Kentongan Menggema, 1.360 RW se Surabaya Bergerak Wujudkan Kampung Pancasila
Pancasila tidak hanya diucapkan dalam upacara atau dihafalkan di ruang kelas. Di kampung-kampung, nilai Pancasila dapat hidup melalui warga yang saling membantu, memilah sampah dari rumah, menanam dan merawat tanaman, menjaga kebersihan lingkungan, serta bersama-sama menyelesaikan persoalan di wilayahnya. Semangat itulah yang mewarnai pembukaan Lomba Kampung Pancasila 2026 di Balai Kota Surabaya, Kamis (17/9/2026).
Gemuruh kentongan yang ditabuh ribuan warga menjadi penanda dimulainya gerakan yang melibatkan 1.360 Rukun Warga (RW) di seluruh Kota Surabaya. Tabuhan kentongan tersebut dipimpin langsung Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan perwakilan pengurus RW. Dari Balai Kota, semangat gotong royong itu diharapkan bergerak hingga ke gang-gang kampung dan rumah-rumah warga.
Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Mohammad Jumhur Hidayat, memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Lomba Kampung Pancasila 2026. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi momentum untuk membumikan nilai-nilai Pancasila melalui tindakan nyata, termasuk kepedulian terhadap lingkungan hidup.
“Mari kita jadikan momentum ini untuk mewujudkan kampung yang bersih, sehat, hijau dan berkelanjutan. Dimulai dari hal sederhana yaitu mengurangi dan memilah sampah dari rumah, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, serta mengolah dan memanfaatkan kembali sampah yang masih bernilai,” ujar Mohammad Jumhur Hidayat.
Bagi Wali Kota Eri Cahyadi, lomba ini bukan semata-mata tentang siapa kampung yang mendapatkan penghargaan. Lebih dari itu, Lomba Kampung Pancasila menjadi upaya untuk menghidupkan kembali semangat gotong royong dan kepedulian sosial yang menjadi kekuatan masyarakat Surabaya.
Cak Eri, sapaan akrab Wali Kota Surabaya, mengingatkan bahwa Pancasila merupakan bagian dari perjalanan panjang bangsa Indonesia. Ia menceritakan pertemuan Presiden Soekarno dengan Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito pada 1961. Dalam pertemuan tersebut, Bung Karno meyakini Indonesia tidak akan mudah terpecah meskipun suatu saat ditinggalkan para pemimpinnya karena bangsa Indonesia memiliki Pancasila sebagai pengikat.
“Surabaya bisa maju bukan karena wali kotanya, melainkan karena warga, Ketua RT, RW, dan LPMK yang menopangnya dengan nilai gotong royong. Jika hari ini masih ada warga miskin atau tidak mampu yang terlewat dari bantuan, itu tanda gotong royong kita yang perlu dibenahi,” tegas Eri Cahyadi.
Semangat gotong royong tersebut diterjemahkan ke dalam sejumlah indikator penilaian Lomba Kampung Pancasila 2026. Salah satunya adalah penguatan ekonomi kerakyatan dan pemberdayaan usaha warga lokal. Kampung didorong menjadi ruang tumbuh bagi usaha masyarakat sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi warganya.
Indikator lainnya mencakup pemeliharaan toleransi, keharmonisan antarwarga, dan peningkatan jiwa kepedulian. Sementara dari sisi lingkungan, pengelolaan sampah secara mandiri, penghijauan, serta penataan kawasan agar bersih dan sehat menjadi bagian penting yang dinilai. Keaktifan warga dan pengurus kampung dalam menyelesaikan persoalan wilayah secara bersama juga menjadi indikator tersendiri.
Dengan demikian, kampung yang kuat bukan hanya kampung yang tampak bersih ketika dinilai. Kampung yang kuat adalah kampung yang warganya terbiasa bergerak bersama: sampah dipilah dari rumah, tanaman dirawat bersama, lingkungan dijaga, persoalan dibicarakan, dan warga yang membutuhkan tidak dibiarkan berjalan sendirian.
