Antisipasi Kaskade Bencana demi Resiliensi Berkelanjutan

Gempa bumi dapat memicu rangkaian bencana yang saling terhubung dan dikenal sebagai cascading hazards atau kaskade bahaya. Guncangan gempa dapat memicu serangkaian bencana lanjutan yang dampaknya bahkan dapat lebih mematikan daripada guncangan gempa itu sendiri. Kaskade bencana dapat berlangsung melalui beberapa jalur.

Pertama, kaskade geologi, yaitu fenomena alam yang memicu fenomena alam lainnya, seperti gempa yang menyebabkan pergeseran tanah, tsunami, likuifaksi, longsor, dan sebagainya. Kedua, kaskade dari alam ke manusia, ketika guncangan gempa merusak infrastruktur dan jaringan utilitas sehingga memicu kegagalan sistemik.

Ketiga, kaskade dari alam dan infrastruktur ke sistem sosial-ekonomi serta kesehatan yang dampaknya dapat berlangsung selama berminggu-minggu hingga bertahun-tahun, seperti krisis pengungsian, masyarakat yang terisolasi, pengalihan anggaran pembangunan untuk penanganan bencana, hingga kerugian ekonomi.

Belajar dari berbagai bencana gempa di Indonesia, kita dapat melihat bahwa gempa bumi jarang berdiri sebagai satu-satunya ancaman. Dalam waktu yang hampir bersamaan atau segera setelahnya, dapat muncul bencana lain yang memperbesar dampak terhadap masyarakat.

Gempa bumi dan tsunami Aceh pada 26 Desember 2004, misalnya, menyebabkan kerusakan sangat luas terhadap permukiman dan infrastruktur serta menimbulkan korban jiwa dalam jumlah sangat besar, dengan korban meninggal dunia di Indonesia mencapai lebih dari 100.000 orang.

Rangkaian gempa besar juga kemudian terjadi di berbagai wilayah, antara lain Nias, Yogyakarta, Padang, Lombok, dan Sulawesi Tengah. Gempa Sulawesi Tengah pada 2018 bahkan diikuti tsunami, likuifaksi, dan longsor yang secara bersamaan memperbesar jumlah korban, kerusakan, serta kerugian yang ditimbulkan.

Pada 15 Agustus 2026, Indonesia kembali menghadapi bencana gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diikuti berbagai dampak dan bahaya ikutan, termasuk tsunami, longsor, korban jiwa, korban luka-luka, trauma, pengungsian, serta terisolasinya sejumlah masyarakat.

Berdasarkan pembaruan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang perlu terus diperbarui sesuai perkembangan di lapangan, total korban tercatat sebanyak 202 orang, terdiri atas 75 orang meninggal dunia dan 132 orang luka-luka. BNPB juga mencatat sekitar 40.040 jiwa mengungsi.

Sementara itu, total rumah rusak mencapai 11.925 unit, terdiri atas 5.516 rumah rusak berat, 1.916 rusak sedang, dan 4.493 rusak ringan. Jumlah pengungsi terbanyak kedua tercatat di Kabupaten Manggarai, yakni 6.487 jiwa. Di wilayah tersebut tercatat 27 orang meninggal dunia, 31 orang mengalami luka berat, dan 88 orang mengalami luka ringan.

Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan perlunya pergeseran cara pandang dalam memahami dinamika risiko, dari sekadar melihat bencana sebagai “efek domino” menuju pemahaman mengenai “kaskade bencana” yang jauh lebih kompleks. B

erbeda dengan efek domino yang cenderung menggambarkan rangkaian kejadian secara searah, kaskade bencana dapat menciptakan penguatan risiko (risk reinforcement), ketika kegagalan pada satu simpul kritis memicu gangguan pada berbagai sistem pendukung kehidupan lainnya.

Dalam kondisi tersebut, risiko tidak lagi muncul semata-mata akibat fenomena alam, tetapi juga dari interaksi destruktif antara kekuatan geologi, kegagalan infrastruktur teknis, dan kerentanan sistem sosial-ekonomi.

Konsep amplifikasi risiko (risk amplification) menegaskan bahwa dampak bencana tidak selalu sekadar bertambah secara linear. Dalam kondisi tertentu, satu kejadian dapat memperbesar dampak kejadian berikutnya secara berlipat.

Hal ini terjadi ketika kapasitas respons suatu wilayah telah melemah akibat bencana pertama, kemudian harus menghadapi bahaya berikutnya. Ketika infrastruktur air mengalami kerusakan bersamaan dengan munculnya kebakaran besar, misalnya, kemampuan suatu kota untuk merespons keadaan darurat dapat menurun secara drastis. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan terhadap satu jenis bahaya belum tentu menjamin ketahanan terhadap rangkaian bahaya yang saling berinteraksi.

Standar perencanaan wilayah dan kode bangunan, termasuk standar SNI terkait ketahanan terhadap beban gempa, memiliki peran sangat penting dalam mengurangi risiko. Namun, pendekatan yang hanya berfokus pada ketahanan bangunan terhadap guncangan gempa berpotensi terjebak dalam single-hazard trap apabila tidak mempertimbangkan bahaya ikutan dan ketergantungan antarsistem.

Ketahanan bangunan perlu dipadukan dengan pemahaman terhadap risiko likuifaksi, longsor, tsunami, banjir pascagempa, kebakaran, gangguan jaringan listrik, air bersih, komunikasi, transportasi, serta layanan kesehatan. Mengabaikan variabel multi-bahaya dapat menciptakan kerentanan yang sebenarnya dapat diantisipasi sejak tahap perencanaan.

