Dari Bank Sampah hingga Forum ASEAN, Anak Muda Bergerak untuk Iklim
Perubahan iklim tidak selalu dimulai dari ruang konferensi. Ia bisa berawal dari tangan anak muda yang memilah sampah, membawa tumbler, mengajak teman bergerak, membuat konten di media sosial, hingga berani menyuarakan aspirasi di forum internasional.
Pesan itulah yang mengemuka dalam Diskusi Panel 2 Cengkerama Iklim yang menghadirkan tiga sosok muda dengan jalur aksi berbeda: Rizana Hasna Yusuf, S.T. dari Bank Sampah Induk Surabaya, Anastasya Laila Definia Salsabila, delegasi Indonesia dalam ASEAN Children and Youth Climate Summit 2025, serta Benedict Wermter, co-founder and director Komunitas Edukasi Lingkungan Fobi yang dikenal melalui akun @bule_sampah.
Ketiganya menunjukkan bahwa menjadi generasi muda di tengah krisis iklim bukan berarti hanya menunggu dan menerima dampak. Anak muda dapat memilih untuk bergerak, mengajak, memengaruhi, bahkan menyuarakan perubahan. Dari lingkungan sekitar hingga forum regional ASEAN, ruang untuk beraksi selalu terbuka ketika kepedulian tidak berhenti sebagai pengetahuan.
Rizana Hasna Yusuf, S.T. atau Kak Hasna, mengawali cerita dari pengalaman pribadinya di Bank Sampah Induk Surabaya. Ia mengaku baru mulai menyadari pentingnya kepedulian terhadap lingkungan ketika duduk di bangku kuliah. Kesadaran tersebut kemudian berkembang menjadi keterlibatan dalam gerakan pengelolaan sampah dan kepemimpinan lingkungan.
Bagi Hasna, persoalan lingkungan tidak bisa hanya diserahkan kepada pemerintah, profesor, atau ilmuwan. “Bencana-bencana alam yang terjadi itu bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, atau bukan hanya menjadi tanggung jawab profesor atau ilmuwan, tapi itu adalah tanggung jawab kita bersama, khususnya sebagai anak muda,” ujarnya. Ia mengajak generasi muda melihat dirinya bukan sebagai penonton, melainkan sebagai bagian dari solusi.
Modal anak muda, menurut Hasna, juga tidak selalu berupa uang. Waktu, energi, kreativitas, kemampuan beradaptasi dengan teknologi, dan keberanian untuk mencoba merupakan kekuatan yang sangat besar. Karena itu, aksi tidak harus menunggu memiliki sumber daya besar. Membawa tumbler, mengurangi kantong plastik, memilah sampah, hingga mengajak warga membangun bank sampah dapat menjadi pintu masuk gerakan.