Untuk mendampingi pelaksanaan program, Pemerintah Kota Surabaya menerjunkan Perangkat Daerah (PD) sebagai pengampu di setiap wilayah. Wali Kota Eri menegaskan bahwa perangkat daerah tidak cukup hanya memberikan arahan. Mereka harus hadir memberikan contoh sekaligus melakukan pendampingan secara langsung di lapangan.
Bahkan, apabila perangkat daerah dinilai gagal membina wilayah yang menjadi tanggung jawabnya, akan diberikan sanksi tegas berupa bendera hitam. Penegasan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan Kampung Pancasila tidak hanya dibebankan kepada warga, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh unsur pemerintahan.
Wali Kota Eri juga mengajak masyarakat memastikan zakat, infak, dan bantuan sosial dapat terlebih dahulu membantu mengentaskan persoalan kemiskinan di lingkungan sekitar. Menurutnya, semangat gotong royong harus mampu menghadirkan kesejahteraan dan keadilan yang dirasakan langsung oleh warga.
Dalam program Kampung Pancasila, pendataan penerima bantuan sosial di Surabaya juga diarahkan tidak lagi semata-mata bergantung pada sistem desil administrasi. Skala prioritas bantuan ditentukan secara transparan melalui musyawarah kelurahan (muskel) bersama warga di tingkat RT dan RW.
Bagi gerakan lingkungan, pendekatan seperti ini membuka ruang penting: Pancasila dapat tumbuh dari kebiasaan sederhana yang dilakukan bersama-sama. Memilah sampah bukan sekadar urusan kebersihan. Menanam pohon bukan sekadar memperindah kampung. Mengurangi barang sekali pakai bukan sekadar mengurangi timbulan sampah. Semuanya menjadi bagian dari kepedulian terhadap sesama dan lingkungan tempat warga hidup.
Kentongan yang menggema di Balai Kota Surabaya pada 17 September itu pun bukan sekadar tanda dimulainya sebuah lomba. Ia dapat menjadi pengingat bahwa perubahan kampung tidak menunggu datangnya program besar. Perubahan bisa dimulai dari satu rumah, satu RT, satu RW, lalu menyebar menjadi gerakan seluruh kota.
Jika 1.360 RW benar-benar bergerak dengan semangat tersebut, Kampung Pancasila bukan hanya menjadi nama sebuah program. Ia dapat menjadi gambaran tentang bagaimana nilai Pancasila hadir dalam kehidupan sehari-hari: warga rukun, ekonomi bergerak, lingkungan terawat, sampah dikelola, dan tidak ada tetangga yang dibiarkan menghadapi persoalannya sendirian. (*/Mochamad Zamroni)


Nama: Amritha Hafsah Rheva Ramadhina
No. Peserta: 002
Sekolah: SD Al Uswah 2 Surabaya
Proyek: PELITA OBAT (Pengelola Limbah Tangguh Obat Keluarga)
Gema suara kentongan serentak di 1.360 RW se-Kota Surabaya merupakan bukti nyata betapa kuatnya modal sosial, kebersamaan, dan semangat gotong royong warga Kota Pahlawan! Mengakarkan nilai-nilai luhur Pancasila ke tingkat kampung bukan sekadar seremoni kebangsaan, melainkan motor penggerak terciptanya lingkungan permukiman yang guyub, aman, tertib, dan peduli terhadap kelestarian lingkungan hidup bersama.
Semangat kebersamaan Kampung Pancasila ini menjadi fondasi penting bagi percepatan aksi saya di Tahap III Putri Lingkungan Hidup 2026 melalui proyek PELITA OBAT. Gotong royong menjaga kesehatan kampung tidak hanya sebatas membersihkan saluran air dari sampah plastik, tetapi juga memastikan terwujudnya keadilan dan keamanan lingkungan (environmental justice) bagi seluruh warga dari ancaman limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) domestik. Salah satu bahaya tersembunyi di permukiman padat adalah pembuangan obat-obatan kedaluwarsa dan sisa sirup antibiotik langsung ke got atau saluran warga, yang berisiko mencemari sanitasi lingkungan dan memicu resistensi antimikroba di komunitas. Melalui proyek PELITA OBAT, saya mengajak warga di tingkat RT/RW untuk mengamalkan sila persatuan dan kemanusiaan dengan saling peduli: menyediakan drop box limbah obat terpadu di balai RW/posyandu, saling mengingatkan untuk memeriksa kotak obat keluarga secara berkala, serta memastikan limbah farmasi tidak mencemari tanah dan air sumur tetangga.
Luar biasa kebangkitan Kampung Pancasila Surabaya! Mari jadikan suara kentongan sebagai pengingat kewaspadaan lingkungan: bersatu menjaga kampung yang rukun, sehat, dan bebas dari bahaya limbah obat keluarga.
Salam Bumi, Pasti Lestari! 🌿✨
Mantaaab… Semangat gotong royong dari 1.360 RW di Surabaya menunjukkan bahwa kebersamaan adalah kekuatan untuk membangun kampung yang rukun, bersih, sehat, hijau, dan berkelanjutan. Mari jadikan momentum ini sebagai gerakan nyata yang dimulai dari rumah dengan mengurangi dan memilah sampah, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, serta mengolah dan memanfaatkan kembali sampah yang masih bernilai.
Nama: Alesheea Farzana Nayyara
Proyek: PELITA (Pengolahan Limbah Minyak Jelantah)
Asal Sekolah : SDN Semolowaru I/261 Surabaya
Nomor peserta: 0424
Alhamdulillah dg adanya kampung Pancasila ini kami dan tetangga” semakin rukun,guyup,dan saling menghormati 🤓🤓🤓
Lingkungan bersih dg ecoenzim ♻️🤓
Yuk selamatkan bumi 🌍 dg ecoenzim ♻️🤓
🌱 Muhammad Usman Dzikrullah (61)🌱
🤓 Eco warrior SDN Jemur Wonosari 1 Surabaya 🤓
Judul proyek Pengolahan sampah organik menjadi ecoenzim ♻️🤓
saya jadi tahu bahwa nilai Pancasila bisa dilakukan melalui hal-hal sederhana seperti gotong royong, memilah sampah, menanam pohon, dan menjaga kebersihan lingkungan. Saya senang karena warga bisa bekerja sama untuk membuat kampung menjadi bersih, hijau, dan nyaman.
Nama : Naladhipa Bintang
Sekolah : SD Al-Muttaqien
Judul Proyek : Bintang Kejora
Nomor Peserta : 1324
Tim Pangput JWS1 siap berkolaborasi dengan Kampung Pancasila untuk mewujudkan lingkungan yang aman, bersih dan layak.
Ezra Akbar “Eco Warrior JWS 1” siap beraksi untuk menyelamatkan bumi dengan eco enzyme.
Saya mengolah sampah organik seperti kulit nanas/ kulit buah lainnya menjadi eco enzyme. Manfaat eco enzyme sangat banyak salah satunya untuk kesehatan. Eco enzyme bisa digunakan sebagai antiseptic dan desinfektan.
Sehat Jiwa Raga dengan eco enzyme.
🧒 Ezra Akbar Ulumuddin
♻️Mengolah Sampah Organik menjadi eco enzyme.
🏫SDN Jemurwonosari 1 Surabaya
🆔Nomor Peserta 057
Gerakan yang sangat menarik dan membanggakan! 🇮🇩 Semangat gotong royong merupakan kekuatan besar dalam membangun lingkungan permukiman yang bersih, aman, dan nyaman. Saya mengapresiasi keterlibatan masyarakat dalam mewujudkan Kampung Pancasila karena nilai persatuan dan kepedulian sosial dapat diwujudkan melalui tindakan nyata sehari-hari. Semoga gerakan ini semakin mempererat hubungan antarwarga sekaligus mendorong kebiasaan menjaga kebersihan, mengelola sampah, merawat fasilitas umum, dan membantu sesama. Ketika masyarakat bergerak bersama, lingkungan yang lebih baik akan lebih mudah diwujudkan. 💚
Anjani Ringga Anggara
SDN Nginden Jangkungan 1
Proyek Ecovitaliq
Pangpud LH no 0358