Dari Bank Sampah hingga Forum ASEAN, Anak Muda Bergerak untuk Iklim

Perubahan iklim tidak selalu dimulai dari ruang konferensi. Ia bisa berawal dari tangan anak muda yang memilah sampah, membawa tumbler, mengajak teman bergerak, membuat konten di media sosial, hingga berani menyuarakan aspirasi di forum internasional.

Pesan itulah yang mengemuka dalam Diskusi Panel 2 Cengkerama Iklim yang menghadirkan tiga sosok muda dengan jalur aksi berbeda: Rizana Hasna Yusuf, S.T. dari Bank Sampah Induk Surabaya, Anastasya Laila Definia Salsabila, delegasi Indonesia dalam ASEAN Children and Youth Climate Summit 2025, serta Benedict Wermter, co-founder and director Komunitas Edukasi Lingkungan Fobi yang dikenal melalui akun @bule_sampah.

Ketiganya menunjukkan bahwa menjadi generasi muda di tengah krisis iklim bukan berarti hanya menunggu dan menerima dampak. Anak muda dapat memilih untuk bergerak, mengajak, memengaruhi, bahkan menyuarakan perubahan. Dari lingkungan sekitar hingga forum regional ASEAN, ruang untuk beraksi selalu terbuka ketika kepedulian tidak berhenti sebagai pengetahuan.

Rizana Hasna Yusuf, S.T. atau Kak Hasna, mengawali cerita dari pengalaman pribadinya di Bank Sampah Induk Surabaya. Ia mengaku baru mulai menyadari pentingnya kepedulian terhadap lingkungan ketika duduk di bangku kuliah. Kesadaran tersebut kemudian berkembang menjadi keterlibatan dalam gerakan pengelolaan sampah dan kepemimpinan lingkungan.

Bagi Hasna, persoalan lingkungan tidak bisa hanya diserahkan kepada pemerintah, profesor, atau ilmuwan. “Bencana-bencana alam yang terjadi itu bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, atau bukan hanya menjadi tanggung jawab profesor atau ilmuwan, tapi itu adalah tanggung jawab kita bersama, khususnya sebagai anak muda,” ujarnya. Ia mengajak generasi muda melihat dirinya bukan sebagai penonton, melainkan sebagai bagian dari solusi.

Modal anak muda, menurut Hasna, juga tidak selalu berupa uang. Waktu, energi, kreativitas, kemampuan beradaptasi dengan teknologi, dan keberanian untuk mencoba merupakan kekuatan yang sangat besar. Karena itu, aksi tidak harus menunggu memiliki sumber daya besar. Membawa tumbler, mengurangi kantong plastik, memilah sampah, hingga mengajak warga membangun bank sampah dapat menjadi pintu masuk gerakan.

Anastasya Laila, delegasi Indonesia dalam ASEAN Children and Youth Climate Summit di Malaysia bersama UNICEF Indonesia, berbagi pengalamannya

Agar aksi tersebut berkembang, Hasna menawarkan tiga strategi: edukasi kreatif, kolaborasi lintas sektor, dan advokasi kebijakan. Dari kebiasaan pribadi, aksi dapat diperluas ke komunitas, kemudian diperkuat melalui media sosial dan jejaring kolaborasi. “Jadi, dimulai dulu aja dari kita,” pesannya. Sebab, perubahan besar sering kali memiliki titik awal yang sangat sederhana.

Dari Surabaya, cerita kemudian bergerak ke panggung ASEAN bersama Anastasya Laila Definia Salsabila. Pada 2025, Anastasya berkesempatan menjadi delegasi Indonesia dalam ASEAN Children and Youth Climate Summit di Malaysia bersama UNICEF Indonesia. Forum tersebut mempertemukan anak dan pemuda dari berbagai negara ASEAN untuk berbagi pengalaman dan menyuarakan perspektif generasi muda mengenai perubahan iklim.

Kesempatan itu kemudian membuka ruang yang lebih luas. Anastasya terpilih menjadi bagian dari Task Force yang menyusun Langkawi Declaration, deklarasi yang memuat suara dan aspirasi pemuda untuk disampaikan dalam ASEAN Ministerial Meeting di Langkawi pada 4 Oktober 2025. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa suara anak muda yang tumbuh dari aksi dan pengalaman di lapangan dapat menempuh perjalanan hingga forum pengambilan keputusan tingkat regional.

“Pemuda itu tidak hanya terdampak, tapi kita tuh juga bisa menjadi penggerak solusi,” jelas Anastasya. Baginya, perjalanan tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba. Komunitas, jejaring, kolaborasi, pengalaman di lapangan, dan keberanian menyampaikan gagasan menjadi bagian dari proses. Yang lebih penting, suara pemuda tidak boleh berhenti setelah forum selesai, tetapi harus kembali diwujudkan dalam aksi nyata.

Sementara itu, Benedict Wermter membawa diskusi pada kekuatan komunikasi publik. Co-founder and director Komunitas Edukasi Lingkungan Fobi yang dikenal melalui akun @bule_sampah tersebut memperkenalkan gagasan “waste-influencing”, yakni bagaimana pengaruh di media sosial dapat digunakan untuk mendorong perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah. Anak muda, menurutnya, tidak harus menjadi influencer untuk tujuan komersial. Platform digital juga dapat digunakan untuk mengajak lebih banyak orang hidup dengan lebih sedikit sampah.

Benedict menyoroti persoalan yang sangat dekat dengan keseharian masyarakat, mulai dari ketergantungan terhadap plastik sekali pakai hingga kebiasaan membakar sampah yang berpotensi mencemari udara. Karena itu, penyelesaian persoalan sampah perlu dimulai dari hulu dengan memperkuat prinsip reduce, reuse, dan recycle. Membawa botol minum sendiri, menggunakan tas belanja berulang kali, serta menolak kantong plastik sekali pakai menjadi contoh aksi sederhana yang dapat dilakukan siapa pun.

“Perubahan itu tidak harus dimulai dari hal yang besar,” ujar Benedict. Ketika satu orang memulai, orang lain dapat mengikuti. Ketika dilakukan bersama, kebiasaan dapat menjadi gerakan. Dan ketika gerakan diperkuat oleh komunitas, media sosial, serta kolaborasi dengan berbagai pihak, aksi lingkungan dapat menjangkau lebih banyak orang.

Benedict Wermter dikenal dengan akun medsos @bule_sampah membawa diskusi pada kekuatan komunikasi publik.

Tiga cerita dalam Diskusi Panel 2 Cengkerama Iklim tersebut memperlihatkan satu benang merah: anak muda tidak harus menunggu menjadi dewasa untuk menjadi penggerak perubahan. Ada yang memulai dari bank sampah, ada yang membawa suara pemuda ke forum ASEAN, dan ada yang memanfaatkan media sosial untuk memengaruhi perilaku masyarakat. Gagasan itu kemudian tidak dibiarkan berhenti di ruang diskusi.

Pada hari kedua Cengkerama Iklim, besok Minggu ( bpeserta akan diajak turun langsung melalui aksi bersih pantai, pengumpulan dan pemilahan sampah, serta edukasi lingkungan di Pantai Kenjeran, Bulak. Dari ruang diskusi menuju pantai, dari gagasan menuju tindakan—karena perubahan iklim membutuhkan bukan hanya orang yang peduli, tetapi juga orang yang mau bergerak.