Agar aksi tersebut berkembang, Hasna menawarkan tiga strategi: edukasi kreatif, kolaborasi lintas sektor, dan advokasi kebijakan. Dari kebiasaan pribadi, aksi dapat diperluas ke komunitas, kemudian diperkuat melalui media sosial dan jejaring kolaborasi. “Jadi, dimulai dulu aja dari kita,” pesannya. Sebab, perubahan besar sering kali memiliki titik awal yang sangat sederhana.
Dari Surabaya, cerita kemudian bergerak ke panggung ASEAN bersama Anastasya Laila Definia Salsabila. Pada 2025, Anastasya berkesempatan menjadi delegasi Indonesia dalam ASEAN Children and Youth Climate Summit di Malaysia bersama UNICEF Indonesia. Forum tersebut mempertemukan anak dan pemuda dari berbagai negara ASEAN untuk berbagi pengalaman dan menyuarakan perspektif generasi muda mengenai perubahan iklim.
Kesempatan itu kemudian membuka ruang yang lebih luas. Anastasya terpilih menjadi bagian dari Task Force yang menyusun Langkawi Declaration, deklarasi yang memuat suara dan aspirasi pemuda untuk disampaikan dalam ASEAN Ministerial Meeting di Langkawi pada 4 Oktober 2025. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa suara anak muda yang tumbuh dari aksi dan pengalaman di lapangan dapat menempuh perjalanan hingga forum pengambilan keputusan tingkat regional.
“Pemuda itu tidak hanya terdampak, tapi kita tuh juga bisa menjadi penggerak solusi,” jelas Anastasya. Baginya, perjalanan tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba. Komunitas, jejaring, kolaborasi, pengalaman di lapangan, dan keberanian menyampaikan gagasan menjadi bagian dari proses. Yang lebih penting, suara pemuda tidak boleh berhenti setelah forum selesai, tetapi harus kembali diwujudkan dalam aksi nyata.
Sementara itu, Benedict Wermter membawa diskusi pada kekuatan komunikasi publik. Co-founder and director Komunitas Edukasi Lingkungan Fobi yang dikenal melalui akun @bule_sampah tersebut memperkenalkan gagasan “waste-influencing”, yakni bagaimana pengaruh di media sosial dapat digunakan untuk mendorong perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah. Anak muda, menurutnya, tidak harus menjadi influencer untuk tujuan komersial. Platform digital juga dapat digunakan untuk mengajak lebih banyak orang hidup dengan lebih sedikit sampah.
Benedict menyoroti persoalan yang sangat dekat dengan keseharian masyarakat, mulai dari ketergantungan terhadap plastik sekali pakai hingga kebiasaan membakar sampah yang berpotensi mencemari udara. Karena itu, penyelesaian persoalan sampah perlu dimulai dari hulu dengan memperkuat prinsip reduce, reuse, dan recycle. Membawa botol minum sendiri, menggunakan tas belanja berulang kali, serta menolak kantong plastik sekali pakai menjadi contoh aksi sederhana yang dapat dilakukan siapa pun.
“Perubahan itu tidak harus dimulai dari hal yang besar,” ujar Benedict. Ketika satu orang memulai, orang lain dapat mengikuti. Ketika dilakukan bersama, kebiasaan dapat menjadi gerakan. Dan ketika gerakan diperkuat oleh komunitas, media sosial, serta kolaborasi dengan berbagai pihak, aksi lingkungan dapat menjangkau lebih banyak orang.

Tiga cerita dalam Diskusi Panel 2 Cengkerama Iklim tersebut memperlihatkan satu benang merah: anak muda tidak harus menunggu menjadi dewasa untuk menjadi penggerak perubahan. Ada yang memulai dari bank sampah, ada yang membawa suara pemuda ke forum ASEAN, dan ada yang memanfaatkan media sosial untuk memengaruhi perilaku masyarakat. Gagasan itu kemudian tidak dibiarkan berhenti di ruang diskusi.
Pada hari kedua Cengkerama Iklim, besok Minggu ( bpeserta akan diajak turun langsung melalui aksi bersih pantai, pengumpulan dan pemilahan sampah, serta edukasi lingkungan di Pantai Kenjeran, Bulak. Dari ruang diskusi menuju pantai, dari gagasan menuju tindakan—karena perubahan iklim membutuhkan bukan hanya orang yang peduli, tetapi juga orang yang mau bergerak.
Penulis: Esterina Christyn Febyanti Suharto
Foto-foto: Vega Selafrinanda


Artikel yang sangat membuka mata….
Sering kali kita merasa aksi kecil kita tidak ada artinya, padahal perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah sederhana di keseharian bisa dimulai dari lingkungan sekolah, komunitas, hingga pemanfaatan media sosial secara bijak.
Bukti bahwa anak muda bukan cuma pihak yang terdampak, tapi juga motor penggerak solusi iklim, Semangat Semuanya..
Achmad Brian Al Virendra ( BRIAN)
SDN SEMOLOWARU 1/261
NO. Peserta : 229
Proyek : Budidaya Si Batang Harum SERAYA ( Serai Rakyat Surabaya)