Krokot (Portulaca oleracea): Gulma yang Ternyata Bisa Dimakan
Krokot (Portulaca oleracea) mungkin lebih sering dipandang sebagai tanaman liar yang mengganggu di halaman, kebun, atau lahan kosong. Padahal, tanaman yang batangnya menjalar dan daunnya tebal serta berdaging ini merupakan tanaman pangan yang dapat dimakan dan telah dimanfaatkan oleh berbagai masyarakat di dunia. Krokot juga memiliki kemampuan bertahan pada kondisi panas dan kering karena termasuk tanaman dengan mekanisme fotosintesis CAM, yang membantu menghemat penggunaan air.
Yang membuat krokot menarik adalah kandungan gizinya. Daun dan batang mudanya mengandung vitamin serta mineral, termasuk vitamin A, vitamin C, magnesium, kalium, kalsium, dan zat besi. Krokot juga terkenal sebagai salah satu tanaman hijau yang mengandung asam alfa-linolenat (ALA), yaitu salah satu jenis asam lemak omega-3. Kandungan tersebut membuat krokot menarik bukan hanya sebagai tanaman liar, tetapi juga sebagai sumber pangan lokal yang potensial.
Krokot juga mengandung berbagai senyawa bioaktif, antara lain flavonoid, alkaloid, fenolik, dan pigmen betalain. Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa ekstrak krokot memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi dalam berbagai penelitian laboratorium dan praklinis.
Namun, hasil tersebut tidak boleh langsung diterjemahkan menjadi klaim bahwa makan krokot dapat menyembuhkan penyakit tertentu. Penelitian pada manusia masih diperlukan untuk memastikan manfaat kesehatan, dosis, dan bentuk konsumsi yang paling tepat.
Di berbagai daerah, krokot dapat dimanfaatkan sebagai sayuran. Daun dan batang mudanya bisa dimakan setelah dicuci dan dimasak, misalnya sebagai campuran sayur, tumisan, atau bahan salad. Namun, jangan sembarangan mengambil krokot dari pinggir jalan, lahan yang tercemar, atau tempat yang kemungkinan terkena pestisida. Tanaman yang aman dimakan harus berasal dari lingkungan yang bersih dan diolah dengan higienis.
Ada satu hal yang juga penting diketahui: krokot mengandung oksalat. Bagi kebanyakan orang, konsumsi sebagai bagian dari makanan dalam jumlah wajar umumnya bukan persoalan, tetapi orang dengan kondisi tertentu—terutama yang perlu membatasi asupan oksalat atau memiliki riwayat batu ginjal jenis kalsium oksalat—perlu lebih berhati-hati. Karena itu, “alami” tidak otomatis berarti cocok untuk semua orang.
Krokot akhirnya memberikan pelajaran sederhana: gulma tidak selalu berarti tidak berguna. Tanaman kecil yang sering dicabut dan dibuang ini ternyata dapat menjadi sumber pangan, nutrisi, dan bahan penelitian ilmiah.
Mengenal krokot membuat kita semakin sadar bahwa halaman dan lahan di sekitar kita menyimpan keanekaragaman hayati yang bernilai. Yang penting bukan sekadar mengetahui bahwa tanaman liar memiliki khasiat, tetapi juga memahami mana yang sudah terbukti secara ilmiah, bagaimana mengonsumsinya dengan aman, dan kapan tidak boleh mengandalkannya sebagai pengobatan.
Penulis: Mochamad Zamroni


Nah setelah aku membaca artikel ini banyak hal yang baru aku ketahui, krokot ini ada di beberapa titik taman sekolah SDN SEMOLOWARU 1/261, Krokot ini terkenal sangat tangguh, dan mudah di budidayakan lagi serta tahan panas, dan memiliki pesona yang luar biasa saat bunganya bermekaran.
Achmad Brian Al Virendra ( BRIAN)
SDN SEMOLOWARU 1/261
NO. Peserta : 229
Proyek : Budidaya Si Batang Harum SERAYA ( Serai Rakyat Surabaya)