Sampah Tekstil yang Menumpuk di Pantai: Ancaman Baru bagi Ekosistem Pesisir

Hamparan pasir yang seharusnya menjadi daya tarik wisata di Pantai Kenjeran sekitar Patung Surabaya nampak dipenuhi tumpukan sampah tekstil pada Aksi Bersih Pantai seri#235 yang diselenggarakan oleh Tunas Hijau ID, Sabtu (4/7/2026) pagi. Sekitar 165 orang relawan ikut serta. Sekitar 1200 kg sampah terkumpul dari pantai.

Potongan kain, pakaian bekas, sarung, tas, sprei, hingga berbagai produk berbahan serat sintetis bercampur dengan sampah plastik, kayu, dan limbah lainnya. “Jumlahnya meningkat drastis karena terbawa aliran sungai maupun arus laut dalam beberapa pekan terakhir. Dilihat dari tumpukan tekstil yang nampak merata di sepanjang pantai, nampak bahwa sampah tekstil ini tidak dibuang langsung orang ke pantai ini,” kata Aktivis Senior dan Presiden Tunas Hijau Mochamad Zamroni di sela-sela aksi bersih pantai.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pencemaran pesisir tidak hanya berasal dari sampah plastik, tetapi juga dari limbah tekstil yang volumenya terus bertambah setiap waktu. “Sampah tekstil memiliki karakteristik yang membuatnya sulit ditangani ketika telah berada di lingkungan pantai. Bahan sintetis seperti poliester, nilon, dan akrilik memerlukan waktu sangat lama untuk terurai secara alami,” tambah Zamroni. 

“Selama berada di alam, paparan sinar matahari, ombak, dan gesekan pasir akan mengikis material tersebut menjadi serat-serat mikro yang mencemari perairan,” Zamroni melanjutkan penjelasannya. 

Ditanbahkan oleh Nizamudin Imam Santoso, Aktiis Senior Tunas Hijau, mikrofiber ini berpotensi tertelan oleh ikan, kerang, penyu, dan berbagai biota laut lainnya. “Mikrofiber ini dapat mengganggu kesehatan ekosistem dan pada akhirnya masuk ke rantai makanan manusia,” Nizamudin menjelaskan.

Penumpukan sampah tekstil di pantai umumnya merupakan akumulasi dari berbagai aktivitas di daratan. “Limbah rumah tangga, industri konveksi dan garmen, perdagangan pakaian bekas, hingga budaya konsumsi fesyen yang semakin cepat menghasilkan tekstil yang dibuang dalam jumlah besar,” terag Nizamudin. 

Ketika pengelolaan limbah tidak memadai, hujan membawa sampah tersebut ke saluran drainase dan sungai, kemudian bermuara di laut. “Arus dan gelombang laut selanjutnya mengendapkan limbah tekstil di garis pantai sehingga membentuk tumpukan yang dapat mencapai ratusan bahkan ribuan kilogram pada lokasi-lokasi tertentu,” lanjut Gayatri Kayla Frinanda, Putri Lingkungan Hidup 2024, usai aksi.

Permasalahan ini membutuhkan penanganan yang lebih serius dibanding sekadar kegiatan bersih pantai. “Pemerintah daerah perlu memperkuat sistem pengelolaan limbah tekstil, membangun fasilitas pengolahan dan daur ulang, serta mendorong penerapan ekonomi sirkular di sektor tekstil,” Zamroni menyarankan. 

Naziya Putri Syafira, Putri Lingkungan Hidup 2025, juga berpendapat bahwa industri perlu bertanggung jawab terhadap produk yang dihasilkan. “Sedangkan masyarakat didorong mengurangi pembelian pakaian yang tidak diperlukan, memperpanjang masa pakai tekstil, serta mendonasikan atau mendaur ulang pakaian yang masih layak,” pungkas Naziya Putri Syafira, Putri Lingkungan Hidup 2025 usai aksi bersih pantai. 

Penulis: Mochamad Zamroni

20 thoughts on “Sampah Tekstil yang Menumpuk di Pantai: Ancaman Baru bagi Ekosistem Pesisir

  • Juli 9, 2026 pada 16:43
    Permalink

    Nama : Khaira Tyza Putri Rahimsyah
    Asal Sekolah : SMPN 39 SURABAYA
    Proyek : #SobatLarva
    Hallo sobat Hijau! Salam Bumi, Pasti Lestari!
    Dari artikel ini aku baru sadar kalau pencemaran pantai ternyata nggak cuma disebabkan oleh sampah plastik, tapi juga sampah tekstil yang jumlahnya terus meningkat. Yang bikin aku kaget, sampah tekstil bisa berubah menjadi mikrofiber yang berbahaya bagi biota laut dan bahkan bisa masuk ke rantai makanan manusia.

    Menurutku, masalah ini nggak cukup diselesaikan dengan aksi bersih pantai aja. Perlu ada kerja sama dari pemerintah, industri, dan kita sebagai masyarakat untuk lebih bijak dalam membeli, menggunakan, dan mengelola pakaian. Terima kasih Tunas Hijau atas edukasinya! Semoga kita semua bisa mulai peduli dari kebiasaan sehari-hari. Aamiinn.

    Balas
    • Juli 12, 2026 pada 21:32
      Permalink

      Satu kata yang selalu menjadi masalah yaitu sampah. Masyarakat kita masih rendah dalam kesadaran membuang sampah pada tempatnya. Terlebih sampah dengan jenis yang sulit terurai. Sampah tekstil adalah salah satu sampah yang sampai saat ini masih menjadi kendala dalam pengelolahanya. Semoga masyarakat semakin sadar pentingnya membuang dan mengolah sampah dengan bijak.

      Dari : Praja Wijarko Nugroho
      SDN Sedati Gede 1

      Balas
    • Juli 16, 2026 pada 19:39
      Permalink

      Muhammad Usman Dzikrullah
      SDN Jemur Wonosari 1 Surabaya
      Kenapa sih orang” bnyk yg buang sampah di pantai???
      Apakah sampah disana memang berasal dari orang” sekitar pantai???
      Kenapa jg bnyk baju” dibuang ke pantai???
      Dimana hati nurani kalian sebagai makhluk Tuhan…..

      Berubah mulai dari diri sendiri
      Cintai lingkungan
      Lingkungan bersih dg ecoenzim
      Yuk selamatkan bumi dg ecoenzim

      Muhammad Usman Dzikrullah
      SDN Jemur Wonosari 1 Surabaya

      Balas
  • Juli 9, 2026 pada 19:06
    Permalink

    Aksi bersih pantai bukan cuma soal memungut sampah yang sudah ada, tapi juga tentang mencegah sampah baru terbentuk. Setuju banget dengan Putri Lingkungan Hidup 2025. Sudah saatnya kita beralih ke gaya hidup slow fashion. Sebelum memutuskan membuang pakaian, mari kita pikirkan kembali apakah bisa diperbaiki, didonasikan, atau didaur ulang? Yuk, lebih bijak mengelola isi lemari kita untuk bumi yang lebih bersih!

    Nama : Syifaul Ummah
    Sekolah : SMPN 38 Surabaya
    Proyek : Budidaya Taliba

    Balas
    • Juli 10, 2026 pada 19:57
      Permalink

      nama: Rifqi Adi Putra
      proyek: “sundah”sulap sampah non-organik jadi indah
      sekolah:SMP NEGERI 54 SURABAYA

      Setelah saya baca mengenai banyak nya sampah tekstil di pantai Kenjeran saat melakukan kegiatan bersih’ pantai saya kaget dan sedikit prihatin karna banyak nya sampah tekstil yang meningkat cukup drastis,dan ternyata sampah tekstil bisa berbahaya bagi ekosistem di pantai karna adanya mikrofiber yang bisa masuk juga ke dalam rantai makanan kita, kegiatan bersih bersih pantai bukan hanya membersihkan saja tetapi juga membantu menyadarkan masyarakat dan teman teman agar bisa mengurangi sampah tekstil di sekitar kita

      Balas
  • Juli 10, 2026 pada 11:22
    Permalink

    Semoga kita semua terhindar dari fast fashion, pakailah pakaian yang sdh ada, masih layak dan bagus drpd membeli, belilah baju jika memang benar2 dibutuhkan

    Gayatri Kayla Frinanda
    SMPN 12 Surabaya

    Balas
  • Juli 10, 2026 pada 11:27
    Permalink

    Aksi nyata kegiatan bersih2 pantai ini bukan hanya sekedar bersih2 aja tpi kita juga memberi kan contoh kepada masyarakat klo kita masih peduli dengan kebersihan lingkungan kita, dan sampah kita bisa sebagian kita daur ulang lagi agar tidak banyk sampah kemana2, pemeriksaan juga leih tegas lagi untuk menghimbau masyarakat dengan ada peduli lingkungan. Terimakasih tunas hijau sudah mengajari kita untuk peduli lingkungan .
    Salam bumi pasti lestari

    Seandy putri fitriasari SDN MOJO III
    Budidaya tanaman sayuran

    Balas
  • Juli 10, 2026 pada 11:37
    Permalink

    BRIAN
    SDN SEMOLOWARU 1/261
    Proyek : Budidaya Si Batang Harum SERAYA ( Serai Rakyat Surabaya)

    Sangat edukatif.
    Bahaya mikrofiber dari sampah tekstil ini benar-benar nyata untuk ekosistem laut dan kesehatan kita sendiri.
    Sudah saatnya kita kurangi kebiasaan fast fashion dan mulai beralih ke gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

    Pengelolaan limbah dari hulu ke hilir memang harus diperketat agar pantai kita tetap bersih.

    Terima kasih Tunas Hijau atas aksi nyatanya.

    Semangat Semua dan Sukses selalu Tunas Hijau ID 🌱🌱

    Balas
  • Juli 10, 2026 pada 15:10
    Permalink

    Nama: Jezizta Velove Vandhana
    Proyek: Budidaya Piper Betle (melakukan penanaman daun piper betle yang dapat di manfaatkan menjadi obat)🌿
    Sekolah: SMP Negeri 16 Surabaya
    Sangat memprihatinkan melihat Pantai Kenjeran dipenuhi sampah tekstil hingga mencapai 1.200 kg. Ini menjadi pengingat bahwa limbah pakaian juga merupakan ancaman serius bagi lingkungan, bukan hanya sampah plastik. Semoga semakin banyak masyarakat yang bijak dalam membeli, menggunakan, dan mendaur ulang pakaian, serta bersama-sama menjaga kebersihan sungai dan laut agar kejadian seperti ini tidak terus berulang. 🌿♻️

    Balas
  • Juli 10, 2026 pada 15:27
    Permalink

    Artikel yang sangat mencerahkan sekaligus menampar realitas kita. Selama ini kita lebih fokus pada sampah plastik sekali pakai, padahal limbah fesyen (fast fashion) ternyata menjadi ancaman yang tidak kalah mengerikan bagi ekosistem pantai dan laut. Sudah saatnya kita mengubah perilaku konsumsi pakaian kita—mulai dari menerapkan thrifting, upcycling, hingga memilih bahan yang ramah lingkungan. Terima kasih Tunas Hijau sudah mengangkat isu penting ini

    Aqilla Alifiana Reagan
    SMPN 38 Surabaya
    Proyek : GERIK ( gerakan ecobrick ) aksi nyata menyelamatkan lingkungan

    Balas
  • Juli 10, 2026 pada 18:11
    Permalink

    Assalamualaikum wr. wb, perkenalkan saya Viola Kanaka Ardhani dari SMPN 54 Surabaya, dengan judul proyek Viola’s Craft Pemanfaatan Sampah Plastik Menjadi Bisnis Online Shop.

    Sangat edukatif, seharusnya masyarakat sudah mulai sadar bahaya akan membuang sampah, apalagi tekstil. Padahal sisa kain dsb bisa dibuat tas, baju, dll daripada dibuang di tepi pantai.

    Balas
  • Juli 11, 2026 pada 21:36
    Permalink

    Dari beberapa tempat bersih pantai yang pernah saya ikuti di lokasi Pantai Taman Suroboyo ini unik karena sampah yang banyak terlihat adalah pakaian dari berbagai jenis dan ukuran.
    Cara paling sederhana adalah tidak konsumtif untuk membeli pakaian yang selalu mengikuti tren fashion.

    Ezra Akbar “Eco Warrior JWS 1” siap beraksi untuk menyelamatkan bumi dengan eco enzyme.
    Saya mengolah sampah organik seperti kulit nanas menjadi eco enzyme. Manfaat eco enzyme sangat banyak salah satunya untuk kesehatan. Eco enzyme bisa digunakan sebagai larutan desinfektan.
    Bersih dan sehat dengan eco enzyme.
    Ezra Akbar Ulumuddin
    SDN Jemurwonosari 1 Surabaya

    Balas
  • Juli 12, 2026 pada 06:10
    Permalink

    Lewat video ini , kita bisa melihat kurangnya kesadaran manusia untuk peduli lingkungan, padahal saat ini sudah ada beberapa opsi untuk mengatasi masalah limbah tekstil yaitu diantaranya dengan menyerahkan sampah tekstil kita pada perusahaan recycle use yg akan menjadikan sampah kita menjadi barang multi guna baru (misal dinding board, meja,dll).

    Terima kasih untuk video yang selalu mengedukasi. Perubahan besar dimulai dari langkah kecil.

    Anjani ringga anggara (SDN NGINDEN JANGKUNGAN 1 SURABAYA)

    Balas
  • Juli 12, 2026 pada 10:09
    Permalink

    Baru sadar ga sih sampah dipantai bukan cuma popok ataupun plastik tapi ternyata tekstil juga menjadi ancaman paling berbahaya…
    But we can actually turn textile waste into hair clips, clothes, and bags…
    So mulai sekarang klo masih punya baju bagus jangan langsung dibuang yaa..!!

    🧕Princess Zelda Ilmiah
    🏫SMPN 29 Surabaya

    Balas
  • Juli 12, 2026 pada 21:33
    Permalink

    Assalamualaikum wr.wb, halo sobat hijau, perkenalkan nama saya Kayla Fatiyatu Zahra Ardani dari SMPN 54 Surabaya, dengan judul proyek Pemanfaatan Sampah Non-organik menjadi Beautiful Craft.

    Sangat mengedukasi dan memberikan pemahaman bahwa sampah tekstil juga menjadi ancaman bagi kehidupan di wilayah pesisir. Semoga semakin banyak yang tergerak untuk peduli.

    Balas
  • Juli 13, 2026 pada 21:14
    Permalink

    Nama: Kalexa Dwi Tekadjaya
    Asal sekolah: SMPN 34 Surabaya

    Saya sangat mengapresiasi artikel ini karena memberikan informasi yang bermanfaat tentang bahaya sampah tekstil terhadap lingkungan pesisir. Isu ini perlu mendapat perhatian lebih karena limbah tekstil sering kali luput dari perhatian dibandingkan jenis sampah lainnya. Padahal, jika terus menumpuk, dampaknya dapat mencemari laut, merusak habitat makhluk hidup, dan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai.

    Semoga melalui edukasi seperti ini, masyarakat semakin sadar bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti mengurangi pembelian pakaian yang tidak diperlukan, merawat pakaian agar lebih awet, serta mendukung upaya daur ulang demi masa depan lingkungan yang lebih baik.

    Balas
  • Juli 14, 2026 pada 16:04
    Permalink

    kehadiran 165 orang dalan aksi bersih bersih pantai ini menunjukkan bahwa kita tidak seharusnya tinggal diam melainkan membersihkan bersama, ini bukan mengeluh tapi membantu masyarakat sekitar sadar bahwa sampah ini bisa menbawa penyakit dan merusak ekosistem laut.

    yuk bersihkan pantai bersama tim pangput 2026, pantai bersih udara juga ikut bersih

    elena subekti
    SMPN 11 surabaya
    proyek budi daya tanaman pepaya

    Balas
  • Juli 15, 2026 pada 18:11
    Permalink

    Nama = Kalyca Arij Aruna
    Sekolah = SMPN 1 SURABAYA
    Proyek = Lebara (budidaya kangkung hidroponik)

    Banyaknya sampah tekstil di Pantai Kenjeran ini jadi tamparan buat kita semua untuk lebih peduli sama lingkungan sekitar. Salut banget buat aksi sigap dari Tunas Hijau ID dan para pangput yang mau turun langsung bersih-bersih

    Saya mempunyai proyek “Lebara”, yaitu budidaya kangkung hidroponik. Fokus utama proyek saya adalah untuk menyediakan sayuran segar yang sehat di sekolah sekaligus menciptakan ketahanan pangan lokal yang lebih kuat dan berkelanjutan.

    Balas
  • Juli 16, 2026 pada 23:14
    Permalink

    Nama:Fica Widya Paramitha
    Asal sekolah:SMPN 26 Surabaya
    Nama proyek:KeyCycle(Keychain Recycle)

    Proyek lingkungan saya yaitu KeyCycle-Keychain Recycle, yaitu mengubah sampah botol plastik bekas menjadi gantungan kunci dengan cara melelehkan tutup botol plastik yang telah digunting dengan setrika lalu badan botolnya dijadikan sapu halaman.
     

    Benar sekali bahwa permasalahan sampah tekstil di Pantai Kenjeran membutuhkan perhatian yang jauh lebih mendalam. Kegiatan bersih pantai yang dilakukan oleh Tunas Hijau dan para relawan menunjukkan kepedulian yang nyata, namun penjelasan mengenai asal usul serta dampak jangka panjang dari limbah ini menjadi pengingat penting bahwa solusi yang diambil harus menyentuh sumber masalahnya. Keterlibatan berbagai pihak mulai dari pemerintah, industri, hingga masyarakat luas sangat dibutuhkan agar siklus limbah tekstil dapat terputus dan ekosistem pesisir dapat terjaga dengan baik✨

    Balas
    • Juli 19, 2026 pada 19:37
      Permalink

      Nama : Sabrina Kayla Azzahra
      Asal : SMPN 11 SURABAYA
      Proyek : Pupuk Organik Cair

      Pupuk organik cair yang saya ambil sebagai proyek pangput 2026 yang sudah sangat saya pertimbangkan. Proyek POC ini memiliki banyak manfaat diantaranya: mengurangi sampah organik (kita tahu bahwasannya limbah organik bisa menjadi gas metana yang lebih berbahaya dari co²), mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sintetis.

      Limbah di pantai ternyata tidak cuma plastik dan styrofoam ya.. limbah tekstil ternyata juga banyak di lokasi ini, beribu ribu kg limbah tekstil menumpuk di lokasi Pantai yang seindah ini. Saya sangat setuju terhadap aksi tunas hijau untuk membersihkan pantai rutin setiap Sabtu untuk mengurangi limbah limbah seperti ini di lokasi Pantai yang seharusnya kita dapat menikmati indahnya.. semoga selalu konsisten dan ekosistem pantai semakin membaik lagi

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *