Ketika Stadion Menjadi Ruang Belajar Karakter: Teladan Suporter Jepang

Di tengah riuh sorak-sorai dan euforia Piala Dunia, masyarakat Jepang kembali menunjukkan bahwa kemenangan sejati tidak hanya diukur dari hasil pertandingan di lapangan. Seusai laga, ketika sebagian besar penonton bergegas meninggalkan stadion, para pendukung Jepang justru tetap bertahan untuk memungut sampah di tribun. Botol minuman, gelas plastik, bungkus makanan, hingga tisu dikumpulkan ke dalam kantong-kantong sampah yang telah mereka bawa sendiri dari rumah.

Pemandangan tersebut bukanlah aksi yang dibuat demi menarik perhatian kamera. Tradisi itu telah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi bagian dari budaya pendukung tim nasional Jepang. Bahkan ketika tim mereka menang, seri, maupun kalah, kebiasaan membersihkan stadion tetap dilakukan. Dunia mulai mengenalnya sejak Piala Dunia 1998, kemudian kembali viral pada edisi 2018, 2022, dan kini terus berlanjut pada Piala Dunia 2026.

Bagi masyarakat Jepang, menjaga kebersihan merupakan bentuk penghormatan kepada orang lain dan kepada tempat yang mereka gunakan. Mereka meyakini bahwa meninggalkan suatu tempat dalam keadaan lebih bersih merupakan wujud rasa terima kasih kepada tuan rumah. Karena itulah, memungut sampah bukan dianggap pekerjaan yang memalukan, melainkan sebuah tanggung jawab bersama.

Nilai tersebut sebenarnya telah ditanamkan sejak usia dini. Di banyak sekolah di Jepang, para siswa terbiasa membersihkan ruang kelas, lorong, toilet, hingga halaman sekolah secara bergotong royong. Kebiasaan sederhana ini membentuk karakter disiplin, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap fasilitas umum yang kemudian terbawa hingga mereka dewasa.

Yang menarik, aksi bersih-bersih itu dilakukan secara sukarela tanpa ada instruksi dari panitia ataupun hadiah tertentu. Para suporter membawa kantong sampah berwarna biru, lalu bekerja sama membersihkan area tempat mereka duduk. Beberapa menit setelah peluit akhir dibunyikan, tribun yang semula dipenuhi ribuan penonton tampak kembali bersih dan rapi.

Tidak hanya para suporter, para pemain tim nasional Jepang juga dikenal memiliki kebiasaan serupa. Seusai pertandingan, ruang ganti mereka sering kali ditinggalkan dalam keadaan sangat bersih, perlengkapan ditata rapi, dan sampah telah dikemas dengan baik. Sikap ini memperlihatkan bahwa budaya menghargai kebersihan diterapkan oleh seluruh elemen tim, bukan hanya para pendukungnya.

Aksi sederhana masyarakat Jepang mendapat apresiasi luas dari berbagai negara. Banyak media internasional menilai perilaku tersebut sebagai contoh nyata sportivitas, disiplin, dan kepedulian terhadap lingkungan. Bahkan sejumlah penonton dari negara lain ikut tergerak membantu membersihkan stadion setelah menyaksikan teladan yang diberikan oleh para pendukung Jepang.

Kebiasaan memungut sampah setelah pertandingan mengajarkan bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari tindakan yang rumit. Sebuah stadion yang bersih dapat menjadi simbol bahwa rasa tanggung jawab sosial masih hidup di tengah masyarakat. Jika semangat seperti ini dapat diterapkan di sekolah, tempat wisata, ruang publik, maupun lingkungan tempat tinggal, bukan mustahil budaya peduli kebersihan akan tumbuh menjadi karakter bangsa yang diwariskan dari generasi ke generasi. (*/Mochamad Zamroni)

55 thoughts on “Ketika Stadion Menjadi Ruang Belajar Karakter: Teladan Suporter Jepang

  • Juli 9, 2026 pada 09:29
    Permalink

    Muhammad Usman Dzikrullah
    SDN Jemur Wonosari 1 Surabaya
    MasyaAllah tabarokAllah salut banget dg
    Suporter jepang yg rajin dan aksi nyata menjaga kebersihan.
    Semoga masyarakat Indonesia juga bisa seperti kebiasaan mereka yg rajin dan menjaga kebersihan.
    Lingkungan bersih dg ecoenzim.
    Yuk selamatkan bumi dg ecoenzim.
    Muhammad Usman Dzikrullah
    SDN Jemur Wonosari 1 Surabaya

    Balas
    • Juli 9, 2026 pada 10:13
      Permalink

      Luar biasa untuk Suporter jepang dan masyarakat jepang Tradisi berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi bagian dari budaya pendukung tim nasional Jepang tetapa terjaga lingkungan nya agar tetap bersih dan jadi kota tampah sampah.

      Ervin Andria Nita wati
      SDN MOJO III
      Budidaya tanaman sayur

      Balas
      • Juli 23, 2026 pada 20:43
        Permalink

        Aksi nyata yang patut diacungi jempol. Semoga bisa terus menginspirasi lebih banyak orang ya! Semangat!

        Proyek saya mengolah cangkang telur dari dapur juga semoga menginspirasi teman-teman semua.

        Gibran Al-ahza S.
        SDN Kendangsari 1 Sbya
        no. peserta : 0097

        Balas
  • Juli 9, 2026 pada 09:56
    Permalink

    Kebersihan kalau ditanamkan sejak dini akan selalu terbawa di mana pun kita berada.
    Hal kecil seperti bungkus permen🍬 kalo tidak ada tempat sampah di dekat kita jangan dibuang sembarangan 🚯, simpan dulu dalam saku ato kantong 🎒 ketika ada tempat sampah 🚮.
    Kebiasaan ini yang diajarkan ibuku dan selalu saya ingat.

    Ezra Akbar “Eco Warrior JWS 1” siap beraksi untuk menyelamatkan bumi dengan eco enzyme.
    Saya mengolah sampah organik seperti kulit nanas menjadi eco enzyme. Manfaat eco enzyme sangat banyak salah satunya untuk kesehatan. Eco enzyme bisa digunakan sebagai larutan desinfektan.
    Bersih dan sehat dengan eco enzyme.
    Ezra Akbar Ulumuddin
    SDN Jemurwonosari 1 Surabaya

    Balas
  • Juli 9, 2026 pada 10:01
    Permalink

    Senang rasanya lihat suporter bertanggungjawab
    Semoga suporter2 lain bisa meniru ini

    Gayatri Kayla
    SMPN 12 Surabaya

    Balas
    • Juli 26, 2026 pada 03:31
      Permalink

      Dengan adanya kesadaran dan kepedulian akan kebersihan sungguh sangat besar sekali manfaatnya. Sepertinya sepele namun tidak banyak yang bisa melakukannya. Dengan langkah kecil kepedulian kita terhadap lingkungan namun sangat besar sekali manfaatnya untuk keselamatan bumi.
      Salam bumi pasti lestari
      Ummu Ghaid Mudma’inah
      SMPN 10 Surabaya
      Peserta PANGPUTLH 2026

      Balas
  • Juli 9, 2026 pada 10:17
    Permalink

    Luar biasa untuk Suporter jepang dan masyarakat jepang Tradisi berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi bagian dari budaya pendukung tim nasional Jepang tetapa terjaga lingkungan nya agar tetap bersih dan jadi kota tampah sampah.

    SEANDY PUTRI FITRIASARI
    SDN MOJO III
    Budidaya tanaman sayur

    Balas
  • Juli 9, 2026 pada 10:31
    Permalink

    Kebersihan apabila ditanamkan sejak dini ini akan membiasakan anak terampil, seperti halnya setelah mkn anak di ajari untuk mencuci piring sendiri, selah mkn meja mkn di bersihkan ini akan membuat anak lebih trampil.
    Seperti halnya di Jepang itu sudah menjadi kebiasaan yang sudah turun temurun di kebudayaanya. Jadi masyarakat di sana lebih terampil. Menjaga lingkungan di sekitarnya baik itu di dlm ajang kegiatan kompetisi dimanapun dia berada masyarakat Jepang membiasakan hidup bersih.
    AJUN SAFARAZ BIMAWANSYAH JUNIOR
    SDN SEMOLOWARU 1/261 SURABAYA
    NOMER PESERTA :159
    BUDIDAYA POHON SALAM

    Balas
  • Juli 9, 2026 pada 10:37
    Permalink

    Nama : Shanum Farzana Althaf
    Kelas : 3 SD
    Sekolah : SDN Kandangan 3/621 Surabaya

    Terimakasi Tunas Hijau artikel kali ini sangat menginspiratif, tindakan suporter jepang merupakan teladan moral dan bentuk tanggung jawab sosial yang patut ditiru. Hal tersebut juga sangat membanggakan Negara Jepang sendiri, yang mencerminkan kebiasaan nya di negaranya.
    Semoga kedepan Negara Indonesia tercinta kita bisa perlahan meniru kebiasaan akan peduli kebersihan tersebut, seperti kata tunas hijau ” Bukan mustahil budaya peduli kebersihan akan tumbuh menjadi karakter bangsa yang diwariskan dari generasi ke generasi “.

    Best regards ❤️

    Balas
  • Juli 9, 2026 pada 10:39
    Permalink

    BRIAN
    SDN SEMOLOWARU 1/261
    PROYEK : Budidaya Si Barang Harum SERAYA ( Serai Rakyat Surabaya)

    Halo Sobat Tunas Hijau…
    Setuju sekali dengan artikel ini.
    Manajemen sampah di ruang publik sering kali diabaikan, padahal dari sanalah karakter sebuah bangsa terlihat.

    Suporter Jepang telah memberikan standar baru dalam dunia olahraga. Terima kasih Tunas Hijau sudah menyebarkan virus positif ini.
    Mari kita mulai dari diri sendiri, dari hal kecil, dan dari sekarang di setiap tempat yang kita kunjung.
    Teladan yang patut ditiru oleh semua..

    Salut untuk Tunas Hijau yang selalu mengangkat esensi edukasi lingkungan seperti ini.
    Sukses selalu Tunas Hijau ID

    Balas
  • Juli 9, 2026 pada 11:22
    Permalink

    Hai sobat hijau 🌿..
    Aksi suporter Jepang yang patut dicontoh dengan memunguti dan membersihkan sampah setelah pertandingan secara konsisten di berbagai turnamen, bukanlah sekadar kebersihan biasa.
    Fenomena ini mengajarkan kita bahwa ruang publik adalah cerminan tanggung jawab moral, di mana pendidikan karakter dan kesadaran kolektif dapat mengubah perilaku di mana pun kita berada.

    Aurora axelle alodie rayhan
    SDN LIDAH KULON 1 SBY
    Budidaya tanaman sirih gading (TASIDING)

    Balas
  • Juli 9, 2026 pada 12:58
    Permalink

    memang kebersihan lingkungan itu dari diri kita sendiri. Keren suporter jepang✨🌱

    Nama: Jezizta Velove Vandhana
    Proyek: Budidaya Piper Betle (melakukan penanaman daun piper betle yang dapat di manfaatkan menjadi obat)🌿
    Sekolah: SMP Negeri 16 Surabaya

    Balas
  • Juli 9, 2026 pada 14:30
    Permalink

    Nama: Marista Nur Kirana Putri
    Asal Sekolah: Smp Negeri 38 Surabaya
    Proyek: RIMPANG KUJALENCUR

    Saya sangat kagum dengan sikap para suporter Jepang. Mereka menunjukkan bahwa mencintai lingkungan bisa dilakukan melalui tindakan nyata, bukan hanya kata-kata. Semoga semakin banyak masyarakat yang terinspirasi untuk menjaga kebersihan di mana pun berada. 💚🌱

    Salam Bumi Pasti Lestari 🌍🌱💪🏻

    Peduli
    Produktif
    Anti rebahan
    Mendunia

    👍🏻👍🏻💚💛

    Balas
    • Juli 9, 2026 pada 19:06
      Permalink

      Nama : Aqilla Alifiana Reagan
      Sekolah : SMPN 38 Surabaya
      Proyek : GERIK ( gerakan ecobrick ) aksi nyata menyelamatkan lingkungan.

      Tindakan dari suporter jepang patut di contoh oleh semua orang. Menjaga kebersihan lingkungan adalah kewajiban untuk semua orang . Semoga kegiatan ini bisa dilakukan atau di terapkan di Indonesia.🌿

      Salam bumi pasti lestari 🌿👌🏻

      Balas
  • Juli 9, 2026 pada 21:52
    Permalink

    Nama:Fica Widya Paramitha
    Asal sekolah:SMPN 26 Surabaya
    Nama proyek:KeyCycle(Keychain Recycle)

    Proyek lingkungan saya yaitu KeyCycle-Keychain Recycle, yaitu mengubah sampah botol plastik bekas menjadi gantungan kunci dengan cara melelehkan tutup botol plastik yang telah digunting dengan setrika lalu badan botolnya dijadikan sapu halaman.

    Sungguh teladan luar biasa dari suporter dan tim Jepang menunjukkan bahwa kemenangan sejati juga terlihat dari sikap sopan santun, tanggung jawab, dan rasa hormat pada lingkungan. Kebiasaan membersihkan tempat setelah dipakai, tanpa disuruh dan mengharap imbalan, itu bukti nyata karakter yang dibentuk sejak kecil. Ini mengajarkan kita bahwa menjaga kebersihan bukan cuma tugas petugas, tapi tanggung jawab kita semua. Semoga semangat menular ini bisa kita contoh dan terapkan di sekolah, tempat umum, serta lingkungan kita sendiri.💚

    Balas
  • Juli 10, 2026 pada 12:45
    Permalink

    Artikel ini menekankan bahwa stadion bisa menjadi ruang belajar karakter. Secara logika sosial, ruang publik adalah indikator paling akurat untuk mengukur tingkat disiplin sosial suatu masyarakat. Ketika seseorang merasa bertanggung jawab atas kebersihan tempat yang bukan miliknya (stadion di negara orang lain), itu membuktikan bahwa mereka memiliki kesadaran mereka melihat diri mereka sebagai bagian dari ekosistem yang lebih luas, bukan sekadar konsumen yang membayar tiket dan berhak mengotori tempat.

    Nama : Syifaul ummah
    Sekolah : SMPN 38 Surabaya
    Proyek : Budidaya Taliba ( Tanaman Lidah buaya)

    Balas
  • Juli 10, 2026 pada 18:14
    Permalink

    Assalamualaikum wr. wb, perkenalkan saya Viola Kanaka Ardhani dari SMPN 54 Surabaya, dengan judul proyek Viola’s Craft Pemanfaatan Sampah Plastik Menjadi Bisnis Online Shop.

    Keren sekali memang warga Jepang, kita juga harus bisa mencontoh perilaku yang baik ini, dan lebih memperhatikan lagi tentang sampah plastik yang telah kita konsumsi untuk dibuang di tempat sampah daripada di jalan. Apalagi di tempat umum, semua orang wajib bisa menjaga kebersihan lingkungan sekitar, tidak hanya mengandalkan petugas kebersihan yang menjaga.

    Balas
  • Juli 10, 2026 pada 20:16
    Permalink

    Nama: Rifqi Adi Putra
    Proyek : “sundah” sulap sampah non-organik jadi indah
    Sekolah: SMP NEGERI 54 SURABAYA sungguh luar biasa untuk supporter jepang karna sudah bisa menjaga lingkungan dan memungut sampah saat setelah pertandingan dimana mungkin masi banyak orang yang meninggalkan sampah nya di tempat stadion,tapi dengan supporter jepang sekitar stadion sedikit bersih karna mereka melakukan aksi semut

    kita juga harus bisa melakukan kegiatan itu karna kita sebagai remaja yang peduli lingkungan 🌿

    Balas
  • Juli 10, 2026 pada 23:08
    Permalink

    Saluttt dengan suporter jepang, ini adalah contoh pecinta lingkungan yang keren👍
    Nama Felychia Rosalina Putri
    SDN Sawunggaling 1/382 Surabaya
    Dengan Proyek Pembudidaya Bunga Telang

    Balas
  • Juli 11, 2026 pada 18:26
    Permalink

    Aksi suporter Jepang memang patut ditiru,menjaga kebersihan bisa dijadikan contoh untuk suporter Indonesia juga,keren.
    Nama : Fanny ramadhani
    Ssekolah : SDN Simolawang KIP 156 Surabaya

    Balas
  • Juli 12, 2026 pada 11:35
    Permalink

    saya salut dengan warga jepang yabg tidak meninggalkan sampah di area tempat duduk mereka, kedisplinan karekter yang baik sudah di tanamkan sejak dini. jika masyarakat indonesia juga seperti ini maka lingkungan indonesia aku terlihat bersih dan indah.
    semoga masyarakat indonesia peka dengan hal hal kecil, misal melihat sampah yang ada di tempat umum sebaiknya di bersihkan atau di buabg di tempatnya.

    elena subekti
    SMPN 11 surabaya
    proyek budi daya pepaya

    Balas
  • Juli 12, 2026 pada 11:36
    Permalink

    saya salut dengan warga jepang yabg tidak meninggalkan sampah di area tempat duduk mereka, kedisplinan karekter yang baik sudah di tanamkan sejak dini. jika masyarakat indonesia juga seperti ini maka lingkungan indonesia aku terlihat bersih dan indah.
    semoga masyarakat indonesia peka dengan hal hal kecil, misal melihat sampah yang ada di tempat umum sebaiknya di bersihkan atau di buang di tempatnya.

    elena subekti
    SMPN 11 surabaya
    proyek budi daya pepaya

    Balas
  • Juli 12, 2026 pada 21:33
    Permalink

    Assalamualaikum wr.wb, halo sobat hijau, perkenalkan nama saya Kayla Fatiyatu Zahra Ardani dari SMPN 54 Surabaya, dengan judul proyek Pemanfaatan Sampah Non-organik menjadi Beautiful Craft.

    Kebiasaan suporter Jepang yang membersihkan stadion setelah pertandingan menunjukkan karakter yang luar biasa. Semoga budaya positif seperti ini dapat menginspirasi masyarakat Indonesia.

    Balas
  • Juli 12, 2026 pada 21:54
    Permalink

    Keren…
    Jepang memang salah satu negara besar dengan kedisplinan tinggi. Termasuk membuang sampah di tempatnya. Negara sakura ini maju, karena penduduknya yang taat aturan. Konsisten tinggi serta displin menjadikan warga Jepang setaraf lebih maju di dunia.

    Praja Wijanarko Nugraha
    SDN Sedati Gede 1

    Balas
  • Juli 13, 2026 pada 21:25
    Permalink

    Nama: Kalexa Dwi Tekadjaya
    Asal sekolah: SMPN 34 Surabaya
    Judul proyek: ORBIS MBG (Organik Resapan Biopori Sistem)

    Artikel ini memberikan pelajaran bahwa mendukung tim kesayangan tidak hanya tentang semangat saat pertandingan, tetapi juga tentang menunjukkan karakter yang baik. Sikap suporter Jepang yang tetap membersihkan sampah di stadion setelah pertandingan merupakan contoh nyata disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan.
    Kebiasaan sederhana seperti ini patut ditiru karena menunjukkan bahwa menjaga kebersihan adalah tanggung jawab setiap orang, di mana pun kita berada.

    Balas
  • Juli 13, 2026 pada 21:34
    Permalink

    Nama: Kalexa Dwi Tekadjaya
    Asal sekolah: SMPN 34 Surabaya
    judul proyek: ORBIS MBG (Organik Resapan Biopori Sistem)

    Artikel ini memberikan pelajaran bahwa mendukung tim kesayangan tidak hanya tentang semangat saat pertandingan, tetapi juga tentang menunjukkan karakter yang baik. Sikap suporter Jepang yang tetap membersihkan sampah di stadion setelah pertandingan merupakan contoh nyata disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan. Kebiasaan sederhana seperti ini patut ditiru karena menunjukkan bahwa menjaga kebersihan adalah tanggung jawab setiap orang, di mana pun kita berada

    Balas
  • Juli 18, 2026 pada 13:29
    Permalink

    Sangat inspiratif! Stadion bukan hanya tempat mendukung tim, tetapi juga bisa menjadi ruang belajar tentang sikap saling menghargai, disiplin, dan kepedulian terhadap lingkungan. Semoga budaya positif seperti ini bisa semakin berkembang.

    NAMA :ERLINDA DWI CLARISTA
    SEKOLAH :SMPN 38 SURABAYA
    PROYEK :GEMA SAYWA (GERAKAN MENANAM SAMBUNG NYAWA)

    Balas
  • Juli 19, 2026 pada 15:23
    Permalink

    Semoga budaya positif seperti yang ditunjukkan suporter Jepang dapat menginspirasi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih peduli terhadap kebersihan dan lingkungan. Semoga semakin banyak orang yang menyadari bahwa menjaga kebersihan adalah tanggung jawab bersama, sehingga karakter disiplin, peduli, dan cinta lingkungan dapat tumbuh dalam kehidupan sehari-hari

    Nama:Diky Yulia Efendi
    Sekolah:SMP Negeri 11 Surabaya
    Proyek:Reverda(pengolahan sampah kering menjadi barang yang bernilai)

    Balas
  • Juli 20, 2026 pada 10:44
    Permalink

    Nama : Sabrina Kayla Azzahra
    Asal : SMPN 11 SURABAYA
    Proyek : Pupuk Organik Cair

    Pupuk organik cair yang saya ambil sebagai proyek pangput 2026 yang sudah sangat saya pertimbangkan. Proyek POC ini memiliki banyak manfaat diantaranya: mengurangi sampah organik (kita tahu bahwasannya limbah organik bisa menjadi gas metana yang lebih berbahaya dari co²), mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sintetis.

    Saya sangat salut terhadap supporter jepang dan pemain pemain jepang, mereka telah memberikan inspirasi terhadap dunia tentang kebersihan yang harus dijaga dimana saja. Semoga dengan ini, banyak orang yang bisa meniru jepang terutama di lokasi lokasi seperti stadion..

    Balas
    • Juli 27, 2026 pada 20:32
      Permalink

      Assalamualaikum

      Sy lavina Azizah
      Dr SDN pacarkembang 1 Surabaya
      No peserta 0382
      Nama proyek budidaya serai

      Bismillah dengan semangat dan konsisten kita semua bisa mewujudkan cinta lingkungan.
      Semoga dengan adanya wadah seperti ini semoga semakin bnyak yang sadar dengan lingkungan.
      Dan kunci cinta lingkungan itu dengan aksi yang nyata.

      Semangat terus, wujudkan lingkungan bersih👍

      Balas
  • Juli 20, 2026 pada 21:40
    Permalink

    Budaya Jepang yang selalu mengutamakan kebersihan dan disiplin memang membyat negara tersebut memiliki predikat yabg juara dan pionner dalam hal kebersihan. Kita sebenarnya bisa asalkan mau memulai..dan segera beraksi dalam mempraktikkannya..bukan hanya ajakan dan seruan belaka.
    Mari kita mulai dari diri sendiri, dimanapun dan kapanpun untuk lebih peduli dengan lingkungan kita agar kebersihannya terjaga. Jika lingkungan bersih generasipun sehat… kita siap menyongsong cita -cita besar di hari esok.

    Balas
  • Juli 23, 2026 pada 09:07
    Permalink

    Teladan dari suporter Jepang ini membuktikan bahwa kebersihan dan kepedulian lingkungan adalah cerminan dari karakter, disiplin, dan budaya yang dibangun secara konsisten. Stadion bukan sekadar tempat olahraga, melainkan ruang nyata untuk menunjukkan aksi kebaikan bagi lingkungan.

    Nama : Amritha Hafsah Rheva Ramadhina
    Sekolah : SD Al Uswah 2 Surabaya
    No peserta : 0002 Putri Lingkungan SD
    Nama Proyek : PELITA OBAT (Pengelola Limbah Tangguh Obat Keluarga)
    PELITA OBAT adalah aksi lingkungan hidup untuk mengedukasi dan mengelola limbah obat rumah tangga secara aman, terpilah, dan berkelanjutan di Surabaya.
    3 Pilar Utama Gerakan:
    1. Pilah: Memisahkan kemasan obat dari rumah (kardus, botol plastik/kaca, dan blister aluminium).
    2. Amankan: Merusak label dan bentuk obat kedaluwarsa sebelum dibuang agar tidak mencemari tanah/air dan tidak disalahgunakan.
    3. Upcycle & Setor: Menyetor kemasan ke Drop Box serta mengolah kardus bekas obat menjadi pot tanaman (greening) dan tempat alat tulis.

    Semangat kesadaran dan tanggung jawab atas sampah sendiri ini juga menjadi fondasi penting dalam proyek PELITA OBAT. Kerap kali kita ingat untuk membersihkan sampah fisik yang terlihat, namun lupa akan bahaya limbah obat kimia yang tersembunyi di rumah. Melalui proyek ini, saya ingin membangun karakter dan disiplin masyarakat—mulai dari lingkungan keluarga—untuk bertanggung jawab memilah serta mengelola limbah obat bekas/kedaluwarsa agar tidak membebani dan mencemari ekosistem kita.

    Mari kita jadikan ruang publik dan rumah kita sebagai sarana pembentukan karakter yang berbudaya lingkungan!

    Balas
  • Juli 23, 2026 pada 11:39
    Permalink

    Nadevda Emiko Nahdah
    SDN Gununganyar 273
    Nomor Peserta: 0092
    Proyek: KARDAF (Kardus Daur Ulang Fungsional)

    Artikel “Ketika Stadion Menjadi Ruang Belajar Karakter: Teladan Suporter Jepang” mengajarkan bahwa menjadi suporter bukan hanya memberi semangat kepada tim yang didukung, tetapi juga harus menjaga kebersihan dan bersikap tertib.

    Saya sangat kagum karena suporter Jepang tetap membersihkan sampah di stadion setelah pertandingan selesai. Sikap seperti ini menunjukkan rasa tanggung jawab dan peduli terhadap lingkungan yang patut kita contoh.

    Sebagai peserta dengan proyek KARDAF (Kardus Daur Ulang Fungsional), saya juga belajar bahwa menjaga kebersihan bisa dimulai dari hal-hal kecil, seperti membuang sampah pada tempatnya dan memanfaatkan barang bekas agar tidak menjadi sampah.

    Terima kasih kepada Tunas Hijau yang telah membagikan cerita inspiratif ini. Semoga semakin banyak anak-anak dan masyarakat yang mencontoh sikap baik suporter Jepang, sehingga lingkungan kita menjadi lebih bersih dan nyaman.

    Sukses selalu Tunas Hijau! 🌱⚽✨

    Balas
  • Juli 23, 2026 pada 20:53
    Permalink

    Aqeel Tsani Ramadhan
    SDN jemur Wonosari 1 Surabaya

    Kita bisa mencontoh kebiasaan suporter Jepang bahwa pendidikan karakter dapat diterapkan dimana saja, termasuk di stadion. Sikap disiplin, tanggung jawab, dan peduli lingkungan merupakan teladan yang patut dicontoh dalam kehidupan sehari-hari agar tercipta masyarakat yang lebih bersih, tertib, dan berbudaya.

    Balas
  • Juli 24, 2026 pada 18:20
    Permalink

    Teladan suporter ini keren, stadion bisa jadi kelas karakter kalau kita mau belajar bersih, tertib, dan saling menghargai.
    Nama ALVIN ZAHIR
    ASAL SEKOLAH SMPN NEGERI 11 SURABAYA
    PROYEK BUDIDAYA TANAMAN PALEM

    Balas
  • Juli 24, 2026 pada 18:30
    Permalink

    Hai Sobat Hijau

    Salam Bumi, Pasti Lestari 🌱

    Saya Zivanisa Alicia W

    Dari SDN Ketabang I / 288 Surabaya

    Nama Proyek saya adalah SIPATAS

    (kolekSI samPAh kerTAS)
    .
    Aksi suporter ini sangat bagus dan wajib ditiru semua suporter dunia 🌱🌱
    .
    Semangat terus menjadi generasi peduli, produktif dan anti rebahan yang mendunia
.
.
    .
    Oh ya, saya punya Jargon nih :

    Ayo mengolah sampah kertas

    Menjaga bumi tanpa batas

    Menjadi generasi anti cemas

    Salam bumi pasti lestari 🌱
    .
    Sekilas tentang proyek SIPATAS :
    – mengumpulkan sampah kertas

    – mengolah menjadi barang yg bermanfaat

    Balas
  • Juli 24, 2026 pada 18:35
    Permalink

    Melihat suporter yang sangat bertanggungjawab dalam menjaga kebersihan rasanya senang sekali.

    Rebecca Angela Naburju
    SMPN 25 SURABAYA
    Proyek: Maggot BSF

    Balas
  • Juli 24, 2026 pada 19:26
    Permalink

    Amira Tungga Dewi 0536
    SMPI AL-AZHAR KELAPA GADING SURABAYA

    Terimakasi Tunas Hijau artikel kali ini sangat menginspiratif, tindakan suporter jepang merupakan teladan moral dan bentuk tanggung jawab sosial yang patut ditiru
    Kebersihan kalau ditanamkan sejak dini akan selalu terbawa di mana pun kita berada.

    Saya memiliki project 1K Oxygen Mission yaitu budidaya tanaman lili paris, yang sangat terkenal tentang keahliannya menyerap polutan udara

    Balas
  • Juli 24, 2026 pada 21:48
    Permalink

    kebiasaan Japan yang memunguti sampah seusai pertandingan adalah hal yang patut kita tiru karena zaman sekarang semakin banyak sampah yang dibuang sembarangan.maka dari itu mari kita ikuti aksi tersebut di negara kita tak perlu banyak cukup sampah jajan atau plastik yang kalian temukan sedikit demi sedikit lama lama menjadi bukit
    Kiano Galfariendra Pranaja
    Calon Pangeran Lingkungan Hidup dari SDN Lidah Kulon 1/464 Surabaya
    No. Peserta : 0147

    Dengan Proyek saya yang berjudul SEPUR RUPAWAN (Sereh Dapur Rumput Andalan Wiyata Dan Kesehatan) yaitu budidaya tanaman sereh yang kaya manfaat bagi lingkungan dimana akar serabutnya mampu menahan tanah agar tidak mudah terkikis hujan dan longsor, dapat ditanam bersama tumbuhan lain untuk menjaga kelembaban karena sifatnya yang mampu menahan air lebih mudah meresap ke tanah sehingga secara tidak langsung membantu melestarikan bumi dari ancaman perubahan iklim, hasil dari budidaya tersebut juga dapat dimanfaatkan mulai dari konsumsi rumah tangga sebagai bumbu masak atau dikonsumsi untuk kesehatan, selain itu juga bisa memiliki nilai jual lebih jika di ubah menjadi produk aromatherapy atau antibakteri.
    Ke depan saya ingin mengembangkan hasil panen sereh saya dengan ecoenzym agar wanginya segar dan bisa kita manfaatkan untuk sabun cuci tangan atau campuran bahan pembersih dapur maupun rumah tangga lainnya.

    Ayo ikuti aksi saya di IG @kianoproject_

    Melestarikan bumi tidak harus menjadi sempurna, setiap langkah kecil akan selalu membuahkan hasil. Bersama – sama kita bisa

    Balas
  • Juli 25, 2026 pada 17:57
    Permalink

    Saya kagum dengan kebiasaan suporter Jepang yang membersihkan sampah setelah pertandingan. Kebiasaan baik ini bisa menjadi contoh bagi kita untuk selalu menjaga kebersihan di mana pun berada. Saya juga membiasakan membuang sampah pada tempatnya dan merawat tanaman di rumah.

    Assyifa Nailatu Orlin
    SDN 408 Surabaya
    Proyek budidaya tanaman serai

    Balas
  • Juli 25, 2026 pada 20:11
    Permalink

    Teladan dari suporter Jepang ini membuktikan bahwa kebersihan dan kepedulian lingkungan adalah cerminan dari karakter, disiplin, dan budaya yang dibangun secara konsisten. Stadion bukan sekadar tempat olahraga, melainkan ruang nyata untuk menunjukkan aksi kebaikan bagi lingkungan.

    Nama : Amritha Hafsah Rheva Ramadhina
    Sekolah : SD Al Uswah 2 Surabaya
    No peserta : 0002 Putri Lingkungan SD
    Nama Proyek : PELITA OBAT (Pengelola Limbah Tangguh Obat Keluarga)
    PELITA OBAT adalah aksi lingkungan hidup untuk mengedukasi dan mengelola limbah obat rumah tangga secara aman, terpilah, dan berkelanjutan di Surabaya.
    3 Pilar Utama Gerakan:
    1. Pilah: Memisahkan kemasan obat dari rumah (kardus, botol plastik/kaca, dan blister aluminium).
    2. Amankan: Merusak label dan bentuk obat kedaluwarsa sebelum dibuang agar tidak mencemari tanah/air dan tidak disalahgunakan.
    3. Upcycle & Setor: Menyetor kemasan ke Drop Box serta mengolah kardus bekas obat menjadi pot tanaman (greening) dan tempat alat tulis.

    Semangat kesadaran dan tanggung jawab atas sampah sendiri ini juga menjadi fondasi penting dalam proyek PELITA OBAT. Kerap kali kita ingat untuk membersihkan sampah fisik yang terlihat, namun lupa akan bahaya limbah obat kimia yang tersembunyi di rumah. Melalui proyek ini, saya ingin membangun karakter dan disiplin masyarakat—mulai dari lingkungan keluarga—untuk bertanggung jawab memilah serta mengelola limbah obat bekas/kedaluwarsa agar tidak membebani dan mencemari ekosistem kita.

    Mari kita jadikan ruang publik dan rumah kita sebagai sarana pembentukan karakter yang berbudaya lingkungan!

    Balas
  • Juli 26, 2026 pada 05:28
    Permalink

    Nadia Hibatillah Amalia
    SDN Jemurwonosari I Surabaya

    Luar biasa! 🇯🇵👏
    Suporter dan masyarakat Jepang telah menjaga tradisi membersihkan stadion serta lingkungan setelah acara selama puluhan tahun. Kebiasaan sederhana ini menjadi bagian dari budaya yang patut dicontoh. Hasilnya, lingkungan tetap bersih, nyaman, dan kota pun minim sampah.

    Balas
  • Juli 26, 2026 pada 11:26
    Permalink

    Nama = Kalyca Arij Aruna
    Sekolah = SMPN 1 Surabaya
    No peserta = 0584

    Proyek saya bernama LEBARA, yaitu budidaya kangkung daun lebar menggunakan metode hidroponik untuk menghemat lahan dan air, sekaligus menyediakan sayuran segar yang sehat di lingkungan sekolah.

    Artikel yang sangat menginspirasi! Kesadaran dan disiplin para suporter Jepang dalam menjaga kebersihan tribun stadion menunjukkan bahwa budaya peduli lingkungan bisa diterapkan di mana saja. Hal ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu menjaga kebersihan dan mengelola sampah secara bertanggung jawab, baik di ruang publik maupun di lingkungan tempat tinggal kita.

    Salam bumi pasti lestari 🌱

    Balas
  • Juli 26, 2026 pada 12:15
    Permalink

    nama : salsabila najzwa perdana
    sekolah : SMP Negeri 63 Surabaya
    nomor peserta : 1286
    penjelasan singkat proyek :
    Optimalisasi Budidaya Maggot BSF sebagai Pakan Ikan Alternatif Bernilai Ekonomi

    Latar Belakang & Tujuan =
    Tingginya harga pakan ikan pabrikan dan menumpuknya sampah organik lingkungan menjadi dasar program ini. Proker ini bertujuan memproduksi maggot BSF sebagai pakan alternatif berprotein tinggi guna memangkas biaya budidaya sekaligus mengurangi limbah masyarakat.

    Rencana KegiatanPelatihan: Edukasi siklus hidup BSF dan teknik budidaya.

    Fasilitasi: Pembuatan wadah median tumbuh (biopond) percontohan.

    Pengolahan: Praktik konversi maggot menjadi pelet siap pakai.

    Dampak ProgramEkonomi: Menurunkan biaya pakan hingga 50% dan membuka peluang bisnis baru.

    Lingkungan: Mempercepat penguraian sampah organik tanpa bau.

    Balas
  • Juli 26, 2026 pada 13:07
    Permalink

    nama: Rafa putri nur kalyani
    sekolah: SMP negeri 63 Surabaya
    nomor peserta: 1282
    penjelasan singkat proyek: budidaya magoot BSF sebagai alternatif pakan lele

    📌 Penjelasan Proyek
    Proyek ini berfokus pada pemfaatan maggot (larva) lalat Black Soldier Fly (BSF) sebagai pakan cadangan atau pengganti pelet komersial dalam budidaya ikan lele.
    1. Masalah Utama
    Biaya Pakan Tinggi: Pakan pelet pabrikan menyedot hingga 60%–70% dari total biaya produksi budidaya lele.
    Sampah Organik: Penumpukan sampah rumah tangga/pasar yang belum dimanfaatkan secara optimal.
    2. Solusi & Keunggulan Maggot BSF
    Tinggi Protein: Kandungan protein maggot BSF mencapai 40%–45%, sangat cocok untuk percepatan pertumbuhan lele.
    Menekan Biaya: Memangkas pengeluaran pakan secara signifikan karena pakan maggot berasal dari limbah organik (gratis/murah).
    Ramah Lingkungan: Larva BSF menguraikan sampah organik dengan cepat, meminimalkan limbah lingkungan (zero waste).
    3. Tujuan Proyek
    Meningkatkan keuntungan pembudidaya lele melalui efisiensi biaya pakan yang bernutrisi tinggi, sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

    Balas
  • Juli 26, 2026 pada 13:12
    Permalink

    Saya Dyandra salsabillah sucipto
    Dari SMPN 38 SURABAYA
    Sangat setuju sekali dengan aksi para suporter selain menyemangati para idolanya mereka juga melakukan aksi nyata yaitu memunguti sampah di stadion tersebut yang artinya selain cinta pemainnya mereka juga cinta lingkungannya supaya tetap bersih dan nyaman ketika ada turnamen berikutnya

    Balas
  • Juli 26, 2026 pada 13:19
    Permalink

    Nama: NAILUL NOURIZCHA MAULDEA
    Sekolah: SMPN 63 SURABAYA
    Nomer peserta: 1276
    Penjelasan singkat tentang proyek:
    Inovasi pengurangan limbah organik melalui budidaya larva bsf

    LATAR BELAKANG DAN TUJUAN:
    Sampah organik rumah tangga dan pasar masih menjadi penyumbang terbesar timbunan sampah di TPA. Penumpukan sampah ini memicu bau, lindi, dan emisi gas metana yang mencemari lingkungan.
    Di sisi lain, kebutuhan pakan ternak dan pupuk organik terus meningkat. Larva Black Soldier Fly (BSF) mampu mengurai limbah organik dalam waktu cepat dan mengubahnya menjadi 2 produk bernilai: biomassa larva sebagai pakan alternatif tinggi protein, dan kasgot sebagai pupuk organik.
    Budidaya BSF menjadi solusi yang praktis, ramah lingkungan, dan bernilai ekonomi untuk mengurangi limbah sekaligus menciptakan siklus ekonomi sirkular.

    Tujuan
    1. Mengurangi volume limbah organik dari sumber rumah tangga/pasar sebelum masuk ke TPA
    2. Menghasilkan pakan alternatif berupa larva BSF untuk unggas dan ikan
    3. Menghasilkan pupuk organik
    dari sisa budidaya BSF untuk mendukung pertanian
    4. Meningkatkan kesadaran masyarakat
    tentang pengelolaan sampah berbasis teknologi sederhana dan bernilai ekonomi

    Balas
  • Juli 26, 2026 pada 13:26
    Permalink

    Sangat menginspirasi! Budaya kebersihan yang diajarkan sejak dini terbukti membentuk karakter yang luar biasa, bahkan saat berada di luar negeri.

    Ini bukti nyata bahwa stadion bukan cuma tempat hiburan, tapi bisa jadi ruang belajar moral bagi kita semua.

    Patut dicontoh. Pendidikan karakter di Jepang memang luar biasa dalam membentuk kesadaran sosial masyarakatnya.

    Nama:Raihan Ramzi
    Sekolah:SMPN 11 SURABAYA
    Proyek:eco block

    Eco block adalah balok ramah lingkungan yang di buat dari memadatkan sampah plastik ke dalam cetakan.

    Balas
  • Juli 27, 2026 pada 20:28
    Permalink

    Applause banget buat spotter Jepang inii…!! Semoga selalu dilakukan dengan konsisten…
    I hope everyone can emulate this behavior by instilling a sense of environmental concern from an early age…..
    🧕Princess Zelda Ilmiah
    🏫SMPN 29 Surabaya
    📌Processing Organic Waste To Support Food Security

    Balas
  • Juli 27, 2026 pada 20:51
    Permalink

    Amidst the roar of cheers and World Cup euphoria, the Japanese people once again demonstrated that true victory is not measured solely by match results on the field. After the game, while most spectators rushed to leave the stadium, Japanese supporters stayed behind to pick up trash in the stands. They gathered everything—from beverage bottles, plastic cups, and food wrappers to tissues—into trash bags they had brought from home.

    This scene was not a stunt staged for the cameras. The tradition has endured for decades and is an integral part of the culture among Japanese national team supporters. Whether their team wins, draws, or loses, the habit of cleaning up the stadium remains unchanged.

    Name:Sanggrama Rasio Al Warisyi
    Project:Utilization Eggshell Waste for sustainable living
    School:SMPN 6 Surabaya

    Balas
  • Juli 28, 2026 pada 15:11
    Permalink

    Ketika Stadion Menjadi Ruang Belajar Karakter: Teladan Suporter Jepang

    radisi itu telah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi bagian dari budaya pendukung tim nasional Jepang .Sangat menginspirasi sekali budaya kebersihan negara jepang

    ​🌿✨ PROYEK: SERASIKU (Sereh Asri Inspirasi Kreativitas Usaha) ✨🌿

    ​🪴 Aksi Menanam Bibit Sereh

    👧 Nama:Naysia Aqila Andriani
    🆔 No. Peserta:1298
    🏫 Sekolah:SDN Ngagelrejo III/398
    🌿 Proyek:SERASIKU (Sereh Asri Inspirasi Kreativitas Usaha)

    “Satu langkah kecil hari ini, sejuta manfaat untuk bumi di masa depan.”🌱💚

    Balas
  • Juli 31, 2026 pada 14:06
    Permalink

    Bangsa Jepang memang sudah terkenal memiliki tingkat kedisiplinan yang sangat tinggi. Mereka sangat menghargai waktu dan juga sangat memperhatikan kebersihan. Mereka juga bangsa yang memiliki responsibilitas yang cukup bagus.

    Bangsa kita harus banyak belajar dari bangsa Jepang. Dimana waktu tidak hanya bernilai uang atau kesempatan, namun waktu adalah tanggung jawab dan konsekuensi. Begitupun tentang tanggung jawab mereka dalam menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya.

    Di Jepang, kita akan jarang menjumpai petugas kebersihan, karena setiap individu memiliki ikatan tidak tertulis untuk bersama – sama saling menjaga kebersihan sekitarnya. Semua orang Jepang sadar untuk tidak mengotori tempat-tempat umum. Masyarakat di sana tidak segan memungut sampah yang mereka temukan di jalan atau bahkan rela meluangkan waktu untuk membersihkan lingkungan tempat tinggal mereka demi menjaga kebersihan. Ini membuktikan bahwa orang Jepang benar-benar mencintai dan memahami konsep kebersihan.

    Yuk kita sama – sama saling sadar diri untuk mencontoh dari bangsa besar yang berteknologi tinggi dan ekonomi yang stabil, namun masih menjaga budaya cinta kebersihan sebagai tanggung jawab setiap individu warganya.

    Nayla Thalita Azzahra
    SMPN 4 Sby
    No. Peserta : 1358
    Judul Proyek : Lidah Buaya untuk Riset & Lingkungan ( LIBURAN )
    Merupakan proyek budidaya tanaman lidah buaya yang tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan namun juga bernilai ekonomis.

    Balas
  • Juli 31, 2026 pada 18:12
    Permalink

    Menurut saya, artikel ini sangat mengagumkan karena menunjukkan bahwa suporter Jepang tidak hanya datang untuk mendukung tim kesayangannya, tetapi juga memiliki kesadaran yang tinggi untuk menjaga kebersihan stadion. Saya kagum karena mereka dengan sukarela memungut sampah tanpa diminta, sehingga memberikan contoh bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa dilakukan di mana saja. Semoga sikap positif seperti ini dapat menginspirasi lebih banyak orang, terutama generasi muda, untuk lebih peduli terhadap kebersihan dan lingkungan di sekitar mereka.

    Nama: DANISHA CANTIQA PUTRI
    Sekolah: SMPN 46 Surabaya
    No. Peserta: 1120
    Proyek: D’KOPIS (Danisha Kreasi Olahan Produk Inovatif Serbaguna Ampas Kopi)

    Balas
  • Agustus 2, 2026 pada 12:25
    Permalink

    Nama: Nadia Putri Angeli
    Asal Sekolah: SMP Negeri 28 Surabaya Proyek: DAKARA (Daun Kering Tiada Tara) menjadi Briket Bio-Arang

    Kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti menjaga kebersihan dan tidak meninggalkan sampah. Semangat tersebut juga saya terapkan melalui proyek DAKARA (Daun Kering Tiada Tara) dengan mengolah daun kering menjadi Briket Bio-Arang yang bermanfaat sebagai energi alternatif. Semoga langkah kecil ini dapat menjadi kebiasaan besar untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan lestari. 💚🌏✨

    Balas
  • Agustus 2, 2026 pada 22:19
    Permalink

    Tak bisa dipungkiri bahwa lingkungan adalah sekolah oendidikan karakter pertama, jadi Mari kita mulai langkah kecil kita untuk membuang sampah pada tempatnya..

    Nama: Alesheea farzana nayyara
    Asal sekolah : SDN SEMOLOWARINI/261 SURABAYA
    Proyek : pengolahan limbah minyak jelantah (PELITA)
    No. Peserta : 424

    #pangeranputrilingkunganhidup2026
    #Alesheea_Farzana_Nayyara_SDN_Semolowaru_1
    #pangeranputrilh2026sd_Alesheea_Farzana_Nayyara
    #pangeranputrilh2026sd_0424

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *