Queen: Peduli Lingkungan Sejak SD, Kini Mengajak Generasi Muda Beraksi
Enam tahun bergerak dalam aksi lingkungan sejak duduk di bangku sekolah dasar membuat Queen Anneysa Kabeer Lukito tidak hanya memahami perubahan iklim sebagai persoalan yang dibicarakan di ruang-ruang diskusi. “Saya telah mengolah 75 ton sampah organik dan bisa menghemat 166.500.000 rupiah,” kata Queen Anneysa Kabeer Lukito mengawali presentasinya.
Putri Lingkungan Hidup 2024, yang kini siswa SMAN 5 Surabaya, membuktikannya melalui aksi nyata. Salah satunya mengolah sampah organik dengan budidaya maggot. Pengalaman tersebut dibagikan Queen saat menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan “Cengkerama Iklim: Muda Peduli, Muda Beraksi” yang digelar di Surabaya, Sabtu (19/9//2026).
Kegiatan yang mempertemukan sekitar 100 pelajar dan mahasiswa ini diinisiasi Direktorat Mobilisasi Sumber Daya Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), bekerja sama dengan Yayasan Bina Bhakti Lingkungan dan didukung Hanns Seidel Foundation.
Cengkerama Iklim menjadi ruang bagi generasi muda untuk memahami perubahan iklim sekaligus menyusun gagasan dan rencana aksi yang dapat diterapkan di sekolah, kampus, komunitas, maupun lingkungan tempat tinggal.
Pesan untuk bergerak dari kepedulian menuju aksi juga disampaikan Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon KLH/BPLH, Ir. Ari Sudiyanto, M.Sc. Menurutnya, generasi muda tidak seharusnya hanya menjadi penerima dampak perubahan iklim.

“Mereka perlu terlibat dalam menyampaikan gagasan, memahami persoalan, berdiskusi, menyusun rencana, hingga melakukan tindakan nyata. Semangat ‘Muda Peduli, Muda Beraksi’ menempatkan anak muda bukan sekadar sebagai peserta, tetapi sebagai bagian dari solusi,” kata Ari Sudiyanto.
Semangat tersebut diperkuat dalam Diskusi Panel 1 tentang kebijakan perubahan iklim dan aksi lingkungan. Wisnu Murti, S.Hut., M.Ec.Dev., MPP, salah satu pejabat di lingkungan KLH/BPLH, mengajak peserta memahami persoalan iklim dengan cara yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. “Intinya kita mau ngobrol iklim aja,” ujarnya saat membuka materi.
Ia menjelaskan kaitan perubahan iklim dengan peningkatan suhu global, penggunaan bahan bakar fosil, serta meningkatnya emisi gas rumah kaca. Namun, menurutnya, kepedulian tidak akan berarti apabila tidak dilanjutkan dengan aksi. “Peduli sebenarnya tidak cukup. Kalau kita ngomong iklim, kita ngomong lingkungan, itu kalau hanya peduli tanpa aksi, itu juga tidak ada artinya,” kata Wisnu.
Diskusi berlangsung interaktif ketika peserta diajak memahami konsep Triple Planetary Crisis, yakni tiga ancaman lingkungan global yang saling berkaitan: perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan polusi. Marselius, peserta Cengkerama Iklim sekaligus mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura, turut menjawab pertanyaan tersebut.
Pembahasan kemudian bergerak ke persoalan lingkungan perkotaan. Maria Agustina Yuristina, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Surabaya, memaparkan berbagai upaya pengelolaan lingkungan di Kota Surabaya, termasuk keberadaan sekitar 700 taman kota, tujuh hutan kota, serta berbagai ruang terbuka hijau.
Di tengah pembahasan kebijakan dan kondisi lingkungan perkotaan tersebut, pengalaman Queen menunjukkan bahwa aksi iklim dapat dimulai dari persoalan yang sangat dekat: sampah. Melalui pengolahan sampah organik dengan maggot, sampah yang sebelumnya berpotensi menjadi beban lingkungan dapat diolah menjadi sumber daya.
Bagi generasi muda, pengalaman semacam ini memperlihatkan bahwa aksi iklim tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Mengurangi sampah, mengolah sampah organik, menanam pohon, menghemat energi dan air, hingga mengajak orang lain bergerak merupakan bagian dari rangkaian aksi yang dapat dilakukan sehari-hari.
Cengkerama Iklim berlangsung selama dua hari melalui pemaparan materi, diskusi, dan focus group discussion mengenai perubahan iklim, mitigasi, adaptasi, kebijakan, komunikasi iklim, serta penyusunan rencana aksi. Pada hari kedua, peserta membawa pengetahuan tersebut ke lapangan melalui kegiatan bersih pantai, pengumpulan dan pemilahan sampah, serta edukasi lingkungan di Pantai Kenjeran, Bulak. Rangkaian kegiatan ini mempertemukan pengetahuan dengan pengalaman langsung di lapangan.
Dari Queen hingga seluruh peserta Cengkerama Iklim, pesan yang dibangun menjadi sederhana: perubahan tidak cukup hanya dibicarakan. Generasi muda perlu memahami persoalan, berani mencoba, dan konsisten melakukan aksi. Seperti ditegaskan Wisnu, peserta diharapkan tidak berhenti pada kepedulian, tetapi melanjutkannya menjadi tindakan. “Satu selain paham, ya, nanti peduli, dan yang paling penting nanti bisa beraksi.”
Penulis: Esterina Christyn Febyanti Suharto


Hebat dan keren kakak Queen. Saya juga pernah melihat proyek kakak Queen yg di kedung cowek, semoga saya dapat mencontoh semangat dan keperdulian terhadap Lingkungan Hidup seperti Kakak Queen.
Nama. : Hafidz Saputra
Sekolah : SDN. Karah III Surabaya
Proyek : Asyiknya mengolah limbah organik
No peserta : 075
Keren jejak mbak Queen.
Semoga nanti kita seperti kak queen .
Aksi tanpa wacana langsung aksi nyata.
Kita adalah bagian dari perubahan ..maka dari itu kita lah yang akan merubah jadi lebih baik dari kesadaran dan kepedulian kita terhadap lingkungan.
Mari kita menjadi kak queen berikutnya..
Dimas Abhiyasa Wibowo
SMP Negeri 1 Surabaya/0279
GOSO dengan metode Budidaya Maggot
Perjalanan panjangnya yang konsisten menggeluti isu lingkungan sejak duduk di bangku SD.
Kepedulian lingkungan sering kali hanya berhenti pada slogan atau wacana sesaat. Namun, apa yang dilakukan Kakak Queen membuktikan bahwa ketertarikan yang dipupuk sejak kecil, jika dijalani dengan konsisten, dapat bertransformasi menjadi aksi nyata yang berkelanjutan hingga usia remaja.
Kebetulan saya juga pernah mengunjungi rumah mangot yang dikelola kaka queen, lokasinya di dekat TPA Tambak wedi.
Bahwa menjaga bumi tidak harus menunggu dewasa atau menunggu posisi besar ya.
hal itu bisa dimulai dari langkah kecil, konsisten, dan yang terpenting langsung diwujudkan dalam tindakan nyata. Semangat Semuanya…
Achmad Brian Al Virendra ( BRIAN)
SDN SEMOLOWARU 1/261
NO. Peserta : 229
Proyek : Budidaya Si Batang Harum SERAYA ( Serai Rakyat Surabaya)
Sangat menarik dan inspiratif.
Keren banget Kak Queen! 🌱✨
Dari SD sudah peduli lingkungan, sekarang jadi penggerak anak muda. Role model banget! Jadi pengen ikut beraksi juga. Semangat terus kak!
Nama: Amritha Hafsah Rheva Ramadhina
No. Peserta: 002
Sekolah: SD Al Uswah 2 Surabaya
Proyek: PELITA OBAT (Pengelola Limbah Tangguh Obat Keluarga)
Artikel yang sangat menggugah dan menyalakan optimisme bagi gerakan generasi muda! “Cengkerama Iklim: Muda Peduli, Muda Beraksi” membuktikan bahwa ruang dialog terbuka antar-anak muda bukan sekadar forum diskusi pasif, melainkan ruang perjumpaan ide untuk memantik aksi nyata dalam merespons krisis iklim. Ketika generasi muda saling berbagi keresahan lingkungan, mendengarkan perspektif sesama, dan berkolaborasi merumuskan solusi berbasis komunitas, di situlah kepemimpinan iklim masa depan terbentuk secara inklusif dan mengakar.
Semangat anak muda yang peduli dan berani bertindak ini menguatkan langkah saya di Tahap III Putri Lingkungan Hidup 2026 melalui proyek PELITA OBAT. Krisis iklim telah memicu perubahan cuaca ekstrem dan lonjakan kasus penyakit musiman di perkotaan, yang berdampak langsung pada meningkatnya konsumsi obat-obatan serta akumulasi limbah farmasi di rumah tangga. Sayangnya, pembicaraan iklim kerap melupakan bahaya limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) domestik ini. Membuang sisa antibiotik, sirup kimia, atau membakar sampah kemasan obat berpotensi meracuni ekosistem perairan darat serta memperburuk kualitas udara di tengah tekanan suhu bumi yang memanas. Melalui proyek PELITA OBAT, saya mengambil peran nyata generasi muda untuk mengedukasi keluarga dan teman sebaya: mengajak mereka memeriksa kotak P3K di rumah, memilah limbah obat secara terpisah, dan mengamankannya ke dalam drop box agar tidak mencemari lingkungan. Kepedulian iklim harus dibuktikan dengan tindakan terukur dari sudut rumah kita sendiri.
Apresiasi luar biasa untuk gerakan Cengkerama Iklim! Mari terus bersinergi, bersuara lantang, dan bergerak bersama demi mewujudkan bumi yang lestari dan masa depan yang tangguh iklim.
Salam Bumi, Pasti Lestari! 🌿✨
Kisah ini membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan akan menjadi jauh lebih bermakna ketika diwujudkan dalam aksi nyata. Mengolah 75 ton sampah organik sekaligus menghasilkan nilai ekonomi adalah bukti bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tentang mengurangi dampak perubahan iklim, tetapi juga menciptakan solusi dan manfaat bagi masyarakat.
Semoga semangat “muda peduli, muda beraksi” terus menular kepada pelajar dan mahasiswa lainnya. Mari mulai dari hal sederhana di sekolah, kampus, rumah, dan komunitas, karena perubahan besar selalu dimulai dari keberanian untuk bergerak.
Nama: Alesheea Farzana Nayyara
Proyek: PELITA (Pengolahan Limbah Minyak Jelantah)
Asal Sekolah : SDN Semolowaru I/261 Surabaya
Nomor peserta: 0424
Queen: Peduli Lingkungan Sejak SD, Kini Mengajak Generasi Muda Beraksi
hebatt sekali kakak Queen, sangat menginspirasi kita semua ,
🌿✨ PROYEK: SERASIKU (Sereh Asri Inspirasi Kreativitas Usaha) ✨🌿
🪴 Aksi Menanam Bibit Sereh
👧 Nama:Naysia Aqila Andriani
🆔 No. Peserta:1298
🏫 Sekolah:SDN Ngagelrejo III/398
🌿 Proyek:SERASIKU (Sereh Asri Inspirasi Kreativitas Usaha)
“Satu langkah kecil hari ini, sejuta manfaat untuk bumi di masa depan.”🌱💚
Kepedulian akan lebih bermakna ketika diwujudkan dalam aksi nyata.
Mengolah 75 ton sampah organik menjadi manfaat dan nilai ekonomi membuktikan bahwa menjaga lingkungan juga membawa kebaikan bagi masyarakat.
Nama : Nadia Hibatillah Amalia
Sekolah : SDN Jemurwonosari I/417 Surabaya
Proyek : Pengelolaan Cangkang Telur
No. Peserta : 0112
🌱✨ Jumat, 25 September 2026
Hai…teman-teman sahabat lingkungan! Perkenalkan, saya Alesya Zahra Santosa Nomor peserta 0164 salah satu peserta pemilihan Puteri Lingkungan Hidup 2026 dari SDN Kertajaya
💚Judul Proyek saya adalah Hijaunya Sirihku Hijaunya Bumiku🌿🌿🌿
Kereen sekali kakak Queen,kehadiran kakak Queen sebagai Narasumber dalam kegiatan ” Cengkerama Iklim : Muda peduli Muda Beraksi ” sangat efektif untuk memotifasi sekitar 100 pelajar yang hadir agar turut bergerak aktif
Setiap benih yang kita tanam hari ini adalah harapan untuk bumi yang lebih hijau esok hari 🌍✨
Generasi muda memegang peran kunci sebagai agen perubahan (agent of change) yang dinamis dalam menjaga dan melestarikan lingkungan hidup demi masa depan yang berkelanjutan. Generasi muda merupakan kelompok masyarakat dengan semangat tinggi, daya inovasi besar, serta kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi. Dengan karakter tersebut, mereka dapat menjadi motor penggerak dalam upaya pelestarian lingkungan, baik melalui kegiatan sosial, pendidikan, maupun inovasi berbasis teknologi ramah lingkungan.
Saat ini, kesadaran generasi muda terhadap isu lingkungan semakin meningkat. Banyak komunitas yang terbentuk dengan fokus pada kegiatan pelestarian alam, seperti gerakan penanaman pohon, kampanye pengurangan plastik, hingga kegiatan eco-volunteering.Contohnya, gerakan “Trash Hero Indonesia” dan “Bye Bye Plastic Bags” yang digerakkan oleh anak muda berhasil menginspirasi ribuan orang untuk hidup lebih ramah lingkungan. Kesadaran ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap bumi telah menjadi bagian dari gaya hidup generasi masa kini.
Generasi muda juga berperan dalam menciptakan inovasi teknologi hijau. Misalnya, pengembangan aplikasi pengelolaan sampah digital, sistem energi terbarukan skala kecil, serta produk ramah lingkungan berbahan daur ulang. Dengan kemampuan digital yang kuat, mereka mampu menggabungkan teknologi dan kreativitas untuk menciptakan solusi konkret terhadap permasalahan lingkungan.
Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk sikap peduli lingkungan. Sekolah dan universitas kini banyak mengintegrasikan konsep Education for Sustainable Development (ESD) ke dalam kurikulum. Generasi muda yang memahami pentingnya keseimbangan ekologi akan tumbuh menjadi individu yang bertanggung jawab terhadap lingkungan di sekitarnya. Program seperti green school dan eco-campus menjadi contoh nyata upaya pembentukan karakter cinta lingkungan sejak dini.
Generasi muda memiliki potensi besar dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui kreativitas, teknologi, dan aksi nyata. Dengan dukungan pendidikan dan kebijakan yang berpihak pada pembangunan berkelanjutan, mereka dapat menjadi penggerak utama dalam mewujudkan bumi yang lestari. Menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab satu generasi, melainkan tugas bersama untuk masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan.
Nayla Thalita Azzahra
SMPN 4 Sby
No Peserta : 1358
Judul Proyek : Lidah Buaya untuk Riset & Lingkungan
Salut dan bangga untuk Kak Queen
Cerita Kak Queen ini bukti nyata bahwa Pangeran & Putri Lingkungan Hidup itu bukan sekedar gelar, tapi komitmen seumur hidup. Peduli lingkungan sejak SD dan konsisten sampai sekarang mengajak generasi muda beraksi, itu luar biasa!
Kisah Kak Queen sangat menginspirasi saya sebagai peserta PPLH 2026 Surabaya. Seringkali teman-teman bilang “ngapain sih urusin sampah, kan masih kecil”. Tapi Kak Queen membuktikan, aksi kecil sejak SD bisa menjadi gerakan besar yang menginspirasi banyak orang.
Nama : Andra Devaro kadang
No peserta : 0685
Sekolah : SDN NGAGEL REJO III / 398 Surabaya
Proyek : SI PERIANG (solusi inovatif pemanfaatan air Leri dan kulit bawang)
Mengurangi limbah sampah dan melindungi lingkungan🌍 🌿🌱
Wah, keren sekali kak Queen Anneysa yang sudah bergerak menjaga lingkungan sejak SD dan berhasil mengolah 75 ton sampah organik. Saya jadi tahu bahwa sampah juga bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang berguna, seperti dengan budidaya maggot. Kita juga harus mulai peduli dan melakukan aksi sederhana untuk menjaga lingkungan.
Nama : Naladhipa Bintang
Sekolah : SD Al-Muttaqien
Judul Proyek : Bintang Kejora
Nomor Peserta : 1324
Kakak Queen 👑 memang keren 🤟
Aksinya konsisten dalam mengolah sampah sungguh luar biasa patut dicontoh.
Ezra Akbar “Eco Warrior JWS 1” siap beraksi untuk menyelamatkan bumi dengan eco enzyme.
Saya mengolah sampah organik seperti kulit nanas/ kulit buah lainnya menjadi eco enzyme. Manfaat eco enzyme sangat banyak salah satunya untuk kesehatan. Eco enzyme bisa digunakan sebagai antiseptic dan desinfektan.
Sehat Jiwa Raga dengan eco enzyme.
🧒 Ezra Akbar Ulumuddin
♻️Mengolah Sampah Organik menjadi eco enzyme.
🏫SDN Jemurwonosari 1 Surabaya
🆔Nomor Peserta 057
Semangat kak Queen, keren telah membuktikan bahwa kepedulian terhadap bumi bisa dimulai sejak dini mengispirasi banyak orang. 💚🌏
Aqeel tsani ramadhan/ 051
SDN Jemurwonosari 1/417 surabaya
“Pengelolaan sampah organik dengan maggot”.
Kisah yang sangat menginspirasi! 🌱 Kepedulian terhadap lingkungan yang dibangun sejak usia sekolah membuktikan bahwa anak muda dapat menjadi penggerak perubahan positif. Saya mengapresiasi semangat Queen dalam mengajak generasi muda untuk tidak hanya peduli, tetapi juga berani bertindak melalui kegiatan nyata. Keteladanan seperti ini penting agar semakin banyak pelajar memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Semoga perjuangannya terus berkembang, menginspirasi komunitas lain, dan melahirkan lebih banyak generasi yang kreatif, mandiri, serta konsisten dalam menjaga kelestarian bumi. 💚
Anjani Ringga Anggara
SDN Nginden Jangkungan 1
Proyek Ecovitaliq
Pangpud LH no 0358
Kereeen kak Queen
Dari SD hingga saat ini di SMA masih konsisten dalam beraksi mengolah Sampah.
Hingga berhasil menghemat 199jt adalah angka yg sangat luar biasa
Smg saya bisa ikut meniru langkah dan aksi baik dari kak Queen.
Salam Bumi Pasti Lestari
Marshall Dastan PR
Asal Sekolah: SMP Negeri 1 Surabaya
No Peserta; 289
Project ; KOMANDAN