kelam terjadi pada Gempa Sichuan tahun 2008, ketika ribuan siswa tewas akibat gedung sekolah yang mengalami pancaked (runtuh lapis demi lapis) karena kualitas konstruksi yang buruk.
Di Indonesia, Gempa Cianjur berkekuatan magnitudo 5,6 yang terjadi pada 21 November 2022 juga menjadi pelajaran penting. Hingga 24 November 2022, sekitar 100 anak berusia di bawah 15 tahun dilaporkan meninggal dunia. Sebanyak 2.046 orang mengalami luka-luka, 39 orang dinyatakan hilang, dan 62.882 orang kehilangan tempat tinggal. Pemerintah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, juga melaporkan bahwa 10 guru dan 42 murid meninggal dunia akibat gempa tersebut. Korban didominasi oleh siswa sekolah dasar.
Pelajaran tersebut menunjukkan bahwa kelangsungan hidup di sekolah tidak bergantung pada keberuntungan, melainkan pada penguasaan prosedur keselamatan dalam hitungan detik. Keputusan yang keliru, seperti berlari saat guncangan terjadi, sering kali justru menjadi penyebab utama korban jiwa dibandingkan runtuhnya bangunan itu sendiri.
Memahami bahwa tindakan yang tepat dapat menyelamatkan nyawa merupakan fondasi keselamatan. Agar mampu bertindak efektif, pendidik harus memahami profil risiko di lingkungan sekolah.
Paling tidak terdapat empat alasan mengapa sekolah menjadi lingkungan yang rentan dan berisiko tinggi terhadap gempa. Pertama, kepadatan hunian yang tinggi. Sekolah mengonsentrasikan ratusan hingga ribuan orang dalam satu kawasan sehingga menjaga ketertiban saat kepanikan massal menjadi tantangan besar.
Kedua, bangunan prefabrikasi dan ruang kelas portabel. Banyak sekolah menggunakan bangunan tambahan yang tidak tertanam kuat pada fondasi sehingga lebih rentan bergeser, miring, atau terlepas dari tumpuannya saat terjadi guncangan hebat.
Ketiga, populasi yang rentan. Siswa, terutama anak usia dini, belum memiliki kemampuan menilai risiko (judgment) maupun pengalaman untuk mengambil keputusan secara cepat. Mereka sangat bergantung pada instruksi dan ketenangan guru di dalam kelas.
Keempat, bahaya nonstruktural (proyektil). Ruang kelas dipenuhi rak buku, lemari, peralatan teknologi, dan dekorasi dinding. Tanpa pengamanan yang memadai, benda-benda tersebut dapat berubah menjadi proyektil berbahaya yang mencederai siswa sebelum mereka sempat berlindung.
Sosialisasi dan edukasi mengenai sekolah aman gempa harus menjadi prioritas dalam upaya pengurangan risiko bencana. Terlebih lagi, gempa bumi berpotensi menimbulkan bahaya berantai (earthquake cascading hazards).
Bahaya berantai terjadi ketika satu bahaya utama memicu serangkaian peristiwa sekunder sehingga menciptakan reaksi berantai dengan dampak yang jauh lebih besar daripada bencana awal. Fenomena ini menunjukkan bahwa risiko bencana harus dipahami sebagai interaksi antara sistem fisik, sosial, dan infrastruktur yang saling berkaitan.
Gempa bumi dapat memicu rantai bencana melalui konsep earthquake cascading hazards. Dalam kondisi ini, satu guncangan awal memicu berbagai bencana susulan yang dampaknya dapat lebih mematikan daripada gempa itu sendiri.
Rantai bencana dapat dibedakan menjadi tiga jenis.
Pertama, kaskade fisik-geologi (alam ke alam). Gempa dapat memicu longsor yang menyumbat aliran sungai hingga membentuk bendungan alami. Ketika bendungan tersebut jebol, banjir bandang dapat mengancam kawasan hilir, sebagaimana terjadi pada Gempa Wenchuan tahun 2008. Gempa juga dapat memicu pergeseran tanah, tsunami, dan likuefaksi seperti yang terjadi di Palu pada tahun 2018.
Kedua, kaskade infrastruktur dan teknologi (alam ke manusia). Guncangan gempa dapat merusak jaringan utilitas sehingga memicu kegagalan sistemik. Contohnya adalah pecahnya pipa gas dan putusnya kabel listrik yang memicu kebakaran besar pada Gempa Kobe, Jepang, tahun 1995. Jika pada saat yang sama jaringan air bersih rusak, petugas pemadam kebakaran kehilangan sumber air sehingga kebakaran menjadi semakin sulit dikendalikan. Contoh ekstrem lainnya adalah Gempa Fukushima tahun 2011 yang memicu tsunami, kemudian menyebabkan kegagalan sistem pendingin reaktor nuklir dan kebocoran radiasi.
Ketiga, kaskade sosial-ekonomi dan kesehatan (dampak jangka panjang). Dampaknya dapat berlangsung selama berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun. Kerusakan fasilitas sanitasi dan air bersih pascagempa dapat memicu wabah penyakit menular, seperti kolera di Haiti pada tahun 2010. Kondisi tersebut kemudian dapat berkembang menjadi kelangkaan pangan, migrasi massal, hingga krisis pengungsi.
Oleh karena itu, sosialisasi dan pengenalan bahaya kaskade gempa, asesmen cepat terhadap kondisi bangunan, serta peningkatan kesiapsiagaan sekolah menjadi langkah yang sangat krusial dalam upaya mengurangi risiko bencana dan menyelamatkan nyawa.
——–
WEBINAR NASIONAL SERI#307 “SEKOLAH DAN MADRASAH AMAN GEMPA”
Sabtu, 1 Agustus 2026 pukul 12.00-15.00 WIB
melalui Zoom dan Live YouTube TunasHijauID
Narasumber:
1. Yuni Dwi Trisnowati, S.Kom, M. M.B (Mitigasi, Pelayanan Data Informasi dan Geopotensial Stageof Sleman)
2. Dr. Ir. Amien Widodo, M.Si (Peneliti Senior Puslit Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim ITS dan Dosen Teknik Geofisika ITS)
3. Dr.Eng. Aniendhita Rizki Amalia, ST, MT (Dosen Teknik Sipil ITS)
Moderator:
1. Messa Eko Putri (Putri 2 LH SD 2025; Siswi SDN Airlangga I Surabaya)
2. Nayla Thalita Azzahra (Putri 5 LH 2025 SD; Siswi SMPN 4 Surabaya)
3. Padizha Nikeisyandria Aisyzarra (Putri Lingkungan Hidup 2025 SMP; Siswi SMPN 4 Surabaya)
Pendaftaran gratis melalui https://bit.ly/sekolah-madrasah-aman-gempa-2026
Setiap peserta terdaftar dan mengisi daftar hadir, akan mendapatkan sertifikat peserta.
Penulis: Amien Widodo


Sekolah harus menjadi tempat yang aman, termasuk saat terjadi bencana gempa. Banyak korban jiwa pada berbagai gempa besar di dunia bukan hanya disebabkan oleh kuatnya guncangan, tetapi juga karena kurangnya kesiapsiagaan, kualitas bangunan yang tidak memadai, dan ketidaktahuan mengenai prosedur penyelamatan diri. Oleh karena itu, pendidikan mitigasi bencana perlu menjadi bagian dari budaya sekolah, bukan hanya dipelajari saat terjadi bencana.
Saya juga belajar bahwa gempa dapat memicu bahaya berantai, seperti tsunami, longsor, kebakaran, hingga gangguan terhadap layanan air bersih dan kesehatan. Hal ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari bangunan yang aman, jalur evakuasi yang jelas, simulasi bencana secara berkala, hingga kemampuan seluruh warga sekolah untuk mengambil keputusan dengan cepat dan tepat saat keadaan darurat.
Menurut saya, setiap sekolah di Indonesia sebaiknya memiliki program Sekolah Aman Gempa yang melibatkan guru, siswa, dan orang tua. Dengan latihan yang dilakukan secara rutin, siswa akan lebih siap menghadapi situasi darurat tanpa panik. Pengetahuan tentang mitigasi bencana merupakan investasi penting untuk melindungi generasi muda dan mengurangi risiko korban jiwa di masa depan.
Nama: Harley Fatahillah Yodhaloka Sunoto
Sekolah: SMP Negeri 1 Surabaya
No. Urut: 285
Proyek: Mangrove Warrior dan EcoGeniuz Pillow
🔥🔥🔥
Adrian Ramadhansyah Wicaksana
SDN Kebonsari I Surabaya
Melalui artikel tersebut, sudah jelas tempat fasilitas umum seperti halnya sekolah merupakan salah satu tempat yang rawan memakan korban dalam jumlah yang banyak apabila terjadi gempa. Untuk itu perlu diperhatikan dari berbagai aspek seperti halnya pembangunan sekolah harusnya memiliki standar struktur bangunan yang anti gempa. Disamping itu juga perlu adanya respon yang cepat dalam pemulihan setelah pasca gempa. Semoga penerapan standarisasi bangunan anti gempa untuk bangunan fasilitas umum seperti sekolah dapat dilaksanakan di seluruh daerah secara merata terutama pada daerah yang rawan gempa. Dan tidak lupa edukasi dan simulasi secara berkala di setiap kalangan supaya masyarakat tau cara merespon apabila musibah gempa terjadi.
Nama: Arroyan Quinsha Zahwa
Asal sekolah: SMPN 19 Surabaya
Proyek lingkungan: RECAP! (Recycle the Cap!)
Proyek lingkungan yang saya kembangkan yaitu RECAP! Singkatan dari Recycle The Cap. Yaitu sebuah inisiatif saya untuk mengolah sampah plastik berjenis HDPE & PP khususnya pada tutup botol plastik, menjadi berbagai produk baru yang bermanfaat dengan cara dilelehkan & dibentuk ulang.
🌱Salam Bumi, Pasti Lestari!🌱
Akibat Gempa yg tidak diantisipasi mengakibatkan timbulnya korban jiwa juga materi pastinya.
Dengan adanya literasi seperti ini bisa membantu kita semuanya mengetahui cara2 mengantisipasinya.
Marshall Dastan PR
SMP negeri 1 Surabaya
Project : Komandan
No peserta : 289
Pembekalan tindakan untuk mengantisipasi bila terjadi gempa sangat penting diberikan terutama kepada anak-anak usia sekolah karena mereka bisa melakukan tindakan untuk keselamatan mereka.
Muhammad Fajrul Mubarok, SDN Kejawan Putih I/243, proyek “budidaya aloevera untuk sekolah hijau”
Pembekalan tindakan untuk mengantisipasi bila terjadi gempa sangat penting diberikan terutama kepada anak-anak usia sekolah karena mereka bisa melakukan tindakan untuk keselamatan mereka.
Muhammad Fajrul Mubarok, SDN Kejawan Putih I/243, proyek “budidaya aloevera untuk sekolah hijau”
“Tim Tunas Hijau memang ga pernah capek buat bumi. Terima kasih udah jadi inspirasi”
🌎🌱💚
Terimakasih Tunas Hijau sudah menanamkan rasa aman dan bekal penting untuk mereka. Surabaya bangga pnya kalian💚🌎
Salut sma Tunas Hijau,,,, semangat terus Mari dukung bersama 💚💪
Hai…teman-teman sahabat lingkungan! Perkenalkan, saya Alesya Zahra Santosa salah satu peserta pemilihan Puteri Lingkungan Hidup 2026 dari SDN Kertajaya,Nomor Peserta 0164
💚Judul Proyek saya adalah Hijaunya Sirihku Hijaunya Bumiku🌿🌿🌿
Artikel ini memberikan peringatan yang sangat kuat mengenai pentingnya keselamatan bangunan dan prosedur tanggap bencana di lingkungan sekolah,karena sekolah adalah tempat berkumpulnya kelompok yang rentan yaitu anak anak dan tenaga pendidik.
Kewaspadaan terhadap gempa sangat penting untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan tanggap bencana.
🏫🌏
Nama: Nadia Hibatillah Amalia
No. Peserta: 0112
Asal Sekolah: SDN Jemurwonosari I Surabaya
Judul Proyek: Cangkang Telur
Terima kasih Tunas Hijau sudah memberikan edukasi yang bermanfaat tentang kesiapsiagaan menghadapi gempa. 🌏
Nama: Amritha Hafsah Rheva Ramadhina
No. Peserta: 002
Sekolah: SD Al Uswah 2 Surabaya
Proyek: PELITA OBAT (Pengelola Limbah Tangguh Obat Keluarga)
Artikel yang sangat penting dan edukatif mengenai konsep Sekolah Aman Gempa. Kesiapsiagaan struktural, penyusunan jalur evakuasi, serta simulasi kebencanaan yang terencana adalah kunci utama dalam menciptakan ekosistem sekolah yang aman dan tangguh bagi seluruh warga sekolah.
Mewujudkan lingkungan sekolah yang aman dari bencana gempa bumi ini sangat selaras dengan komitmen saya di Tahap II Putri Lingkungan Hidup 2026 melalui proyek PELITA OBAT. Mitigasi non-struktural saat terjadi guncangan gempa tidak hanya berfokus pada perabotan besar, tetapi juga penataan ruang UKS dan laboratorium sekolah. Persediaan maupun limbah obat-obatan cair dan padat yang tidak tertata atau tersimpan aman berisiko jatuh, pecah, serta menimbulkan kontaminasi zat kimia berbahaya saat gempa terjadi. Melalui proyek ini, saya terus mengedukasi warga sekolah dan keluarga mengenai manajemen penyimpanan, pemilahan, dan pembuangan limbah obat yang aman agar lingkungan sekolah benar-benar tangguh bencana serta terlindungi dari bahaya paparan zat kimia.
Mari wujudkan sekolah yang aman, siaga bencana, dan berbudaya lingkungan demi keselamatan bersama!
Salam Bumi, Pasti Lestari! 🌿✨
Sekolah Aman Gempa
Webinar yang sangat bermanfaat perlunya Sosialisasi dan edukasi mengenai sekolah aman gempa harus menjadi prioritas dalam upaya pengurangan risiko bencana
🌿✨ PROYEK: SERASIKU (Sereh Asri Inspirasi Kreativitas Usaha) ✨🌿
🪴 Aksi Menanam Bibit Sereh
👧 Nama:Naysia Aqila Andriani
🆔 No. Peserta:1298
🏫 Sekolah:SDN Ngagelrejo III/398
🌿 Proyek:SERASIKU (Sereh Asri Inspirasi Kreativitas Usaha)
“Satu langkah kecil hari ini, sejuta manfaat untuk bumi di masa depan.”🌱💚
Webinar ini menjadi media untuk sosialisasi secara national dan pengenalan bahaya kaskade gempa, asesmen cepat terhadap kondisi bangunan, serta peningkatan kesiapsiagaan sekolah menjadi langkah yang sangat krusial dalam upaya mengurangi risiko bencana dan menyelamatkan nyawa.
Ezra Akbar “Eco Warrior JWS 1” siap beraksi untuk menyelamatkan bumi dengan eco enzyme.
Saya mengolah sampah organik seperti kulit nanas/ kulit buah lainnya menjadi eco enzyme. Manfaat eco enzyme sangat banyak salah satunya untuk kesehatan. Eco enzyme bisa digunakan sebagai antiseptic dan desinfektan.
Sehat Jiwa Raga dengan eco enzyme.
🧒 Ezra Akbar Ulumuddin
♻️Mengolah Sampah Organik menjadi eco enzyme.
🏫SDN Jemurwonosari 1 Surabaya
🆔Nomor Peserta 057
wah, selain webinar harus lebih sering diadakan simulasi penyelamatan diri dari gempa bumi di sekolah. mungkin dapat dilakukan bergiliran di sekolah-sekolah yang ada di surabaya
Deandra Ahmed Al Farizzi
055
SDN Jemur Wonosari 1
MAGMED “Maggot Hebat Karya Ahmed”
Sesi webinar yang menarik terkait penyelamatan nyawa ketika gempa
Lebih menarik lagi apabila dilaksanakan simulasi penyelamatan
Pendidik berperan sebagai pelindung fisik, pendamping psikologis, dan agen edukasi keselamatan sebelum, sesaat, dan setelah bencana gempa bumi terjadi. Di dalam ekosistem sekolah, guru adalah penentu utama keselamatan siswa melalui kesiapsiagaan yang terencana.
Nama : shanum Farzana Althaf
Sekolah : SDN Kandangan 3
No peserta : 136
Webinar seperti ini menjadi media untuk sosialisasi pengenalan bahaya kaskade gempa, agar dapat meminimalisir akibat yang ditumbulkan bencana tersebut.
Nama : Muhammad Usman Dzikrullah
No Peserta : 61
Sekolah : SDN Jemurwonosari I Surabaya
Proyek : Pengolahan Sampah Organik Menjadi Ecoenzim