Challenge/Tantangan II Surabaya
Challenge/Tantangan II Surabaya Eco School 2026 untuk masa realisasi 2–15 November 2026 adalah sebagai berikut:
1. Aksi Lingkungan Hidup oleh Setiap Kegiatan Ekstrakurikuler
Minta setiap kegiatan ekstrakurikuler di sekolah untuk melakukan aksi lingkungan hidup sebelum atau sesudah melaksanakan kegiatan rutin ekstrakurikuler.
Aksi lingkungan hidup yang dilakukan dapat berupa:
- Memungut sampah organik dan memasukkannya ke dalam media pengomposan.
- Pembuatan eco enzym dari kulit buah.
- Mengumpulkan sampah kertas dari beberapa ruang kelas.
- Melakukan aksi lingkungan hidup lainnya sesuai kondisi dan potensi sekolah.
2. Atraksi Inovatif dan Edukatif untuk Warga Sekolah
Buat atraksi inovatif dan edukatif secara berkelompok untuk dipertunjukkan kepada seluruh warga sekolah pada waktu istirahat.
Atraksi dapat berupa aksi berdiri mematung (freeze) di gerbang sekolah sambil memegang poster berisi fakta tentang permasalahan sampah di tingkat lokal maupun internasional. Peserta dapat menyambut warga sekolah dengan beragam ekspresi wajah yang menarik.
Atraksi juga dapat dilakukan di kantin sekolah saat jam istirahat. Alternatif lainnya adalah melakukan aksi bersama dengan membentuk formasi huruf SES 2026, nama sekolah, dan/atau pesan lingkungan hidup yang menarik.
3. Aksi Nyata Sesuai Kelompok Kerja
Lakukan aksi nyata lingkungan hidup sesuai dengan kelompok kerja masing-masing sebagaimana telah ditetapkan pada Challenge/Tantangan I.
4. Pembuatan Lubang Resapan Biopori di Sekolah
Lakukan pembuatan lubang resapan biopori di lingkungan sekolah. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan:
- Mengefektifkan kembali lubang resapan biopori yang pernah dibuat sebelumnya.
- Membuat lubang resapan biopori baru di lokasi yang memungkinkan.
Untuk prioritas pembuatan lubang resapan biopori baru, pilihlah lokasi di sekitar saluran air hujan atau parit di lingkungan sekolah, bukan di selokan.
Parit atau saluran air hujan umumnya hanya terisi air ketika dan setelah hujan. Sementara itu, selokan dapat berisi air buangan dari dapur dan toilet yang berpotensi membawa bahan pencemar.
Pastikan lubang resapan biopori dibuat sedalam mungkin sesuai kondisi tanah. Kedalaman idealnya sekitar 1 meter atau hingga mencapai lapisan tanah sebelum muka air tanah. Apabila proses pengeboran menemui batu atau kerikil, gunakan peralatan yang sesuai untuk mengatasinya, seperti linggis.
Pembuatan lubang resapan biopori sangat bermanfaat untuk meningkatkan peresapan air hujan ke dalam tanah. Upaya ini dapat membantu mengurangi limpasan air yang berpotensi menyebabkan banjir, sekaligus mendukung ketersediaan cadangan air tanah untuk menghadapi musim kemarau.
Tunas Hijau menyediakan beberapa bor manual untuk pembuatan lubang resapan biopori yang dapat dipinjam oleh sekolah. Masa peminjaman dibatasi maksimal 1 x 24 jam.
Apabila lokasi pembuatan biopori berupa lahan yang telah tertutup semen atau aspal, sekolah dapat mengupayakan peminjaman jack hammer (bor listrik pemecah beton) milik DLH Surabaya.
5. Pengisian Media Pengomposan dengan Sampah Organik
Isi seluruh media pengomposan yang tersedia di sekolah, meliputi:
- Takakura.
- Komposter aerob.
- Komposter bag.
- Lubang resapan biopori.
- Dan/atau jenis komposter lainnya
Pengisian dilakukan menggunakan sampah organik hingga mencapai sedikitnya setengah dari kapasitas masing-masing media pengomposan.
Cara memperoleh sampah organik untuk pengomposan ini cukup mudah. Sekolah dapat melakukannya melalui beberapa kali aksi, misalnya dengan mengadakan kegiatan gerebek pasar tradisional atau mengadopsi warung makan di sekitar sekolah sebagai sumber sampah organik.
6. Kampanye Pengolahan Sampah Organik
Lakukan kampanye pengolahan sampah organik kepada warga sekolah dan perwakilan orang tua siswa di sekolah.
Ragam kegiatan atau kampanye pengolahan sampah organik dapat dikembangkan dari berbagai ide yang tersedia pada tautan berikut:
7. Siaran Radio Sekolah Memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2026
Peringati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2026 yang diperingati setiap tanggal 5 November melalui siaran radio sekolah.
Buatlah tema siaran yang berbeda pada setiap hari pelaksanaan siaran. Berikut 10 alternatif tema yang dapat dipilih dan dikembangkan:
- Sampah Kita, Ancaman Nyata bagi Satwa Liar dan Tumbuhan IndonesiaMengulas dampak pencemaran sampah terhadap habitat alami, kehidupan tumbuhan, dan rantai makanan.
- Plastik di Hutan, Laut, dan Sungai: Si Pembunuh Sunyi Keanekaragaman HayatiMembahas pencemaran plastik, termasuk mikroplastik, yang mengancam kelestarian ekosistem dan kehidupan satwa.
- Cinta Puspa dan Satwa Dimulai dari Pilah Sampah di RumahMenjelaskan peran individu dan keluarga dalam menjaga kelestarian ekosistem melalui kebiasaan memilah dan mengelola sampah.
- Satwa Makan Plastik: Fakta Pilu dari Alam IndonesiaMengungkap berbagai kasus satwa yang menelan sampah plastik dan dampaknya terhadap kelangsungan hidup satwa tersebut.
- Sekolah Tanpa Sampah untuk Puspa dan Satwa yang Lebih LestariMenggugah peran sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang ramah terhadap keanekaragaman hayati.
- Hutan Bersih, Habitat Nyaman: Upaya Mengurangi Sampah di Kawasan KonservasiMembahas pentingnya pengelolaan sampah di taman nasional, kawasan konservasi, dan destinasi wisata alam.
- Sampah Organik, Sahabat Baru Tumbuhan dan SatwaMengulas pengolahan sampah organik menjadi kompos sebagai upaya menjaga kesuburan tanah dan mendukung keseimbangan ekosistem.
- Sampah Plastik Sekali Pakai: Musuh Bersama Flora dan Fauna IndonesiaMengulas dampak penggunaan plastik sekali pakai serta pentingnya upaya pengurangan sampah plastik untuk melindungi flora dan fauna.
- Biodiversitas Tersandera Limbah: Saat Ekosistem Terbebani Sampah KitaMenghubungkan peningkatan volume sampah dan pencemaran dengan kerusakan habitat serta ancaman terhadap keanekaragaman hayati.
- Daur Ulang Kreatif untuk Menyelamatkan Flora dan Fauna dari Ancaman SampahMengajak warga sekolah berinovasi dalam mendaur ulang sampah sekaligus memberikan manfaat nyata bagi kelestarian lingkungan hidup.
PENTING! KETENTUAN DOKUMENTASI DAN PUBLIKASI
- Setiap realisasi Challenge/Tantangan II wajib dibuatkan vlog Instagram yang mendokumentasikan kegiatan dan aksi nyata yang dilakukan.
- Setiap aksi realisasi challenge wajib didokumentasikan dalam bentuk foto dan/atau video, kemudian diunggah melalui akun Instagram sekolah.
- Dalam setiap unggahan, pastikan akun Instagram Tunas Hijau @tunashijauid ditandai (tag) dan mencantumkan seluruh tagar berikut:
#surabayaecoschool2026 #namasekolah #climateaction #tunashijauid


Tunas Hijau selalu memberikan tantangan yg sangat menarik guna menjaga lingkungan kita, kali ini ada adalah lomba Surabaya Eco School
Dengan adanya kegiatan ini diharap semua warga sekolah bisa ikut berpartisipasi untuk menjaga lingkungan disekolahnya
Salam Bumi Pasti Lestari
Salam Zerowaste
Marshall Dastan PR
SMP Negeri 1 Surabaya
KOMANDAN (289)
Challenge II adalah tantangan yang paling mengubah perilaku. Challenge I masih soal sosialisasi, Challenge II sudah aksi massal. Atraksi freeze di gerbang itu cerdas, karena edukasi yang menghibur lebih mudah diingat daripada ceramah. Begitu juga kewajiban ekstrakurikuler aksi lingkungan dulu, ini membuat semua siswa merasa menjadi kader lingkungan, bukan hanya tim lingkungan.
Nama : Andra Devaro kadang
No peserta : 0685
Sekolah : SDN NGAGEL REJO III/398
Proyek : SI PERIANG (solusi inovatif pemanfaatan air Leri dan kulit bawang)
Mengurangi limbah sampah dan melindungi lingkungan🌎🌱🌿
Luar biasa! Kegiatan Surabaya Eco School ini sangat bagus untuk menanamkan kepedulian lingkungan sejak dini kepada anak-anak. Sukses selalu untuk aksi lingkungannya yang Melibatkan setiap kegiatan dalam aksi lingkungan hidup merupakan langkah nyata yang efektif untuk membentuk generasi yang cinta bumi .
🧒Nama : Nizam Nakhla Hartono
🏫Sekolah : SDN NGAGELREJO III/398
📄No.peserta : 0697
🌱Proyek : KOMPAS ( Kompos pasar sehat)