Semanggi: Tanaman Air yang Bukan Sekadar Lalapan

Semanggi merupakan nama yang digunakan untuk beberapa jenis tumbuhan berdaun empat anak daun, tetapi yang dikenal luas sebagai semanggi air di Indonesia adalah Marsilea spp., terutama Marsilea crenata.

Tanaman ini termasuk kelompok paku air, bukan tanaman berbunga seperti kacang-kacangan. Semanggi dapat tumbuh di lingkungan berair atau tanah yang lembap, termasuk persawahan dan perairan dangkal. Bentuk daunnya yang khas membuat tanaman ini mudah dikenali dan menjadi bagian dari keanekaragaman tumbuhan lahan basah.

Di Surabaya, Jawa Timur, semanggi juga memiliki hubungan erat dengan kuliner tradisional. Daun semanggi digunakan sebagai bahan utama pecel semanggi, makanan yang disajikan bersama sayuran dan saus kacang dengan cita rasa khas.

Tradisi mengonsumsi semanggi menunjukkan bahwa tumbuhan yang tumbuh di lingkungan persawahan dapat memiliki nilai pangan dan budaya sekaligus. Karena itu, semanggi bukan hanya menarik dari sisi botani, tetapi juga merupakan bagian dari pengetahuan pangan lokal yang patut dijaga.

Masyarakat kampung semanggi di Surabaya barat sedang memanen semanggi untuk dihidangkan

Dari sisi gizi, daun semanggi mengandung berbagai zat gizi dan senyawa bioaktif. Penelitian mengenai Marsilea crenatamenunjukkan adanya kandungan mineral, vitamin, protein, serat, serta senyawa seperti flavonoid dan fenolik.

Komposisinya dapat berbeda tergantung bagian tanaman, umur tanaman, kondisi tanah, serta lingkungan tempat tumbuhnya. Artinya, semanggi memiliki potensi sebagai salah satu sumber pangan nabati, meskipun tentu bukan berarti dapat memenuhi seluruh kebutuhan gizi manusia sendirian.

Semanggi juga menarik perhatian peneliti karena kandungan senyawa antioksidan di dalamnya. Antioksidan merupakan senyawa yang dapat membantu menangkal atau menghambat proses oksidasi yang melibatkan radikal bebas.

Sejumlah penelitian laboratorium terhadap ekstrak Marsilea menunjukkan aktivitas antioksidan dan aktivitas biologis lainnya. Namun, masyarakat perlu membedakan antara aktivitas antioksidan yang terukur pada ekstrak di laboratorium dengan bukti bahwa mengonsumsi semanggi secara langsung dapat mencegah atau menyembuhkan penyakit tertentu.

Potensi semanggi sebagai tanaman herbal juga masih terus dipelajari. Beberapa penelitian praklinis terhadap Marsileamelaporkan aktivitas seperti antiinflamasi, antimikroba, atau efek biologis lainnya. Akan tetapi, bukti tersebut belum cukup untuk menyebut semanggi sebagai obat untuk penyakit tertentu pada manusia. Penelitian dengan kualitas lebih tinggi, termasuk penelitian klinis, tetap diperlukan untuk mengetahui manfaat, dosis, keamanan, dan kemungkinan interaksi dengan obat.

Hal yang sangat penting diketahui masyarakat adalah tempat tumbuh semanggi menentukan keamanan konsumsinya. Tanaman yang tumbuh di sawah atau perairan dapat terpapar pestisida, logam berat, mikroorganisme, atau pencemar lainnya. Karena itu, semanggi untuk konsumsi sebaiknya berasal dari sumber yang diketahui bersih, dicuci dengan baik, dan diolah secara higienis. Jangan mengambil tanaman liar dari saluran air tercemar hanya karena bentuknya menyerupai semanggi yang biasa dimakan.

Semanggi juga memiliki nilai ekologis. Sebagai tumbuhan yang berasosiasi dengan lingkungan basah, keberadaannya menjadi bagian dari ekosistem lahan basah yang menyediakan habitat bagi berbagai organisme.

Namun, kita juga perlu memastikan identifikasi jenisnya dengan benar karena nama lokal “semanggi” dapat digunakan untuk tanaman yang berbeda. Jangan mengonsumsi tanaman liar hanya berdasarkan nama atau kemiripan bentuknya.

Pada akhirnya, semanggi menunjukkan bahwa tanaman pangan lokal dapat memiliki nilai gizi, budaya, ilmiah, dan ekologis sekaligus. Dari semangkuk pecel semanggi, masyarakat sebenarnya dapat belajar tentang keanekaragaman hayati, tradisi pangan, hingga pentingnya menjaga kualitas lingkungan tempat tanaman pangan tumbuh. Semanggi bukan sekadar daun untuk dimakan, tetapi bagian dari kekayaan hayati dan budaya yang layak dikenal, diteliti, dimanfaatkan secara bijak, dan dilestarikan. (*/Mochamad Zamroni)

7 thoughts on “Semanggi: Tanaman Air yang Bukan Sekadar Lalapan”

  • Oktober 9, 2026 pada 07:59
    Permalink

    Saya suka sekali semanggi 😍
    Makanan khas Surabaya yang tidak boleh dilewatkan kalo sedang jalan-jalan ke Taman Bungkul atau Masjid Al Akbar Surabaya.
    Ezra Akbar “Eco Warrior JWS 1” siap beraksi untuk menyelamatkan bumi dengan eco enzyme.
    Saya mengolah sampah organik seperti kulit nanas/ kulit buah lainnya menjadi eco enzyme. Manfaat eco enzyme sangat banyak salah satunya untuk kesehatan. Eco enzyme bisa digunakan sebagai antiseptic dan desinfektan.
    Sehat Jiwa Raga dengan eco enzyme.
    🧒 Ezra Akbar Ulumuddin
    ♻️Mengolah Sampah Organik menjadi eco enzyme.
    🏫SDN Jemurwonosari 1 Surabaya
    🆔Nomor Peserta 057

    Balas
  • Oktober 9, 2026 pada 08:36
    Permalink

    Artikel yang sangat informatif! Senang sekali bisa membaca ulasan tentang semanggi yang tidak hanya mengulik dari sisi kuliner khas Surabaya, tetapi juga potensi gizi dan aspek budayanya. Penting banget untuk terus melestarikan pangan lokal dan pengetahuan botani tradisional seperti ini. Terima kasih Tunas Hijau sudah membagikan wawasan yang bermanfaat!

    🧒Nama : Nizam Nakhla Hartono
    📄No.peserta : 0697
    🏫Sekolah : SDN NGAGELREJO III/398
    🌱Proyek : KOMPAS ( Kompos Pasar Sehat)

    Balas
  • Oktober 9, 2026 pada 14:04
    Permalink

    Wah, ternyata semanggi bukan sekadar bahan pecel khas Surabaya, tetapi juga menyimpan kekayaan gizi, nilai budaya, dan manfaat ekologis yang luar biasa!

    Dari hamparan lahan basah hingga tersaji menjadi kuliner tradisional, semanggi mengajarkan kita bahwa alam menyediakan banyak potensi yang patut disyukuri dan dijaga. Di balik daun mungilnya, tersimpan kearifan lokal, pengetahuan tentang pangan, serta keanekaragaman hayati yang menjadi kebanggaan masyarakat Surabaya.

    Yuk, kita lestarikan semanggi dengan menjaga kebersihan lingkungan, melindungi habitat lahan basah, dan mendukung para petani lokal. Jangan sampai kekayaan alam dan kuliner khas daerah hilang karena kita lalai merawatnya.

    Bangga dengan semanggi Surabaya! Mari jaga alamnya, lestarikan budayanya, dan wariskan kekayaan hayati ini kepada generasi mendatang. Karena mencintai kuliner lokal juga berarti ikut menjaga lingkungan tempatnya tumbuh.

    Nama: Alesheea Farzana Nayyara
    Proyek: PELITA (Pengolahan Limbah Minyak Jelantah)
    Asal Sekolah : SDN Semolowaru I/261 Surabaya
    Nomor peserta: 0424

    Balas
  • Oktober 9, 2026 pada 20:07
    Permalink

    Di balik helai-helai hijaunya yang menyerupai payung kecil, semanggi mengajarkan kita untuk bertahan. Ia tumbuh di sela pematang dan air, bukan sekadar pelengkap piring, tapi penyimpan kisah tradisi

    SALAM BUMI SALAM LESTARI 🌍🌳

    Nama : Azzahra Septialika Dewi
    No peserta : 1304
    Sekolah : SDN NGAGEL REJO III Surabaya
    Proyek : SIKUBU (solusi inovatif kulit buah)

    Balas
    • Oktober 9, 2026 pada 21:15
      Permalink

      Semanggi adalah makanan khas dari surabaya.
      Banyak anak anak yang bahkan tidak tau apa itu semanggi. dengan adanya tu as hijau yang tidak langsung memperkenalkan nya adalah bentuk peduli tunas hijau kepada anak anak kita.
      Terima kasih tunas hijau
      Keren sekali program program dari tunas hijau yang selalu memikirkan tentang anak anak dan generasi muda hebat.

      Nama : ar ransi mahanipuna rajendra
      Asal sekolah : sdn keputih 245
      No peserta : 0099

      Balas
  • Oktober 9, 2026 pada 21:53
    Permalink

    Waaah
    Ternyata semanggi banyak manfaatnya ya.
    Awal pertama kali tau semanggi waktu olah raga di Balai Kota ada ibu2 jualan di depan sambil bawa gendongan
    Ternyata olahan daun semanggi ditambah bumbu dan kerupuk itu enak banget dimakan setelah olah raga pagi.
    Cobain deh teman2 spy kita selai sehat juga mengenal makanan khas surabaya.

    Marshall Dastan PR
    Asal Sekolah: SMP Negeri 1 Surabaya
    No Peserta: 289
    Project : KOMANDAN

    Balas
  • Oktober 9, 2026 pada 22:03
    Permalink

    Menarik ternyata semanggi bukan sekedar lalapan, tetapi juga tanamanair yang menarik dan memiliki nilai manfaat. 🌿

    Aqeel tsani ramadhan/ 051
    SDN Jemurwonosari 1/417 surabaya
    “Pengelolaan sampah organik dengan maggot”.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *