Queen Rumah Maggot Jadi Ruang Belajar Tim SIKAP SMAN 5 Surabaya
Sebanyak dua belas siswa dan guru SMAN 5 Surabaya mengunjungi Qumaggot (Queen Rumah Maggot), Senin (17/8/2026). Mereka merupakan anggota dan pembina SIKAP (Sekolah Inovasi Ketahanan Pangan) SMAN 5 Surabaya. Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi Queen Anneysa Kabeer Lukito, Putri Lingkungan Hidup 2024, untuk berbagi pengalaman sekaligus mengenalkan pengolahan sampah organik dengan memanfaatkan maggot Black Soldier Fly (BSF).
Qumaggot merupakan tempat pengolahan sampah organik berbasis budidaya maggot BSF yang dikembangkan oleh Queen Anneysa Kabeer Lukito. Qumaggot mulai dibangun pada Februari 2024, ketika Queen masih menjadi siswa SMPN 1 Surabaya. Lokasinya berada di kawasan Jalan Kedung Cowek, Surabaya, sekitar kawasan Tambakwedi dan dekat akses menuju Jembatan Suramadu. Kini, Queen telah menjadi siswa SMAN 5 Surabaya.
Dalam kunjungan tersebut, Queen tidak hanya memperkenalkan maggot kepada para tamu. Ia mengajak anggota dan pembina SIKAP melihat secara langsung bagaimana sampah organik dapat dipilah, dipersiapkan, dimanfaatkan sebagai pakan maggot, hingga menghasilkan biomassa maggot dan residu yang masih dapat dimanfaatkan.
Queen mengawali penjelasan dengan mengajak siswa mengenali jenis sampah organik yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan maggot. Sisa sayuran, buah-buahan, dan beberapa jenis sisa makanan dapat diolah menjadi sumber pakan bagi larva BSF. Namun, tidak semua sampah organik dapat langsung diberikan kepada maggot. Karena itu, pemilahan menjadi tahap penting agar bahan yang diberikan sesuai dan tidak tercampur dengan plastik maupun material lain yang tidak dapat dimakan maggot.

Setelah mengenal jenis sampah, siswa diajak mempraktikkan pemilahan. Sampah organik dipisahkan dari plastik dan sampah anorganik lainnya. Sampah yang telah terpilah kemudian ditimbang. Menurut Queen, kegiatan menimbang bukan sekadar mengetahui jumlah sampah, tetapi juga penting untuk mengetahui seberapa besar potensi sampah organik yang dapat dikurangi melalui pengolahan menggunakan maggot.
Tahap berikutnya adalah persiapan pakan. Sampah organik yang telah dipilah perlu dipersiapkan sebelum diberikan kepada maggot, salah satunya dengan mencacah atau menghaluskan bahan agar lebih mudah dimanfaatkan oleh larva. Kondisi pakan, termasuk kadar air, juga perlu diperhatikan. Pakan yang terlalu basah maupun terlalu kering dapat memengaruhi kondisi media dan proses budidaya.
Queen kemudian memperlihatkan bagaimana pakan diberikan kepada maggot. Siswa dapat mengamati secara langsung proses pemberian pakan sekaligus memahami bahwa jumlah dan frekuensi pemberian tidak dilakukan sembarangan. Pemberian pakan perlu disesuaikan dengan kondisi dan jumlah larva. Dari sini, siswa juga diajak mengamati respons maggot terhadap pakan yang diberikan.
Tidak berhenti pada pemberian pakan, Queen juga menjelaskan siklus hidup BSF. Siswa diperkenalkan dengan berbagai tahapan kehidupan mulai dari telur, larva atau maggot, prepupa, pupa, hingga lalat BSF dewasa. Dengan melihat perbedaan ukuran dan perkembangan maggot, siswa dapat memahami bahwa maggot yang mereka lihat merupakan salah satu fase dalam siklus kehidupan serangga BSF.
Pada kesempatan tersebut, siswa juga dikenalkan dengan proses pemanenan maggot. Maggot dipisahkan dari sisa media sesuai metode yang digunakan, kemudian hasil panen dapat ditimbang. Queen menjelaskan bahwa pemanenan dapat dilakukan secara manual maupun menggunakan alat sederhana, tergantung skala dan sistem budidaya yang diterapkan.
Yang tidak kalah penting, Queen juga memperkenalkan hasil samping dari proses biokonversi sampah organik, yaitu frass atau kasgot. Residu ini berasal dari proses budidaya dan penguraian bahan organik oleh larva. Kasgot dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan tanaman sebagai bahan pembenah atau bagian dari media tanam, dengan penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan proses pengolahan dan keamanan produknya.
Bagi para siswa, kunjungan tersebut memberikan pengalaman yang berbeda. Salah satunya disampaikan Haikal Afham Lisan Sentono, siswa SMAN 5 Surabaya yang mengikuti kunjungan. Ia mengaku memiliki gambaran berbeda sebelum melihat langsung Qumaggot.
“Awalnya saya mengira Qumaggot cuma seperti rumah hidroponik minimalis. Ternyata saat didatangi, Qumaggot tidak hanya sekadar sebuah tempat budidaya. Qumaggot ternyata sebuah wadah pelestarian lingkungan yang terstruktur dan berstandarisasi. Qumaggot juga menjadi sebuah wadah bagi empati siswa terhadap lingkungan serta menjadi sarana pembelajaran bagi siswa,” ujar Haikal.
Kesan positif juga disampaikan Denis Prasetya, S.Pd., Gr., salah satu guru yang turut dalam kunjungan tersebut. Menurutnya, Qumaggot menunjukkan bahwa kreativitas dan kepedulian siswa terhadap lingkungan dapat diwujudkan dalam kegiatan sederhana yang memberikan manfaat besar.
“Menurut saya, Qumaggot merupakan contoh nyata bagaimana kreativitas dan kepedulian siswa terhadap lingkungan dapat diwujudkan dalam sebuah kegiatan yang sederhana tetapi memiliki nilai edukasi dan manfaat yang besar,” ungkap Denis.
Ia juga mengapresiasi inisiatif Queen dalam mengembangkan budidaya maggot. Menurut Denis, kegiatan tersebut tidak sekadar mengajarkan cara memelihara maggot, tetapi juga memperkenalkan bagaimana sampah organik dapat dikelola dan dimanfaatkan kembali sehingga memiliki nilai guna.
“Yang menarik, dari kegiatan ini siswa dapat belajar banyak hal sekaligus, mulai dari pengelolaan sampah, proses budidaya, tanggung jawab dalam merawat makhluk hidup, hingga peluang kewirausahaan,” lanjutnya.
Denis berharap Qumaggot dapat terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi siswa lainnya. “Saya berharap Qumaggot dapat terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi siswa lainnya bahwa ide sederhana yang dikerjakan dengan konsisten dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat,” katanya.
Melalui kunjungan tersebut, Queen ingin menunjukkan bahwa persoalan sampah organik dapat didekati dengan cara yang sederhana sekaligus memiliki nilai edukasi. Siswa tidak hanya melihat maggot sebagai organisme yang mampu memakan sampah, tetapi belajar memahami seluruh prosesnya: memilah sampah, menyiapkan pakan, memberi pakan, merawat maggot, memanen, hingga memanfaatkan hasil dan residunya.
Bagi Queen, menerima kunjungan anggota dan pembina SIKAP SMAN 5 Surabaya menjadi kesempatan untuk mengajak generasi muda melihat sampah dari sudut pandang yang berbeda. Sampah organik yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat dikelola melalui proses biologis sehingga sebagian volumenya dapat dikurangi, sementara hasil budidayanya dapat dimanfaatkan sesuai peruntukannya.
Kunjungan ke Qumaggot pun menjadi pembelajaran langsung mengenai ekonomi sirkular. Siswa dapat melihat bagaimana sampah organik yang semula akan dibuang dapat masuk ke dalam sebuah siklus pemanfaatan: sampah organik menjadi pakan maggot, maggot tumbuh menjadi biomassa yang dapat dimanfaatkan, sementara residunya dapat diolah kembali sesuai kegunaannya.
Dari kunjungan ini, pesan yang ingin ditinggalkan Queen sederhana: jangan buru-buru membuang sampah organik. Pilah, olah, dan manfaatkan dari sumbernya. Karena perubahan besar dalam pengelolaan sampah dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah, sekolah, dan lingkungan sekitar. (*/Mochamad Zamroni)


Maggot yang biasanya dianggap “jijik” ternyata bisa jadi ruang belajar paling produktif! Salut buat Tim SIKAP SMAN 5 Surabaya dan Tunas Hijau. Dari sampah organik → maggot → pakan ternak + pupuk.
👍👍
Nama : Andra Devaro kadang
No peserta : 0685
Sekolah : SDN NGAGEL REJO III / 398 Surabaya
Proyek : SI PERIANG ( solusi inovatif pemanfaatan air Leri dan kulit bawang)
Mengurangi limbah sampah dan melindungi lingkungan 🌍🌿🌱
Keren sekali kak queen pengenalan proyeknya tentang bsf magot saya jadi ta hu kalau qumaggot sangat banyak maanfaatnya mulai dari sampah yg tidak berguna , diolah dan menjadi sangat berguna lagi. Tidak ada yang terbuaang sia2 semua dapat di manfaatkan.
Regitha novita azzahra
Sdn pacarkeling 1
Nomer peserta 374
Proyek mengolah cangkang telur
Woww.. Kak Queenn..
Keren sekali kak.. dulu kakak kelas waktu SD proyek jahe merah. Skrg QMaggot..
Jadi inspirasi buat Jericho nihh
🧒🏻 Saya Jericho Kurniawan Jr.
✅️ Nomer peserta 109
🏫 Dari SDN Ketabang I / 288 Surabaya
♻️ Nama Proyek saya adalah BuMaHong (Budidaya Tanaman Binahong)
Sebanyak dua belas siswa dan guru SMAN 5 Surabaya mengunjungi Qumaggot (Queen Rumah Maggot), Senin (17/8/2026). Mereka merupakan anggota dan pembina SIKAP (Sekolah Inovasi Ketahanan Pangan) SMAN 5 Surabaya.Queen tidak hanya memperkenalkan maggot kepada para tamu. Ia mengajak anggota dan pembina SIKAP melihat secara langsung bagaimana sampah organik dapat dipilah, dipersiapkan, dimanfaatkan sebagai pakan maggot, hingga menghasilkan biomassa maggot dan residu yang masih dapat dimanfaatkan. Kak queen inii sangatt keren dapat di kunjungi 12 siswa SMA 5 surabaya.
Nama : Nawan Arifalle Safni
Asal Sekolah : SMPN 56 SURABAYA
Nomer Peserta : 0667
Proyek : Aksi Ecobrick
Maggot memang menjadi solusi pengolahan limbah khususnya sisa makanan dari rumah, sisa MBG, Dan warung makan.
Ezra Akbar “Eco Warrior JWS 1” siap beraksi untuk menyelamatkan bumi dengan eco enzyme.
Saya mengolah sampah organik seperti kulit nanas/ kulit buah lainnya menjadi eco enzyme. Manfaat eco enzyme sangat banyak salah satunya untuk kesehatan. Eco enzyme bisa digunakan sebagai antiseptic dan desinfektan.
Sehat Jiwa Raga dengan eco enzyme.
🧒 Ezra Akbar Ulumuddin
♻️Mengolah Sampah Organik menjadi eco enzyme.
🏫SDN Jemurwonosari 1 Surabaya
🆔Nomor Peserta 057