Ketidakmampuan memitigasi kaskade bencana juga dapat mencerminkan persoalan tata kelola yang belum sepenuhnya mengantisipasi ketergantungan antarsistem. Kegagalan satu sistem dapat memperluas dampak bencana awal ke sistem lainnya. Karena itu, saatnya mengembangkan paradigma baru dalam perencanaan wilayah, dari pendekatan yang semula cenderung linear menuju pendekatan yang sistemik.

Bencana tidak lagi dapat dikelola sebagai kejadian tunggal. Transisi dari mitigasi berbasis satu bahaya menuju resiliensi multi-bahaya bukan sekadar aspirasi teoretis, melainkan kebutuhan operasional dalam tata kelola wilayah dan perkotaan modern. Kajian mendalam mengenai mekanisme kaskade menjadi langkah penting sebelum pemerintah menetapkan kebijakan yang mampu melindungi keselamatan publik, keberlanjutan layanan dasar, dan stabilitas ekonomi dalam jangka panjang.

Untuk membangun ketangguhan yang substansial menuju resiliensi multi-bahaya yang antisipatif, kesadaran terhadap kaskade bencana harus menjadi salah satu pilar dalam setiap kebijakan pembangunan infrastruktur dan tata ruang. Pemerintah memiliki tanggung jawab besar sebagai perancang ketangguhan masyarakat.

Setiap garis dalam peta zonasi pada akhirnya berkaitan dengan keselamatan manusia. Oleh karena itu, pergeseran dari strategi mitigasi tunggal menuju pendekatan multi-bahaya yang terpadu merupakan sebuah keharusan moral dan profesional.

Keberhasilan kebijakan resiliensi tidak lagi cukup diukur dari kemampuan sebuah gedung untuk tetap berdiri setelah guncangan, tetapi juga dari kemampuan seluruh sistem wilayah untuk mempertahankan fungsi-fungsi vitalnya di tengah rangkaian gangguan dan kegagalan yang saling bertautan. Negara tidak boleh memberikan rasa aman semu melalui kebijakan yang hanya menyentuh permukaan risiko.

Mengantisipasi kaskade bencana merupakan investasi fundamental bagi kelangsungan kehidupan masyarakat, keberlanjutan wilayah perkotaan, dan stabilitas ekonomi masa depan.

Investasi tersebut tidak harus selalu dimulai dari nol. Setiap kawasan rawan bencana hampir pasti memiliki kearifan lokal yang terbentuk dari pengalaman masyarakat dalam menghadapi berbagai ancaman, baik melalui mitigasi struktural maupun nonstruktural.

Penelusuran dan penguatan kembali berbagai kearifan lokal dapat menjadi modal awal dalam membangun resiliensi berbasis masyarakat. Contohnya antara lain Rumah Gadang di Sumatera Barat, Rumoh Aceh, Omo Hada di Nias, rumah adat Sade masyarakat Sasak di Lombok, serta Tongkonan masyarakat Tana Toraja di Sulawesi Selatan.

Kearifan lokal tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat sejak dahulu mengembangkan bentuk hunian, pola ruang, maupun praktik sosial yang beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan ancaman bencana setempat.

Masyarakat Simeulue di Aceh juga memberikan contoh penting mengenai bagaimana pengalaman bencana diwariskan menjadi pengetahuan kolektif. Masyarakat setempat mengenal istilah smong, yaitu pengetahuan dan pesan turun-temurun mengenai tsunami. Ketika terjadi gempa kuat dan air laut tiba-tiba surut, masyarakat memahami bahwa kondisi tersebut merupakan tanda bahaya dan harus segera menjauh dari pantai menuju tempat yang lebih tinggi.

Pengetahuan lokal tersebut terbukti sangat berharga ketika tsunami 26 Desember 2004 melanda Aceh. Meskipun secara geografis Simeulue berada relatif dekat dengan sumber gempa dan tsunami, banyak masyarakat dapat menyelamatkan diri karena memiliki pengetahuan dan ingatan kolektif mengenai tanda-tanda tsunami. Tentu masih banyak kearifan lokal lain di berbagai daerah Indonesia yang lahir dari pengalaman masyarakat menghadapi bencana dan dapat dikembangkan sebagai bagian dari strategi resiliensi modern.

Kita tidak mungkin menghilangkan seluruh ancaman bencana. Namun, kita dapat mengurangi risiko dan memperkuat kemampuan masyarakat untuk menghadapinya. Karena itu, memahami kaskade bencana, memetakan keterkaitan antarrisiko, memperkuat infrastruktur, melindungi sistem vital, serta menghidupkan kembali kearifan lokal harus menjadi bagian dari investasi jangka panjang pembangunan Indonesia.

Antisipasi adalah jalan menuju ketangguhan.

Penulis: Amien Widodo

49 thoughts on “Antisipasi Kaskade Bencana demi Resiliensi Berkelanjutan”

  • Agustus 21, 2026 pada 14:58
    Permalink

    Artikel yang bermanfaat dan bisa menambah wawasan mengenai bencana alam

    Ayshava Berliani Al Hakim
    SDN Kebonsari 1 Surabaya
    Judul Proyek ” tabung pohon”
    No peserta 140

    Balas
  • Agustus 21, 2026 pada 16:13
    Permalink

    Berita adanya gempa dan gunung meletus terus menerus bergantian Di berbagai kota Di Indonesia.
    Hal ini sesuai Karena secara geologis Indonesia berada diatas pertemuan 3 lempeng tektonik besar dunia yang berdampak dengan seringnya terjadi gempa dan banyaknya gunung berapi yang masih aktif.
    Untuk itu diharuskan kepada warga Indonesia untuk waspada dan siap siaga dalam menghadapi bencana.

    Ezra Akbar “Eco Warrior JWS 1” siap beraksi untuk menyelamatkan bumi dengan eco enzyme.
    Saya mengolah sampah organik seperti kulit nanas/ kulit buah lainnya menjadi eco enzyme. Manfaat eco enzyme sangat banyak salah satunya untuk kesehatan. Eco enzyme bisa digunakan sebagai antiseptic dan desinfektan.
    Sehat Jiwa Raga dengan eco enzyme.
    🧒 Ezra Akbar Ulumuddin
    ♻️Mengolah Sampah Organik menjadi eco enzyme.
    🏫SDN Jemurwonosari 1 Surabaya
    🆔Nomor Peserta 057

    Balas
  • Agustus 21, 2026 pada 16:16
    Permalink

    Setuju sekali dengan ulasan di artikel ini. Dampak bencana alam sekarang tidak lagi berdiri sendiri, tapi saling berkaitan. Tanpa adanya antisipasi dampak berantai dan edukasi publik yang matang, biaya pemulihan akan makin mahal. Semoga isu ini makin mendapat perhatian dalam kebijakan publik

    Balas
    • September 1, 2026 pada 21:01
      Permalink

      gempa bumi inii sangatt dapat merugikan masyarakat terutama bagi teman kita yang di NTT sekarang kita do’akan mereka aja cepat kelar dari musibah gempa kemarin, dan buat masyarakat Indonesia lebih sering menjaga dan merawat tanaman maupun memilah sampah pada jenis nyaa yahh🤩.

      Nama : Nawan Arifalle Safni
      Asal Sekolah : SMPN 56 SURABAYA
      Nomer Peserta : 0667
      Proyek : Aksi Ecobrick

      Balas
  • Agustus 21, 2026 pada 16:28
    Permalink

    Nama : Azzahra Septialika Dewi
    No peserta : 1304
    Sekolah : SDN Ngagelrejo III
    Proyek: SIKUBU (solusi inovatif kulit buah)

    Antisipasi kaskade bencana—kejadian beruntun di mana satu bencana memicu bencana atau krisis ikutan lainnya—menuntut pergeseran fokus dari mitigasi tunggal ke pengelolaan risiko sistemik. Resiliensi berkelanjutan hanya tercapai jika kolaborasi lintas sektor, pemetaan keterkaitan risiko, dan perlindungan infrastruktur vital diintegrasikan ke dalam pembangunan jangka panjang.
    Hidupkan kembali ingatan kolektif atau tradisi siaga bencana masyarakat setempat sebagai bagian sistem peringatan dini.

    Salam bumi pasti lestari 🌿

    Balas
    • September 2, 2026 pada 21:19
      Permalink

      Ternyata Masyarakat Simeulue di Aceh juga memberikan contoh penting mengenai bagaimana pengalaman bencana diwariskan menjadi pengetahuan kolektif.

      🧒🏻 Saya Jericho Kurniawan Jr.
      ✅️ Nomer peserta 109
      🏫 Dari SDN Ketabang I / 288 Surabaya
      ♻️ Nama Proyek saya adalah BuMaHong (Budidaya Tanaman Binahong)

      Balas
  • Agustus 21, 2026 pada 19:40
    Permalink

    Bencana Gempa Bumi
    Memang tidak bisa kita hindari, namun kita bisa meminimalisir akibat dari pasca bencana dengan mengenali dan mengaplikasikan mitigasi bencana..agar tidak menimbulkan efek domino berkepanjangan.

    Dimas Abhiyasa Wibowo /0279
    SMPN 1 Surabaya
    GOSO dengan metode Maggot Farming

    Balas
    • Agustus 22, 2026 pada 19:26
      Permalink

      Artikel yang sangat bermanfaat bagi masa depan nanti👍😍

      Sangat mengedukasi generasi mendatang untuk tetap menjaga bumi, tetap semangat kak😍💞

      Nama : Bilqis Faiha Satrio
      No. Peserta : 0416
      Sekolah : SDN Rangkah 1 SBY
      Proyek : Pengolahan Cangkang Telur Ayam Sebagai Sumber Kalsium Organik Pada Media Tanam

      Balas
    • Agustus 23, 2026 pada 12:34
      Permalink

      risiko tidak lagi muncul semata-mata akibat fenomena alam, tetapi juga dari interaksi destruktif antara kekuatan geologi, kegagalan infrastruktur teknis, dan kerentanan sistem sosial-ekonomi.
      Betul sekali, terima kasi tunas Hijau artikel ini sangat membantu generasi seperti saya untuk memahami bahwa Antisipasi adalah jalan menuju ketangguhan 🥰

      Nama : Shanum Farzana A.
      Sekolah : SDN Kandangan 3 Surabaya
      No peserta : 136

      Balas
  • Agustus 23, 2026 pada 05:47
    Permalink

    Bencana gempa bumi dan bencana alam lainnya memang tidak bisa kita hindari, apalagi yang menimbulkan efek berkelanjutan. Kita tidak mungkin menghilangkan seluruh ancaman bencana. Namun, kita dapat mengurangi risiko dan memperkuat kemampuan masyarakat untuk mengantisipasi dan menghadapinya. Karena itu, memahami kaskade bencana seperti artikel diatas memang sangatlah penting.

    Nama : Muhammad Usman Dzikrullah
    No Peserta : 61
    Sekolah : SDN Jemurwonosari I Surabaya
    Proyek : Pengolah Sampah Organik Menjadi Ecoenzim

    Balas
  • Agustus 23, 2026 pada 22:02
    Permalink

    Nama:Fica Widya Paramitha
    Asal sekolah:SMPN 26 Surabaya
    Nama proyek:KeyCycle(Keychain Recycle)

    Proyek lingkungan saya yaitu KeyCycle-Keychain Recycle, yaitu mengubah sampah botol plastik bekas menjadi gantungan kunci dengan cara melelehkan tutup botol plastik yang telah digunting dengan setrika lalu badan botolnya dijadikan sapu halaman.
     
    Wah artikelnya bener-bener bikin mikir banget ya. Seringkali kita mikir bencana itu cuma satu kejadian doang, padahal efeknya bisa berantai dan saling memperparah kayak gitu. Bagus banget juga dibahas soal kearifan lokal yang ternyata udah jadi cara nenek moyang kita bertahan dari dulu, sayang banget kalau itu dilupain. Semoga tulisan kayak gini makin banyak dibaca, biar kita semua mulai sadar bahwa persiapan bencana itu nggak bisa cuma lihat satu sisi aja. Penting banget nih buat disebarin! 🙏✨

    Balas
    • Agustus 30, 2026 pada 11:31
      Permalink

      Artikel ini bermanfaat untuk kami karena antisipasi kaskade bencana agar mengurangi resiko bencana yg berkepanjangan dan mengurangi efek domino bencana berkepanjanan.
      Terimakasih tunas hijau atas artikel ini.
      Salam bumi pasti lestari

      Zivanisa alicia W
      No peserta : 218
      SDN ketabang 1/288 surabaya
      Proyek : SIPATAS
      (Koleksi sampah kertas)

      Balas
  • Agustus 24, 2026 pada 21:53
    Permalink

    Bencana itu gak datang sendiri. Banjir bisa picu tanah longsor, lalu krisis air bersih. Makanya antisipasi kaskade bencana itu wajib buat masa depan yang berkelanjutan
    Terima kasih Tunas Hijau udah jadi jembatan antara ilmu kebumian dan aksi anak muda. Ini penting banget buat Surabaya & Indonesia!

    Nama : Andra Devaro kadang
    No peserta : 0685
    Sekolah : SDN NGAGEL REJO III / 398 Surabaya
    Proyek : SI PERIANG (solusi inovatif pemanfaatan air Leri dan kulit bawang)
    Mengurangi limbah sampah dan melindungi lingkungan 🌍🌿🌱

    Balas
  • Agustus 26, 2026 pada 09:32
    Permalink

    Gempa merupakan fenomena alam yang tidak dapat diprediksi dan tidak bisa dihindari serta tidak bisa dijinakkan sehingga akibat yang ditimbulkan bisa sangat mengagetkan. Gempa masih dianggap given (anugerah), oleh karenanya catatan gempa terbesar yang pernah terjadi harus dijadikan pedoman dalam membuat perencanaan. Penelitian kegempaan di suatu kawasan harus menjadi pertimbangan utama dalam perencanaan tata ruang dan dijadikan acuan edukasi kepada masyarakat agar sadar dan paham daerahnya rawan gempa. Sejarah mencatat bahwa gempa bumi tidak memberikan peringatan, namun tingkat kesiapan prosedural menentukan nasib penghuni bangunan.

    Gempa bumi juga dapat memicu rantai bencana yang saling terhubung yang dikenal dengan kaskade gempa (cascading earthquake hazards). Guncangan gempa memicu serangkaian bencana berikutnya yanv lebih mematikan dari pada gempa itu sendiri. Kaskade bencana gempa melalui (1) kaskade geologi dari alam ke alam seperti gempa dapat memicu pergeseran tanah, tsunami, likuifaksi, longsor dsb., (2) kaskade alam ke manusia dimana guncangan gempa dapat merusak infrastruktur dan jaringan utilitas yang memicu kegagalan sistemik, dan (3) kaskade alam-infrastruktur ke sosio-ekonomi dan kesehatan yang bisa berlangsung selama berminggu-minggu hingga bertahun-tahun. Misalnya krisis pengungsi, masyarakat terisolasi, ada pengalihan dana pembangunan untuk penanganan bencana, kerugian ekonomi dll.

    Kaskade bencana menimbulkan interaksi sistemik dimana risiko tidak muncul dari fenomena alam semata, melainkan dari interaksi destruktif antara kekuatan geologi, kegagalan infrastruktur teknis, dan kerapuhan sistem sosial-ekonomi. Waktunya mengakhiri bencana dikelola sebagai kejadian tunggal. Transisi dari mitigasi linier menuju resiliensi multi-bahaya bukan lagi merupakan aspirasi teoretis, melainkan prasyarat operasional dalam tata kelola perkotaan modern. Kajian detail mekanisme kaskade menjadi langkah krusial sebelum otoritas menetapkan kebijakan yang mampu melindungi stabilitas ekonomi dan keselamatan publik dalam jangka panjang.

    Nayla Thalita Azzahra
    SMPN 4 Surabaya
    No Peserta : 1358
    Judul Proyek : Lidah Buaya untuk Riset & Lingkungan ( LIBURAN )

    Balas
  • Agustus 26, 2026 pada 12:40
    Permalink

    Antisipasi Kaskade Bencana demi Resiliensi Berkelanjutan
    kita dapat mengurangi risiko dan memperkuat kemampuan masyarakat untuk menghadapinya. Karena itu, mengikuti webinar dan membaca artiket dapat menambah wawasan mengenai bencana

    ​🌿✨ PROYEK: SERASIKU (Sereh Asri Inspirasi Kreativitas Usaha) ✨🌿

    ​🪴 Aksi Menanam Bibit Sereh

    👧 Nama:Naysia Aqila Andriani
    🆔 No. Peserta:1298
    🏫 Sekolah:SDN Ngagelrejo III/398
    🌿 Proyek:SERASIKU (Sereh Asri Inspirasi Kreativitas Usaha)

    “Satu langkah kecil hari ini, sejuta manfaat untuk bumi di masa depan.”🌱💚

    Balas
  • Agustus 26, 2026 pada 17:58
    Permalink

    Bencana gempa bumi dan bencana yang lainnya memang tidak dapat kita hindari dan tentukan kapan terjadinya Namun, kita dapat mengurangi risiko dan memperkuat kemampuan masyarakat untuk menghadapinya. Karena itu, memahami kaskade bencana, memetakan keterkaitan antarrisiko, memperkuat infrastruktur, melindungi sistem vital, serta menghidupkan kembali kearifan lokal masyarakat khususnya masyarakat pesisir pantai / wilayah rawan bencana .

    Nama : Nizam Nakhla Hartono
    No peserta: 0697
    Sekolah: SDN Ngagelrejo III/398 , Surabaya
    Proyek: KOMPAS (kompos pasar sehat)

    Balas
  • Agustus 26, 2026 pada 22:32
    Permalink

    Mitigasi bukan aksi sekali jadi, melainkan komitmen seumur hidup. Mari rutin latih simulasi evakuasi dan perkuat struktur hunian kita demi resistensi berkelanjutan terhadap ancaman gempa bumi. 🗺️💪”
    nama. :kevin emilio al irzan
    no urut. :687
    judul proyek : PANDORA (Pandan Organik Ramah dan Alami)
    sekolah. :sdn ngagelrejo III surabaya

    Balas
  • Agustus 28, 2026 pada 21:59
    Permalink

    🪅Nama: Marista Nur Kirana Putri
    Asal sekolah: Smp Negeri 38 Surabaya
    Proyek: RIMPANG KUJALENCUR
    No peserta: 1040

    Gempa bumi di Indonesia bukan satu-satunya ancaman banyak lagi bencana yang kita dapat dari Indonesia kita sebagai warga, rakyat dapat berpikir cerdas dan kritis dalam menghadapi alam kita ini.
    Dan saya turut berduka atas korban dari bencana gempa. Tetapi kondisi gempa ini juga terjadi karena lempengan tektonik bergesekan dan jelas Indonesia adalah tempat rawan gempa. ❤️‍🩹

    Salam dari saya Marista.

    Balas
    • September 1, 2026 pada 12:24
      Permalink

      Ulasan yang sangat informatif dan penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan serta kewaspadaan kita terhadap potensi bencana alam di wilayah rawan

      Perkenalkan nama saya Kayla Fatiyatu Zahra Ardani dari SMPN 54 Surabaya, dengan judul proyek Pemanfaatan Sampah Non-organik menjadi Beautiful Craft.

      Balas
  • Agustus 29, 2026 pada 14:13
    Permalink

    artikel yang sangat bermanfaat, terimakasih tunas hijau telah memberikan artikel se detail ini dan menambah wawasanku

    elena subekti
    SMPN 11 surabaya
    proyek budi daya tanaman pepaya

    Balas
  • Agustus 30, 2026 pada 11:41
    Permalink

    Kita tidak akan tau kapan bencana itu akan datang tapi kita perlu mewaspadainya. Dengan adanya artikel ini bermanfaat bagi kita untuk mengantisipasi adanya bencana.

    Aqeel tsani ramadhan
    No. 0051
    SDN jemurwonosari 1 surabaya
    “Pengelolaan sampah organik dengan maggot”.

    Balas
  • Agustus 30, 2026 pada 19:46
    Permalink

    artikel yang makin membuka wawasan kita tentang kebencanaan, semoga kita bisa terhindar dari bencana alam

    Nama: Alesheea Farzana Nayyara
    Proyek: PELITA (Pengolahan Limbah Minyak Jelantah)
    Asal Sekolah : SDN Semolowaru I/261 Surabaya
    Nomor peserta: 0424

    Balas
    • Agustus 31, 2026 pada 14:00
      Permalink

      Artikel yg sangat keren. Bisa menjadi inspirasi dan menambah wawasan kita tentang bencana

      Ahmad Zacky Ramdan/0715
      SDN Kedungdoro IV/309 sby
      Proyek: Budidaya kelor menjadi olahan Icelor

      Balas
  • Agustus 30, 2026 pada 19:51
    Permalink

    Nama : Fiorenza Batrisya Filia
    Sekolah : SMPN 10 Surabaya
    Kelas : 7 B
    No Peserta : 728
    Judul Proyek : Ecomat Daur Ulang Kain Perca

    Menurut saya, artikel ini sangat bermanfaat karena mengajarkan kita pentingnya bersiap menghadapi bencana. Bencana bisa saling berkaitan dan menimbulkan dampak yang lebih besar. Sebagai pelajar, kita bisa mulai dengan menjaga lingkungan, mengikuti aturan keselamatan, dan belajar cara menghadapi bencana dengan tenang. Dengan begitu, kita bisa membantu menciptakan lingkungan yang lebih aman dan siap menghadapi bencana. 🌍🌱

    Balas
  • Agustus 31, 2026 pada 00:18
    Permalink

    Bagus Sekali👍Artikelnya keren dan sangat bermanfaat 🙏
    Nama Felychia Rosalina Putri
    Dari SDN Sawunggaling 1/382 Surabaya
    Dengan nomer Peserta 418
    Dan Dengan Proyek Pembudidaya Tanaman Bunga Telang

    Balas
  • Agustus 31, 2026 pada 19:33
    Permalink

    Artikel penting!
    Azri F. F. L
    SD Kyai ibrahim

    Balas
  • Agustus 31, 2026 pada 20:21
    Permalink

    Artikel yang sangat menarik dan membuka wawasan tentang pentingnya memahami kaskade bencana. Dari sini kita belajar bahwa sebuah bencana dapat memicu berbagai risiko lainnya, sehingga kesiapsiagaan dan mitigasi perlu dilakukan secara menyeluruh. Semoga semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang memahami pentingnya kesiapsiagaan bencana dan ikut membangun lingkungan yang lebih tangguh. 🌏🌱

    Nama: Diky Yulia Efendi
    No. Peserta: 0397
    Sekolah: SMP Negeri 11 Surabaya
    Proyek: REVERDA (Pengelolaan Sampah Kering Menjadi Barang Bernilai Ekonomis)

    Balas
  • September 1, 2026 pada 06:45
    Permalink

    Nama: Danisha Cantiqa Putri
    No. Peserta: 1120
    Asal Sekolah: SMP Negeri 46 Surabaya
    Proyek: D’KOPIS

    Artikel ini mengingatkan saya bahwa bencana tidak selalu datang sebagai satu kejadian, tetapi bisa saling berkaitan dan memperbesar dampaknya. Karena itu, antisipasi tidak cukup hanya dilakukan setelah bencana terjadi, tetapi harus dimulai dari sekarang melalui edukasi, kesiapsiagaan, dan perencanaan yang tepat.

    Semoga semakin banyak generasi muda yang sadar bahwa menjadi tangguh bukan berarti bebas dari bencana, tetapi mampu mengurangi risikonya dan siap menghadapi berbagai kemungkinan. Mari terus belajar, bergerak, dan berkontribusi untuk lingkungan yang lebih aman dan berkelanjutan!

    Balas
  • September 1, 2026 pada 12:23
    Permalink

    Artikel yang sangat mencerahkan dan membuka wawasan kita semua tentang pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan!

    Perkenalkan nama saya Kayla Fatiyatu Zahra Ardani dari SMPN 54 Surabaya, dengan judul proyek Pemanfaatan Sampah Non-organik menjadi Beautiful Craft.

    Balas
  • September 1, 2026 pada 13:12
    Permalink

    Sangat setuju dengan ulasan artikel ini. Penggabungan antara sains modern dan kearifan lokal seperti istilah smong di Simeulue adalah kunci resiliensi yang sesungguhnya. Artikel ini menjadi pengingat reflektif bagi saya bahwa menjaga keselamatan jiwa dari kaskade bencana harus dimulai dari aksi nyata meningkatkan kepedulian dan membagikan pengetahuan mitigasi kepada keluarga serta masyarakat terdekat.

    Nama : Azkayra Safiratul Azqia
    No. Peserta : 128
    Asal Sekolah : SDN Kandangan 1/121 Surabaya
    Judul Proyek : “Potensi Bayam Malabar (Basella alba) sebagai Sumber Pangan Strategis di Wilayah Perkotaan Berlahan Sempit”

    Balas
  • September 1, 2026 pada 16:08
    Permalink

    Nama: Amritha Hafsah Rheva Ramadhina
    No. Peserta: 002
    Sekolah: SD Al Uswah 2 Surabaya
    Proyek: PELITA OBAT (Pengelola Limbah Tangguh Obat Keluarga)

    Artikel yang sangat visioner dan membuka wawasan mengenai pentingnya mengantisipasi kaskade bencana (cascading disasters)—kondisi ketika satu kejadian bencana memicu rangkaian dampak turunan atau bencana ikutan yang memperparah krisis lingkungan dan sosial. Membangun resiliensi berkelanjutan memang membutuhkan pendekatan mitigasi menyeluruh, bukan sekadar penanganan pada bencana primer saja.

    Konsep antisipasi kaskade bencana ini memiliki korelasi yang sangat penting dengan perjuangan saya melalui proyek PELITA OBAT. Salah satu bahaya ikutan (bencana sekunder) yang sering luput dari perhatian pascaterjadinya bencana alam (seperti gempa atau banjir) adalah pencemaran bahan kimia rumah tangga, termasuk persediaan obat-obatan keluarga. Ketika banjir merendam pemukiman atau gempa merusak bangunan, obat-obatan kimia kedaluwarsa maupun sisa yang tersimpan sembarangan di rumah berisiko larut, tercecer, dan mencemari genangan air bersih serta tanah pemukiman. Kontaminasi zat kimia aktif ini dapat memicu krisis air bersih sekunder, gangguan kesehatan pengungsi, hingga kerusakan ekosistem lokal. Melalui proyek PELITA OBAT, saya terus mengedukasi masyarakat mengenai manajemen pengamanan, pemilahan, dan tata kelola limbah obat keluarga yang tangguh bencana demi memutus rantai dampak kaskade bencana serta mewujudkan resiliensi lingkungan yang berkelanjutan.

    Mari perkuat mitigasi risiko dari hulu dan bangun ketangguhan lingkungan keluarga secara terpadu!

    Salam Bumi, Pasti Lestari! 🌿✨

    Balas
  • September 2, 2026 pada 00:17
    Permalink

    pertama-tama saya turut prihatin terhadap bencana gempa bumi yang terjadi di NTT🙏
    namun saya setuju sekali dengan adanya sosialisasi tentang bencana alam seperti artikel ini, karena kita jadi tau tanda-tanda serta cara menyelamatkan diri

    from:
    – Deandra Ahmed Alfarizzi
    – Calon Pangeran SD / 55
    – SDN Jemur Wonosari 1 Surabaya

    Balas
  • September 2, 2026 pada 22:35
    Permalink

    Nama = Kalyca Arij Aruna
    Sekolah = SMPN 1 SURABAYA
    Proyek = Lebara (budidaya kangkung hidroponik)
    No urut = 0584

    ​Artikel mengenai “Antisipasi Kaskade Bencana demi Resiliensi Berkelanjutan” ini memberikan sudut pandang yang sangat penting dan membuka wawasan. Selama ini kita sering menganggap bencana seperti gempa bumi hanya sebagai kejadian tunggal yang dampaknya linier seperti efek domino. Namun, konsep cascading hazards atau kaskade bahaya ini menyadarkan kita bahwa satu bencana ternyata bisa memicu interaksi kompleks dan ikutan bencana lain yang dampaknya justru bisa jauh lebih mematikan.

    ​Pemahaman tentang kaskade bencana ini sangat krusial agar mitigasi kebencanaan tidak hanya fokus pada dampak utamanya saja, melainkan juga memperhitungkan risiko turunan terhadap infrastruktur, alam, dan masyarakat. Edukasi seperti ini sangat dibutuhkan agar kita semua bisa membangun kesiapsiagaan yang lebih baik dan tangguh dalam menghadapi ketidakpastian kondisi alam. Terima kasih Tunas Hijau ID yang terus menghadirkan wawasan ilmiah yang bernilai tinggi ini.

    ​Sebagai pelajar yang sedang belajar peduli lingkungan melalui proyek “Lebara” (budidaya kangkung hidroponik), materi ini menjadi pencerah bahwasanya menjaga keseimbangan ekosistem dan kesiapsiagaan lingkungan sangatlah berkaitan. Semoga artikel ini dapat mendorong semakin banyak masyarakat untuk lebih peka dan siap dalam mengantisipasi berbagai potensi bencana.

    Balas
  • September 3, 2026 pada 14:34
    Permalink

    Terimakasih untuk artikel yang bermanfaat ini, menjadikan wawasan saya semakin luas.

    Nama: Viola Kanaka Ardhani
    No. Peserta: 1202
    Sekolah: SMPN 54 Surabaya
    Judul proyek: Viola’s Craft Pemanfaatan Sampah Plastik Menjadi Bisnis Online Shop.

    Balas
  • September 3, 2026 pada 21:24
    Permalink

    Gempa memang fenomena alam yang membahayakan. Tetapi dengan pengetahuan dan antisipasi terhadap bencana gempa dan cara mengatasinya ketika gempa dan kesiapan masyarakat dengan dukungan pemerintah maka akan meminimalisir dampak kerugian adanya gempa.
    Nama Abdullah Fattah Ghazali
    Asal sekolah SMPN 9 Surabaya
    No peserta 0337
    Judul proyek Budidaya Limiku organik yang ramah lingkungan.

    Balas
  • September 3, 2026 pada 22:11
    Permalink

    Mendapatkan ilmu baru lagi tentang mitigasi bencana Alam.
    Setiap bencana alam yang terjadi mengakibatkan bencana baru yg harus kita tanggulangi dengan sigap dan tanggap.

    Marshall Dastan Putra R
    No Urut peserta : 289
    Asal Sekolah SMP Negeri 1
    Project : KOMANDAN ( Koleksi tanaman Pandan)

    Balas
    • September 20, 2026 pada 23:06
      Permalink

      Inspiratif dan memberikan banyak manfaat.

      Balas
  • September 3, 2026 pada 22:46
    Permalink

    Nama: Nadia Putri Angeli
    Asal Sekolah: SMP Negeri 28 Surabaya Proyek: DAKARA (Daun Kering Tiada Tara) menjadi Briket Bio-Arang

    🌍 Artikel ini mengingatkan bahwa bencana tidak selalu datang sebagai satu kejadian, tetapi dapat saling berkaitan dan memperbesar dampaknya. Karena itu, memahami risiko sejak dini, memperkuat kesiapsiagaan, serta menjaga lingkungan menjadi bagian penting dalam membangun ketangguhan masyarakat.

    Semangat untuk mengurangi risiko lingkungan juga saya wujudkan melalui Proyek DAKARA (Daun Kering Tiada Tara), yaitu memanfaatkan daun kering yang sering menjadi limbah menjadi Briket Bio-Arang sebagai alternatif bahan bakar padat, sehingga daun tidak perlu dibakar dan dapat memiliki nilai guna. Dari memahami risiko hingga melakukan aksi nyata, setiap langkah kecil dapat menjadi bagian dari upaya menjaga bumi dan kehidupan di dalamnya. 💚🌱

    Balas
  • September 5, 2026 pada 14:32
    Permalink

    Nama : Yusra Malika Putri
    Asal Sekolah : SMPN 16 SURABAYA
    No. Peserta : 0860
    Ini adalah artikel yang paling penting. Segala bencana alam yang menimpa bumi, itu tdk dapat kita hindari, tidak dapat ditunda. Tetapi kita bisa dapat mengurangi risiko bencana tersebut bersama sama. Oleh karena itu ayuk kita pahami risiko sejak dini, mempersiapkan kesiapsiagaan, dan juga tas bencana alam maupun APD. terimakasih Tunas Hijau atas artikel kaskade kesiapsiagaan bencananya yang sangat penting sekali, dan perlu dibaca sejak dini, agar kita dapat mengurangi sedikit risiko.

    Balas
  • September 5, 2026 pada 14:33
    Permalink

    Nama : Yusra Malika Putri
    Asal Sekolah : SMPN 16 SURABAYA
    No. Peserta : 0860
    Ini adalah artikel yang paling penting. Segala bencana alam yang menimpa bumi, itu tdk dapat kita hindari, tidak dapat ditunda. Tetapi kita bisa dapat mengurangi risiko bencana tersebut bersama sama. Oleh karena itu ayuk kita pahami risiko sejak dini, mempersiapkan kesiapsiagaan, dan juga tas bencana alam maupun APD. terimakasih Tunas Hijau atas artikel kaskade kesiapsiagaan bencananya yang sangat penting sekali, dan perlu dibaca sejak dini, agar kita dapat mengurangi sedikit risiko bersama..

    Balas
  • September 5, 2026 pada 14:38
    Permalink

    Nama : Yusra Malika Putri
    Asal Sekolah : SMPN 16 SURABAYA
    No. Peserta : 0860

    Ini adalah artikel yang paling penting. Segala bencana alam yang menimpa bumi, itu tdk dapat kita hindari, tidak dapat ditunda. Tetapi kita bisa dapat mengurangi risiko bencana tersebut bersama sama. Oleh karena itu ayuk kita pahami risiko sejak dini, mempersiapkan kesiapsiagaan, dan juga tas bencana alam maupun APD. terimakasih Tunas Hijau atas artikel kaskade kesiapsiagaan bencananya yang sangat penting sekali, dan perlu dibaca sejak dini, agar kita dapat mengurangi sedikit risiko bersama..

    Balas
  • September 5, 2026 pada 21:53
    Permalink

    Nama: Athalia Laiqa Nayla Hardiansyah
    Asal Sekolah:SMPN1 Surabaya
    No:578
    Kate gori: Calon Putri Lingkungan Hidup 2026
    Proyek: Budidaya melon
    budi daya melon bermanfaat dalam bidang lestarikan lingkungan dan sumber ekonomi jadi tidak hanya meghijaukan bumi tapi juga menaikkan ekonomi

    Balas
  • September 6, 2026 pada 11:51
    Permalink

    Kita tidak bisa menghindari bencana alam, jadi kita harus lebih peduli dan siap menghadapi bencana. Gempa bisa menyebabkan bencana lain seperti tsunami, longsor, dan banjir. Karena itu, kita harus belajar tentang bencana, menjaga lingkungan, dan mengetahui apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi.

    Naladhipa Alula Akselia Wilda (Bintang)
    SD Al-Muttaqien Surabaya
    Proyek Lingkungan “Bintang Kejora”
    1324

    Balas
  • September 6, 2026 pada 15:46
    Permalink

    🧒 : Aqilla Naura Lovindra
    📑 : Nomor Peserta 1118
    📝 : Proyek Pengolahan Sampah yg Organik dengan Judul ” Sampah Organik Menjadi Barang Berharga”.

    Bencana Alam yang terjadi berapa hari terakhir ini memang sangat berdampak bagi kehidupan di bumi ini.
    Namun untuk bisa meminimalisir dampak yang disebabkan oleh gempa seyogja nya kita bisa belajar dan lebih aware terhadap informasi dan pengetahuan mengenai gempa

    Balas
  • September 6, 2026 pada 21:34
    Permalink

    🧒 : Arsyanendra Reynand Alghani
    📋 : 0217
    📝 : Proyek Pengolahan Sampah Organik Berkelanjutan dengan Judul ” Trash For Future, Mengubah Sampah Menjadi Harapan”

    Artikel yang sangat bermanfaat, banyak sekali informasi dan pengetahuan yang kita dapat mengenai gempa bumi dan dampak nya.
    Gempa memang datang secara tiba – dan tidak ada yang tau kapan waktu nya. Namun sebaiknya kita juga belajar tentang pengetahuan tentang gempa

    Balas
  • September 6, 2026 pada 22:15
    Permalink

    Salah satu bencana yg tidak bisa diprediksi terjadinya. Yg terpenting jangan panik dan segera menyelamatkan diri.

    Balas
  • September 8, 2026 pada 19:25
    Permalink

    Gempa adalah fenomena alam yang tidak dapat kita hindari maka dari itu penting buat melakukan langkah antisipasi dan mitigasi.. Artikel ini juga menjadi pengingat kita bahwa langkah yang tepat bukan panik dan berlari namun tenang dan mitigasi..

    Princess Zelda Ilmiah-946
    SMP Negeri 29 Surabaya
    POST WASTE CITY (Processing Organic Waste to Support Food Security)

    Balas
  • September 8, 2026 pada 20:57
    Permalink

    Salah satu bencana yg tidak bisa diprediksi terjadinya. Yg terpenting jangan panik dan segera menyelamatkan diri.

    Nama : Anjani Ringga Anggara
    Sekolah : SDN Nginden Jangkungan 1
    No : 0358
    Judul Proyek : Ecovitaliq

    Balas
  • Oktober 10, 2026 pada 20:42
    Permalink

    NAMA PROYEK: PAHLAWAN MAGGOT & SACIENZ
    NOMOR PESERTA : 0523
    NAMA PESERTA : RIZKY ARIEF PRATAMA
    ASAL SEKOLAH : SMP NEGERI 29 SURABAYA

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *