Investasi Hijau dan Gerakan Tobat Ekologis, Menteri Jumhur Ajak Dunia Usaha Percepat Pemulihan Lingkungan
Pemulihan lingkungan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Dunia usaha, masyarakat, akademisi, media, hingga seluruh elemen bangsa perlu bergandengan tangan melalui aksi nyata, mulai dari investasi hijau hingga rehabilitasi ekosistem.
Semangat inilah yang kembali ditegaskan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Moh Jumhur Hidayat, saat melakukan penanaman mangrove di Desa Labuhan Alas, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Selasa (7/7/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Jumhur mengajak seluruh pelaku usaha untuk berpartisipasi aktif dalam memulihkan lingkungan melalui investasi hijau sebagai bagian dari gerakan pertobatan ekologis. Upaya ini sekaligus mendukung target nasional penanaman dua miliar pohon menuju Indonesia Asri.
Menurut Menteri Jumhur, pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama pemerintah, dunia usaha, masyarakat, akademisi, media, dan seluruh elemen bangsa.
“Melalui semangat tobat ekologis dan sinergi biru, kita bersama-sama membangun Indonesia yang lebih ASRI, bersih, dan lebih tangguh menghadapi perubahan iklim,” kata Menteri Jumhur.
Ia menjelaskan bahwa gerakan penanaman mangrove merupakan bagian dari pertobatan ekologis nasional sebagai refleksi atas berbagai aktivitas manusia yang selama ini kurang memperhatikan kelestarian lingkungan.
“Kegiatan mangrove dan menanam rupa-rupa tanaman merupakan bagian dari pertobatan ekologis nasional. Secara tidak langsung pertobatan kita kepada Tuhan atas langkah-langkah atau kerja yang sering kali mengabaikan lingkungan,” ujar Menteri Jumhur.
Indonesia memiliki sekitar 23 persen ekosistem mangrove dunia yang berfungsi sebagai benteng alami kawasan pesisir dari abrasi, gelombang tinggi, dan intrusi air laut. Selain itu, mangrove merupakan penyerap karbon biru (blue carbon) yang mampu menyimpan karbon tiga hingga lima kali lebih besar dibandingkan hutan daratan. Di Provinsi Nusa Tenggara Barat, rehabilitasi mangrove telah dilakukan pada sekitar 473 hektare yang tersebar di 12 lokasi.
Menteri Jumhur berharap rehabilitasi mangrove di Labuhan Alas dapat menjadi contoh keberhasilan pemulihan ekosistem berbasis kolaborasi yang dapat diterapkan di berbagai daerah.
“Saya berharap kegiatan rehabilitasi mangrove di Labuhan Alas menjadi contoh keberhasilan pemulihan ekosistem berbasis kolaborasi yang dapat direplikasi di berbagai wilayah Indonesia sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia terhadap aksi iklim global dan pembangunan berkelanjutan,” tuturnya.
Selain itu, Menteri Jumhur mengimbau dunia usaha agar tidak ragu mengalokasikan sebagian sumber daya perusahaan untuk mendukung pemulihan lingkungan.
“Saya mengimbau kepada seluruh pelaku usaha dan sektor swasta lainnya di Indonesia untuk mengikuti jejak baik ini. Jangan ragu untuk menginvestasikan sebagian sumber daya perusahaan Anda bagi pemulihan lingkungan,” ujarnya.
Menurut Menteri Jumhur, kerusakan lingkungan merupakan tanggung jawab kolektif sehingga upaya pemulihannya juga harus dilakukan secara bersama-sama. Ia meyakini bahwa gerakan menanam pohon akan membangun kesadaran baru untuk menjaga hutan dan lingkungan.
“Ini merupakan bagian dari pertobatan ekologis nasional. Karena kalau kita sudah menanam pohon maka pasti tidak mau besok kita merusak hutan lagi. Bahkan jadinya kita mau menanam, menanam, dan menanam pohon terus,” pungkas Menteri Jumhur.


Menurut saya, ajakan untuk berinvestasi hijau dan menerapkan gerakan tobat ekologis merupakan langkah yang sangat baik. Dengan melibatkan dunia usaha, upaya pemulihan lingkungan dapat berjalan lebih cepat dan memberikan manfaat bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.
Support.
Salam dari saya (Marista)
Salam Bumi Pasti Lestari 🌍🌱💪🏻
😄