Putri LH 2025 Naziya Ajak Warga Kedurus Wujudkan Gerakan 1 Rumah 1 Bidara

Putri Lingkungan Hidup 2025, Naziya Putri Syafira, terus menggelorakan Gerakan 1 Rumah 1 Bidara. Pada pekan pertama tahun 2026, tepatnya Senin (5/1/2026) petang, gerakan tersebut kembali disosialisasikan oleh Naziya dalam pertemuan pengurus PKK RW 8 Perumahan Gunung Sari Indah, Kelurahan Kedurus, Kota Surabaya.

Ketua PKK RW 8 Kelurahan Kedurus, Sumartini, mengawali pertemuan dengan menekankan pentingnya ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. “Saya mengingatkan kembali agar setiap rumah menggalakkan penghijauan yang juga menghasilkan bahan pangan yang bisa dikonsumsi,” ujar Sumartini.

Sumartini menambahkan bahwa gerakan penghijauan perlu terus diperkuat di lingkungan RW 8. “Dalam pertemuan PKK ini, saya mengajak ibu-ibu mendukung gerakan penghijauan yang dirintis oleh Putri Lingkungan Hidup 2025, Naziya Putri Syafira, yang sejak tahun 2025 telah membudidayakan ribuan tanaman bidara,” tambahnya.

Dukungan tersebut membuat Naziya semakin bersemangat. “Sejak Mei 2025, saya telah membudidayakan 2.748 tanaman bidara. Pada awal Desember lalu, setiap rumah di RT 1 RW 8 telah mengadopsi tanaman bidara hasil budidaya saya,” ujar Naziya, yang dalam kegiatan ini didampingi Presiden Tunas Hijau, Mochamad Zamroni.

Naziya menjelaskan bahwa tanaman bidara memiliki sistem perakaran tunggang dan serabut yang kuat. “Bidara merupakan tanaman serbaguna dengan nilai ekologis, kesehatan, dan budaya. Pohonnya relatif kuat, berakar dalam, dan mampu bertahan di tanah kurang subur, sehingga cocok untuk penghijauan dan penahan erosi,” jelasnya.

Putri Lingkungan Hidup 2025 Naziya Putri Syafira membagikan tanaman bidara hasil budidayanya kepada pengurus PKK RW 8 Gunung Sari indah

Dari sisi kesehatan, daun bidara telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. “Berbagai penelitian menunjukkan bahwa daun bidara mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, dan tanin yang bersifat antioksidan, antimikroba, serta antiinflamasi,” terang Naziya. Daun bidara kerap digunakan untuk membantu mengatasi masalah kulit, mempercepat penyembuhan luka, serta menjaga kesehatan rambut dan kulit kepala.

Selain manfaat fisik, Naziya menambahkan bahwa tanaman bidara juga memiliki nilai spiritual dan budaya. “Bidara disebut dalam beberapa literatur keagamaan dan kerap dikaitkan dengan simbol kesucian serta perlindungan. Tanaman ini termasuk tanaman sunnah dan disebutkan beberapa kali dalam Al-Qur’an,” ujar Naziya, siswa kelas V SDN Sawunggaling I Surabaya.

Menurut Naziya, kombinasi manfaat ekologis, kesehatan, dan nilai budaya menjadikan bidara sebagai tanaman lokal yang sangat potensial untuk dikembangkan secara lebih luas. Ia juga memaparkan berbagai produk olahan yang telah dikembangkannya. “Selama ini saya memanfaatkan daun bidara untuk produk minuman herbal, masker bidara, dan sabun bidara,” jelasnya sambil menunjukkan produk-produknya.

Sementara itu, Rina Islander, Ketua Kelompok Kerja II PKK RW 8 Gunung Sari Indah, mengaku semakin termotivasi untuk menanam dan merawat tanaman bidara. “Selama ini ada beberapa tanaman bidara di permukiman ini yang hanya ditanam tanpa perawatan maksimal,” ujarnya.

Setelah memahami beragam manfaat bidara dari penjelasan Naziya, Rina mengaku semakin bersemangat. “Apalagi daun bidara ternyata juga laku dijual secara daring. Bisa menambah penghasilan,” tutur Rina Islander, yang seusai pertemuan mengajak Naziya dan tim Tunas Hijau meninjau tanaman bidara di taman RW 8.

Penulis: Mochamad Zamroni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *