Pengunjung Bromo Harus Biasakan Membuang Sampah Pada Tempatnya
Probolinggo- Dingin sangat terasa menyengat saat kedatangan beberapa aktivis Tunas Hijau di desa Cemoro Lawang, kecamatan Sakapura, kabupaten Probolinggo, Minggu (26/2) malam. Suhu saat itu berada pada kisaran 9 derajat Celcius. Suara hewan malam yang bersahutan menambah suasana alam desa setempat. Pengembangan eco-tourism atau wisata lingkungan adalah tujuan keenam aktivis Tunas Hijau di kawasan wisata yang diakui keindahannya oleh dunia, yaitu gunung Bromo.

Untuk bisa menikmati keindahan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru tersebut memang tidak terlalu mahal. Dengan membayar tiket masuk Rp. 6.500 untuk wisatawan domestik dan Rp. 25.000 untuk wisatawan asing, masyarakat sudah bisa menikmatinya. Menurut Sowandi, salah satu pegawai taman nasional itu, untuk menuju ke kawah gunung Bromo bisa dilakukan dengan 3 cara. “Dengan naik jeep atau hartop, kuda, ojek atau jalan kaki ,” ujar Sowandi
Soewandi menambahkan bahwa dengan menggunakan jeep, wisatawan dikenakan biaya sekitar Rp. 300.000,- per orang untuk mengunjungi 2 lokasi wisata sekaligus yaitu penanjakan 2 dan kawah gunung Bromo. Bila menggunakan ojek dikenakan biaya Rp. 75.000,- dengan rute lokasi yang sama. Sedangkan dengan jalan kaki membutuhkan waktu sekitar 3 jam dengan melewati lautan pasir yang mempunyai jarak sekitar 4 km dari lokasi parkir mobil. Sedangkan naik kuda dengan harga Rp. 200.000,- dengan rute kawah gunung Bromo. Eco-tourism ke gunung Bromo ini bukanlah kali pertama bagi Tunas Hijau.

Penggunaan jeep atau hartop dipilih Tunas Hijau untuk mengantar ke lokasi kaki kawah gunung Bromo. Tepat pukul 03.00 WIB, Tunas Hijau melakukan perjalanan menuju ke Pananjakan 2. Saat dalam perjalanan, pemandangan bekas letusan gunung Bromo sangat terlihat jelas. Abu vulkanik yang mempunyai ketebalan sekitar 30 cm yang menutupi jalan bisa dilihat dengan mata telanjang.
Di Pananjakan 2, para wisatawan harus melakukan perjalanan pendakian bukit yang memakan waktu sekitar 30 menit untuk bisa melihat sunrise atau matahari terbit. Sekali lagi, dampak letusan gunung yang terjadi tahun lalu menjadi pemandangan tambahan bagi wisatawan saat menaiki tangga menuju puncak kawah Bromo.
Selain itu, kesadaran para pengunjung untuk tetap menjaga kebersihan lokasi wisata ini nampaknya kurang. Hal ini bisa terlihat saat banyaknya sampah plastik bekas pembungkus makanan yang berserakan di sepanjang jalan. Sampah plastik pun banyak terlihat dibuang sembarangan para pengunjung di area tebing tempat para pengunjung melihat sunriise.

Saat matahari sudah terbit secara utuh, pemandangan pohon tumbang, tanah longsor dan jalan yang tertutup bekas erupsi gunung merapi menjadi pemandangan yang sangat jelas terlihat. Menurut Yusup, sopir jeep, belum ada penanganan khusus dari pemerintah untuk melakukan perbaikan. Sehingga untuk mengembalikan Bromo seperti dulu lagi membutuhkan waktu yang lumayan lama. “Hanya ada penanganan darurat saja yang dilakukan pemerintah,“ ujar Yusup.
Dalam perjalanan menuju puncak, pemandangan awan indah yang menyelimuti bukit-bukit kecil menjadi pemandangan umum. Ditambah dengan warga suku Tengger yang nampak sedang melakukan aktivitas di ladang yang sudah jarang sekali dilihat di perkotaan.
Pemandangan tak sedap berupa tumpukan sampah pun ada banyak terdapat di lautan pasir. Sampah tersebut bukan hanya berasal dari para wisatawan saja. Pedagang yang mengais rizki di area wisata pun patut turut memberikan kontribusi. Menurut salah seorang pedagang, tidak adanya fasilitas penunjang kebersihan seperti tempat sampah membuat mereka membuang sampah sembarangan. “Kalau terlalu banyak ya dibakar,” ujar salah seorang pedagang.
Pembersihan sampah pun sering dilakukan oleh petugas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Ini bisa dilihat saat itu banyak petugas berjaket hitam melakukan pungut sampah di area kawah. “Sampah yang telah didapat akan diangkut dengan mobil bak terbuka,” ujar salah satu petugas. Petugas itu menambahkan volume sampah di lokasi wisata ini bisa meningkat 3 kali lipat saat hari libur atau hari besar agama. (suud)