Penulis: Esterina Christyn Febyanti Suharto
Foto-foto: Vega Selafrinanda

30 thoughts on “Dari Bank Sampah hingga Forum ASEAN, Anak Muda Bergerak untuk Iklim”

  • September 19, 2026 pada 23:46
    Permalink

    Artikel yang sangat membuka mata….
    Sering kali kita merasa aksi kecil kita tidak ada artinya, padahal perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah sederhana di keseharian bisa dimulai dari lingkungan sekolah, komunitas, hingga pemanfaatan media sosial secara bijak.
    Bukti bahwa anak muda bukan cuma pihak yang terdampak, tapi juga motor penggerak solusi iklim, Semangat Semuanya..

    Achmad Brian Al Virendra ( BRIAN)
    SDN SEMOLOWARU 1/261
    NO. Peserta : 229
    Proyek : Budidaya Si Batang Harum SERAYA ( Serai Rakyat Surabaya)

    Balas
  • September 20, 2026 pada 07:28
    Permalink

    Terima kasih untuk para generasi muda yang sudah mampu menyuarakan perubahan perilaku dalam mencintai Bumi. Perlu juga dukungan semua pemerintah daerah, khususnya di garda terdepan pemerintah (camat dan lurah/kepala desa) karena memiliki keunikan tertentu yang tidak bisa diseragamkan di semua wilayah. Disisi lain R&D utk produk yg lebih ramah lingkungan sangat ditunggu utk mengurangi produk sekali pakai.

    Balas
    • September 23, 2026 pada 20:29
      Permalink

      Kisah perjalanan dari bank sampah di tingkat komunitas hingga mampu membawa gagasan lingkungan ke forum ASEAN menjadi pengingat bagi saya bahwa perubahan tidak harus menunggu kita menjadi besar. Perubahan bisa dimulai dari rumah, sekolah, dan kampung tempat kita berada. 🌏💚

      Bagi saya, menjadi generasi muda peduli lingkungan bukan hanya tentang berbicara, tetapi tentang berani memulai, konsisten melakukan, dan mengajak lebih banyak orang untuk bergerak bersama.

      Terima kasih Tunas Hijau atas kisah yang begitu menginspirasi.

      Nama : Nadia Hibatillah Amalia
      Sekolah : SDN Jemurwonosari I/417 Surabaya
      Proyek : Pengelolaan Cangkang Telur
      No Peserta : 0112

      Balas
  • September 20, 2026 pada 07:29
    Permalink

    Terima kasih untuk para generasi muda yang sudah mampu menyuarakan perubahan perilaku dalam mencintai Bumi. Perlu juga dukungan semua pemerintah daerah, khususnya di garda terdepan pemerintah (camat dan lurah/kepala desa) karena memiliki keunikan tertentu yang tidak bisa diseragamkan di semua wilayah. Disisi lain R&D utk produk yg lebih ramah lingkungan sangat ditunggu utk mengurangi produk sekali pakai.

    Balas
  • September 20, 2026 pada 23:00
    Permalink

    Luar biasa, semoga terus berlanjut.

    Balas
  • September 21, 2026 pada 07:08
    Permalink

    Luar biasa! Membuktikan kalau aksi iklim tidak harus selalu besar dan jauh. Mulai dari Bank Sampah di sekolah dan lingkungan sendiri, sampai bisa bersuara di Forum ASEAN. Ini bukti nyata anak muda Indonesia bukan hanya pewaris masa depan, tapi juga pemimpin masa kini untuk iklim. Salut untuk Tunas Hijau ID yang terus mewadahi gerakan ini!

    Balas
  • September 21, 2026 pada 22:38
    Permalink

    Artikel ini menggambarkan dengan jelas spektrum aksi iklim generasi muda: bergerak secara akar rumput (lokal) sekaligus berdampak di tingkat kebijakan (global). Inilah esensi dari gerakan lingkungan yang inklusif.
    Kita perlu memperkuat edukasi bank sampah di sekolah dan komunitas, lalu membawa data keberhasilan tersebut sebagai advokasi di forum strategis seperti ASEAN. Saya berkomitmen untuk mengorganisasi potensi besar anak muda ini agar gerakan kita lebih terstruktur, masif, dan berdampak jangka panjang.

    Salam bumi salam lestari 🌏🌱🌱🌱

    Nama : Azzahra Septialika Dewi
    No Peserta : 1304
    Sekolah : SDN Ngagel Rejo III
    Proyek : SIKUBU ( solusi inovatif kulit buah)

    Balas
  • September 22, 2026 pada 12:40
    Permalink

    Nama: Amritha Hafsah Rheva Ramadhina
    No. Peserta: 002
    Sekolah: SD Al Uswah 2 Surabaya
    Proyek: PELITA OBAT (Pengelola Limbah Tangguh Obat Keluarga)

    Kisah yang sangat menginspirasi dan membakar semangat kami para kader lingkungan muda! Perjalanan aksi nyata dari unit terkecil seperti bank sampah komunitas hingga mampu menyuarakan gagasan iklim di panggung diplomasi internasional Forum ASEAN membuktikan satu prinsip penting: konsistensi aksi akar rumput yang dirawat dengan ketulusan dan data terukur akan selalu menemukan jalan untuk memberi dampak yang meluas. Generasi muda bukan sekadar penonton perubahan zaman, melainkan aktor utama transisi keberlanjutan yang mampu menjembatani persoalan lokal menuju solusi regional.

    Rekam jejak kepemimpinan muda dari bank sampah hingga forum kawasan ini menjadi suntikan motivasi berharga bagi perjuangan saya di Tahap III Putri Lingkungan Hidup 2026 melalui proyek PELITA OBAT. Bank sampah selama ini identik dengan pengelolaan sampah anorganik umum seperti botol plastik, kardus, atau kaleng logam. Namun, ada satu celah krusial yang kerap luput dari sistem pemilahan bank sampah konvensional, yakni limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) domestik berupa sisa obat-obatan kimia dan obat kedaluwarsa. Melalui proyek PELITA OBAT, saya berikhtiar memperluas peran bank sampah dan posyandu di tingkat kampung agar juga memiliki mekanisme pemilahan khusus limbah farmasi keluarga. Langkah kecil memilah limbah obat di rumah dan menyediakannya dalam drop box terpadu adalah kontribusi nyata pencegahan cemaran kimia perairan dan krisis resistensi antimikroba—isu kesehatan lingkungan yang kini menjadi perhatian serius di tingkat regional ASEAN.

    Terima kasih kepada Tunas Hijau atas tayangan artikel yang sarat teladan ini. Mari kita buktikan bahwa aksi dari sudut kampung Surabaya dapat bergema menjaga kelestarian bumi nusantara hingga dunia internasional!

    Salam Bumi, Pasti Lestari! 🌿✨

    Balas
  • September 22, 2026 pada 15:47
    Permalink

    Perubahan iklim memang tidak selalu dimulai dari ruang konferensi, tetapi bisa dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah, sekolah, kampus, dan lingkungan sekitar. Membawa tumbler, memilah sampah, mengurangi plastik, mengajak teman bergerak, hingga berani menyuarakan kepedulian adalah langkah kecil yang jika dilakukan bersama dapat menjadi gerakan besar.
    Pesan bahwa anak muda bukan sekadar penerima dampak, tetapi bagian dari solusi, sangat kuat. Mari ubah kepedulian menjadi aksi nyata dan jadikan waktu, energi, kreativitas, serta keberanian sebagai kekuatan untuk menjaga bumi.

    Nama: Alesheea Farzana Nayyara
    Proyek: PELITA (Pengolahan Limbah Minyak Jelantah)
    Asal Sekolah : SDN Semolowaru I/261 Surabaya
    Nomor peserta: 0424

    Balas
  • September 23, 2026 pada 10:26
    Permalink

    Dari Bank Sampah hingga Forum ASEAN, Anak Muda Bergerak untuk Iklim
    artikel yang sangat bermanfaat agar kita semua lebih peduli menjaga lingkungan dan kelestarian bumi kita

    ​🌿✨ PROYEK: SERASIKU (Sereh Asri Inspirasi Kreativitas Usaha) ✨🌿

    ​🪴 Aksi Menanam Bibit Sereh

    👧 Nama:Naysia Aqila Andriani
    🆔 No. Peserta:1298
    🏫 Sekolah:SDN Ngagelrejo III/398
    🌿 Proyek:SERASIKU (Sereh Asri Inspirasi Kreativitas Usaha)

    “Satu langkah kecil hari ini, sejuta manfaat untuk bumi di masa depan.”🌱💚

    Balas
  • September 23, 2026 pada 10:54
    Permalink

    Dari Bank Sampah hingga Forum ASEAN, Anak Muda Bergerak untuk Iklim
    artikel yang sangat menginspirasi sekali,mari kita semua membiasakan Membawa tumbler, mengurangi kantong plastik, memilah sampah.

    ​🌿✨ PROYEK: SERASIKU (Sereh Asri Inspirasi Kreativitas Usaha) ✨🌿

    ​🪴 Aksi Menanam Bibit Sereh

    👧 Nama:Naysia Aqila Andriani
    🆔 No. Peserta:1298
    🏫 Sekolah:SDN Ngagelrejo III/398
    🌿 Proyek:SERASIKU (Sereh Asri Inspirasi Kreativitas Usaha)

    “Satu langkah kecil hari ini, sejuta manfaat untuk bumi di masa depan.”🌱💚

    Balas
  • September 25, 2026 pada 09:55
    Permalink

    🌱✨ Jumat, 25 September 2026

    Hai…teman-teman sahabat lingkungan! Perkenalkan saya Alesya Zahra Santosa Nomor peserta 0164 salah satu peserta pemilihan Puteri Lingkungan Hidup 2026 dari SDN Kertajaya

    💚Judul Proyek saya adalah Hijaunya Sirihku Hijaunya Bumiku🌿🌿🌿

    Artikel ini memberikan inspiratif bahwa anak muda tidak hanya menunggu dan menerima dampak dari krisis Iklim,tetapi mampu mengambil peran aktif untuk bergerak.

    Setiap benih yang kita tanam hari ini adalah harapan untuk bumi yang lebih hijau esok hari🌿

    Balas
  • September 25, 2026 pada 12:09
    Permalink

    Luar biasa semangat anak-anak muda ini! Membuktikan bahwa aksi peduli lingkungan tak mengenal usia dan bisa dimulai dari mana saja, mulai dari memilah sampah hingga tingkat kancah internasional . Semoga makin banyak generasi muda yang tergerak untuk ikut berkontribusi menjaga bumi demi masa depan yang lebih baik.

    🧒Nama : Nizam Nakhla Hartono
    📄No.peserta: 0697
    🏫Sekolah : SDN Ngagelrejo III/398
    🌱Proyek : KOMPAS ( kompos pasar sehat)

    Balas
  • September 25, 2026 pada 18:29
    Permalink

    Generasi muda memegang peran krusial sebagai agen perubahan, inovator, dan penggerak utama dalam upaya mitigasi serta adaptasi terhadap krisis iklim global. Pemuda harus aktif menyuarakan desakan kebijakan lingkungan melalui berbagai platform global maupun lokal. Memanfaatkan kepekaan terhadap teknologi, generasi muda mengembangkan solusi kreatif seperti aplikasi pengelolaan sampah digital, energi terbarukan skala kecil, hingga sistem pertanian berkelanjutan.

    Selain itu generasi muda haruslah Menerapkan aksi nyata sehari-hari di tingkat akar rumput, mulai dari pengurangan sampah plastik, penghematan energi, hingga pemanfaatan transportasi ramah lingkungan. Serta meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar melalui penyebaran informasi dan kampanye edukatif berbasis media sosial tentang pentingnya menjaga kelestarian bumi bagi masa depan.

    Generasi muda memiliki tanggung jawab besar untuk melindungi bumi melalui kesadaran, edukasi, dan aksi nyata. Dengan memulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat, perubahan kecil dapat memberikan dampak besar bagi masa depan dunia.

    Jadi sudah saatnya generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku perubahan. Bumi membutuhkan lebih banyak individu yang berani peduli dan bertindak, agar generasi mendatang masih dapat menikmati keindahan dan keseimbangan alam seperti yang kita rasakan hari ini.

    Nayla Thalita Azzahra
    SMPN 4 Sby
    No Peserta : 1358
    Judul Proyek : Lidah Buaya untuk Riset & Lingkungan ( LIBURAN )

    Balas
  • September 25, 2026 pada 20:08
    Permalink

    Generasi muda memegan peran penting sejak dini agar tidak hanya menjadi penonton saja. Mulai sejak dini sudah belajar bagaimana menjaga lingkungan dengan aksi aksi nyatanya untuk melindungi bumi bagi masa depan. Dengan aksi aksi nyata seperti bersih bersih pantai, menanam pohon. Tidak melihat usia dengan memulai dari diri sendiri untuk masa depan yang lebih baik
    AJUN SAFARAZ BIMAWANSYAH JUNIOR
    SDN SEMOLOWARU 1/261 SURABAYA
    NOMER URUT PESERTA 0235
    PROYEK BIPOSA BIBIT POHON SALAM🌳

    Balas
  • September 30, 2026 pada 11:02
    Permalink

    Waw sangat menginspirasi kami sebagai generasi penerus.
    Trimakasih untuk artikel yang memberikan dampak positif bagi kami seorang pelajar.

    Nama : Adeola Shafiyyah Azra
    No Urut :0484
    Nama Sekolah : Sdn Tambaksari III/159
    Proyek : Aksi Nyata Budidaya Cabai Dari Benih Hingga Panen

    Balas
  • Oktober 1, 2026 pada 23:36
    Permalink

    Dari Bank Sampah Hingga Forum ASEAN! Ini membuktikan bahwa aksi sekecil memilah sampah di rumah bisa mengantarkan anak muda sampai ke panggung ASEAN untuk menyuarakan krisis iklim.
    Anak muda tidak lagi hanya penonton, tapi aktor utama perubahan iklim. Dari mengelola Bank Sampah di kampung, mengedukasi warga, sampai duduk bersama di Forum ASEAN Youth for Climate Action. Ini bukti nyata:
    Terima kasih Tunas Hijau sudah menyuarakan ini. Semoga semakin banyak anak muda Surabaya yang bergerak, dari lingkup terkecil sampai forum terbesar.

    Nama : Andra Devaro kadang
    No peserta : 0685
    Sekolah : SDN NGAGEL REJO III / 398 Surabaya
    Proyek : SI PERIANG (Solusi inovatif pemanfaatan air leri dan kulit bawang)
    Mengurangi limbah sampah dan melindungi lingkungan 🌍🌿🌱

    Balas
  • Oktober 4, 2026 pada 18:34
    Permalink

    Nama = Chika Yoshi Quenby
    Sekolah = SMPN 38 Surabaya
    Nomor peserta = 1928
    Proyek = Takakura go green
    Artikel ini membuka mata para generasi muda dengan lebar bahwa penting nya menjaga lingkungan

    Balas
  • Oktober 5, 2026 pada 20:26
    Permalink

    Tidak banyak yg kulakukan saat tp konsisten Membawa tumbler, mengurangi kantong plastik, memilah sampah, hingga mengajak warga utk menghindari sampah plastik sekali pakai 😉😉😉

    Lingkungan bersih dg ecoenzim ♻️🤓
    Yuk selamatkan bumi 🌍 dg ecoenzim ♻️🤓

    🌱 Muhammad Usman Dzikrullah (61)🌱
    🤓 Eco warrior SDN Jemur Wonosari 1 Surabaya 🤓
    Judul proyek Pengolahan sampah organik menjadi ecoenzim ♻️🤓

    Balas
  • Oktober 8, 2026 pada 21:11
    Permalink

    Wah, saya jadi tahu bahwa anak muda juga bisa menjadi penggerak perubahan untuk menjaga lingkungan. Kita bisa memulainya dari hal sederhana seperti membawa tumbler, memilah sampah, mengurangi plastik, dan mengajak teman untuk peduli lingkungan.

    Nama : Naladhipa Bintang
    Sekolah : SD Al-Muttaqien
    Judul Proyek : Bintang Kejora
    Nomor Peserta : 1324

    Balas
  • Oktober 9, 2026 pada 08:37
    Permalink

    Tunas Hijau sudah memupuk rasa kepedulian anak-anak terhadap lingkungan sekitarnya menjadi modal untuk berkiprah ke tingkat dunia.
    Ezra Akbar “Eco Warrior JWS 1” siap beraksi untuk menyelamatkan bumi dengan eco enzyme.
    Saya mengolah sampah organik seperti kulit nanas/ kulit buah lainnya menjadi eco enzyme. Manfaat eco enzyme sangat banyak salah satunya untuk kesehatan. Eco enzyme bisa digunakan sebagai antiseptic dan desinfektan.
    Sehat Jiwa Raga dengan eco enzyme.
    🧒 Ezra Akbar Ulumuddin
    ♻️Mengolah Sampah Organik menjadi eco enzyme.
    🏫SDN Jemurwonosari 1 Surabaya
    🆔Nomor Peserta 057

    Balas
  • Oktober 9, 2026 pada 22:41
    Permalink

    Semangat dan aksi nyata mereka membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecildan berdampak besar.

    Aqeel tsani ramadhan/ 051
    SDN Jemurwonosari 1/417 surabaya
    “Pengelolaan sampah organik dengan maggot”.

    Balas
  • Oktober 10, 2026 pada 10:33
    Permalink

    Perubahan iklim tidak selalu dimulai dari ruang konferensi. Ia bisa berawal dari tangan anak muda yang memilah sampah, membawa tumbler, mengajak teman bergerak, membuat konten di media sosial, hingga berani menyuarakan aspirasi di forum internasional. Dapat mengajak siswa siswi untuk selalu membaws tumbler maupun kotak bekal serta membawa kantong belanja yang bukan dari plastik.
    nama: Nawan Arifalle Safni
    No peserta: 0667
    Asal sekolah: smpn 56 surabaya
    Judul proyek: Aksi Ecobrick

    Balas
  • Oktober 10, 2026 pada 15:11
    Permalink

    Sangat inspiratif melihat anak muda mengambil peran nyata dalam menghadapi perubahan iklim! 🌏 Gerakan dari tingkat lokal seperti bank sampah dapat menjadi langkah awal untuk membangun dampak yang lebih luas, bahkan hingga forum regional. Saya mengapresiasi semangat generasi muda yang tidak hanya mempelajari persoalan lingkungan, tetapi juga berusaha menghadirkan solusi. Semoga semakin banyak anak muda berani berinovasi, mengembangkan kegiatan pengelolaan sampah, menghemat energi, dan mengajak masyarakat berpartisipasi. Perubahan besar dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten. 🌱💚

    Anjani Ringga Anggara
    SDN Nginden Jangkungan 1
    Proyek Ecovitaliq
    Pangpud LH no 0358

    Balas
  • Oktober 10, 2026 pada 17:01
    Permalink

    Keren dan menginspirasi banget! Artikel ini membuktikan kalau langkah kecil dari lingkungan sekolah—seperti mengelola bank sampah—bisa membawa dampak besar hingga ke panggung internasional ASEAN. Ini membakar semangat saya untuk terus konsisten pilah dan olah sampah harian demi iklim bumi yang lebih sehat! Terima kasih Tunas Hijau! 🌿🌍✨

    Nama: SAFIRA AZZALFA RECHA
    No. Peserta: 0014
    Sekolah: SD KYAI IBRAHIM SURABAYA
    Proyek: PEMANFAATAN LIMBAH PLASTIK UNTUK BUDIDAYA KANGKUNG

    Balas
  • Oktober 10, 2026 pada 17:14
    Permalink

    Perubahan besar memang berawal dari langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten. Anak muda bukan hanya pewaris masa depan, tetapi juga penggerak perubahan hari ini.

    Melalui kepedulian, kreativitas, kolaborasi, dan keberanian bersuara, kita bisa menjadi bagian dari solusi krisis iklim. Mari mulai dari diri sendiri, bergerak dari lingkungan sekitar, dan menginspirasi lebih banyak orang untuk peduli terhadap bumi.

    Jangan hanya peduli, mari beraksi! Dari langkah kecil menuju perubahan besar untuk bumi yang lebih lestari.

    Nama : Aura Adeeva Nastiti
    Asal Sekolah : SD NEGERI Kertajaya SURABAYA
    Nomor:0170

    Balas
  • Oktober 10, 2026 pada 18:46
    Permalink

    Sangat menginspirasi sekali

    Sabrina Kayla Azzahra, SMPN 11 SURABAYA
    Pupuk organik cair
    No peserta : 0800

    Balas
  • Oktober 10, 2026 pada 19:34
    Permalink

    Artikel ini membuktikan kalau aksi menyelamatkan bumi dari krisis iklim nggak harus nunggu kita dewasa atau punya modal uang yang besar. Contoh nyata dari Kak Hasna di Bank Sampah Induk Surabaya, Kak Anastasya yang menyuarakan aspirasi sampai tingkat ASEAN, serta Kak Benedict dengan gerakan waste-influencing-nya bikin kita sadar kalau anak muda itu punya kekuatan besar lewat waktu, energi, kreativitas, dan media sosial.

    Sebagai sesama generasi muda, perjalanan mereka dari langkah sederhana di lingkungan sekitar hingga bisa memberi dampak luas sangat menginspirasi saya untuk terus konsisten melakukan aksi nyata. Dengan artikel ini saya sadar bahwa bumi butuh tangan semua orang untuk menyelamatkannya, maka dari itu saya ingin mengajak orang-orang disekitar saya untuk lebih peduli dengan bumi..

    Yuk, sekarang giliran kita yang bergerak dan nggak cuma jadi penonton! Mulai aja dulu dari hal-hal kecil di sekitar kita, karena perubahan besar selalu diawali dari langkah sederhana yang dilakukan bersama-sama….

    Princess Zelda Ilmiah
    SMPN 29 Surabaya
    Postwaste-City (Processing Organic Waste To Support Food Security)

    Balas
  • Oktober 10, 2026 pada 21:03
    Permalink

    Sangat menginspirasi
    Pemuda bukan hanya berdampak namun bisa sebagai penggerak.
    Bank Sampah bisa maju sampai di ASEAN bersama para pemuda2 yg luar biasa dalam berjuang menjaga lingkungannya.
    Saatnya kita beraksi melanjutkan dan ikut menjaga kebersihan sekitar kita.
    Salam Bumi Pasti Lestari

    Marshall Dastan PR
    Asal Sekolah: SMP Negeri 1 Surabaya
    No Peserta: 289
    Project: KOMANDAN

    Balas
  • Oktober 11, 2026 pada 02:32
    Permalink

    Suara pemuda memiliki dampak nyata sehingga tidak boleh berhenti begitu saja, wujudkan dalam aksi nyata.
    Nama : Diandra Melody Letya Finauri
    Asal Sekolah : SDN Kalisari II/513 Surabaya
    No Peserta: 0122
    Project: Budidaya Timun Giok

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *